
Tubuh kekar itu ambruk seketika dilantai dengan wajah yang memucat. Bibirnya bergetar ingin berucap namun suaranya tertahan di tenggorokan nya dan sulit untuk dikeluarkan.
"Pa..pa..bo..hong kan ? I-ini tidak benar kan pa ?" Tanyanya dengan suara terbata bata.
"Apa kau pikir papa ini anak kecil hingga papa harus berbohong padamu hah ! Apa sekarang kau menyesal Se ? Tapi sayang penyesalanmu sepertinya sia sia. Gadis itu sudah terlanjur membencimu. Mungkin dia bisa memaafkanmu, tapi papa tidak bisa menjamin jika dia bisa menerimamu kembali setelah apa yang kau lakukan padanya selama ini."
Menyesal ? Ya aku menyesal pa, kenapa baru sekarang setelah apa yang aku lakukan padanya. Benar kata papa mungkin Aira bisa memaafkan aku, tapi menerima ku kembali ? Aku juga ragu tapi aku akan berusaha kembali mendapatkan hatinya pa.
"Tolong katakan padaku pa, apa yang sebenarnya terjadi. Maksudku kejadian sebelum adanya perjodohan itu pa. Aku mohon." Pinta pria itu dengan pandangan mengiba.
Tuan Andre berdecak pelan.
"Untuk apa ? Supaya kau bisa kembali pada mantan istrimu lalu kembali menyiksanya lagi ? Papa tidak akan membiarkan hal itu terjadi Se. Bahkan papa akan menjauhkan Aira sejauh mungkin dari hidupmu." Kecam papanya dengan dingin.
"Sean mohon pa, tolong ceritakan apa yang terjadi." Pinta Sean yang terus mengiba.
Melihat wajah melas putranya membuat pria paruh baya itu menjadi tidak tega, bagaimanapun Sean adalah putranya. Dan kesalahan Sean ini juga berawal dari mereka yang memaksa Sean untuk menerima perjodohan ini.
Perlahan pria itu duduk disamping istrinya, mulai menceritakan kisah masa lalu saat dia meminta Aira untuk menikah dengan putranya.
Flashback on
Dua tahun yang lalu
Langkah kaki jenjang itu semakin cepat dan kini berubah menjadi larian kecil menyusuri lorong rumah sakit milik keluarga Ganendra. Rambut panjang dan lurus nya nampak bergoyang kekanan dan ke kiri mengikuti alur langkah kakinya.
Wajahnya yang cantik tertutupi oleh perasaan panik dan khawatir. Bahkan guliran keringat mulai menetes didahinya. Nafasnya nampak tersengal sengal, namun gadis itu tidak memperdulikan penampilannya yang terlihat berantakan.Hanya satu tujuannya ruang IGD.
Aira Nabila Tanisha, gadis cantik berusia 19 tahun yang saat ini baru saja duduk di bangku kuliahnya. Putri dari pasangan suami istri Muhammad Andi Tanisha dan Jihan Tanisha.
"Paman !" Panggilnya pada sosok pria yang saat ini sedang berdiri didepan ruang IGD bersama wanita paruh baya yang saat ini sedang terisak.
Melihat wanita itu menangis, spontan membuat hati Aira merasa curiga. Apakah dia terlambat ? Begitulah yang ada dipikiran gadis polos itu.
"Bibi kenapa menangis ? Apa terjadi sesuatu pada kak Sean ?"
Nyonya Silvi, menatap wajah panik Aira dengan air mata yang terus bergulir.
__ADS_1
"Ra..Sean.."
"Kenapa dengan kak Sean bi ? Paman." Berpaling pada pria didepannya yang nampak menunduk. " Tolong katakan padaku, apa yang sudah terjadi pada kak Sean."
Tuan Andre menghela nafasnya yang terasa berat, lalu mengeluarkannya pelan.
"Ra, Sean kritis, dia harus segera mendapatkan donor ginjalnya. Sementara sampai sekarang kami belum mendapatkan pendonor yang cocok dengan ginjal Sean. Paman juga bingung, kenapa ginjal kami tidak cocok pada putra kami." Ucap pria itu yang terlihat frustasi.
"Aku akan mendonorkan ginjalku."
Suara itu spontan membuat kedua orang itu menatap seketika kearah Aira. Nyonya Silvi langsung menggeleng seketika.
"Tidak sayang. bibi tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Tapi bi.."
"Yang dikatakan bibimu benar Ra, kamu masih muda, jalanmu masih panjang. Dan kamu masih harus menggapai cita citamu. Jangan kamu korbankan nyawamu untuk seseorang yang tidak berarti untukmu. Kami masih bisa mencari pendonor yang cocok untuk Sean."
