Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Spesial untukmu


__ADS_3

Alex menatap heran pada Aira yang nempak keluar dari kamar tempat dimana Erick berada. Hatinya bertanya tanya, pasalnya wajah wanita itu terlihat sangat kesal. Pria itu menatap bergantian pada sang istri yang hanya menggendikkan kedua bahunya pertanda jika saat ini diapun tidak mengetahui apa apa.


"Mungkin dia hanya kesal saja mas." Ujarnya singkat.


Alex hanya beroh ria, berusaha untuk tidak lagi memikirkannya. Namun baru saja dia ingin bersikap tenang. tiba tiba rasa khawatir itu muncul lagi. Kali ini disertai dengan rasa heran hingga membuat keningnya berkerut tajam.


Dia melihat Alvian yang nampak ikut keluar kamar namun dengan wajah yang gelisah. Langkah kakinya juga terburu buru menaiki tangga.


"Mereka suami istri yang aneh." Desisnya kesal.


Jiza terkikik, merasa lucu melihat sang suami yang malah kesal akan sikap absurd pasangan suami istri tersebut.


"Sahabatku tidak aneh mas, Alvian lah yang tidak peka dengan kemauan istrinya. Sudahlah jangan mengurusi mereka pagi, biarkan mereka berdua menyelesaikan masalah yang mereka berdua alami. Hari ini hari yang cukup melelahkan untuk Ara."


Alex mengangguk paham.


"Kamu benar sayang, kita memang tidak seharusnya ikut campur urusan mereka. Lagipula hari ini juga hari yang sangat melelahkan untuk kita juga bukan ? Bahkan kita melupakan malam pertama kita gara gara masalah ini." Dengusnya


"Alex.." Sentak Jiza dengan mata melotot, disaat seperti ini bagaimana bisa suaminya itu masih berpikir kearah sana.


"Ayolah sayang, mereka pun pasti akan paham dengan keadaan kita yang memang pengantin baru. Kamu tahu, rasanya aku sudah tidak sabar lagi untuk mengurungmu seharian dikamar."


"Alex, ih."


"Apa kita pulang sekarang ? Aku akan berpamitan pada Om Adi saja. Atau kita harus melakukannya disini ?"


Jiza berpaling dengan wajah yang sudah bersemu merah, gadis itu begitu sangat malu mendengar ucapan Alex yang tidak disaring. Namun hatinya juga tidak bisa dibohongi, diapun menginginkan malam syahdu tersebut. Apalagi Alex sudah sah menjadi suaminya, tentunya sah sah saja kan jika dia menginginkan itu.


"Aku...aku ingin malam yang sangat romantis." Ujarnya pelan setelah itu menyembunyikan wajah cantiknya didada bidang suaminya.


Alex tergelak, laku merengkuh erat tubuh mungil istrinya.


"Sesuai keinginanmu sayang, tapi untuk mewujudkan itu kita harus pulang bukan."


Dengan gerakan lemah Jiza menganggukkan kepalanya. Mendapat lampu hijau Alex segera berdiri mencari Om Adi untuk berpamitan pulang.


Dikamar....


Alvian masuk kedalam kamar dan mendapati ruangan kamarnya yang nampak kosong.


Dimana istrinya ?

__ADS_1


Pria itu mengedarkan pandangan matanya kesekeliling, namun tidak kunjung menemukan keberadaan sang istri.


Saat akan melangkah kearah balkon, suara gemericik air terdengar membuat sudut bibirnya menyunggingkan senyum misterius. Rupanya istrinya itu sedang berada dikamar mandi.


Perlahan dan dengan sedikit mengendap endap, Alvian berjalan mendekat kepintu kamar mandi. Membuka dengan sangat hati hati pintu tersebut, dan berdoa semoga saja pintu itu tidak terkunci.


Klek


Senyumnya terbit dan semakin lebar, dia tahu inilah kebiasaan sang istri, selalu lupa mengunci pintu ketika dia mandi. Dengan wajah menyiratkan kegembiraan, Alvian melangkah masuk.


Tatapannya langsung tertuju pada pemandangan indah yang terpampang didepan matanya. Sontak langsung membuat jiwa lelakinya muncul, bagaimanapun dia adalah pria dewasa dengan segala naluri kelelakiannya.


Disuguhkan dengan pemandangan indah didepannya membuat Alvian merasa susah hanya untuk sekedar menelan salivanya. Istrinya yang sedang berdiri dibawah guyuran air shower tanpa sehelai kain menempel ditubuhnya nampak begitu sangat seksi.


Entah sejak kapan pria itu melepaskan pakaiannya, yang pasti saat ini dia juga nampak seperti sang istri. Polos seperti bayi baru lahir. Mendekati Aira dengan nafas yang memburu.


