Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Membuatmu Hamil Anakku


__ADS_3

Mansion besar milik keluarga Ganendra kini dipenuhi oleh banyaknya tamu yang memakai pakaian serba hitam ciri khas orang yang sedang berduka. Bukan hanya dari kalangan bawah, tapi juga dari kalangan atas. Dan lebih banyak berasal dari rekan bisnis Tuan Andre.


Sang Nyonya rumah yang sudah kembali sadar dari pingsannya kini terduduk lemah disamping suaminya setelah sebelumnya wanita paru baya itu histeris setelah sadar dari pingsannya. Dia masih belum bisa menerima jika sang putra sudah pergi meninggalkannya untuk selama lamanya.


"Tante.." Lirih Jiza trenyuh melihat kondisi wanita cantik dan anggun didepannya ini. " Sabar dan ikhlas ya, Sean akan sedih kalau tante seperti ini."


Nyonya Silvi mendongak perlahan, dan senyuman tipis terbit diwajahnya yang pucat. Seketika gadis itu tidak bisa lagi menahan airmata yang sedari tadi ingin menyeruak keluar. Melihat kondisi Nyonya Silvi yang benar benar dalam keadaan terpuruk.


Tanpa banyak bicara gadis itu menghambur kepelukan wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi itu. Memberinya kekuatan dan juga dukungan bahwa semua pasti akan baik baik saja.


"Makasih sayang." Lirih wanita itu berucap dengan airmata yang terus mengalir. " Dimana Ara ?" Imbuhnya sembari mengedarkan pandangannya kesekeliling.


Semenjak sadar dari pingsannya wanita itu tidak sekalipun melihat sosok putrinya dan tentu saja itu membuatnya sedikit heran.


"Ara masih dimakam tante." Jawabnya lirih dengan perasaan berkecamuk.


"Apa ! Pa cepat susul Ara, mama takut sesuatu terjadi padanya, lihatlah diluar hujan deras sekali." Paniknya dengan tubuh yang langsung berdiri.


Sama halnya seperti istrinya, Tuan Andre pun tidak kalah terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Jiza, dan pria itu memberikan tatapan tajamnya pada gadis yang saat ini berdiri didepannya dengan kepala tertunduk.


"Bukankah paman sudah bilang untuk menjaganya disana Za ? Bahkan Alex pun menyetujuinya, lagipula kamu adalah sahabatnya, kenapa malah tega meninggalkan dia sendirian." Nada suara Tuan Andre menyiratkan kekecewaan mendalam pada gadis yang dia ketahui adalah sahabat Aira.


"Om.."


"Ren, siapkan mobil kita kepemakaman kembali." Perintahnya pada Reno, asisten pribadinya.


"Tidak perlu om." Sahut Alex yang tiba tiba muncul disana, entah pria itu dari mana yang jelas saat ini tubuhnya sudah basah kuyup.


Tuan Andre mengrenyit melihat penampilan Alex yang basah dan nampak jika pria didepannya ini sedikit kedinginan.


"Apa maksudmu Alex, dan kenapa dengan tubuhmu ini, kenapa kamu terlihat basah kuyup begini."


"Alex dari pemakaman Om, dan kalian tenang saja Ara saat ini sudah bersama dengan orang yang tepat."


"Maksudmu ?"


"Dia bersama Alvian om."


Tuan Andre menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Ada rasa lega yamg menyelimuti hatinya yang sempat panik. Dan perlahan pria itu menganggukkan kepalanya dan kembali menemani istrinya.

__ADS_1


"Naiklah keatas Lex, disana ada pakaian Sean, dan ganti bajumu yang basah itu." Perintahnya sebelum dia kembali pada sang istri.


Alex mengangguk dan menatap wajah Jiza yang terlihat khawatir.


"Tenanglah."


"Bagaimana keadaannya ? Apa dia baik baik saja."


