
Aira melangkah masuk kedalam kamarnya yang sudah di sulap menjadi kamar pengantin. Mengedarkan pandangannya dengan senyuman yang tidak pernah surut dari wajahnya yang cantik.
Lampu lampu kecil yang berkelap kelip menempel ditembok dan tirai bulat transparan yang menutupi seluruh ranjang king size yang ada dikamar Alvian. Tidak lupa diatas kasur bertebaran kelopak bunga mawar merah yang membentuk tanda love.
"Indah." Gumamnya.
"Kamu suka ?" Suara maskulin disertai kedua lengan yang melingkar diperutnya membuat Aira mengulum senyum, pasalnya dia tahu siapa pemilik suara emas tersebut.
"Mas yang nyiapin ini semua ?"
"Hmm." Jawabnya dengan deheman. "Sekarang katakan apa kamu menyukainya baby ?"
"Suka sekali, ini sangat indah mas."
"Syukurlah."
"Makasih ya mas."
"Untuk ?"
"Untuk cintamu yang luar biasa besarnya dan juga untuk semuanya."
Alvian membalikkan tubuh Aira supaya menghadap padanya. Lalu menuntunnya untuk duduk dipinggiran ranjang, pria itu berjongkok didepan Aira dengan kedua tangan yang menggenggam erat tangan halus milik istrinya.
"Apapun akan aku lakukan untuk membuatmu bahagia sayang, janji ya setelah ini hanya ada senyuman diwajahmu ini."
Aira mengangguk dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Mandilah, bersihkan dirimu setelah itu kita istirahat. Kamu lelah bukan ?"
Mendengar itu jantung Aira berdegup kencang, ini adalah malam pengantin dia dengan suaminya. Apa mereka akan melakukan itu, walaupun ini dibilang bukan pertama kalinya, tapi entah kenapa dia merasa gugup kali ini.
"Ada apa ?"
"N-nggak mas, baiklah aku akan mandi dulu." Ucapnya setelah itu berlari kekamar mandi.
Alvian tersenyum melihat wajah istrinya yang pucat karena gugup, pria itu menggelengkan kepala lalu berjalan menuju balkon kamarnya.
"Mas ?"
"Aku disini sayang."
Aira menghampiri suaminya lalu memeluknya dari belakang. Aroma wangi seketika menguar dan masuk kedalam indra penciumannya membuat sesuatu yang ada dalam dirinya seketika bangkit.
"Kamu wangi sekali Ra ?" Endusnya sembari memejamkan mata menikmati aroma wangi tubuh istrinya.
"Mandi mas, aku sudah siapin air hangatnya."
"Nanti ajalah sayang, percuma kan nanti juga bakalan mandi lagi."
Aira mengrenyitkan dahinya, bingung dengan ucapan Alvian, membuat pria itu tersenyum simpul.
"Udah ga usah bingung gitu, pokoknya aku mau menghabiskan malam ini berdua dengan istriku yang cantik ini." Ucapnya lagi dengan nada nakal.
Aira memekik saat merasakan tubuhnya melayang, seketika mengeratkan kedua tangannya dileher kokoh suaminya.
__ADS_1
"Mas ! Turunin ih."
"Sstt, diem deh, nanti kedengeran sama orang rumah, dikiranya aku mau perkosa kamu sayang."
Aira mencebik menanggapi ucapan Alvian. Gadis itu menurut saja ketika suaminya membaringkannya diranjang empuknya.
"Mas, kamu bilang katanya capek mau istirahat."
"Capeknya hilang liat kamu yang cantik sayang."
"Tapi mandi dulu mas, badan kamu biar segeran dikit gitu."
"Nanti aja."
"Tapi mas."
Ucapan Aira terhenti karena pria itu yang sudah menyerangnya tanpa ampun. Dan Aira hanya bisa pasrah menerima semua serangan suaminya yang seakan tiada habisnya itu.
Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari saat keduanya terlelap setelah serangan bertubi tubi yang dilakukan oleh Alvian. Bahkan Aira langsung terlelap mendahului suaminya saking lelahnya dia memenuhi hasrat suaminya yang tidak ada habisnya itu.
"Makasih sayang, tidurlah kamu pasti lelah." Kekehnya saat mendengar suara dengkuran halus istrinya yang terlelap.
Apapun yang akan terjadi dimasa depan tidak akan aku biarkan siapapun melukaimu sayang. Aku akan melindungimu bahkan jika perlu akan aku pertaruhkan nyawaku demi keselamatanmu. Asalkan kamu tetap bersamamu maka duri setajam apapun akan tetap aku lewati.
Alvian masih memandangi wajah cantik Aira yang sudah terlelap, sekian detik diapun ikut mengantuk dan pada akhirnya diapun terlelap disamping istrinya dengan selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.
Beberapa hari kemudian...
Bian mendatangi kantor papanya, lebih tepatnya kantor milik Pamannya Barra, orangtua Alvian. Ya, 2 tahun semenjak kepergian papanya Alvian, perusahaan besar ini dipegang sepenuhnya oleh Tuan Adi Nugraha selaku adik bungsunya. Waktu usia Alvian baru menginjak angka 12 tahun.
