
Cklek
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Alex berbalik dan menatap kagum pada gadis yang sedang berdiri disana didepan kamar mandi dengan kepala tertunduk.
Pria itu tersenyum, dia tahu jika saat ini istrinya sedang dilanda rasaa gugup. Perlahan namun pasti dia melangkah menghampiri sang istri tercinta.
Sementara Jiza sendiri saat ini dia merasakan tubuhnya mendadak nerunah panas dingin. Dia keringetan walau dikamar itu sudah terpasang AC. Namun sepertinya rasa gugup dan malu me zambuatnya merasakan kepanasan.
Apalagi dia melihat langkah kaki suaminya yang berjalan mendekatinya, semakin membuatnya bertambah gugup.
"Ak..aku akan menyiapkan makan malam sebentar." Ujarnya gugup.
Sungguh rasa gugup itu semakin besar, apalagi jika mengingat ini adalah malam pertama mereka. Dan itu artinya dia dan Alex harus...
Ah, membayangkannya saja dia sudah gemetar apalagi sampai melakukannya. Apalagi banyak ya g mengatakan jika pertama kali melakukan itu akan terasa sangat sakit, rasanya tubuh kita sampai terbelah.
Terbelah ? Itu yang dikatakan oleh salah satu tanu undangan yang tadi sempat berbisik ditelinganya. Membuatnya bergidik ngeri dan takut.
Menghindar ?
Itu mungkin satu satunya cara namun jika mengingat ucapan sang mama yang mengatakan bahwa kita tidak boleh sekalipun membantah ucaoan suami. Karena ridho Allah terletak pada ridho suami, dan mamanya berdoa semoga dia tidak menjadi istri durhaka.
"Sayang."
Bisikan lirih disertai cekalan lembut dipergelangan tangannya sukses membuat tubuhnya meremang. Jiza bahkan sampai menahan nafas saking gugupnya dia.
"Kamu sakit sayang ?" Tanya Alex berubah sedikit panik saat melihat tubuh Jiza yang sudah basah keringetan.
Suer, Jiza malu sekali, masa iya belum apa apa sudah keringetan. Tapi gimana lagi dia benar benar merasa gugup.
"Nggak, ak-aku baik baik saja kok." Jawabnya kikuk.
"Lalu kenapa tubuhmu gemetaran begini ? Keringetan lagi." Imbuhnya dengan nada masih khawatir.
"Mas, aku baik baik saja, percayalah." Duh dia gemas sendiri, suaminya ini benar benar tidak peka.
"Tapi..."
"Aku sehat mas."
Alex tidak percaya, gimana bisa percaya saat ini wajah istrinya juga terlihat pucat.
"Kita kerumah sakit sekarang ya." Ujarnya lagi lalu tanpa aba aba dia menarik pelan lengan istrinya menuju pintu kamar.
"Mas, aku hanya malu saja." Spontan dia teriak karena suaminya yang pemaksa ini tidak juga kunjung peka.
Alex mematung lalu berbalik, menatap penuh arti sang istri yang terlihat menundukkan kepalanya.
"Kamu bilang apa tadi ?"
"Ak-aku malu mas."
"Malu ?"
__ADS_1
Jiza mengangguk, sembari kedua tangannya saling meremas.
Alex tertawa terbahak bahak membuat Jiza mendongakkan kepalanya dan menatap heran.
"Kamu malu ? Malu karena apa sayang ?"
"Itu...."
"Hmm..."
"Orang bilang kalau baru pertama katanya akan sakit sekali seakan akan tubuh kita terbelah jadi dua mas."
Alex mengernyit, bingung dengan ucapan sang istri dan dia mencoba untuk mencernanya. Tadi berkata malu kenapa sekarang ngomongnya membahas orang yang kesakitan begitu.
Mencoba mencerna maksud ucapan istrinya dan tidak lama kemudian dia mengerti apa yang di maksud sang istri.
