
Sean termangu dalam diamnya, otaknya mencerna apa yang diucapkan oleh papanya.
"Menikah ? Tapi pa Dona belum siap untuk menikah."
"Siapa yang menyuruhmu menikah dengan Dona Se ? Sampai kapanpun papa dan mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian, apalagi sampai menikah, jangan harap papa merestuinya Se."
"Tapi Sean sangat mencintai Dona pa."
"Tapi wanita ular itu hanya mencintai uangmu Se, papa tidak yakin jika wanita itu mencintaimu dengan tulus."
Sean memijit kepalanya yang terasa pusing, berdebat dengan papanya sudah pasti membuatnya kalah telak. Papanya mempunyai kekuasaan yang dia sendiri tidak mampu melawannya.
"Papa dan mama sudah mendapatkan seorang gadis yang cocok untukmu."
Lagi, perkataan papanya membuatnya sangat terkejut, sampai kapan kedua orangtuanya itu mengendalikan seluruh hidupnya.
"Apa maksud papa ? "
"Ya kami akan menikahkanmu dengan Aira, putri Om Andi dan Tante Jihan."
"Apa pa ! Sean tidak mau pa, Sean tidak mencintainya." Tolak Sean mentah mentah.
"Papa tidak butuh penolakanmu Se, dan juga pikirkan baik baik. Hidupmu akan bahagia jika Aira yang menjadi istrimu. Dia gadis yang baik dan penurut. Aira pasti akan mengurusmu dengan baik." Ucap papa Andre dengan nada tegas.
Sean menghela nafasnya yang terasa berat, sungguh saat ini emosi menguasai hatinya. Namun sebisa mungkin pria itu menahannya supaya sang papa tidak mencurigainya. Pasalnya saat ini dia sedang merencanakan sesuatu dan itu harus dia simpan rapat rapat jika tidak ingin kedua orangtuanya mengetahuinya.
"Baiklah pa jika itu bisa membuat papa dan mama bahagia, Sean hanya bisa menuruti kemauan kalian berdua." Ucapnya seakan pasrah dengan keputusan kedua orangtuanya.
Tuan Andre dan istrinya nampak tersenyum dengan nafas lega mendengar persetujuan putranya. Mereka berharap jika keputusan mereka untuk menjodohkan putranya dengan Aira adalah kebaikan. Tidak pernah sekalipun terpikir dihati mereka dampak dari rencana yang mereka buat.
Sementara Sean hanya bisa terdiam dengan pikiran yang berkecamuk. Entah apa yang dia pikirkan, hanya dia sendiri yang mengetahuinya.
__ADS_1
Hingga tiba hari pernikahan mereka berdua, Sean nampak menggandeng mesra tangan gadis yang sudah sah menjadi istrinya beberapa saat yang lalu. Senyum sumringah nampak tercetak jelas dibibirnya, seakan dia sangat menikmati momen tersebut. Begitu juga dengan Aira yang terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya putih dengan rambut sanggulnya dan mahkota kecil menghiasi kepalanya.
Om Andi yang melihat interaksi keduanya nampak berusaha tersenyum dan mencoba mengikhlaskan putrinya pada sosok pria tampan putra sahabatnya itu. Walau dalam hatinya masih tersimpan keraguan, tapi pria itu berusaha untuk percaya pada menantunya itu yang beberapa hari lalu meyakinkan dirinya jika dia akan menjaga dan menyayangi Aira dan tidak akan pernah menyakitinya.
Saat acara resepsi usai, dengan penuh perhatian dan kelembutan Sean membawa istrinya menuju kamarnya yang sudah diubah sedemikian rupa. Suasana romantis khas kamar milik pengantin baru terlihat jelas disana. Dengan pelan dan hati hati Sean mendudukkan Aira dipinggir ranjang besar miliknya.
"Kamu lelah ?" Tanyanya dengan lembut.
Dengan sedikit malu, Aira menganggukkan kepalanya. Sungguh kelembutan sikap Sean membuat gadis itu berbunga. Tadinya dia pikir Sean yang terpaksa menikah dengannya akan melakukan tindak kekerasan padanya.
Gadis itu sudah berpikir kearah sana, namun pemikiran negatifnya musnah dengan sendirinya saat Sean memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.
"Kau tidak ingin mandi dulu ? Atau kau ingin langsung tidur ? Atau kau ingin ada kegiatan lain ?" Tanyanya absurd dengan tatapan menggoda.
"Ak-aku ingin mandi kak." Gugup suara Aira berkata dengan nafas yang terputus putus.
Sean tergelak melihat rona merah dipipi Aira, lalu mengacak ujung kepalanya dengan gemas.
Airat tercekat dengan wajah pucatnya, lalu dengan gerakan kilat gadis itu berlari kearah kamar mandi dengan jantung yang berdetak sangat kencang.
