
Aira menatap nanar punggung Alvian yang menghilang dibalik pintu kamar, ada rasa tak rela saat pria itu diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Helaan nafas terdengar begitu berat dia hembuskan.
Namun kemudian dia tersenyum getir saat dia merasa jika sikap Alvian mungkin karena pria itu belum sepenuhnya mencintai dirinya. Mungkin saat ini hanya rasa kagum saja yang dimiliki pria itu padanya.
Dengan lesu dan mencoba menahan sesak Aira kembali masuk kedalam kamarnya kemudian berbaring diranjang dengan ukuran super besar itu. Pikirannya melayang kemana mana, sungguh saat ini kerinduan pada kedua mertua yang sudah dia anggap sebagai orangtuanya sendiri begitu besar.
Inilah mengapa dia tidak ingin membuka hatinya kembali untuk mencintai ataupun dicintai. Trauma akan disakiti dan juga ketakutan akan seseorang yang mungkin akan mengungkit ataupun tidak bisa ikhlas menerima keadaan dirinya.
Setelah lelah berperang dengan hati dan pikirannya gadis itu pada akhirnya mulai terlelap dalam mimpinya. Menyisakan beberapa hal yang masih mengganjal dihatinya karena sikap Alvian yang justru mendiamkannya tanpa mengatakan sesuatu padanya.
Selang 30 menit selepas gadis itu terlelap pintu kamar terbuka dan muncul sosok Alvian.
Cklek
Setelah menutup pintu kamar dan kemudian menguncinya, Alvian menatap sekilas pada sosok gadis yang sudah terlelap dalam mimpinya. Pria itu menghela nafasnya dalam sebelum kemudian dia berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah beraktifitas sejenak.
Setelah beberapa menit akhirnya Alvian menyelesaikan hajatnya dan nampak pria itu keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang sudah kembali segar. Bahkan tetesan air masih nampak menetes dari sela sela rambutnya yang basah.
Alvian menatap kearah ranjang dimana Aira yang terlelap dalam tidurnya. Pria itu kemudian berjalan mendekati gadisnya dan duduk dipinggiran ranjang. Tangannya yang besar bergerak menyibak helai rambut panjang Aira yang menutupi wajah cantiknya.
Cantik, bahkan saat tidur pun kamu sangat cantik sayang. Gumamnya.
Alvian merangkak naik dan ikut merebahkan tubuhnya disamping Aira. Memiringkan tubuhnya menghadap pada gadis itu dengan tangannya yang menyangga kepalanya.
Apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaanmu sayang, walaupun itu sebenarnya membuatku sedikit tidak rela untuk melakukannya.
Alvian meraih tubuh Aira untuk dibawanya masuk kedalam pelukannya dengan lengannya yang dia jadikan sebagai bantalan kepala gadis itu. Dan tidak menunggu lama pria itu merasakan kantuk menyerangnya hingga pada akhirnya membuatnya ikut terlelap dalam mimpi.
***
Pagi hari...
Aira merentangkan kedua tangannya lebar untuk merenggangkan otot ototnya yang terasa kaku. Disusul dengan kedua matanya yang mengerjap indah dengan sesekali menguap cantik.
Menoleh kearah samping dengan bibir masih terbuka sedikit, namun kemudian dia langsung menutup mulutnya saat menyadari ada sepasang mata yang dari tadi terus memperhatikannya dengan tidak berkedip sedetikpun.
Bibir agak tebal namun seksi itu terangkat membentuk garis lengkungan yang semakin lama semakin lebar, dengan tatapan penuh memuja pada wajah cantik didepannya.
"Morning Baby..Cup."
Aira tersipu dengan pipi yang sudah memerah dan itu terlihat begitu menggemaskan dimata Alvian. Dengan cepat dia memberikan kecupan kecupan singkat disana hingga membuat pipinya semakin memerah dan panas.
"Kamu malu ? Lihatlah pipimu sangat merah." Goda Alvian sembari mengerlingkan sebelah matanya.
Aira menyembunyikan wajahnya dibalik dada bidang Alvian membuat pria itu tertawa geli.
"Hahahha kamu luccu sekali sayang, ayolah jangan begini atau aku tidak akan bisa menahannya lagi dan melakukan itu padamu." Ucap Alvian dengan wajah tengilnya.
"Apa maksudmu ?" Kening Aira berkerut dengan tatapan mata yang menghujam wajahnya.
