
"Jadi, apa kamu akan menjelaskan sesuatu pada kami Ara ?" Tanya Jiza sembari menekankan namanya.
Sementara Alex menatap keduanya dengan pandangan menyelidik, terutama pada Alvian, sosok pria yang sepertinya dia pernah bertemu tapi entah dimana dia juga tidak mengingatnya.
Dan saat ini mereka berempat tengah berada diruangan VIP sebuah restoran mewah yang ada didalam mall tersebut. Alex memang memesan ruangan VIP supaya pembicaraan mereka tidak terganggu oleh bisingnya tamu lain.
Aira terlihat sangat gugup dengan mata sesekali melirik kearah dua sahabatnya lalu bergantian kearah Alvian. Senyuman canggung selalu dia perlihatkan, saat ini dia benar benar merasa dipojokkan.
"Aku.."
"Aku tahu siapa pria disampingmu ini Ara." Kembali Jiza berucap yang membuat ketiganya menoleh serentak kearahnya.
"Maksud kamu Za ?" Tanya Aira gugup.
Jiza mengulum senyuman misteri, namun sebenarnya ada sedikit rasa kecewa didalam hatinya, gadis itu terlalu takut dengan praduganya sendiri. Mungkinkah sahabatnya itu kembali terjun kedunia itu.
"Apa kamu lupa jika dulu kamu pernah menunjukkan fotomu saat bersama dengannya, saat kamu masih...." Gadis itu tidak melanjutkan perkataannya, rasanya lidahnya terasa kaku. "Aku masih mengingatnya dengan jelas Ra, kumohon jangan membuatku berpikir jika kamu..."
"Dia calon istriku." Potong Alvian cepat, pria itu sudah tahu akan maksud perkataan gadis didepannya.
Jiza terkejut setengah mati begitu juga dengan Alex, namun senyuman lega muncul dibibirnya saat apa yang ada dipikirannya ternyata salah. Sementara Alex masih dengan tatapan dinginnya menatap tajam kearah Alvian.
"Apa anda berkata benar ?"
Alvian tersenyum sinis sembari menatap balik kedua mata Alex dengan santai.
"Saya seorang lelaki dan pantang bagi saya untuk bermain main perasaan dengan seorang wanita apalagi wanita yang sangat saya cintai." Jawabnya tegas.
Aira dan Jiza merasakan suasana yang mendadak berubah mencekam diruangan tersebut. Membuat keduanya bergidik merinding.
"Mas.." Panggil Aura lirih dengan tangannya mengusap dada bidang Alvian dengan lembut, berusaha meredakan emosi pria itu, walaupun tidak kentara tapi Aira dapat merasakan jika kekasihnya saat ini sedang menahan amarah. Dan itu berhasil, terbukti urat urat keras dikening Alvian secara perlahan mulai mengendur.
Melihat sikap Aira membuat Alex sadar jika apa yang dikatakan pria ini adalah jujur. Dalam hatinya Alex merasa lega karena pada akhirnya Aira bisa menemukan pria yang begitu mencintainya dan bisa memberikan perlindungan padanya.
"Sudahlah Lex, harusnya kita juga ikut bahagia karena pada akhirnya ada yang bisa mencintai dan melindungi Aira. Kita lupakan masa lalu dan sekarang saatnya untuk bahagia bukan." Kata Jiza berusaha melunakkan hati Alex yang masih berwajah masam.
"Apa kamu mencintainya Ra ?" Mengabaikan perkataan Jiza, Alex malah memberikan pertanyaan pada Aira.
"Aku mencintainya Lex, selama ini mas Alvian yang sudah menolongku, semenjak keluar dari rumah sakit aku bertemu dengannya dan dia membawaku kerumahnya. Jujur awalnya aku memang tidak mempunyai perasaan apapun terhadapnya, aku terlalu takut untuk memulai sebuah hubungan. Rasa trauma itu selalu membayangiku setiap hari.
Tapi mas Alvian tidak pernah berhenti sedetikpun memberikan perhatian dan ketulusan cintanya padaku, walaupun berkali kali aku menolaknya, tapi dia selalu berusahaa lebih keras. Hingga pada akhirnya hatiku sudah tidak mampu lagi menolak cintanya yang begitu tulus dan besar untukku. Aku mencintainya, sangat mencintainya dan aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai lagi." Ucap Aira sembari menatap manik mata hitam milik Alvian.