"Dia aman, Alvian sudah membawanya pulang kerumahnya. Maaf aku tidak sempat bilang kalau aku akan kembali kesana." Ucapnya dengan rasa bersalah.


"Jangan dipikirkan, aku justru senang karena Araku sudah aman. Dan sekarang gantilah bajumu, kamu menggigil Lex." Ibanya dengan menatap manik mata hitam kekasihnya.


Alex mengangguk sembari berjalan menuju arah tangga dengan Jiza yang mengekor dibelakangnya. Keningnya berkerut saat sadar jika kekasihnya ikut berjalan dibelakangnya. Pria itu berbalik dan menatap bingung pada Jiza.


"Aku akan membantumu mengeringkan rambutmu." Lirihnya berucap.


Alex tersenyum dan tanpa kata dia langsung menarik lembut tangan Jiza menuju kamar Sean yang berada dilantai 2.


💕 💕 💕


Kedua mata Alvian memanas melihat kondisi kekasihnya yang benar benar buruk. Wajah pucatnya dan lingkaran di bawah matanya yang nampak menghitam menandakan jika gadis itu dalam keadaan stress berat dan kurang istirahat.


Helaan nafas kembali keluar dari hidungnya saat lagi dan lagi Aira menggigil dan mengigau dalam tidurnya. Rasa cemburunya begitu besar saat Aira menggumamkan nama seseorang yang selama ini sukses membuat hatinya terbakar cemburu. Siapa lagi jika bukan nama Sean.


Selalu ucapan itu yang terus menerus gadis itu katakan dalam igauannya. Walaupun hatinya saat ini terasa panas, namun Alvian berusaha sekuat tenaga menahannya. Dia tidak ingin lagi kehilangan kekasihnya. Cukup sekali dia bertindak bodoh dan kali ini dia tidak akan lagi mengulanginya kembali.


Dokter pribadinya sudah memeriksa keadaan Aira dan mengatakan jika kondisi Aira sedang tidak dalam keadaan baik baik saja. Kondisi kejiwaan gadis ini terguncang hebat dan dia dalam tekanan yang kuat hingga membuat pikiran alam bawah sadarnya tidak mampu untuk menahan emosi berlebihan gadis itu yang selalu dia tahan dan pendam.


Jika hal ini terus dibiarkan akan membuat kejiwaan Aira terganggu dan satu satunya langkah yang harus diambil adalah membawanya kedokter spikiater, atau Dokter Ahli Jiwa.


Alvian kembali menghela nafas, tentu saja dia tidak akan pernah membiarkan hal itu sampai terjadi pada gadis pujaan hatinya. Setidaknya membawanya kepsikiater adalah pilihan yang tepat daripada membawanya pada Dokter Ahli Jiwa.


"Cepatlah bangun sayang, aku rindu Araku." Bisiknya lembut ditelinga Aira sembari ikut merebahkan tubuhnya disamping kekasihnya.


Alvian memeluk erat tubuh Aira dan membawanya kedalam pelukannya dengan menjadikan lengannya sebagai bantal. Tidak perduli jika nantinya dia akan merasakan kebas atau apapun itu, yang pasti saat ini dia hanya ingin memastikan kondisi kekasihnya dalam keadaan baik baik saja.


"Kita akan segera menikah detik itu juga jika kamu sudah membuka mata. Dan aku tidak menerima penolakan." Ucapnya lagi yang entah apakah Aira mendengarnya atau tidak.


Malam Hari...

__ADS_1


Kedua mata cantik itu membuka dan menatap sekeliling, langsung melirik kearah bawah saat dia merasa ada sesuatu yang berat menindih perutnya. Dan sesuatu yang berat itu adalah lengan kekar seseorang. Dia juga merasakan sesak, perlahan kepalanya mendongak keatas dan hal pertama yang dilihatnya adalah rahang keras dan kokoh milik seorang pria yang begitu familiar untuknya.


"Alvian." Gumamnya lirih.


