
"Cle -------"
Chery mematung ditempatnya menatap wajah gadis yang saat ini sedang menatap balik dirinya dengan tatapan heran. Tangannya yang berada diatas pundak itu secara perlahan mulai turun. Terlihat kedua matanya yang indah itu nampak berkaca kaca dan air mata yang sudah menggenang.
"Ada yang bisa saya bantu Teh ?" Tanya gadis didepannya dengan senyuman ramah menghiasi bibirnya, logat sundanya terlihat kental sekali saat dia mengeluarkan suaranya.
"Ti - tidak, maaf saya pikir anda temen saya." Ujarnya dengan senyuman kaku.
"Oh tidak apa apa teh, saya maklumi. Ya udah ayok saya permisi dulu ya." Jawabnya lagi sambil berpamitan.
Dengan lemas dan tidak bersemangat Chery mengangguk. Mengusap pelan airmatanya yang sebentar lagi pasti akan jatuh jika dia berkedip. Menatap sekeliling seakan masih mencari sosok yang dia lihat tadi. Sosok yang dia yakini adalah Cleo, sahabatnya.
Tapi aku yakin kalau tadi adalah Cleo, mataku tidak mungkin salah lihat kok.
Lelah berdiri akhirnya Chery kembali berjalan menuju sebuah restoran. Tadi saking semangatnya dia mengejar Cleo kini membuatnya merasa lelah dan haus.
"Apa aku terlalu rindu sama kamu. Cle, sampai sampai orang lain terlihat seperti kamu." Ucapnya sendu dengan suara lirih.
Dengan gontai Chery melanjutkan langkah kakinya menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Pandangan matanya terlihat kosong dan tidak ada semangat didalam dirinya. Bahkan dia mengacuhkan dua pengawalnya yang nampak berlari menyusulnya dengan nafas terengah engah.
Sementara itu ditempat lain tepatnya dibalik tembok, Cleo menatap sedih sahabatnya yang kini mulai menjauh. Sangat sedih saat melihat keadaan Chery yang terlihat kurus dan sedikit pucat.
"Kenapa kamu tidak menemuinya ?" Disebelahnya Jiza menatap iba kedua gadis itu bergantian. " Apa kamu masih marah padanya ?"
Cleo menggeleng pelan sambil menatap punggung Chery yang mulai menghilang dari pandangan matanya. Sebenarnya tadi dia mendengar suara Chery yang memanggil namanya, maka dari itu dia langsung buru buru mengajak Jiza bersembunyi. " Aku tidak pernah bisa marah padanya kak."
"Lalu ?"
"Entahlah, aku hanya belum siap untuk bertemu dengannya."
"Termasuk Bian ?"
Cleo terdiam, seketika bayangan wajah kekasihnya memutari kepalanya. Bahkan nyatanya setelah sekian lama, saat mendengar nama itu disebut, desiran dihatinya masih jelas terasa.
Dia sangat merindukan wajah itu, wajah sedingin kulkas dan datar milik Bian. Nyatanya walau dia berusaha membencinya, cintanya lebih kuat dari rasa benci pada pria yang selama bertahun tahun namanya singgah dihatinya.
"Aku belum tahu kak, aku hanya masih butuh waktu sedikit lagi untuk bisa menerima semuanya."
__ADS_1
Jiza mengangguk dan tersenyum. " Semua terserah bagaimana kamu menyikapinya Cle. Kakak yakin kamu sudah sangat dewasa dan matang untuk mengambil sebuah keputusan. Dan kakak hanya bisa berharap semoga kamu tidak terlalu larut dalam kekecewaan yang pada akhirnya berujung dengan sebuah penyesalan. Jangan sampai disaat kamu menyadari arti pentingnya sebuah ikatan dan hubungan, semuanya sudah terlambat."
Cleo mengangguk lalu tersenyum menatap lembut wajah wanita hamil didepannya itu.
"Percayalah kak, aku tidak pernah bisa membenci mereka. Aku butuh sedikit lagi waktu supaya rasa kecewa ini benar benar hilang dari hatiku. Karena aku tidak mau menjalani hubungan jika hatiku saja masih diliputi rasa kecewa. Aku takut apabila dipaksakan malah akan membuat banyak hati yang tersakiti."
