
Aira membeku dengan sorot mata yang berubah menjadi tatapan penuh kebencian yang begitu besar. Amarah gadis itu seketika langsung menyeruak keluar hingga nafasnya sampai tersengal sengal.
"Pergi ! Jangan mendekat." Ketusnya saat melihat Sean yang berjalan mendekatinya.
"Ra..aku ingin bicara."
"Pergi ! Apa kau tidak mendengar perkataanku."
"Tapi Ra.." Ucap Sean dengan bibir yang bergetar, bahkan sekarang tatapan matanya berubah sendu.
"Pergi ! Aku bilang pergi ! Aaakkhh.." Teriak gadis itu histeris sehingga membuat Sean panik.
Tanpa menghiraukan teriakan Aira, Sean langsung berlari dan memeluk erat gadis itu. Tidak perduli dengan pukulan Aira yang terus mendarat dipunggungnya.
"Ra aku mohon dengarkan dulu aku bicara." Lirih Sean berucap dengan airmata yang sudah mengalir.
"Pergi brengsek ! Aku membencimu Sean, bahkan kebencianku padamu begitu besar."
"Maafkan aku Ra, aku menyesal."
"Aku sangat membencimu Sean, bahkan sampai mati pun aku tidak akan pernah memaafkanmu. Pergi kau ! Aku bilang pergi." Kembali Aira berteriak hingga suaranya berubah serak.
"Dokter ! Suster !" Panggil Aira dengan suara kerasnya lalu dalam sekejap gadis itu kembali pingsan.
Sean menatap sendu wajah Aira dengan perasaan yang berkecamuk. Melihat kebencian gadis itu yang begitu kentara sungguh membuat hatinya tercabik cabik.
Drap
Drap
Suara langkah kaki yang berlarian menuju ruang dimana Aira dirawat terdengar menggema memenuhi lorong VIP rumah sakit. Rona cemas dan panik terlihat jelas diwajah sang dokter. Dan benar saja, wajahnya bertambah panik saat melihat gadis itu yang kembali tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Tuan muda apa yang terjadi." Tanya dokter pada Sean yang nampak tertunduk disamping tubuh Aira.
"Dokter tolong periksa keadaannya, tadi dia histeris saat melihatku." Ucapnya dengan nada getir.
Dokter menghela nafas panjang, lalu bergegas memeriksa kondisi Aira yang kembali drop.
"Bagaimana kondisinya Dokter ? Bukankah dia sudah baik baik saja ya, kenapa tadi pingsan lagi." Tanya Sean dengan wajah yang masih terlihat khawatir.
Sang Dokter kembali menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. Ditatapnya wajah putra pemilik rumah sakit ini dengan seksama.
"Nona Aira baru saja siuman dari komanya Tuan, jadi penting sekali untuk tidak membuatnya kembali stres ataupun drop kembali. Jia itu terjadi akan sangat berbahaya untuk dirinya. Dan bisa saja nona Aira akan kembali koma." Ucap sang Dokter.
Sean tertunduk lalu menatap sendu wajah Aira yang kembali pucat.
"Maafkan saya dokter, ini semua karena ulah saya yang tidak sabar untuk bertemu dengannya." Cicit Sean berucap dengan suara lirih.
"Saya tahu bagaimana perasaan anda sekarang Tuan, tapi saya sarankan untuk saat ini jangan muncul dihadapan nona Aira terlebih dahulu. Nona Aira mengalami trauma yang lumayan berat, jadi saya takut jika anda memaksakan keinginan anda, tubuhnya akan merespon buruk."
Tidak ada yang bisa dokter paruh baya itu lakukan selain menyetujui permintaaan kecil Sean. Dokter itu tahu bagaimana kondisi hati Sean saat ini, pasti sakit rasanya melihat orang yang kita cintai sangat membenci kita.
Setelah menyelesaikan tugasnya Dokter lalu mengajak Sean ikut serta untuk keluar dari ruangan Aira. Langkah pria tampan itu terlihat gontai dan tidak ada semangat sama sekali. Berkali kali pria itu berpaling kebelakang untuk melihat wanita yang diam diam selalu dia rindukan itu. Namun hatinya kembali tercubit saat melihat bagaimana pucatnya wajah Aira saat ini.
Aira membuka kedua matanya setelah dirasa Sean sudah keluar dari ruangannya itu. Ada aliran airmata yang mengalir dikedua matanya. Gadis itu sebenarnya sudah sadar saat dokter masuk kedalam, namun dia tetap melanjutkan pingsannya hanya supaya untuk tidak bertatap muka dengan Sean.