Kenapa aku bisa berada disini. Pikirnya dalam hati.


Perlahan Aira merenggangkan pelukannya dan mulai melepaskan tangan Alvian yang membelit tubuhnya. Namun bukannya lepas pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Diam dan istirahatlah kembali." Suara serak khas bangun tidur terdengar ditelinga Aira membuat gadis itu menatap sekilas pada Alvian yang masih memejamkan matanya.


"Tuan, tolong lepaskan saya." Lirihnya yang mampu membuat Alvian seketika mengeraskan rahangnya ketika mendengar sapaan panggilan Aira padanya.


"Aku bukan Tuanmu sayang jika kamu lupa." Ketusnya dengan kedua mata yang masih terpejam.


Aira terdiam namun pandangan matanya menatap kosong kedepan, tidak ada pancaran gairah hidup yang terlihat disana. Hanya ada keputus asaan dan pasrah.


Perlahan Alvian membuka mata dan melayangkan tatapan matanya pada manik mata hitam milik Aira. Tidak mendapati respon positif membuat Alvian berfikir mungkin kalau dia yang memang harus lebih dulu bersikap agresif. Mengingat semua perkataan yang diucapkan oleh dokter pribadinya sekaligus sepupunya tadi.


"Aku memang bukan seorang psikiater kak, tapi kekasihku seorang spikiater hebat. Dan sedikit demi sedikit aku mulai mengerti, jadi menurutku menilik dari sikap kakak ipar yang seperti ini, ada lebih baiknya kakaklah yang harus lebih dulu bersikap agresif."


"Apa maksudmu dengan aku harus bersikap agresif, kamu tahu sendiri prinsipku seperti apa."


"Ayolah kak, kali ini mengalahlah demi kesembuhan kakak ipar. Kakak harus memancingnya supaya kakak ipar terbiasa dan lama kelamaan dia akan keluar dari keterpurukannya dan kembali seperti semula."


"Lalu aku harus bersikap agresif yang bagaimana ?"


"Terserah kakak mau bersikap bagaimana, itu bisa berupa ucapan, perhatian atau mungkin sebuah tindakan orang orang dewasa mungkin. Melakukan hal yang kira kira orang dewasa lakukan."


Alvian termenung apa iya dia harus melakukan apa yang adiknya itu katakan. Tapi apa salahnya mencoba demi kesembuhan Aira.


Cup


"Jangan bengong, atau kalau nggak aku akan terus melakukan itu padamu. Atau kamu ingin yang lebih sayang, dengan senang hati aku akan melakukannya untukmu." Ucapnya dengan seringaian kecil membingkai wajahnya.


Aira menatap heran wajah Alvian yang sepertinya sedikit berbeda dari sebelumnya, karena terakhir dia bertemu dengannya, pria ini menunjukkan wajah yang tidak bersahabat padanya, malah terkesan dingin.


Melihat Aira yang sedikit demi sedikit mulai memberikan responnya membuat sudut bibir Alvian sedikit terangkat membentuk lengkungan. Dengan cepat dia melepaskan semua pakaian yang menempel ditubuhnya dan hanya menyisakan boxer yang menutupi area terlarangnya. Memperlihatkan perut sixpack nya yang membuat berjuta juta wanita pasti terpekik kegirangan.


"Ap- apa yang kamu lakukan ?" Tanya Aira gugup saat Alvian mendekatinya lagi dan kembali mengungkungnya dengan posesif. Jantungnya saat ini sudah berdetak dengan begitu kencang.

__ADS_1


"Aku ? Apalagi." Menyeringai kecil lalu berbisik ditelinga Aira. " Tentu saja membuatmu hamil anakku lalu kita menikah, dan jangan sekali sekali kamu berani menolakku sayang karena percuma saja aku tidak akan melepaskanmu kali ini." Imbuhnya yang langsung melahap habis bibir seksi itu dan menyerang Aira dengan ganas.


TBC


__ADS_2