
"Selamat ya, aku turut bahagia melihatmu bahagia. Teruslah tersenyum seperti ini, jangan biarkan senyum ini memudar dan berganti dengan tangis. Sudah cukup selama ini kamu menderita dan menangis. Sekarang sudah saatnya wajah cantik ini memberikan senyuman yang cerah secerah matahari. Apa kamu bisa melakukannya ?" Ucap Alex dengan kedua mata yang sudah berembun.
Aira tersenyum dalam tangisnya lalu menganggukkan kepalanya berulang kali. Menatap wajah sang sahabat sekaligus sosok orang yang begitu berarti dihidupnya. Aira berpikir entah bagaimana hidupnya selama ini jika Alex tidak hadir dalam kehidupannya.
Mengenai masalalunya dengan pria ini, Aira sudah melupakannya dan mengubur dalam dalam, apapun yang mereka lalukan karena murni keinginan dari Aira walaupun sebelumnya Alexlah yang menolongnya. Tapi karena kebutuhan hidup, pada akhirnya menjadikan Alex sebagai ATM berjalannya dengan dirinya yang dia jadikan sebagai imbalan.
"Terima kasih, aku akan selalu mengingat permintaanmu."
Alex mengusap lembut pipi Aira lalu beralih keujung kepalanya. Mengusapnya dengan perasaan kasih dan sayang.
"Boleh aku memelukmu ?" Tanyanya ragu sembari melirik kearah Alvian seakan meminta ijin.
Aira berpaling pada Alvian, menatap wajah suaminya itu dengan tatapan penuh harap. Tersenyum lega saat Alvian menganggukkan kepalanya.
Gadis itu memeluk erat tubuh Alex dengan perasaan lega, tidak ada lagi beban dihidupnya saat ini. Begitu juga dengan Alex, semua rasa bersalahnya seakan sirna, dan saatnya juga bagi dirinya sekarang untuk melangkah kekehidupan yang lebih baik lagi.
"Terima kasih."
Hanya itu kata kata yang bisa Aira ucapkan mewakili semua perasaan dihatinya. Hanya sebentar saja acara pelukan mereka, karena saat ini ada dua hati yang harus mereka jaga, siapa lagi jika bukan Alvian dan Jiza.
"Terima kasih sudah menjaga dan mencintai Araku, aku harap kau akan selalu menjaganya sebagaimana kami menjaganya selama ini." Ucapnya pada Alvian yang ditanggapi senyuman oleh pria itu.
Alex undur diri sembari memeluk pinggang Jiza dengan erat, seakan tahu apa yang ada dipikiran kekasihnya itu.
"Jangan cemburu, dihatiku sudah penuh dengan nama kamu." Bisik Alex ditelinga Jiza.
"Terima kasih sudah menjaga sahabatku selama ini, aku senang Araku bertemu dengan orang baik sepertimu sayang. Aku beruntung karena bisa mengenalmu dan juga memilikimu." Ucapnya dengan tulus.
"Aku yang beruntung karena bisa memilikimu sayang." Balas Alex tidak kalah tulus.
Jiza tersenyum lalu kembali bergelayut manja dilengan Alex.
"Ayo kita pulang keapartemenku, aku ada sesuatu untukmu."
"Apa ?"
"Kalau kuberitahu bukan kejutan namanya sayang." Ucapnya sembari memencet hidung Jiza.
Gadis itu memberengut manja namun terlihat begitu menggemaskan dimata Alex. Ingin rasanya dia memiliki gadis itu seharian ini.
__ADS_1
Sementara itu setelah kepergian Alex, Alvian menatap penuh arti wajah istrinya. Membuat Aira sedikit bingung karena pria itu tidak pernah melepaskan pandangan matanya darinya sedikitpun.
"Kenapa mas, dari tadi menatapku seperti itu ?" Tanya Aira pelan dan hati hati.
"Aku cemburu, dia memelukmu begitu erat." Keluhnya dengan wajah masam.
"Bukankah mas sudah menginjinkannya tadi ? Kenapa sekarang kok begitu."
Alvian menarik pinggang Aira, menatap mesra manik hitam milik istrinya.
"Tetap saja aku cemburu sayang, bahkan aku juga cemburu melihatmu begitu manja pada papa Andre."
"Cemburumu tidak beralasan mas." Cibir Aira.
"Tentu saja beralasan Araku, karena kamu sekarang adalah istriku. Tidak akan kubiarkan oranglain mengganggu apa yang sudah menjadi milikku."
"Cintaku hanya untukmu mas, dihati ini sudah terisi penuh dengan namamu."
"Benarkah ?"
"Hmm."
