
"Al..."
Tuan Adi menatap tidak percaya pada keponakannya itu, dia pikir Alvian sudah memaafkan Erick seperti yang diharapkan oleh Aira. Lagipula bukankah tadi menantunya itu juga berkata padanya jika Alvian sudah memaafkan pamannya. Dia bertanya tanya dalam hatinya, apakah Alvian hanya berpura pura saja ?
Begitu juga dengan Aira, wanita iu sama terkejutnya dengan omnya. Dia memandang wajah suaminya yang nampak terlihat santai dan acuh.
Sementara Erick sendiri nampak mengulas senyuman tipis, dia pasrah jika keponakannya itu memang tidak membuka pintu maaf untuknya mengingat jika perbuatannya selama ini sudah sangat keterlaluan dan tidak bisa dimaafkan.
"Mas apa yang kamu katakan ? Bukankah kamu sudah berjanji padaku untuk memaafkan paman ?"
Alvian tidak menjawab pertanyaan istrinya, pria tampan itu melangkahkan kakinya kearah pamannya dengan kedua mata yang tidak beralih sedikitpun menatap pamannya.
"Mas." Panggilnya lagi sembari mencekal pelan lengan kekar suaminya, pandangan matanya penuh dengan permohonan yang begitu besar.
Pelan pria itu melepas cekalan tangan sang istri dengan raut wajah datar, lalu sekilas memberikan senyuman tipis. Langkahnya tidak berhenti menuju kedua saudara papanya itu.
Tatapan matanya yang tajam jujur membuat hati om nya ketar ketir, kali ini dia tidak bisa membela sang kakak lagi jika Alvian menghajar tubuh renta tersebut.
"Om aku sudah bilang jika Al tidak akan membiarkan keinginan kalian berdua terwujud..." Sejenak menghentikan ucapannya sembari mengulas senyuman tipis. " Al tidak akan membiarkannya tinggal bersama Om karena paman akan tinggal bersama kami dirumah Al."
Wajah paruh baya yang sedari tadi memandang kearah lantai itu mendadak mendongak dan menatap tidak percaya pada wajah tampan didepannya itu. Kedua matanya sudah berkaca kaca, dia bahkan berulang kali menggosok telinganya berharap bahwa yang didengarnya barusan bukanlah sebuah mimpi.
Begitupun dengan Tuan Adi dan juga Aira, kedua orang itu yang tadinya sempat terkejut besar sekarang mulai mengulas senyuman lebar. Merasa lega sekaligus bahagia, karena dengan itu berarti Alvian sudah memaafkan pamannya.
"Al..." Panggilnya dengan suara tercekat karena menahan rasa haru yang membuncah dihatinya.
Tanpa memberikan kesempatan pamannya itu untuk berbicara banyak, Alvian langsung merengkuh tubuh kurus itu kedalam pelukannya. Memeluk erat seakan dia sedang memeluk sang ayah, menyalurkan semua rasa yang selama ini dia pendam.
Tidak kalah hangat Erick membalas pelukan sang keponakan yang sebenarnya sangat dia sayangi, bahkan mencium seluruh wajah pria muda didepannya dengan perasaan sayang.
"Maafkan paman nak, paman terlalu dibutakan oleh dendam hingga membuat hidup kalian menderita gara gara ulah paman."
Alvian tersenyum lalu mengurai pelukannya. Menatap wajah pamannya yang nampak tirus dan tidak terawat.
"Mari kita lupakan masalalu paman, seperti yang om Adi katakan. Al sudah ikhlas menerima takdir ini dan Al juga sudah memaafkan paman. Dan kali ini, biarkan Al merawat paman,menemani paman dan menjaga paman. Al juga ingin merasakan rasanya berbakti pada orangtua kita, karena Al tidak bisa melakukannya pada papa dan mama Al."
"Maaf nak.."
"Jangan meminta maaf paman, semua sudah berlalu. Jadi apakah paman mau ikut pulang kerumah bersama Al dan Aira ?"
Erick menatap pada sang adik yang langsung menganggukkan kepalanya, memberikan jawaban jika diapun setuju dengan rencana Alvian yang hendak membawanya pulang kerumah keponakannya itu.
__ADS_1
"Baiklah paman akan ikut denganmu nak."
Alvian tersenyum lega begitupun dengan Aira, kemudian mereka segera keluar dari kantor polisi dan segera melajukan mobil mereka ke kediaman Alvian.
****
"Tante, maafkan atas semua kesalahanku pada keluarga tante, aku sangat menyesal karena sudah dibutakan oleh dendam dan juga ketidakberdayaanku sebagai seorang kakak yang tidak bisa melindungi adik adiknya. Erick ikhlas jika tante ingin memberikan hukuman padaku." Ucapnya sembari bersimpuh didepan Oma Tamara yang saat ini sedang duduk disofa.
Perempuan lanjut usia itu menatap pria didepannya dengan tatapan lembutnya, tidak ada dendam ataupun sakit hati didalam benaknya. Bahkan Oma Tamara memberikan senyuman tulus yang justru membuat hati Erick tertusuk sembilu.
"Kamu memang harus diberikan hukuman Erick, hukuman yang pantas untuk semua perbuatanmu."
'Apapun hukumannya Erick akan menerimanya tante."