"Kamu tahu apa maksudku Baby." Kerling Alvian dengan genit dan jangan lupa senyuman mesumnya yang tercetak jelas dibibirnya.
Aira yang tadinya memang kurang paham kini memasang wajah kesal saat sadar maksud ucapan pria itu. Berbalik kasar hendak bangun menuju kamar mandi. Namun belum sempat kakinya menyentuh lantai, tangan kekar Alvian sudah menariknya hingga membuat gadis itu kembali terjerembab diatas tubuh Alvian.
"Al.." Pekik Aira dengan mata melotot sempurna.
__ADS_1
"Terlambat, kamu sudah membangunkannya Baby." Ucap Alvian dengan nada yang sudah berubah serak dan dapat Aira lihat sorotan matanya yang penuh dengan hasrat membara.
"Bolehkah Baby ?" Tanyanya lagi dengan nafas yang sudah memburu.
Aira sontak menatap wajah tampan yang saat ini ada dibawah tubuhnya. Tersenyum manis sebelum dia memberikan kecupan singkat dibibirnya.
"Vian sayang, bukankah kamu sudah berjanji padaku akan melakukannya setelah kita menikah ?" Tanyanya dengan lembut.
Kening Alvian berkerut kala gadis itu memanggilnya dengan sebutan baru.
"Kamu memanggilku apa tadi ?"
"Vian, aku merasa lebih menyukai panggilan itu untuk priaku. Lebih indah dan...." Aira berhenti sembari memberikan senyuman manis, tidak lupa pipinya yang kembali memerah.
"Dan..?" Tanya Alvian penasaran dengan kelanjutan kata kata Aira.
"Dan..seksi." Bisiknya lirih ditelinga Alvian.
"Oh..astaga Baby, kamu begitu menggemaskan sekali." Seru Alvian yang kemudian membalikkan tubuh gadis itu hingga terkunci dibawah kungkungannya.
"Kamu memang sengaja menggodaku ya." Seru Alvian dengan tatapan tajam dia arahkan pada kekasihnya.
"Siapa yang menggodamu ? Kamu saja yang memang baperan." Sungut Aira dengan wajah kesal dan bibir yang mengerucut.
Cup
Alvian langsung mendaratkan kecupannya dibibir tipis Aira, dan yang tadinya kecupan kini berubah menjadi ciuman lebih dan lebih dengan durasi yang lama. Bahkan gadis itu kini ikut menikmati sensasi yang diberikan oleh Alvian yang memang selalu memabukkan.
"Vian.." Seru gadis itu lirih saat pria itu memberikan tanda kepemilikan dilehernya yang putih jenjang. Dan panggilan itu semakin membuat pria itu menggila dan menginginkan lebih.
Aira menatap kedua mata Alvian yang memancarkan gairah yang begitu besar. Walaupun gadis itu ikut terbuai dan menikmati sentuhan kekasihnya namun sekuat tenaga dia menahannya supaya pria itu tidak bertindak lebih jauh lagi.
"Jangan Vian, kamu sudah berjanji."
"Aku sudah tidak tahan lagi sayang, kamu membuatku tergila gila."
"Vian.." Panggilnya lembut lalu mengusap rahang pria itu dengan kasih. " Kamu bisa menikahiku besok, atau nanti dan lakukan apapun yang kamu inginkan. Dan aku tidak akan pernah menghentikannya, tapi sekarang mengertilah, bukankah kamu mencintaiku ? Jangan menodai cinta kita dengan nafsu sesaat Vian. Karena aku ingin berbakti sepenuhnya pada suamiku nanti." Tambahnya panjang lebar.
Bagai tersihir oleh kata kata Aira, pria itu lantas menghentikan kegiatannya dan memperbaiki pakaian Aira yang sudah tidak berbentuk. Dikecupnya lembut keningnya dengan perasaan bersalah.
"Maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan diriku, aku mengerti. Dan besok aku ingin kita menikah, apapun alasanmu aku tidak menerima penolakan. Apa kamu mengerti ?"
Aira mengangguk membuat pria itu mengembangkan senyumannya kemudian beranjak bangun dari posisinya saat ini yang menindih tubuh Aira.
"Ayo mandi setelah itu aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." Ajaknya sembari menarik tangan Aira kekamar mandi.
Langkahnya terhenti saat dia tidak merasakan pergerakan gadis itu yang menuruti langkah kakinya.
"Kenapa sayang ?" Tanyanya heran.