Apa maumu yang sebenarnya Se. Jika yang kamu lakukan semua ini karena ingin mendapatkan maaf dariku, sejujurnya aku sudah lama memaafkanmu. Tapi jika untuk mengharapkan aku kembali padamu, itu tidak mungkin dan tidak akan pernah mungkin terjadi.
Rasa sakit hati ini sudah mendarah daging dan mengalir disetiap aliran darahku. Aku sangat membencimu, dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali padamu.
Sudah terlambat untukmu menyesali semuanya Se, sudah sangat terlambat. Jika saja kamu menyesalinya waktu peristiwa dulu belum terjadi, mungkin aku akan dengan senang hati memaafkanmu dan kembali merajut rumah tangga denganmu.
Sekarang dihati ini hanya ada kebencian dan rasa sakit. Bahkan aku sendiri merasa takut untuk kembali berharap dengan yang namanya cinta. Aku sangat takut, dan itu semua karenamu Se..karenamu.
__ADS_1
Aira menghapus kasar airmata yang terus mengalir dikedua ujung matanya. Lalu dengan perlahan gadis itu mencoba duduk walaupun sedikit sulit.
"Aku harus pergi dari sini, aku tidak ingin bertemu lagi dengannya. Aku harus pergi sebelum dia, Alex dan Jiza datang." Gumamnya pelan.
Sembari melawan rasa sakit yang luar biasa dilengannya, Aira mencabut selang infus dan jarum yang menancap dipunggung tangannya. Gadis itu meringis saat kembali merasakan sakit yang begitu kuat dilengannya.
Aira beringsut turun dari brankar tanpa memperdulikan lengannya yang sakit dan tetesan darah yang mengalir deras dipunggung tangannya dan juga dari luka dilengannya yang kembali terbuka.
Nafas gadis itu tersengal sengal namun sekuat tenaga dia tahan walaupun pandangan matanya sedikit mengabur.
Aku harus kuat, aku harus pergi dari sini. Gumamnya dalam hati.
Dia harus pergi maka dari itu dia harus menahan segala bentuk rasa sakit yang saat ini menyerang tubuhnya. Dengan langkah tertatih tatih, Aira membuka pintu ruangannya. Gadis itu melongok menatap kekanan dan kekiri keluar ruangan. Lorong terlihat sangat sepi, dengan cepat Aira berjalan menuju lift dan masuk kedalamnya.
Aira bernafas lega, saat ini dirinya sudah berada diluar rumah sakit. Dengan langkah lemas dan nafasnya yang semakin ngos ngosan, gadis itu tetap melangkah menjauh dari rumah sakit. Mengabaikan pandangan matanya yang semakin kabur, Aira tetap melangkah dengan sesekali berpaling kebelakang. Dia takut jika saat ini ada orang yang menyusulnya, karena dia pasti sudah menduga jika orang orang disana sudah menyadari kalau dia melarikan diri dari rumah sakit.
Aira berhenti sejenak, mengatur deru nafasnya yang terasa berat. Lengannya juga terasa sakit yang teramat sangat. Bahkan darah masih mengalir deras dari bekas luka dilengan dan punggung tangannya.
Saat dia melihat ada taksi lewat gadis itu berdiri dan berjalan pelan hendak menyetopnya. Namun bersamaan dengan itu muncul sebuah mobil sedan BMW hitam dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Aira tersentak, saking fokusnya pada rasa sakit dilengannya, gadis itu tidak menyadari jika ada kendaraan yang melaju kearahnya.
Aira terjatuh ketanah dengan tangan yang menutupi wajahnya pasrah, namun gadis itu tidak merasakan sakit disekujur tubuhnya. Pandangannya semakin mengabur dan kondisi tubuhnya pun kian melemah.
Sekilas dia melihat seorang pria turun dan mendekat kearahnya. Wajah pria itu terlihat panik, walaupun dengan pandangan kabur rasanya Aira seperti tidak asing dengan wajah pria didepannya.
"Aira, kamu baik baik saja ?" Tanya pria itu dengan suara bergetar karena panik.
Aira mengulurkan tangannya yang berdarah yang langsung disambut oleh pria itu.
"Tu...an tolong ba..wa aku..per..gi..dari sini." Ucapnya dengan nafas yang tersengal sengal, lalu setelah itu dia tidak sadarkan diri.
Pria itu langsung panik melihat Aira yang kembali pingsan. Dengan berbagai macam pertanyaan dihatinya, dia segera mengangkat tubuh mungil itu lalu membawanya masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
TBC