
"Sayang kamu disini ?"
Jiza mengerutkan dahinya kala sampai dipelataran parkir kampusnya. Disana dia melihat tunangannya itu sedangg berdiri menyender dipintu mobil dengan posisi bersidekap dan sebelah kakinya yang menyilang. Pria tampan itu semakin terlihat sempurna dengan gaya kacamata hitam yang bertengger cantik dikedua matanya.
Tidak heran jika banyak mahasiswi dan juga dosen wanita melirik padanya dengan tatapan kagum. Pesona Alex memang terlihat sangat kuat hingga membuat seisi kampus heboh membicarakannya.
Alex tersenyum menyambut kedatangan sang pujaan hati. Membuka kacamata hitamnya yang langsung membuat para gadis disana berteriak histeris. Membuat wajah Jiza seketika berubah masam dan memasang tampang wajah cemberut.
"Masuk gih." Perintahnya dengan nada ketus.
Alex terkekeh namun menuruti permintaan wanitanya. Sementara Jiza memandang lekat sekitarnya yang masih nampak para gadis bergerombol membicarakan tunangannya.
"Ngapain kalian pada berdiri disitu, mau caper ! Iya ! Laki laki ini sudah ada yang punya, dan besok dia mau menikah. Awas saja kalau ada diantara kalian yang berani menggodanya, akan ku buat kepala kalian lepas dari leher. Kalian mengerti." Bentaknya dengan memasang mode galak diwajahnya.
Sontak saja para gadis itu langsung pergi sembari bergidik ngeri membayangkan jika benar Jiza akan melakukan seperti yang diucapkan itu. Lebih baik mereka mengubur perasaan kagumnya dalam dalam daripada berurusan dengan gadis arogan seperti Jiza.
Dikampus sahabat Aira itu memang terkenal akan sifat garang dan arogan. Bahkan gadis itu pintar berkelahi dan berani melawan orang yang selalu melakukan penindasan pada kaum lemah. Dan karena sifat arogannya itu, banyak mahasiswi yang tidak menyukainya namun bukan berarti gadis itu dibenci oleh seluruh anak anak dikampus.
Jiza justru banyak digilai oleh para pria yang memang mengidolakan dia sebagai cewek tangguh. Dan bagi kaum wanita tentu saja mereka senang karena pada akhirnya ada yang membela mereka mereka yang lemah karena penindasan yang dilakukan oleh kebanyakan orang orang kaya.
Jiza menghela nafas panjang setelah melihat bagaimana para gadis centil itu berlarian kocar kacir. Setelah agak tenang dia langsung masuk kedalam mobil dan disambut dengan senyuman Alex yang begitu mempesona.
"Ngapain senyum senyum ! Seneng ya digibahin sama cewek cewek centil." Sentak Jiza tidak bisa menahan rasa cemburunya. "Dasar lelaki semuanya sama, liat cewek bening langsung nggak bisa tahan buat caper, menyebalkan."
Alex hanya diam sembari menahan senyumnya, bisa bahaya jika dia kelepasan tertawa disaat Nyai Ratu sedang dalam kode tanda merah. Bisa bisa dia tidak akan diberi ijin bertemu selama beberapa hari. Dan tentu saja Alex tidak mau, jangankan beberapa hari, tidak bertemu satu detik saja dia sudah sangat rindu.
" Jadi besok ya." Ucapnya ambigu.
"Apanya yang besok ?" Kening Jiza berkerut bingung.
"Kita menikah." Jawabnya singkat.
"Kita menikah ? Siapa yang bilang, kok kamu nggak ada ngomong sama aku sih. Lagian kok mendadak begini." cerocosnya tiada henti dengan nada sedikit tinggi karena panik.
"Kan kamu tadi yang bilang." Masih dalam mode santai.
Jiza kembali termenung, masih bingung akan ucapan tunangannya itu.
"Kamu kalau ngomong jangan suka ngelantur deh Lex, kapan coba aku ngomongnya."
__ADS_1
"Mas...biasakan panggil calon suami kamu ini mas, sayang." Sela Alex tegas.
Jiza cemberut namun tidak urung wajahnya bersemu merah. Dia masih merasa malu untuk memanggil Alex dengan sebutan mas.
"Jangan cemberut begitu, apa perlu aku ulang ucapan kamu tadi. Begini kan." Duduk tegak lalu mempraktekan gaya bicara Jiza tadi. "Ngapain kalian pada berdiri disitu, mau caper ! Iya ! Laki laki ini sudah ada yang punya, dan besok dia mau menikah. Awas saja kalau ada diantara kalian yang berani menggodanya, akan ku buat kepala kalian lepas dari leher. Kalian mengerti."
Jiza terperangah, tidak menyangka jika Alex mendengar semua yang dia ucapakan. Sontak gadis itu memalingkan wajahnya, dia malu untuk sekedar menatap muka Alex.
Alex tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk tertawa, melihat sikap calon istrinya yang begitu menggemaskan. Perlahan dia mencondongkan badannya kearah Jiza dan meraih dagu gadis itu supaya menghadap padanya.
"Kamu malu ?"
Jiza hanya diam, jantungnya selalu saja tidak bisa diajak kompromi. Selalu berdebar kencang seakan dia habis lari maraton sepuluh kilo. Apalagi saat wajah Alex semakin dekat dan bibirnya memberikan kecupan singkat dibibir tipisnya, Jiza semakin merasa jika wajahnya pasti sudah memanas.
"Bagaimana kalau aku mengabulkan ucapanmu tadi, hm. Besok kita menikah ya sayang."