Jiza mengangguk paham, lalu setelah itu mengajak Cleo untuk pulang saja karena selain dirinya sudah merasa puas setelah menghabiskan banyak sekali uang suaminya, waktu juga sudah mulai menunjukkan angka 4, yang artinya sebentar lagi Alex pasti akan segera pulang dari kantor.
"Jadi ini yang dilakukan istri cantikku selama seharian penuh ? Pantas saja ponselku terus berbunyi, rupanya istri cantikku sedang mengurasku hm ?"
Suara maskulin milik Alex langsung menyapa kehadirannya yang baru saja masuk kedalam kamarnya. Disertai cengiran diwajahnya, Jiza melangkah mendekati suaminya yang sedang duduk di sofa kamar.
Tanpa berkata apapun, Alex langsung berdiri dan segera meraih barang belanjaan Jiza disertai tatapan tajamnya menatap wajah sang istri. Pria itu marah karena melihat istrinya yang membawa begitu banyak barang belanjaan yang terasa berat, padahal wanita itu sedang hamil.
"Apa dibawah tidak ada pelayan yang bisa kamu suruh hm ? Atau kamu sengaja ingin membuat suamimu ini memecat semua pelayan disini ?" Ujarnya dengan nada tegas penuh penekanan.
Bukannya takut Jiza malah tersenyum lalu menghampiri Alex yang terlihat marah. Dengan manja wanita itu bergelayut manja dilengan kokoh suaminya, dan saat mereka sampai di sofa tanpa sungkan wanita itu langsung duduk dipangkuan Alex.
Kedua tangannya langsung membelit leher kokoh suaminya disertai tatapan memuja, berharap dengan dia berbuat seperti itu bisa meredakan amarah sang suami.
__ADS_1
Alex yang memang menyukai posisi seperti itu tentu saja langsung tersenyum. Dia tahu jika istrinya saat ini tengah merayunya, walau sebenarnya tanpa Jiza melakukan hal itupun dia tidak pernah bisa merasa marah terhadap istrinya yang sangat dia cintai itu.
Sembari memejamkan kedua matanya Alex meresapi usapan lembut tangan mungil Jiza di pipinya. Pria itu semakin menarik pinggang istrinya hingga membuat tubuh keduanya saling menempel erat tanpa jarak, walau masih terhalang dengan perut besar sang istri tapi tidak mengurangi keintiman mereka.
"Jangan memecat mereka, aku yang salah mas karena tidak mau merepotkan mereka. Bagaimanapun semua pelayan sudah melakukan tugas mereka dengan baik, aku hanya tidak mau menambah pekerjaan mereka. Kalau mereka dipecat lalu bagaimana dengan keluarganya ? Mereka juga punya keluarga yang harus dinafkahi." Ujar Jiza dengan suara lembut.
"Tapi mas menggaji mereka dengan gaji yang sangat besar sayang. Karena mas tahu tugas mereka pasti bertambah, salah satunya adalah membantumu jika kamu sedang hamil seperti ini. Itu sudah tugas mereka, mas lebih baik kehilangan harta mas daripada terjadi sesuatu pada dirimu dan juga kandunganmu. Tidakkah kamu bisa mengerti kekhawatiran mas, hm ?" Jawab Alex sembari menatap intens wajah sang istri yang terlihat sangat merasa bersalah.
"Maaf, aku tidak berpikir sampai kearah sana. Maaf karena aku masih suka ceroboh dan ----"
"Ssstttt, jangan diulangi lagi ya." Potong Alex cepat ketika melihat kedua mata sang istri yang sudah berkaca kaca hendak menangis, sedikitpun Alex tidak akan pernah membiarkan wanita yang sangat dicintainya itu mengeluarkan airmata walau hanya setetes.
"Aku lebih suka bibir ini tersenyum daripada menangis. Tangisanmu membuat hati mas terasa sakit." Sambungnya lalu membawa istrinya kedalam pelukannya yang disambut Jiza dengan tidak kalah hangat.
"Aku mencintaimu mas." Ucapnya lirih didalam pelukan Alex.
Jiza begitu sangat beruntung bisa mendapatkan sosok suami yang begitu lembut, hangat, dan begitu sangat menyayangi dirinya. Tidak pernah Alex berkata ataupun bersikap kasar padanya, meskipun dia sedang marah sekalipun. Terlepas dari bagaimana masalalu Alex, Jiza tidak pernah memperdulikannya. Karena setiap orang pasti mempunyai masalalu yang buruk.
"Aku juga sangat mencintaimu, my sweety."
__ADS_1