
"kak --"
Suara lirih Cleo tercekat dan mendadak tersumbat ditenggorokan, dia tidak menyangka kalau Bian ikut mengusir dirinya dari ruangan ini.
Sherina menyeringai penuh kemenangan karena merasa dia sudah berhasil mengusir Cleo dari ruangan Bian. Yah walaupun semua itu lewat tangan Bian sih, tapi nyatanya itu sukses membuat hatinya melayang karena merasa jika Bian lebih memilih dia daripada sekretaris magang ini.
Tatapan Bian masih datar dan dingin tertuju kedepan, tepat kearah Cleo yang berwajah muram. Tidak ada satupun kata yang keluar dari bibir pria itu selain matanya yang masih tetap tertuju pada wajah sedih didepannya. Sementara cekalan tangannya masih melekat erat dipergelangan tangan Cleo.
Tatapan sendu itu begitu mengiris hati Bian, dia tahu jika kekasihnya pasti merasa sedih dan salah sangka dengan maksud perkataannya. Tapi balik lagi begitulah seorang Bian, pria dingin dengan kepekaan yang masih jauh dibawah kata standar.
"Apa kau tuli tidak mendengar perkataanku. Bukankah aku sudah mengatakan kalau kau hanya menjadi pengganggu disini. Kedatanganmu sama sekali tidak aku harapkan." Sarkasnya sembari menoleh kearah Sherina.
"Bi --" Kedua mata wanita itu seketika membola dengan sangat lebar saat mengerti maksud ucapan Bian. " Kamu mengusirku ? Bukan sekretaris sialan ini." Imbuhnya dengan nada tidak percaya.
"Apa aku harus mengulang perkataanku lagi." Dengusnya kesal.
"Bian, kau bahkan mengusirku yang notabenenya adalah rekan bisnismu." Pekiknya lagi.
"Kita rekan bisnis kalau memang ada pekerjaan yang perlu dibahas, dan aku rasa untuk saat ini tidak ada pekerjaan yang perlu kita bahas kalau kau lupa Nona Sherina." Ketusnya dingin.
"Tapi aku sudah susah payah untuk datang kesini Bi, bahkan aku sampai membatalkan meeting pentingku dengan klien hanya untuk menemuimu." Pintanya dengan wajah sendu dibuat buat.
Bian mencibir lalu tersenyum sinis.
"Apa aku pernah memintamu untuk datang kesini ? Tidak kan ? Jadi jangan mencari alasan dan melampiaskan semuanya pada orang yang tidak tepat. Semuanya adalah murni kesalahanmu sendiri nona Sherina. Dan sekarang aku minta sebelum kesabaranku habis silahkan keluar dari ruanganku."
"Tapi Bi --"
"Rick --" Teriaknya pada sang asisten yang langsung bertindak menghampiri Sherina.
"Silahkan Nona saya akan mengantar anda turun."
"Aku bisa sendiri." Mendecak kesal sembari menghentakkan kakinya dilantai, Sherina keluar dari ruangan Bian dengan wajah masam dan cemberut.
Tatapan matanya tertuju sinis kearah Cleo yang masih berdiri disamping Bian dengan kepala tertunduk. Bahkan wanita itu sengaja menyenggol pundak Cleo dengan keras sehingga menyebabkan gadis itu sedikit oleng. Beruntung Bian langsung sigap menangkap tubuhnya sebelum dia mencium lantai.
"Ingat Bi, urusan kita belum selesai dan aku pastikan kau akan menjadi milikku. Jangan panggil aku Sherina kalau aku tidak bisa memilikimu." Ancamnya saat sampai didepan pintu sebelum akhirnya melangkah keluar dan menghilang dari pandangan mereka bertiga.
__ADS_1
Bian tersenyum sinis, wajahnya menyeringai dengan tatapan matanya yang masih mengarah pada punggung Sherina yang mulai menjauh. Sepertinya pria itu sedang merencanakan sesuatu atau mungkin memikirkan perkataan Sherina. Entahlah hanya Bian saja yang tahu.
Namun sepertinya Ricko yang berdiri diambang pintu mulai mengerti dengan arti tatapan mata seorang Bian. Dia yang sudah sangat lama mengenal Bian, sedikit tidaknya tahu dengan sifat dan watak pria itu.
"Sekali lagi kau mengulang kesalahanmu aku pastikan Benua Afrika menunggumu Rick." Sarkas Bian pada sosok pria didepannya ini dengan tatapan tajamnya yang menghunus.
Glek
"Ak - aku sudah melarangnya tadi Bi, hanya --"
"Minggu depan aku akan mengirimmu kesana Rick." Potong Bian cepat.
"What ! Apa salahku." Pekiknya kaget.
"Kau salah karena suudah berani membalas ucapanku." Dengusnya kesal.
