
Tok Tok Tok
Suara pintu kamar yang diketuk dari luar membuat Aira langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kearah pintu. Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Aira malah terbengong didepan pintu.
"Aira sayang, boleh oma masuk."
Aira tergagap lalu segera mempersilahkan oma Tamara masuk kedalam kamarnya, tepatnya kamar milik Alvian.
"Masuk oma, kenapa oma harus kesini ? Oma bisa memanggilku jika memang membutuhkan sesuatu." Ucap Aira dengan tidak enak hati.
Oma Tamara tersenyum kemudian melambaikan tangannya pada Aira, menyuruh gadis itu untuk mendekat kearahnya dan duduk disisinya.
"Kemarilah nak."
Aira langsung mendekat dan duduk disamping Oma Tamara, sementara mbak Tuti segera meninggalkan kamar tersebut setelah sebelumnya diberitahu oleh majikannya itu hanya untuk sekedar mengantarnya.
"Bagaimana keadaanmu ?"
Aira tersenyum, senyum yang begitu tulus dan memukau.
"Aku baik baik saja oma, bahkan semakin lebih baik setiap harinya. Aira ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan oma dan tuan Alvian yang sudah menampung gadis seperti Aira dirumah besar ini. Ingin rasanya Aira membalas budi setiap kebaikan oma, tapi nanti setelah Aira sukses ya oma, jujur sekarang Aira tidak mempunyai apapun." Ucap gadis itu dengan nada sedihnya.
"Oma tulus dan ikhlas membantumu sayang. Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya."
"Entahlah oma, tapi Aira mungkin akan pergi dari kota ini dan mencari pekerjaan baru ditempat lain."
"Tapi...."
"Oma tenang saja, Aira tidak akan kembali lagi kedunia hitam itu lagi. Aira benar benar ingin keluar dan hidup lebih baik lagi." Ucapnya lagi dengan tersenyum saat gadis itu sempat melihat raut wajah oma Tamara yang berubah khawatir.
Helaan nafas lega terdengar ditelinga Aira, membuat gadis itu kembali menyunggingkan senyuman manisnya.
Oma Tamara meraih tangan Aira lalu mengusapnya lembut.
"Nak, apa kamu memang ingin sekali membalas budi ? Padahal oma ikhlas loh menolong kamu." Tanyanya dengan penuh keyakinan, padahal dalam hati, oma menertawakan dirinya sendiri.
Mana ada ikhlas tapi mengharapkan balas budi, tapi demi membuat gadis ini tidak pergi, apapun akan menjadi halal dan mudah. Xixixix..
__ADS_1
Aira menatap wajah oma yang nampak tersenyum dengan pandangan matanya menjuru padanya, tidak ada rasa curiga sedikitpun yang dia punya pada wanita renta didepannya ini.
"Apapun jika Aira bisa melakukannya, akan aku lakukan untuk membalas kebaikan Oma dan Tuan Alvian." Ucapnya tegas dan yakin.
"Bagaimana jika oma memintamu menikah dengan Alvian, cucu oma ?"
Aira terkejut, tidak menyangka jika hal itu yang diinginkan oleh Oma Tamara.
"Maaf oma, jika menyangkut hal itu, Aira tidak bisa melakukannya."
"Tapi nak..."
"Mengertilah oma, akan Aira lakukan apapun yang oma inginkan asal bukan memintaku untuk melakukan hal yang tidak mungkin aku lakukan." Ucapnya lirih.
"Apa keputusanmu sudah bulat ?"
Aira mengangguk mantap dengan kepala tertunduk kebawah.
"Apa tidak ada sedikitpun perasaanmu pada Alvian ? Sedikit saja, mungkin hanya setetes cinta ?"
"Itu..aku.."
Aira menatap bingung pada wanita tua didepannya ini.
"Maksud oma mengerti itu bagaimana ya oma ? Aira jadi bingung."
Oma Tamara tersenyum, kali ini penuh dengan rencana yang sudah tersusun rapi.
"Ya, oma mengerti bahwa sejatinya kamu mencintai cucu oma, hanya saja ada satu hal yang menghalangi hatimu untuk menerima cinta Alvian. Dan oma tidak tahu apa itu, yang pasti oma bisa melihat kalau kamu berusaha sekuat tenaga membentengi dirimu sendiri dengan ketakutanmu itu. Apa oma benar kali ini Aira ?"
Aira terperangah, bagaimana Oma Tamara bisa membaca apa yang selama ini ada dipikirannya. Melihat Aira yang hanya terdiam membuat Oma Tamara semakin gencar untuk melancarkan aksinya.
"Apa yang membuatmu merasa takut Aira ? Kamu bahkan pantas untuk hidup bahagia bukan. Dan kebahagiaanmu terletak pada cucuku, Alvian." Ucapnya dengan terus mempromosikan cucunya. (emang barang dipromosiin )
"Apa kamu tidak ingin berbagi cerita dengan oma ? Siapa tahu oma bisa membantumu menyelesaikan masalahmu. Begini begini oma adalah orang yang ahli dalam mencari solusi untuk semua permasalahan anak muda." Ucapnya lagi dengan nada sombong.