Alex tersenyum nakal, lalu berjalan kembali mendekati istrinya. Menarik lembut pinggang ramping tersebut dan membawanya kedalam pelukannya.
"Siapa yang bilang ?" Bisiknya ditelinga Jiza membuat gadis itu merasa geli.
"Tadi ada salah satu tamu yang mengatakan padaku seperti itu." Jawabnya lirih sembari berusaha menahan nafas, pasalnya saat ini tangan Alex juga ikut mulai menjalar kemana mana.
"Mau mencobanya ?"
"Apa !"
"Hm, mencoba apa yang dikatakan ibu itu, kita tidak akan tahu apakah yang dikatakannya benar atau tidak kalau kita tidak mencobanya bukan." Modusnya dengan seringaian kecil di sudut bibirnya.
"Kenapa ?" Bisiknya lagi, kali ini dia sambil memberikan kecupan lembut diceruk leher istrinya.
"Ah...mass." Jiza langsung menutup mulutnya saat suara lukhnut itu dengan nakalnya keluar karena ulah suaminya.
Gadis itu merasakan seperti ada sengatan listrik ditubuhnya yang kemudian menjalar keseluruh tubuh menimbulkan sensasi aneh dan membuatnya menginginkan lebih dari sekedar sentuhan tangan.
Alex tersenyum, sang istri sudah masuk ke dalam perangkapnya. Dan kini saatnya dia melancarkan aksinya.
"Bahkan tubuhmu menginginkan lebih dari sekedar sentuhan sayang ? Jadi apa kamu akan mencobanya ? Lagipula ini adalah malam pertama kita sebagai suami istri. Rasanya sayang sekali kalau kita melewatkannya dengan percuma." Bisiknya nakal.
Jiza menggila, suaminya benar dia menginginkan lebih dari sekedar sentuhan. Persetan kata orang yang penting saat ini dia hanya ingin Alex saja. Gadis itu mengangguk pelan, pasrah dalam rengkuhan tubuh suaminya.
Dan Alex yang mendapat lampu hijau itupun langsung dengan senang hati melancarkan serangannya. Tidak perduli bagaimana rasa sakit diawal yang penting bagi mereka saat ini adalah menuntaskan dan menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai dari awal.
Sementara itu...
Setelah tuntas dengan kegiatan olahraga malamnya, Alvian nampak bersender di headboard ranjangnya dengan sang istri yang ikut menyenderkan kepalanya didada bidangnya dengan manja.
Pria itu mengusap lembut perut sang istri yabg masih rata, sesekali dia mengecup pucuk kepala Aira dengan perasaan sayang.
"Sudah nggak marah lagi kan ?" Tanyanya lembut.
Aira mendongak menatap wajah suaminya yang terlihat tampan paripurna. Mengerucutkan bibirnya sebal karena ucapan sekilas suaminya.
"Memang kenapa ?"
__ADS_1
"Ya kalau masih marah kita bisa berperang lagi donk sayang. Mas akan dengan senang hati memberikan pelayanan yang paling hebat sepanjang masa." Kikiknya dengan memasang wajah yang menggemaskan.
Orang bilang kalau sepasang suami istri sedang bertengkar maka penyelesaian yang paling manjur adalah bertengkar diatas ranjang.
Entah dapat kata kata darimana Alvian, tapi yang jelas hubungannya dengan Aira semakin membaik setelah dia bertengkar diatas ranjang. Kemarahan istrinya sedikit mereda setelah mereka melakukan olahraga malam. Dan besok sepertinya dia harus mengucapkan terima kasih pada orang yang sudah memberikan pencerahan padanya.
Dengan kesal Aira mencubit perut Alvian yang begitu keras. Sontak saja pria itu memekik kesakitan, pasalnya cubitan istrinya seperti seekor kepiting dengan capitannya yang sangat tajam.
"Aww...sakit sayang."
"Biarin aja, siapa suruh punya pikiran mesum melulu."
