
Ganendra Hospital
Derap langkah kaki yang saling bersahutan mulai mendekati arah ruangan VVIP. Raut wajah khawatir terlihat jelas di beberapa orang yang saat ini berjalan dengan langkah cepat, terutama wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi itu. Bagaimanapun kejadian yang menimpa calon menantunya hari ini juga karena kesalahan keluarga mereka semua.
Ya, dia berpikiran seperti itu karena memang semua pangkal masalah ini terjadi karena ketidaksanggupan mereka untuk berkata jujur dan malah memilih untuk menyembunyikan hal besar ini dari Cleo. Seandainya saja mereka dulu berani mengatakan yang sebenarnya pada Cleo, mungkin kejadiannya tidak akan separah ini.
"Ma, gimana kalau Cle tidak mau maafin kita ?" Cicit Chery disela langkahnya menuju ruang rawat sahabatnya.
Nyonya Mira mendes*ah kasar terlihat jelas gurat gelisah diwajahnya, seakan mengatakan kalau diapun juga merasa takut dan khawatir. Khawatir jika gadis yang sudah dia anggap seperti putrinya itu membencinya dan tidak mau memaafkannya.
Melihat sang mama hanya diam saja membuat hati Chery semakin dirundung gelisah. Jika mamanya saja terlihat seperti itu, lalu bagaimana dengan dirinya nanti. Akankah Cleo akan turut membencinya juga ? Lalu bagaimana dengan persahabatan mereka yang sudah terjalin selama ini. Haruskah hancur begitu saja. Rasanya dia tidak sanggup walau hanya untuk sekedar membayangkannya saja.
"Sudah, jangan berpikir yang aneh aneh, papa yakin Cleo gadis yang bijak. Papa sangat mengenal bagaimana sifat putri papa itu. Walau mungkin dia memang kecewa, tapi papa yakin dia bisa berpikir jernih sayang." Sahut Tuan Adi Nugraha menjawab perkataan putrinya setelah merasa tidak ada tanggapan dari sang istri.
Semoga saja pa, Bathin Chery.
Cklek
Pintu ruangan terbuka dan muncul sosok sang putra dengan penampilan yang dibilang cukup mengenaskan. Bagaimana tidak, kondisi Bian saat ini terlihat sangat berantakan. Wajah kusut, rambut acak acakan, celananya yang kotor dan beberapa kancing kemejanya yang nampak lepas dari tempatnya. Bahkan ada beberapa bagian tubuhnya yang berdarah akibat goresan ketika sedang berjuang menolong Cleo tadi.
"Sayang --" Panggil Nyonya Mira pelan lalu segera menghampiri Bian yang nampak terlihat lesu. " Kamu baik baik saja ?"
Tersenyum kecut, Bian bukannya menjawab pertanyaan sang mama, pria tampan itu malah duduk dengan tubuh lesu di kursi tunggu.
"Bagaimana keadaannya ? Apa dia baik baik saja ?" Kembali suara Nyonya Mira terdengar, hanya saja kali ini dia menanyakan keadaan calon menantunya itu.
Bian menatap sendu wajah mamanya, melihat jelas gurat khawatir di kedua bola mata indahnya. " Cle baik baik saja ma, dia sedang istirahat sekarang. Dokter sudah menyuntikkan obat penenang."
"Syukurlah --" Des*ahan nafas lega terdengar keluar dari indra penciuman wanita paruh baya itu mendengar keadaan Cleo yang baik baik saja.
"Ma, apa Bian harus melepasnya ?"
"Apa maksud kamu ?" Kening Nyonya Mira saling bertaut.
__ADS_1
"Jangan berpikir macam macam Bian, pernikahan kalian hanya tinggal beberapa hari lagi." Kali ini suara tegas sang papa mulai terdengar disana, pria paruh baya itu bisa menangkap maksud perkataan sang putra.
"Tapi dia membenciku pa, Bian melihat jelas sorot matanya yang penuh kebencian ketika menatap Bian." Keluhnya.
"Nak --" Wanita itu menatap iba pada sang putra, dipeluknya tubuh kekar putranya yang terlihat lemah.
"Aku memang pantas dia benci ma, sikapku yang buruk selama ini padanya, ditambah dengan kebohongan yang selama ini aku sembunyikan. Bukannya aku memang pantas menerimanya ? Aku memang pria brengsek seperti yang pernah dia katakan." Sedunya dengan isakan pelan, hatinya benar benar sakit melihat keadaan pujaan hatinya yang terbaring lemah didalam sana dan itu semua karena dirinya.