Jantungku , gumam gadis itu dengan tangan yang memegang dadanya.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Aira melangkah keluar dari kamar mandi menuju ranjang. Dengan perasaan gugup, gadis itu naik keatas ranjang dengan sesekali melirik kearah Sean yang nampak fokus dengan ponselnya. Entah apa yang dilakukan pria itu, hanya saja Aira dapat menangkap ada senyum bahagia yang terbit dibibir seksi suaminya.
Merasa ada pergerakan disampingnya, Sean mematikan ponselnya lalu meletakkannya diatas nakas. Pria tampan itu merebahkan tubuhnya tepat disamping Aira. Tanpa diduga, Sean menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Memeluknya erat dengan sesekali menghirup aroma wangi rambutnya.
"Tidurlah, aku juga sangat lelah Ra. Kau tahu walaupun pernikahan kita ini dilakukan karena keterpaksaan, tapi aku akan berusaha untuk mencintaimu Ra. Jadi tolong berikanlah aku waktu." Ucapnya lirih terdengar sangat manis ditelinga Aira.
Hatinya menghangat dengan rasa bahagia yang membuncah keluar. Aira akan menunggu saat saat dimana Sean mengatakan cinta padanya. Sungguh dia sangat bahagia karena pada akhirnya dia bisa menikah dengan orang yang selama ini dia cintai dalam diam.
Seperti yang Sean katakan, malam ini mereka benar benar tidak melakukan ritual apapun. Tubuh lelah mereka membuat mata dalam sekejap terlelap dalam lambaian mimpi indah. Dengan tubuh saling berpelukan mereka terlelap dalam tidur saling memberikan kehangatan pada diri masing masing.
__ADS_1
Hingga keesokan harinya pagi menjelang siang hari, Sean dan Aira sudah bersiap siap untuk menuju kerumah milik Sean. Sudah dari semalam mereka memutuskan untuk memulai hidup mandiri dan tidak menggantungkan hidup pada orangtua Sean.
Walaupun pada awalnya papa Andre tidak setuju, tapi atas bujukan Aira dan juga istrinya akhirnya dia mengabulkan permintaan putra semata wayangnya. Mungkin jika hidup berdua saja, hubungan keduanya akan semakin dekat. Itulah yang ada dipikiran papa Andre.
Selama dalam perjalanan tidak ada satupun dari mereka yang bersuara, hanya ada keheningan dan rasa canggung yang begitu besar. Sean maupun Aira merasa jika keduanya ingin menghilangkan rasa canggung yang selama ini menyerang mereka.
Hingga tanpa mereka sadari, mobil sudah masuk kedalam pelataran rumah mewah berwarna putih. Walaupun tidak sebesar rumah papa Andre, tapi Aira dapat merasakan kenyamanan didalam sana.
"Ayo masuk, ini rumah kita." Ucap Sean lalu mengulurkan tangannya pada Aira.
Dengan sedikit gugup dan canggung Aira menerima uluran tangan Sean yang langsung menggenggamnya erat. Membawa tubuh mungil itu untuk masuk kedalam rumahnya.
Aira sejenak terpaku melihat penataan ruang yang begitu sempurna. Semuanya tertata sangat rapi dan elegan. Sean terus membawa Aira menuju kamar utama dirumah ini yang ada dilantai dua. Kamar Sean dan dirinya.
Saat pintu terbuka terpampang jelas kamar yang begitu kuas dan mewah dengan warna yang lebih dominan putih. Warna khas seorang pria, tapi Aira sangat menyukainya. Apapun yang berbau tentang Sean dia akan selalu menyukainya. Gadis itu memang terlalu mencintai Sean, hingga segala hal apapun yang menyangkut pria itu, dia pasti akan langsung mengikutinya.
"Sudah sore, mandilah Ra. Kakak ada urusan sebentar diruang kerja ya. Kalau sudah selesai pergilah dulu ke ruang makan, nanti kakak akan menyusulmu." Perintahnya dengan tersenyum lembut.
Aira mengangguk, mengikuti apa yang diperintah suaminya. Segera kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, sementara Sean pergi ke ruang kerjanya bersamaan dengan ponselnya yang berbunyi nyaring.
"Halo.."
Aira yang sudah selesai mandi dan kini tengah menunggu kedatangan Sean dimeja makan, sedikit menengok kearah tangga, berharap jika pria itu segera turun menemuinya. Saat ini perutnya benar benar ingin segera minta diisi.
Karena sudah tidak kuat menahan rasa lapar, akhirnya Aira melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Sean.
Mungkin kak Sean lupa karena harus bekerja. Aku susul saja, siapa tahu dia akan senang dengan sedikit perhatianku padanya. Soraknya dalam hati.
Gadis itu sudah sampai didepan pintu ruang kerja Sean, meraih handle pintu lalu membukanya pelan. Pita suaranya ingin berucap, namun diurungkannya saat dia mendengar kata kata yang membuat hatinya sedikit sesak.
"Aku mencintaimu.."
__ADS_1
TBC