"Bukan mesum sayang, tapi itu adalah kebutuhan yang wajib dan tidak boleh sampai ditinggalkan." Gelaknya dengan tampang mesumnya.
Aira memutar bola matanya jengah, kemudian kembali meletakkkan kepalanya didada bidang suaminya.
"Mas..tidak bisakah kamu memaafkan semua yang sudah terjadi dan berdamai dengan masa lalu?" Tanyanya hati hati mencoba menyelami hati suaminya.
Alvian langsung terdiam saat istrinya kembali mengingatkan tentang sesuatu yang tidak ingin dia bahas untuk saat ini.
Jujur dia masih merasa malas dan enggan untuk memperbaiki hubungannya dengan pamannya itu, walau dia tahu jika pamannya memang sepertinya sudah mukai berubah.
"Sayang tidak bisakah kamu membicarakan hal yang lain untuk saat ini ? Aku tidak ingin kemesraan kita rusak karena membahas pria itu."
Aira menepuk manja dada bidang suaminya.
"Dia paman kamu mas, mau seburuk apapun perbuatannya dia tetaplah kakak dari papa Barra yang berarti dia juga adalah papa kita mas."
Alvian masih terdiam membisu dengan pikiran yang mulai mengembara.
" Mas, Ara yakin kalau sebenarnya paman Erick adalah orang yang sangat baik. Mungkin karena beliau berada dibawah tekanan kakek hingga membuatnya menjadi seperti itu. Belum lagi istrinya yang memilih pergi disaat dia butuh sandaran. Coba bayangkan mas, bagaimana kalau yang terjadi pada paman Erick terjadi juga padamu ? Misalnya kalau sewaktu waktu aku pergi darimu seperti yang dilakukan oleh istri paman ?"
"Sstt, please jangan mengatakan sesuatu yang bisa membuatku hancur sayang, jangankan berpikir kamu pergi meninggalkanku membayangkannya saja aku tidak sanggup. Sungguh aku tidak sanggup jika harus hidup tanpa dirimu." Ucapnya cepat dengan pandangan sendunya menatap Aira.
"Dan itulah yang dialami oleh Paman Erick mas. Tante Monik meninggalkannya disaat dia butuh dukungan, kemudian disusul kakek, lalu nenek dan sekarang dia harus hidup sendirian dengan menanggung kebencian sisa keluarganya yaitu Om Adi dan juga dirimu. Apa bisa mas membayangkan bagaimana menderitanya kehidupan paman selama ini ? Aku mohon mas, setidaknya berbaik hatilah dengan merawatnya diusianya yang sudah tidak muda lagi ini. Biarkan paman mendapatkan kebahagiaan dihari tuanya."
"Tapi dia sudah menyakitimu sayang, dia bahkan mempermalukan dirimu didepan banyak orang."
Aira tersenyum lalu mengecup singkat bibir suaminya.
"Mas, semenjak aku memutuskan untuk hidup bersama denganmu, aku sudah tidak perduli lagi apa kata orang. Bagaimana pendapat orang tentangku dan juga tentangmu. Bagiku kebahagiaanku saat ini adalah dengan melihat kebahagiaan orang orang yang aku cintai terutama suamiku ini. Dengan adanya dirimu yang selalu ada disampingku, itu sudah lebih dari cukup untukku. Aku tidak ingin apapun dan tidak butuh apapun selain hanya ingin keluarga kita bahagia."
Alvian menatap penuh kagum wajah istrinya.
"Bagaimana mungkin ada wanita secantik dan sebaik dirimu sayang. Sungguh hatimu terbuat dari berlian yang sangat indah." Pujinya dengan masih enggan mengalihkan pandangannya dari wajah istrinya.
"Jadi apa mas mau mengabulkan keinginanku ini ?"
Laki laki itu tersenyum lalu mencium lembut pucuk kepala istrinya. Meresapinya dengan penuh penghayatan.
"Demi kebahagiaan istriku, apapun akan aku lakukan sayang."
TBC
__ADS_1