"Tapi --"
"Besok --"
"Oke..oke aku keluar."
"Seharusnya tinggal bilang keluar saja kan bisa tanpa harus mengancam mengirimku ke Benua Afrika. Bisa bisa kulit tubuhku yang putih dan wajah tampanku akan berubah seperti mereka kalau aku benar benar dikirim kesana."
Ricko yang berdecak kesal akhirnya melangkahkan kakinya bukan menuju ruangannya kembali. Namun pria itu berjalan kearah kantin dimana hampir seluruh karyawan berada disana untuk mengisi perutnya yang kosong.
Ricko baru saja hendak berbelok kearah kanan dimana kantin perusahaan berada ketika tanpa aba aba dan permisi seseorang berlari kearahnya dengan kepala tertunduk. Dan karena terlalu kaget sampai Ricko tidak bisa mengontrol tabrakan diantara keduanya yang mana langsung membuat tubuh orang yang menabraknya terjatuh kelantai.
Bruk
"Aww...sakit banget ni badan apa batu sih keras banget deh."
Ricko yang spontan mengulurkan tangannya hendak menolong gadis tersebut, seketika menghentikan niatnya ketika mendengar suara familiar ditelinganya itu.
"Kau --" Decaknya lalu menarik kembali tangannya yang terulur kemudian berbalik kembali menuju ruangannya meninggalkan gadis yang terpaku menatap kepergiannya dalam diam.
*
__ADS_1
*
*
"Kamu tidak apa apa ?"
Cleo melirik tajam sosok pria disampingnya yang saat ini sedang mencoba merayunya untuk kesekian kalinya. Lagi lagi Cleo hanya melirik dan membisu tanpa berniat untuk membalas setiap rayuan Bian.
Jujur walaupun akhirnya dia lega karena perkataan Bian bukan tertuju padanya, namun gadis itu masih agak kesal karena sikap Bian yang diam saja ketika Sherina memeluk dirinya.
Apalagi ditambah dia yang salah paham mengira kalau Bian mengusir dirinya, semakin membuatnya kesal dan malu.
"Sayang jangan diam saja donk ? Aku kan sudah mengusir dia keluar. Lain kali aku akan mengunci pintu deh, biar tidak ada orang yang mengganggu waktu kita kalau kita sedang berduaan begini." Lagi Bian mengeluarkan jurus rayuan mautnya supaya kekasihnya itu mau mengeluarkan suara.
Cleo melotot mendengar kata kata Bian. Apa tadi ? Berduaan ? Enak saja yang ada nanti malah pria itu malah berbuat aneh aneh padanya seperti tadi. Mengingat jika kepribadian pria itu berubah menjadi manja dan...mesum tiap bersamanya.
"Siapa yang mau berduaan sama kakak ? Enak saja, yang ada nanti malah kakak aneh aneh lagi padaku." Ketusnya dengan wajah kesal.
"Aneh aneh gimana maksud kamu sayang." Tuh kan senyum jahil Bian mulai terbit, mendengar kekasihnya mulai mau menanggapi ucapannya.
"Ya..aneh aneh. Maksudnya macam macam gitu." Aduh susah banget sih jelasinnya.
"Kamu kalau ngomong itu yang jelas napa. Tadi aneh aneh, sekarang macam macam. Maksudnya apa coba." Seringaian tipis masih terlihat diwajah tampannya, pria itu masih pura pura tidak mengerti dengan maksud ucapan Cleo.
Cleo gugup dengan wajah yang sudah memerah merona. Dia sungguh malu mengatakan maksud ucapannya itu. Lagi masak gitu aja Bian ga ngerti sih, dalam hati gadis itu mengumpat pria disebelahnya ini.
"Udahlah lupain aja. Pokoknya aku ga mau kalau aku satu ruangan dengan kakak titik ga pake koma." Tegasnya dengan mimik muka serius yang mana malah membuat Bian merasa gemas melihatnya.
Sumpah dia menggemaskan sekali.
Melihat Bian yang masih asik senyum senyum sendiri dan tidak mendengarkan ucapanya membuat Cleo kembali mendesah kesal. Dengan cepat dia berdiri hendak keluar dari ruangan Bian.
Tapi lagi lagi lengannya ditarik oleh Bian hingga kini malah posisi jatuhnya berada diatas pangkuan Bian.
Bruk
"Kalau kamu berani keluar aku malah akan melakukan beribu ribu macam padamu sayang. Kamu tetap disini dan aku pastikan akan bersikap profesional. Atau kamu keluar tapi kita akan berakhir diranjang. Bagaimana keputusan ada ditanganmu baby." Bisikny sensual ditelinga Cleo yang mana membuat gadis itu seketika meremang.
__ADS_1
TBC