Mendengar perkataan Bian mereka pun terdiam dan tidak bisa berkata apapun. Karena ucapan Bian memang benar adanya, mengingat bagaimana dulu sikap Bian yang terlihat kasar dan buruk pada gadis itu. Tapi bukankah sekarang ini Bian sudah berubah, dan bahkan sekarang pria itu begitu memuja gadis tersebut. Dan seharusnya Bian bisa mendapatkan kesempatan kedua bukan.
Memikirkan itu membuat hati Tuan Adi Nugraha sangat yakin jika Cleo pasti bisa memaafkan Bian. Dan mungkin hanya membutuhkan beberapa waktu saja untuk Cleo kembali menerima Bian disisinya.
"Permisi -"
Suara pelan sang Dokter mengalihkan perhatian mereka yang saling berpelukan untuk menguatkan satu sama lainnya. Dengan segera Nyonya Mira melepaskan pekukannya ditubuh sang putra kemudian berdiri menghampiri sang Dokter yang baru saja keluar dari ruangan dimana Cleo dirawat.
"Dokter bagaimana keadaan putri saya ?" Tanyanya dengan wajah cemas.
"Begini Tuan, Nyonya --" Suara Dokter terlihat ragu dengan tatapan matanya melirik kearah Bian.
"Katakan saja Dokter, kami akan mendengarnya. Anda tidak perlu ragu mengatakan apapun yang ingin anda katakan." Sahut Tuan Adi Nugraha seakan mengerti dengan keraguan sang Dokter, mungkin ada sesuatu hal yang sangat penting untuk disampaikan menilik dari gurat serius di wajah Dokter tersebut.
"Apa anda Nona Chery ?" Tanyanya sembari menatap gadis disebelah Nyonya Mira.
"Saya Dokter ?" Jawabnya antusias.
"Pasien ingin bertemu dengan anda Nona."
Chery membeku lalu saling menatap dengan sang mama, ada keraguan diwajah cantiknya. Jujur saat ini dia belum siap untuk bertemu dengan sahabatnya itu, dia masih takut menerima kenyataan kalau Cleo pun ikut membenci dirinya.
"Apa anda yakin Dok --" Tanyanya ragu yang dijawab dengan anggukan kepala oleh sang Dokter.
"Ma --" Berpaling pada sang mama berharap mendapatkan pendapat darinya.
__ADS_1
"Biar saya saja Dok yang menemuinya." Sela Bian yang sedari tadi hanya diam saja dan mendengarkan pembicaraan mereka. Sungguh hatinya makin terasa sesak saat mengetahui sang kekasih bukannya ingin bertemu dengannya tapi justru ingin bertemu dengan adiknya walaupun dia tahu mereka memang sangat dekat.
"Maaf Tuan Muda, pasien bilang hanya ingin bertemu dengan Nona Chery." Jawab Dokter dengan suara tegas.
Lagi, Bian mendes*ah kasar, lalu menyurai rambutnya kebelakang. " Baiklah --"
"Masuklah sayang, mungkin dia ingin berbagi kesedihannya denganmu, lagipula memang kalian sangat dekat bukan ?" Saran Nyonya Mira sembari mengelus pundak sang putri.
"Tapi bagaimana kalau dia ikut membenciku ma ?" Tanyanya khawatir.
"Kamu belum mencobanya sayang, lalu bagaimana kamu bisa menyimpulkan seperti itu, hm ?" Lanjutnya dengan senyuman lembut berusaha menguatkan sang putri.
Tidak ada jalan lain lagi selain menuruti kata kata mamanya, dengan lesu gadis itu mengangguk kecil. " Iya ma."
Dengan langkah berat Chery mulai berjalan menuju pintu kamar rawat sahabatnya. Ketika tangannya sudah menyentuh handle pintu, suara sang Dokter sejenak menghentikan niatannya.
"Nona, saya harap jangan terlalu membuatnya semakin tertekan karena itu sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Saat ini pasien sedang dalam keadaan syok dan tertekan, saya tidak tahu apa yang sudah terjadi diantara kalian, tapi saya menyarankan untuk tidak membuat pikirannya semakin stress. Saat ini kondisi pasien masih sangat lemah."
Tidak ada sahutan dari gadis itu hanya gerakan kepala yang mengangguk pelan cukup untuk menjawab deretan nasehat dari Dokter.
Klek
"Cle --"
TBC
Sambil nunggu up selanjutnya, mampir yuk di novel mam yang lainnya.
Revenge of love ( sementara off dulu)
Rindu Suara Adzhan. ( Tamat )
Jangan didemo authornya ya. karena baru up..maaf sudah menunggu lama..
__ADS_1