"Benarkah ?"Tanyanya lagi yang di angguki kepala oleh Erick sebagai jawabannya.
"Baiklah karena kamu sudah ikhlas menerima hukumanmu jadi mulai saat ini kamu harus memanggil wanita tua ini dengan panggilan mama seperti yang dilakukan oleh kedua adikmu. Dan kamu juga harus selalu ada didekatku dan terus merawatku. Bagaimana, apa kamu mau menerima hukumanmu itu?"
Erick mendongak menatap tidak percaya wajah renta didepannya. Kedua matanya nampak berkaca kaca menatap wajah wanita yang sudah begitu baik padanya, padahal dia sudah bebuat jahat pada keluarganya.Seketika Erick menghambur kedalam pelukan Oma Tamara, menangis keras didalam pelukan kasih wanita lanjut tersebut.
Suasana didalam ruang keluarga itu mendadak berubah menjadi melo, tangis haru terdengar serentak disana. Tidak ada satupun orang yang tidak mengeluarkan airmataya, semuanya ikut larut dalam suasana haru yang Erick dan Oma Tamara ciptakan.
Bahkan Aira sampai meninggalkan ruangan keluarga itu dengan diam diam dan melangkah menaiki tangga menuju kekamarnya. Aira nampak menangis dalam diam sembari berdiri dibalkon kamarnya. Kepalanya mendongak keatas menatap langit biru yang terlihat sangat jernih tanpa tertutupi awan putih yang gelap.
"Mama, papa...Ara rindu." Bisiknya lirih sembari memejamkan kedua matanya, didalam hatinya wanita itu menyematkan untaian doa untuk kedua orangtuanya yang sangat dia cintai.
Sepasang lengan kekar dan kokoh memeluknya dari belakang disertai dengan bisikan cinta. Berusaha menyalurkan kekuatan dan kehangatan seakan berkata jika semuanya akan baik baik saja selama ada dia disisinya.
"Masih ada aku yang akan selalu menjagamu sayang, dan masih ada kamu juga yang pasti akan selalu menemanimu sampai kita menua. Walaupun kedua orangtua kita tidak bersama kita lagi saat ini, tapi aku yakin saat ini mereka berempat selalu memperhatikan kita dari syurga. Mereka pasti ikut bahagia karena melihat kita berdua yang sudah bahagia. Jadi berhenti untuk berpikir kalau kamu selalu sendiri. Masih ada aku, suamimu yang akan selalu mencintaimu."
"Mas." Panggilnya sembari membalikkan badannya yang langsung disambut pelukan erat dipinggangya.
"Hmm."
"Aku mencintaimu."
Pria itu terkekeh, menatap wajah sang istri dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Apa kamu sedang berusaha menggodaku ?"
Aira menggeleng pelan dengan disertai senyuman tipis membuat kening Alvian berkerut dan matanya menatap curiga sang istri.
"Lalu ? Apa kamu membutuhkan sesuatu ?"
Upss...sepertinya Alvian lupa jika saat ini dia memberikan pertanyaan pada seorang ibu hamil yang sedang dalam masa ngidam berat. Dan beberapa saat kemudian pria itu mengumpati mulutnya yang selalu nyeplos.
Kedua mata indah itu mengerjap indah, menampilakan wajah popeyesnya, membuat Alvian menghela nafas kasar.
"Kali ini apa yang diinginkan putraku ?"
Entah kenapa Alvian selalu mengucapkan kata kata itu, padahal usia kandungan istrinya belum genap 2 bulan dan itu berarti belum bisa dideteksi jenis kelaminnya. Namun keyakinan Alvian sangat kuat kalau anak yang dikandung Aira itu berjenis kelamin laki laki.
"Mas aku mau rujak mangga muda tapi kamu yang membuatnya."
"Hanya itu ?" Lagi lagi Alvian merutuki dirinya sendiri yang memberikan pertanyaan konyolnya.
"Aku mau mangganya cari yang kembar, sama kecilnya dan warnanya agak kekuningan, jangan sampai matang dan warna kuningnya harus ada diujungnya,"
Pria itu melongo, mana ada kriteria mangga seperti yang diucapkan barusan oleh istrinya.
"Sayang kamu mau membuatku seharian diatas pohon ? Mana ada mangga dengan ciri ciri seperti yang kamu sebutkan tadi." Keluhnya dengan sedikit kesal.
"Kamu nggak mau mas ?" Kedua mata itu sudah berkaca kaca dan airnya sudah siap untuk jatuh.
Alvian menarik nafas panjang kemudian mengeluarkannya dengan sedikit kasar. Meraup wajah tampannya dengan kedua tangan besarnya. Dia lupa yang dia hadapi ini adalah seorang ibu hamil yang mempunyai tingkat kesensitifan sangat tinggi.
Dia berjongkok mensejajarkan tubuh tingginya dengan perut sang istri yang masih rata. Mengusapnya dengan sayang seakan memberitahunya pada anaknya kalau dia begitu teramat menyayanginya.
"Baiklah Boy, papa akan memberikan apapun yang kamu mau, doakan papa semoga papa bisa menuruti keinginanmu oke."
Aira terkekeh lalu mencium singkat pipi suaminya.
"Sayang papa Al."
__ADS_1
TBC