Alvian sendiri merasa begitu bahagia mendengar ungkapan cinta dari wanita pujaan hatinya. Dikecupnya lembut kening Aira dengan durasi yang agak lama.
"Terima kasih sayang, akupun sangat mencintaimu. Aku akan selalu menjagamu dan melindungimu." Bisik Alvian ditelinga Aira.
"Ekhem.."
Alex berdehem keras lalu memutar bola mata jengah melihat pasangan bucin didepannya itu. Membuat Jiza terkikik geli melihat tingkah kekasihnya. Dengan jahil dia mendekatkan bibirnya ditelinga Alex kemudian berbisik lirih.
"Jangan iri, aku juga bisa berubah bucin kalau kamu mau."
Alex melotot lalu memberikan tatapan tajam pada kekasihnya, membuat Jiza semakin terkikik geli.
__ADS_1
"Kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian Za, Lex ? Aku menunggu undangan dari kalian loh."
Pertanyaan Aira membuat Jiza tersipu malu, namun tidak dengan Alex. Pria itu tetap memasang wajah datar.
"Secepatnya." Jawabnya singkat. "Baiklah Ra, jujur aku bahagia bisa kembali bertemu denganmu, dan aku lebih bahagia lagi melihat kamu sudah menemukan kebahagiaanmu. Bukalah lembaran baru dan berbahagialah Ra, karena kamu pantas dan berhak untuk hidup bahagia."
Alex berdiri lalu melangkah kearah Alvian yang juga ikut berdiri. Diikuti oleh Jiza yang mengekor dibelakangnya.
"Tolong jaga sahabatku dan buatlah dia selalu bahagia. Jangan biarkan satu tetes airmata jatuh dipipinya. Sudah cukup dia menderita selama ini dan aku percayakan itu padamu bro. Maaf atas sikapku barusan." Ucap Alex kemudian memeluk Alvian ala lelaki.
"Pasti." Jawab Alvian singkat namun tegas.
"Aku harus pergi, masih ada urusan yang harus aku selesaikan."
"Mainlah kerumah Alvian Za, nanti aku kasih alamatnya ya." Kata Aira sembari memeluk erat Jiza.
"Insya Allah, aku akan main lagipula aku sangat merindukanmu Ara, pertemuan ini rasanya belum membuatku puas, tapi lihatlah pria itu selalu tidak sabaran, membuatku terkadang merasa sebal." Gerutu Jiza dengan bibir yang mengerucut.
"Sebal tapi cinta." Goda Aira yang dijawab kekehan oleh Jiza.
"Kamu benar Ra, aku sangat mencintainya."
"Maaf ya Za, hubungan kami dulu..."
"Sstt..semua sudah berlalu dan aku tidak pernah memikirkannya. Aku menerima dia apa adanya tidak perduli bagaimana masalalunya denganmu atau dengan siapapun juga."
Aira mengangguk lalu kembali memeluk erat sahabatnya, rasanya dia tidak ingin untuk kembali melepas pelukan hangat jiza.
"Yank.." Seru Alex membuat gadis itu mendecak sebal.
"Kamu memeluknya sangat lama sayang." Celetuk Alvian dengan muka cemberut.
"Kamu cemburu padanya mas ? Dia sahabatku dan lagipula dia seorang wanita loh." Jelas Aira.
"Tetap saja kamu disentuh orang lain, dan itu membuatku cemburu." Gerutu Alvian.
Aira geleng geleng kepala, bagaimana bisa pria didepannya ini berubah sangat manja padanya. Dengan perlahan Aira berjalan mendekat kearah Alvian lalu memeluk pria itu dari belakang. Dikecupnya singkat pipi Alvian membuat pria itu berubah cerah.
"Maaf."
Alvian berbalik dan memandang intens wajah cantik Aira.
"Kamu sudah menggodaku sayang, jadi jangan salahkan aku jika aku melakukan lebih." Ucap Alvian dengan seringaian licik muncul dibibirnya.