Tok
Tok
Tok
"Masuk."
Bian masuk setelah mendengar suara papanya dari dalam yang memerintahnya untuk masuk. Walau ini perusahaan papanya yang memegang, tapi Bian masih memegang teguh norma kesopanan.
"Pa.."
"Bian..tumben datang kesini." Sapa Tuan Adi Nugraha seraya berdiri menyambut kedatangan putra sulungnya.
Bian nyengir lalu memmeluk erat tubuh pria paruh baya itu, memandang wajah papanya yang banyak sekali muncul gurat gurat kelelahan disana.
"Apa papa sakit ?"
"Tidak."
"Tapi wajah papa sangat lesu."
Tuan Nugraha menghela nafas panjang kemudian berjalan dan duduk disofa panjang. Wajahnya memang nampak terlihat lelah, bahkan terlihat kantong matanya yang menghitam tanda dia kurang istirahat.
"Ini karena kamu yang tidak ingin menggantikan papa disini nak." Keluhnya sembari menatap wajah sang putra.
__ADS_1
"Pa.."
"Kapan kamu akan menggantikan papa disini ? Apa kamu tidak kasihan dengan papa hm ? Papa juga ingin pensiun. menikmati hari tua dirumah dengan mamamu dan juga cucu cucu papa nanti." Ujarnya lagi sembari membayangkan masa masa indah yang akan datang nanti.
"Sebentar lagi pa, Bian janji akan menuruti permintaan papa." Tegasnya yang membuat senyuman muncul dibibir Tuan Adi Nugraha.
"Oke, akan papa tunggu dan juga carilah pacar, papa lihat tidak sekalipun kamu ini bersama seorang gadis. Apa kamu sakit atau punya kelainan."
"Bian masih normal pa." Serunya tidak terima papanya mengatainya punya kelainan. "Bikin anak pun sekarang bisa Pa."
Tuan Adi terkekeh mendengar perkataan putranya, tapi dia masih belum puas untuk menggodanya lagi.
"Oh ya, papa tidak percaya kalau kamu masih normal Bi, kalau memang yang kamu katakan itu benar, pasti sekarang ini papa sudah menggendong cucu." Cibirnya.
"Tunggu saja nanti pa, sekarang belum saatnya. Masih ada beberapa urusan penting yang harus Bian selesaikan sebelum Bian berpikir kearah sana." Ucapnya dengan nada yang berubah serius.
Melihat raut wajah putranya yang mendadak berubah tajam dengan rahang yang mengeras, Tuan Nugraha mengerti jika saat ini putranya tidak sedang dalam keadaan baik baik saja. Pasti ada sesuatu yang membuat Bian terlihat sangat marah, terlihat sekali dikedua matanya yang memancarkan kilatan amarah terpendam.
"Ada apa Bi ?"
"Dia datang pa."
Tiga kata namun cukup membuat pria paruh baya itu terhenyak, dia tahu apa maksud kata kata putranya.
"Dimana ?"
"Di acara pernikahan kakak kemaren."
Tuan Nugraha membisu, namun terlihat jelas jika dia pun ikut menggeram, hanya saja dia terlalu pintar menyembunyikannya lewat sorot matanya yang berubah dingin.
"Biarkan saja Bi, papa mau lihat sejauh mana dia mau berulah lagi. Dulu papa pernah sekali mengampuninya karena ulahnya, sekarang papa tidak akan pernah memberi ampunan lagi jika dia tetap melakukan hal yang buruk pada kakakmu."
"Tapi Bian takut terjadi sesuatu dengan kakak ipar pa."
"Kamu jangan khawatir, apapun akan papa lakukan untuk melindungi kedua kakakmu sekalipun itu nyawa papa taruhannya. Bahkan jika papa harus melenyapkan saudara kandung papa sendiri, akan papa lakukan nak." Ucapnya dengan sorot mata dingin.
"Kamu pulanglah dan apapun yang terjadi usahakan jangan sampai terjadi sesuatu pada Aira, papa yakin jika kali ini dia mengincar kakak iparmu."
"Baik pa, papa juga hati hati, cepat hubungi Bian kalau papa butuh bantuan."
Tuan Adi Nugraha mengangguk, kemudian berjalan menuju kearah jendela kaca yang ada dikantornya, menampakkan arus lalu lintas kota Jakarta yang nampak padat.
Aku tidak tahu apa tujuanmu kembali, tapi jika kali ini kau sampai berbuat macam macam, maka aku tidak akan segan segan lagi padamu, kakak.
Bersamaan dengan itu suara ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. Dengan cepat pria paruh baya itu meraihnya, kerutan didahinya tercetak jelas kala dia menatap nomor asing yang menelponnya.
"Halo siapa ini." Sapanya pada seseorang diseberang sana.
"Halo adik.."
**TBC
Cerita Alex udah Rilis ya gays,,kuy dikepoin..covernya sepeerti dibawah ini.👇👇👇**
__ADS_1