Wanita itu berjengit kaget saat tiba tiba ada sepasang lengan kokoh melingkar diperutnya yang polos. Ditambah dengan sentuhan lembut diceruk lehernya yang mampu membuat hatinya berdesir aneh.


"Mas.." Lirihnya sambil berusaha melepas rengkuhan tangan suaminya, apalagi saat dia merasakan ada sesuatu yang menusuk tepat dibelakangnya.


"Ssttt.. kamu sangat seksi sayang."


Alvian mendaratkan kecupannya diseluruh punggung Aira dengan sang tangan yang sudah berkelana diarea favoritnya membuat Aira seketika mendesah dengan mencengkeram lengan Alvian.


"Kamu membuatku menggila sayangku." Sela Alvian ditengah ciumannya.


Gelora mereka berdua sudah tidak bisa dibendung lagi. Namun tidak mungkin dia melakukan hal itu dikamar mandi. Alvian terlalu takut jika perbuatannya bisa menyakiti calon anak mereka.


Melepaskan ciumannya lalu membilas tubuh mereka berdua. Aira hanya bisa terdiam dengan raut wajah yang kecewa karena sang suami yang melepaskan ciumannya.


Tahu jika sang istri kecewa, dia berbisik lembut ditelinga Aira.


"Kita lakukan dikamar sayang, disini terlalu berbahaya, aku tidak mau terjadi apa apa dengan calon anak kita."


Senyuman terbit dibibir Aira, terharu karena dibalik sikap mesum suaminya, Alvian masih memperhatikan dirinya dan juga calon anak mereka. Kemudian wanita cantik itu memeluk posesif leher kokoh Alvian, saat pria itu membawanya kedalam gendongannya. Tubuh mereka masing masing hanya dibalut dengan sehelai handuk saja.


Sesampainya dikamar Alvian merebahkan tubuh Aira dengan sangat hati hati layaknya barang yang mudah pecah. Pelan dan sangat lembut.


Nafas keduanya mulai kembali memburu, kali ini mereka tidak akan menyia nyiakan waktu lagi. Tanpa sadar tubuh keduanya sudah kembali polos. Dan dengan gairah yang membara mereka melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda dikamar mandi tadi.


Sementara itu...

__ADS_1


Mobil yang dikendarai Alex sudah sampai disebuah kompleks perumahan elit. Mobil Mercy hitam miliknya itu kini berhenti disebuah rumah mewah dan besar dengan gaya klassik modern. Rumah yang dia beli untuk hadiah pernikahannya dan Jiza.


Pagar putih yang menjulang tinggi itu terbuka otomatis saat Alex mengeluarkan kepalanya dan menatap mesin pendeteksi didepan pagar. Sesampainya didalam dia disambut oleh dua penjaga yang sedang berdiri dengan senyuman ramahnya.


"Selamat datang Tuan."


Alex mengangguk datar, begitulah sifatnya jika didepan orang lain. Setelah sampai dipelataran rumah barunya yang terlihat sangat kuas, Alex segera membangunkan Jiza yang nampak terlelap.


"Sayang, bangun kita sudah sampai." Ucapnya sembari mengguncang pelan tubuh istrinya.


"Uuugghhh..."


Gadis itu menggeliat kecil lalu mengerjapkan kedua matanya. Memandang bingung sekelilingnya yang nampak begitu asing.


"Mas ini dimana ? Katanya mau pulang ?"


"Ini udah pulang sayang."


"Tapi ini bukan rumah mama mas." Gadis itu heran pasalnya rumah besar didepannya ini bukan rumah milik mama mertuanya.


Alex tersenyum, bergegas pria itu membuka pintu mobilnya dan keluar. Berjalan memutar untuk membuka pintu mobil istrinya.


"Ayo." Tangannya terulur berharap sang istri menyambutnya.


"Tapi..." Walau ragu tetap saja diraihnya tangan suaminya.


"Udah masuk dulu, nanti kita bicara didalam."


Gadis itu menurut, menggelayut manja dilengan kekar sang suami sementara Alex menggenggam erat tangannya yang berada dilengannya. Saat pintu terbuka kedua mata Jiza langsung melebar melihat ruangan yang begitu luas dan mewah.


"Mas ini rumah siapa ? Bagus sekali."


"Apa kamu suka ?"


"Sesuai keinginanku."


"Ini memang dibuat sesuai keinginanmu sayang."


"Maksudnya ?"


"Ini rumah untukmu, aku berikan khusus untuk istri tercintaku." Ujarnya dengan tatapan penuh cinta membingkai wajah istrinya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2