"Kalau begitu bersiap siap nanti malam aku tidak akan melepaskanmu sedetikpun sayang, bahkkan aku tidak menjamin kamu akan bisa berjalan besok."
Aira menelan salivanya susah dengan wajah yang sudah memucat. Jika Alvian sudah berkata seperti itu, sudah dipastikan apa yang dia ucapkan akan benar benar dia lakukan. Kemaren saja Aira sampai merasakan daerahnya nyeri dan sakit, apalagi jika pria itu berbuat sampai..Hah membayangkannya saja sudah membuat tubuh Aira memgeluarkan keringat dingin.
"Kenapa ? Sepertinya istriku ini sudah tidak sabar ya, apa sekarang saja kita kekamar hm." Bisiknya ditelinga Aira.
"Hah..ak-aku mau makan dulu ya mas." Kilahnya lalu secepat kilat berjalan menjauh dari suami mesumnya itu.
Alvian tergelak melihat tingkah istrinya. Kemudian pria itu juga bergerak kearah stand minuman, dia merasa lehernya terasa kering.
Menggemaskan
Disudut ruangan sepasang mata menatap kearah Alvian dengan seringaian penuh makna. Sorotan matanya menyiratkan kebencian yang mendalam. Setelah meneguk sisa minumannya sosok tersebut langsung beranjak dan pergi berlalu dari kediaman Alvian.
Sementara Alvian sendiri tersenyum sinis,, pria itu bukannya tidak tahu jika ada seseorang yang mengawasinya sedari tadi, hanya saja dia harus berpura pura agar istrinya tidak merasa takut. Tangannya memberi isyarat pada dua orang yang mengenakan seragam pelayan.
"Saya mau mulai sekarang kalian kerahkan beberapa anak buahmu dan bagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok kalian tugaskan untuk mengawasi gerak gerik orang tadi, satu kelompok lagi jagalah istriku, usahakan jangan sampai membuatnya tidak nyaman. Kalian hanya harus menjaganya dari jauh, dan saya minta kalian berdua yang memberi perlindungan pada Araku."
__ADS_1
"Baik bos." Jawab mereka berdua kemudian pergi meninggalkan Alvian.
"Ada apa kak ?" Tanya Bian tiba tiba, pria itu sempat melihat raut wajah kakaknya yang terlihat gusar.
"Dia muncul."
"Apa !"
"Ya, mungkin saja dia mendengar pernikahanku ini dari kerabat kainnya."
"Apa aku harus memberi tahu papa tentang ini kak ?"
"Jangan dulu Bi, biarkan dulu dia berbuat apa yang diinginkannya. Jika sudah waktunya tiba maka aku sendiri yang akan membereskannya."
"Tapi bagaimanapun dia masih kerabat kita kak, aku rasa Papa harus tahu hal ini."
"Nanti saja Bi, aku mau melihat sejauh mana dia akan berbuat nekad, bukankah Om Nugraha pernah sekali membuatnya jera ? Aku mau lihat apa dia sudah benar benar jera atau hanya pura pura jera saja."
"Baiklah kak, apapun itu kakak jangan khawatir, aku dan papa akan selalu mendukungmu."
Alvian tersenyum lalu memeluk adik sepupunya itu.
"Terima kasih kalian selalu ada untukku disaat aku membutuhkan kalian."
"Kakak ini bicara apa, tentu saja aku selalu mendukungmu, kita ini adik kakak, bahkan nyawapun akan aku berikan jika perlu."
"Ya aku tahu, baiklah aku akan mencari kakak iparmu, aku tidak ingin kedekatan kita membuat curiga banyak orang, kakak yakin ada mata mata yang mengawasi gerak gerik kita Bi."
Bian mengangguk, setelah kepergian kakaknya pria itupun berbalik hendak menuju kamarnya. Rasa kantuknya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Beberapa kali dia menguap lebar dan segera ingin pergi kekamarnya yang ada dilantai yang sama dengan kakaknya.
Bruk
"Shitt, apa kau tidak punya mata hah !" Bentaknya pada gadis yang menabraknya dan membuat kemejanya basah karena tumpahan air minum.
"Ma-maaf kak, aku tidak sengaja."
"Ck, kau ini setiap bertemu denganmu selalu saja membuatku sial. Aku heran kenapa bisa adikku punya teman sepertimu." Umpatnya kemudian segera berlalu dari hadapan gadis itu.
Sementara gadis itu hanya diam membisu menatap sendu kepergian pria yang selama ini dia kagumi.
__ADS_1
"Kapan kamu akan menganggapku ada kak, kamu tahu aku mulai merasa lelah, lelah berharap sesuatu yang tidak mungkin bisa aku gapai."
TBC