Aira mengulum senyum, namun kemudian senyumnya surut dan berubah menjadi kesedihan yang sangat dalam. Gadis itu berdiri dan berjalan sampai didepan jendela. Menatap arah taman yang berada tepat didepan kamar Alvian.
__ADS_1
"Entahlah oma, tapi ketakutan dalam diri Aira begitu besar. Rasa amarah, benci, kecewa dan takut akan kejadian dulu terulang lagi membuat hati Aira menjadi beku dan enggan untuk mengenal lagi apa itu cinta. Aira baru pertama kali merasakan cinta dan itu Aira rasakan padanya, sebelum akhirnya Aira harus menelan kekecewaan dan sakit hati yang begitu besar. Semenjak itu Aira menutup diri untuk siapapun yang mencoba masuk kedalam hati ini.
Sebenarnya Aira juga ingin seperti orang lain, bisa hidup bahagia dengan pasangan hidup mereka lalu mempunyai keturunan. Tapi lagi lagi perasaan cinta itu harus terkikis habis dengan rasa takut dan kecewa yang selalu membayangi hari hari Aira."
"Lalu kenapa kamu menolak Alvian Ra ? Siapa tahu jika dengan pria tengil itu kamu justru menemukan kebahagiaan yang selama ini kamu cari."
Aira menoleh sejenak lalu kembali menatap taman.
"Alvian adalah sosok orang yang baik dan penuh kelembutan oma. Aira tahu saat pertama kali bertemu dengannya. Sikap lembutnya mampu membuat Aira merasa nyaman tiap dekat dengannya."
"Kalau begitu apa yang membuatmu menolaknya nak ? Apa kamu tahu penolakanmu membuatnya begitu sedih dan terpuruk."
Aira menunduk saat airmatanya sudah menggenang dipelupuk matanya dan siap untuk jatuh.
"Oma, sudah kukatakan jika Alvian adalah pria yang sangat baik, dan juga sosok pengusaha yang begitu dikenal oleh khalayak ramai terutama publik. Apa jadinya jika dia memutuskan untuk berdampingan dengan diriku yang notabenenya adalah bukan perempuan baik baik alias seorang p****r ?
Aira tidak ingin dia dihujat dan itu bisa berpengaruh pada perusahaannya oma. Dan Aira tidak mampu menyaksikan oma yang mendengar bahkan melihat bagaimana cucu oma dihujat oleh khalayak karena tidak becus mencari pasangan hidup yang sesuai."
Oma Tamara terdiam, wanita renta itu tidak berpikir kearah sana. Yang dia pikirkan adalah bagaimana saat ini dia berusaha membuat gadis itu menerima cucunya.
Tapi walaupun begitu, dia sangat yakin jika Alvian pasti sudah memikirkan kearah sana. Dan pastinya cucunya itu sudah melakukan apa yang seharusnya sudah dia lakukan, dia sangat yakin pada cucunya itu.
"Oma yakin jika Alvian sudah melakukan apapun yang seharusnya dia lakukan Aira. Kenapa kamu terlihat sangat khawatir nak, bahkan oma sudah tahu semua tentangmu. Dan buktinya oma tidak mempermasalahkan semuanya Aira. Karena setiap manusia pasti mempunyai masa lalu yang buruk." Jelas Oma berusaha meyakinkan gadis itu kembali.
"Lalu bagaimana nanti Alvian menghadapi dunia yang begitu kejam oma ? Membayangkan saja sudah membuatku takut oma." Lirihnya kembali berucap.
"Maka akan kupertaruhkan nyawaku untuk menghadapi dunia kejam itu Aira, yang terpenting kamu selalu ada bersamaku maka aku tidak akan pernah takut menghadapi siapapun."
Keduanya menoleh serentak pada suara bariton yang terdengar membahana dikamar tersebut. Oma langsung memperlihatkan senyuman lebarnya saat melihat kedatangan cucunya dikamar tersebut. Entah kapan pria itu datang yang jelas tiba tiba saat ini dia sudah berada didepan pintu dengan mata yang menatap tajam ke arah aira.
"Al..." Panggil Aira dengan suara lirihnya.
Alvian, pria itu berjalan terus hingga sampai didepan gadis pujaan hatinya. Sorot matanya yang tajam menatap Aira dengan penuh kehangatan, hingga menular kedalam tubuh Aira dan menjalar kepembuluh darahnya. Sungguh pria itu sangat ahli dalam mengobrak abrik perasaan dan hatinya.
"Aku bahkan rela kehilangan semua hartaku hanya demi bisa bersamamu Aira. Apa dengan ini sudah membuatmu merasa yakin jika aku sangat mencintaimu dan begitu menginginkanmu hmm ? Jika perlu saat ini juga aku akan mengadakan jumpa pers untuk mengatakan bahwa kamu satu satunya wanita yang akan selalu menjadi ratu dan permaisuri dihatiku Ra."
Kedua mata Aira berkaca kaca melihat bagaimana tulusnya hati pria itu. Runtuh sudah pertahanan yang selama ini dia bangun hanya dalam waktu sekejap. Dan dengan cepat gadis itu lari kedalam pelukan Alvian yang nampak menerimanya dengan senyuman lebar.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Al, sangat mencintaimu."
TBC