"Hah..tapi kan tadi aku hanya bercanda saja, tidak serius. Aku hanya nggak mau para gadis centil sialan itu caper nggak jelas sama kamu."
"Berarti kamu nggak mau nikah sama aku ya." Celetuknya dengan wajah berubah murung.
"Bukan begitu tentu saja aku sangat ingin menikah denganmu, tapi..bukankah ini terlalu buru buru dan mendadak."
Alex tersenyum sembari mengusap lembut pipi calon istrinya.
Jiza tersenyum malu sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dengan pelan, membuat hati Alex merasa bahagia.
"Pulang kerumahku ya, mama ingin bertemu sama calon menantu kesayangannya." Ujarnya sembari mengedipkan sebelah matanya, lalu mulai melajukan mobilnya menuju kerumahnya.
***
Siang ini nampak Aira sedang berkutat didapur dengan ditemani oleh Bi Susi, salah satu art yang bertugas dibagian dapur. Wanita paruh baya itu sudah mengabdikan seluruh hidupnya semenjak Alvian masih kecil. Jadi tidak heran kalau Oma Tamara begitu dekat dengan artnya itu. Baginya Bi Susi sudah seperti saudaranya selama ini.
Aira memandang puas pada hasil jerih payahnya beberapa jam yang lalu, berbagai macam masakan ala rumahan sudah tertata rapi dan tinggal menunggu sang suami tercinta dan juga Oma yang sedang berada diruang keluarga.
"Bi, makanannya sudah siap, Ara mau ke Oma sebentar ya." Pamitnya pada Bi Susi.
"Silahkan non."
Aira melangkah menuju ruang keluarga, dan disana dia melihat Oma Tamara yang sedang menonton sinetron kesayangannya disalah satu channel TV ikan terbang. Sinetron apa lagi jika bukan tentang istri yang dianiaya oleh suaminya sendiri.
__ADS_1
Aira tersenyum lalu duduk disamping wanita tua itu hingga membuat Oma Tamara sedikit kaget karena kemunculannya yang tiba tiba.
"Oma Seneng banget kayaknya."
"Bukan seneng sayang, Oma malah greget banget ni ama film. Udah tahu suaminya selingkuh kok masih aja mau maafin. Udah gitu percaya aja sama yang dikatakan oleh pria itu. Coba tu lihat ujung ujungnya balikan, hhadeeuuh...kalao Oma jadi dia udah tak pites tu laki kayak gitu." Greget Oma berapi api dengan raut wajah kesal.
Aira terkikik geli melihat bagaimana antusias Om melihat sinetron kesayangannya. Kesel sama para pemainnya terutama wanitanya yang lemah tapi kok ya selalu ditunggu tunggu setiap harinya. Bahkan Oma kadang bisa lupa makan kalau sudah duduk didepan TV.
"Jangan marah marah, tidak baik buat kesehatan Oma." Ucap Aira lalu menaikkan sebelah kaki wanita tua itu keatas pangkuannya.
"Mau ngapain ?" Kening Oma Tamara berkerut melihat ulah cucu menantunya.
"Ara pijitin kakinya ya, Oma pasti capek."
Oma Tamara tersenyum haru, selama tinggal dengannya Aira tidak pernah berbuat kasar ataupun berbicara yang tidak mengenakkan padanya. Bahkan tutur katanya selalu rendah dan lembut padanya.
"Makasih ya nak, sudah mau menikah sama cucu Oma."
"Ara yang harusnya mengatakan terima kasih Oma, karena kemurahan hati Oma dan Mas Alvian yang sudah mencintai dan melindungi Ara selama ini." Jawabnya dengan senyum lembut.
"Bolehkah Oma bertanya satu hal padamu sayang ?"
"Silahkan Oma, tanyakan saja apa yang ingin Oma tanyakan."
"Apa kamu bahagia menikah dengan cucu Oma ?"
Sejenak pijatan dikaki Oma Tamara berhenti sejenak, Aira menatap wajah Omanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Oma, dulu hidupku begitu gersang, aku kehilangan arah karena hidupku yang sudah hancur berkeping keping. Aku mencintai dan menikahi pria yang aku pikir bisa membuatku bahagia. Aku sempat berpikir kalau dia adalah cinta pertamaku. Makanya aku begitu hancur saat dia menjatuhkan harga diriku sejatuh jatuhnya.
Namun seiring berjalannya waktu ketika aku bertemu dengan Alvian, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang selama ini tidak pernah aku rasakan melebihi rasa cintaku pada Sean. Bersama mas Alvian, aku merasa begitu dicintai dan juga mencintai dengan tulus. Aku merasa sebagai wanita yang begitu berharga dimatanya.
Mas Alvian selalu memperlakukanku dengan lembut dan penuh kasih sayang, hingga aku menyadari jika cinta pertamaku bukanlah Sean, melainkan mas Alvian, suamiku sendiri. Tidak ada seorang lelaki yang sesempurna suamiku didunia ini Oma."
Oma Tamara tersenyum bahagia, tanpa terasa airmata wanita tua itu sudah menganak sungai. Dia teramat begitu bahagia, cucu kesayangannya sudah menemukan seseorang yang akan selalu menemaninya sampai kapanpun, sampai mereka tua dan meninggalkan dunia ini.
Dia lega, pun jika Allah memanggilnya maka dia tidak akan merasa sedih. Dia akan pergi dengan tenang dan lega karena Alvian sudah mempunyai seseorang yang tepat untuk mendampinginya.
TBC
__ADS_1
Yang kangen Alex dan Jiza, acungkan tangan..cung...☝
.sama authornya juga kangen. berat.