"Kita mandi bersama ? Aku tidak ingin." Tolaknya lirih dengan kepala tertunduk.
Alvian menghela nafas panjang, pria itu kembali berjalan mendekati Aira.
"Sayang lalu bagaimana dengan BEOku ? Siapa yang akan menenangkannya ? Apa kamu tidak kasihan padaku, ini sangat tidak nyaman sekali Ai." Keluhnya sembari menatap frustasi pada BEOnya.
__ADS_1
Aira mengikuti arah mata Alvian, dan mendadak pipinya semakin memerah saat melihat bagaimana Beo kekasihnya itu melambai lambai padanya dengan senyuman yang menawan.
"Kamu itu mesum sekali." Gerutunya lirih.
Alvia mengacak rambutnya frustasi, kemudian dia melepaskan tangan Aira dan berjalan kembali menuju kamar mandi.
"Mau kemana ?" Tanya Aira yang kini bergantian menahan lengan Alvian.
"Apalagi ? Ya membuat Beo tenang tentunya." Jawabnya dengan muka kusut.
Aira menjadi kasihan dan tidak tega, bagaimanapun dia yang menyebabkan pria itu tidak bisa menyalurkan hasratnya.
"Aku akan membantumu." Ucapnya kemudian.
"Bagaimana caranya kamu membantuku sayang ?" Tanya Alvian dengan wajah bingung.
"Itu..." Tanpa meneruskan ucapannya Aira langsung menarik lengan kekasihnya menuju kamar mandi dengan diikuti tatapan bingung Alvian.
💕 💕 💕
"Makasih sayang, hari ini aku puas sekali." Ucap Alvian sembari menggenggam tangan Aira saat keduanya sudah berada didalam mobil, sementara tangan kanannya fokus pada kemudi.
Aira memalingkan wajahnya yang dia rasa pasti sudah memerah, sungguh malu sekali dia pada Alvian saat ini. Mengingat bagaimana kelakuannya tadi pada pria itu.
"Besok besok kamu harus membantuku lagi jika aku ingin ya. Rasanya sama nikmatnya ketika Beo ku bertemu dengan Pipit." Ujar Alvian frontal.
"Vian..!" Pekik Aira kesal, bagaimana bisa pria itu bisa dengan santai dan tenang saat mengucapkan hal itu padanya.
"Hahahah..kamu seksi sekali, dan aku sangat menyukai terutama bibir dan tanganmu tadi, sungguh Beo sangat menyukainya." Godanya lagi.
"Viannnn." Pekiknya lebih kencang dengan mencubit paha pria itu yang membuat Alvian seketika menjerit kesakitan.
"Aw..aw..ampun, sakit sayang. Oke..oke..aku berhenti menggodamu." Ringisnya sembati mengusap pahanya yang terasa pedih. " Kamu itu kejam sekali."
Aira berpaling dan membisu, merasakan jantungnya yang berpacu sangat kecang karena rasa malunya yang tiada terkira. Dia mengingat maksud kata membantu yang Alvian katakan tadi, bagaimana dia membantu pria itu menuntaskan hasratnya dengan bantuan mulut dan tangannya.
"Hah..." Jika mengingat itu Aira merutuki kebodohannya yang bertindak agresif.
"Aku berkata tulus sayang, makasih ya." Ucap Alvian dengan nada lembut tanpa godaan dan itu mampu membuat gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Kamu akan membawaku kemana Vian ?" Tanyanya heran pada pria itu saat mobil berhenti disebuah restoran mahal.
"Rahasia, kalau aku beritahu bukan kejutan namanya. Kamu akan mengetahuinya nanti." Tersenyum manis lalu mengulurkan tangannya pada kekasihnya. " Come on Baby."
Keduanya melangkah masuk kedalam restoran dan langsung menuju keruang VIP. Dengan bantuan seorang pelayan resto yang membukakan pintu, Alvian melangkah masuk kedalam dengan tangan yang memeluk posesif pinggang Aira.
"Maaf membuat kalian menunggu lama." Sapanya pada kedua orang yang ada didalam.
Kedua orang itu langsung menoleh saat mendengar suara berat milik Alvian, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat sosok yang berdiri disamping Alvian.
"Ara.." Seru keduanya secaraa bersamaan.
Aira pun tidak kalah terkejutnya, ternyata ini kejutan yang telah dipersiapkan oleh Alvian.
"Mama..papa."
__ADS_1
TBC