"Hei kamu bilang tidak ingin menyentuhku sebelum kita menikah." Seru Aira dengan melebarkan kedua matanya.
"Itu tidak berlaku jika kamu yang lebih dulu menggodaku seperti sekarang ini." Lanjutnya lalu tanpa aba aba sudah mendaratkan ciuman panasnya di bibir merah Aira.
Gadis itu berontak dengan memukul mukul kecil dada Alvian. Namun pria itu tidak mengindahkannya dan terus saja meneruskan kegiatannya. Hingga membuat Aira terengah engah karena hampir kehabisan nafas.
"Mas ! Kamu ingin membunuhku ya." Pekiknya dengan wajah memerah karena nafasnya yang hampir habis.
Alvian tergelak kemudian meraih tubuh mungil Aira untuk dibawa kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Ayo kita pulang." Ajaknya yang langsung membuat Aira memberontak.
"Aku bahkan belum menghabiskan uangmu mas, kamu sudah mengajakku pulang saja." Seru Aira dengan wajah cemberut.
Alvian tertawa, pria itu lupa jika mereka bahkan belum melakukan apapun dimall tersebut.
"Ayo kita kencan dan shopping. Pilih apapun yang kamu suka dan habiskan saja uangku." Ajaknya sembari memberikan lengannya untuk digandeng oleh wanitanya.
Aira tentu saja menyambut uluran tangan itu dengan suka cita. Layaknya seperti anak kecil yang bahagia walau hanya mendapatkan sebuah permen lolipop.
"Lihat saja, akan aku habiskan uangmu itu." Bisiknya ditelinga Alvian.
💕 💕 💕
Rumah Sakit Ganendra.
Sean menatap sendu selembar kertas yang ada ditangannya. Kertas yang berlogo lambang G menandakan bahwa kertas itu berisi dokumen yang sangat penting dan rahasia.
Ya lembaran kertas itu berisi sebuah hasil laboratorium miliknya. Ditatapnya bergantian antara dokter dan kertas ditangannya.
"Apa ini akurat ?" Tanyanya.
Dokter Malik menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Berapa lama ?" Tanyanya lagi.
"Se.."
"Berapa lama ?" Ulangnya.
Dokter Malik menarik nafas kasar, kemudian mengusap wajahnya frustasi.
"Masih ada harapan Se, jangan putus asa." Hiburnya pada pria yang sudah sebulan ini menjadi pasiennya sekaligus sahabatnya.
"Aku bertanya bukan untuk mendengarkan hiburanmu Malik. Aku bukan anak kecil yang tidak tahu apa apa dan bisa kamu kelabui. Dan aku tanya untuk terakhir kalinya, berapa lama waktuku ?"
"Dua bulan dan bisa saja kurang dari itu, tergantung dari kemauanmu untuk sembuh atau tidak." Akhirnya kata kata itu keluar juga dari bibir Malik.
Sean tersenyum getir, hatinya semakin hancur mengetahui waktunya yang tidak lama lagi. Padahal masih banyak yang harus dia lakukan terutama menemukan Aira dan meminta maaf padanya.
"Jangan sampai kedua orangtuaku tahu hal ini Malik." Pintanya dengan tatapan sendunya.
"Aku tidak bisa menjamin Se, kamu sendiri tahu bagaimana orangtuamu." Jawab Dokter Malik.
"Berobatlah keluar negeri Se, aku dengar di Jepang banyak dokter ahli dan aku yakin kamu pasti sembuh." Bujuknya berusaha membangkitkan sangat sahabatnya itu.
"Berobat kemanapun pada akhirnya aku akan mati bukan ? Jadi daripada aku membuang waktu berhargaku lebih baik aku gunakan untuk melakukan hal yang selama ini memang harus aku lakukan Malik." Lagi ucapannya terdengar putus asa dan pasrah.
"Se.."
"Tidak apa apa, aku baik baik saja.Aku sadar ini hukuman yang pantas aku terima, tapi apapun itu aku akan berusaha ikhlas menerimanya. Tapi sebelum aku mati aku ingin melakukan sesuatu dan aku butuh bantuanmu." Ucapnya dengan mata menatap serius kearah Dokter Malik.
"Aku akan membantumu." Sahutnya tegas dan yakin.
__ADS_1
TBC