"Sampai kapan paman ? Sampai kak Sean tidak tertolong, lalu kalian baru akan menyesalinya. Bahkan sekarang saja kondisinya sudah kritis bukan ? Lalu sampai kapan kalian bisa mendapatkan pendonor yang cocok untuk kak Sean ?"
Kedua orang itu terdiam, membenarkan ucapan Aira. Ya sampai kapan mereka bisa menemukan pendonor yang cocok untuk putranya.
Suami istri itu saling berpandangan, sebelum akhirnya Nyonya Silvi merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Memeluk erat gadis yang sudah dia anggap sebagai putrinya itu.
"Hatimu sangat mulia nak, entah dengan cara apa kami bisa membalas kebaikanmu ini." Ucap Nyonya Silvi dengan airmata yang sudah berderai.
"Cukup dengan kembalikan senyum kak Sean, itu sudah cukup untukku bi." Ucap Aira dengan senyum merekah di bibirnya.
"Ra, apa orangtuamu sudah mengetahui niatmu ini ?" Tanya Tuan Andre pada gadis didepannya itu.
"Kau tenang saja Dre, Aira sudah mengatakan semuanya padaku. Dan kami mendukung apapun yang bisa membuatnya bahagia." Ucap seseorang yang tiba tiba muncul dirumah sakit bersama dengan wanita seumuran Nyonya Silvi tapi masih terlihat kecantikannya.
Tuan Andre menoleh ke sumber suara, senyuman lebar langsung menghiasi wajahnya, saat melihat sosok sahabatnya sekaligus ayah dari Aira itu muncul dihadapannya. Kedua pria itu langsung berpelukan menyalurkan rindu karena sudah lama tidak berjumpa.
"Bagaimana kabarmu ?"
"Alhamdulillah kabarku sehat Dre. Bagaimana keadaan Sean ?" Tanya Andi pada sahabatnya itu mengenai putranya.
__ADS_1
Mendadak pria itu berubah lesu, ada kesedihan yang dapat Andi lihat didalam diri sahabatnya itu.
"Entahlah, aku sendiri merasa bingung, sampai sekarang kami belum mendapatkan pendonor yang cocok."
Andi tersenyum lalu menepuk pundak Andre untuk memberi semangat pada sahabatnya itu.
"Percayalah, Sean pasti akan baik baik saja."
"Pa.." Seru gadis itu memanggil papanya, membuat Andi langsung menoleh kearah putrinya.
"Apa kamu sudah yakin sayang ?"
"Insya Allah pa, dan ini hasil tesnya. Alhamdulillah hasilnya menyatakan jika ginjal ku cocok dengan kak Sean pa."
Ada kelegaan dihati mereka namun bersamaan dengan itu ada juga kesedihan didalamnya. Mereka lega karena pada akhirnya Sean bisa tertolong berkat Aira, tapi mereka juga bersedih karena sudah membuat masa depan gadis itu sedikit terancam.
Mereka tahu apa dampak dari tubuh seseorang yang hidup hanya mempunyai satu organ ginjal. Aira walaupun gadis itu terlihat tegar, siapa yang menyangka jika jauh dilubuk hatinya gadis itu merasakan kegetiran yang mendalam.
Mengubur dalam keinginannya untuk menjadi seorang atlet renang yang terkenal, demi menolong nyawa seseorang yang diam diam dia cintai. Aira rela mengorbankan seluruh jiwa raga nya demi membuat pria itu bahagia.
Setelah beberapa lama berdiskusi, operasi segera dilaksanakan dengan keputusan final dari Aira yang tetap bersikukuh untuk mendonorkan salah satu ginjalnya pada Sean.
Beruntung operasi berjalan dengan lancar dan berhasil. Kini setelah dua minggu lamanya dirawat dirumah sakit, Sean dinyatakan sudah sembuh total dan kini sudah mulai kembali ke kediaman Ganendra.
Pada suatu malam, saat Sean sedang duduk diruang tengah menikmati kesendiriannya setelah dirinya dinyatakan sembuh oleh Dokter. Tiba tiba Tuan Andre duduk didepan pria tampan itu beserta istrinya, Nyonya Silvi.
"Papa..mama..ada apa kok sampai kalian datang kemari."
Nyonya Silvi tersenyum lalu menatap ke arah suaminya.
"Se,,sebenarnya papa dan mama ingin mengatakan sesuatu padamu."
Kening Sean berkerut heran melihat wajah serius papanya.
"Ada apa pa. ? Katakan saja."
Terlihat Tuan Andre menghela nafas sebelum berucap.
__ADS_1
"Se..kami ingin kamu segera menikah."
TBC