
"Darimana kamu."
Suara tegas namun dingin sontak membuat langkah kaki Aira berhenti dan memutar badannya yang hendak berjalan kearah kamar mandi. Disana diujung sofa, Alvian duduk dengan tatapan tajamnya yang mengarah padanya.
Aira takut, bukan takut pada sosok didepannya ini, tapi tatapan Alvian yang terlihat sangat..dingin. Gadis itu dapat merasakan hawa yang tidak enak.
"M-mas aku.."
"Kamu bertemu dengannya ? Apa kamu masih mencintainya."
"Mas."
"Jawab aku Ra !" Bentaknya.
Aira terlonjak kebelakang dengan jantung yang berdegup kencang. Suara Alvian begitu keras membahana dikamarnya yang luas itu.
"Mas tidak bisakah kamu bertanya dengan suara pelan ? Kamu membuatku takut." Lirih Aira dengan mata yang berkaca kaca.
Alvian tersenyum sinis.
"Bicara pelan ? Dengan kekasihnya yang diam diam bertemu dengan mantan suaminya. Apa aku masih harus berbicara pelan heh. Kamu tahu sendiri aku tipe pria yang mudah cemburu Ra, tapi kamu malah seperti sengaja menyulut api diantara kita." Sarkasnya dengan suara dingin.
"Mas ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Oh ya, lalu aku harus berpikir bagaimana Ra. Apa aku harus tenang dan biasa saja saat tahu calon istriku menemui mantan suaminya. Apa ini tujuanmu yang sebenarnya saat meminta padaku ingin bertemu dengan mantan mertuamu Ra." Tuduh Alvian lagi dengan kata kata yang menusuk.
"Mas ini.."
"Kamu tahu kamu seperti j****g yang ketahuan selingkuh dengan beberapa pria." Sarkasnya dengan nafas memburu.
Deg
Aira membeku dengan tatapan nyalang dan kosong. Perih, sakit, itu yang dia rasakan saat ini, dia bahkan merasa ada sebuah pisau yang menancap didadanya.
Dia merasa kisah kembali terulang, perkataan Alvian tanpa sengaja membuka kembali memorynya saat dimana Sean juga mengatakannya seperti itu.
Jalang..jalang..jalang.
Satu kata itu terus mendengung dipikiran dan otaknya. Aira menahan sekuat tenaga airmata yang mendesak ingin keluar, lagi gadis itu sangat pandai menyembunyikan luka hatinya yang kembali menganga lebar.
Aku memang jalang mas, kamu bahkan tahu betul akan hal itu.
"Apa susahnya meminta ijin padaku Ra."
Sudah kulakukan mas bahkan berkali kali aku menelponmu, tapi ponselmu tidak bisa kuhubungi. Apa kamu juga tidak membaca pesanku.
"Kamu juga bisa meminta ijin pada Oma bukan."
Sudah kulakukan mas, apa kamu tidak bertanya pada Oma ? Kembali gadis itu hanya bisa mengucapkannya dalam hati.
"Aku kecewa padamu Ra, bahkan kamu sama sekali tidak menyangkal apapun yang aku katakan."
__ADS_1
Apa yang harus aku katakan mas, aku bicara jujur pun kamu belum tentu percaya
"Kamu benar, harusnya aku berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk menikah denganmu Ra. Karena sekali jalang tetaplah dia akan selamanya menjadi jalang."
Jleb
Aira memejam dengan airmata yang akhirnya tidak bisa lagi dia tahan. Apalagi saat pria itu berjalan melewatinya tanpa sedikitpun menoleh padanya.
"Mas." Panggilnya lirih menghentikan langkah sean.
"Terima kasih sudah membuatku sadar akan posisiku. Terima kasih sudah mengingatkanku akan statusku disini. Tapi bukankah kamu juga tahu jika aku selama ini memang seorang jalang, tidak lebih. Aku harap kamu bisa mendapatkan wanita yang suci dan bukan seorang jalang seperti aku." Ucapnya dengan suara bergetar.
Alvian memejamkan kedua matanya kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari kamarnya tanpa mengatakan apapun. Saat ini emosinya begitu besar dan dia takut jika dia kelepasan hingga membuatnya bertindak kasar pada gadis itu.
Sementara Aira masih berdiri ditempatnya, tubuhnya membeku dengan tangan yang meremas dadanya.
Sakit mas, melebihi sakitnya saat Sean menjualku.
Aira menghirup nafas dalam dalam menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh hebat. Gadis malang itu duduk ditepian ranjang dengan nafas yang masih tersengal sengal. Tidak ada isakan yang keluar, baginya dia sudah cukup merasakan kehidupannya yang pahit.
Gadis itu memandang berkeliling, seakan menatap sayang pada kamar yang sudah membuatnya nyaman.
"Aku sudah tidak mempunyai hak disini, dikamar ini, dan dirumah ini." Gumamnya dengan tersenyum miris.
Aira melihat arlojinya, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Gadis itu berdiri beranjak dari duduknya dan mulai mengemasi barang barangnya. Tidak ada yang dia bawa, hanya sebuah tas kecil yang berisi sedikit uang dan ponsel yang kembali dia letakkan diatas meja.
Ya, tadinya dia ingin membawa ponselnya, namun kembali dia urungkan ketika ingat ponsel itu dibeli dengan memakai uang Alvian. Dia juga meletakkan semua kartu mulai dari kartu kredit hingga black cart yang Alvian berikan untuknya.
Gadis malang itu perlahan melangkah menuruni tangga, kondisi rumah sudah sepi, bahkan semua lampu sudah dimatikan semua, maklum jam segini adalah waktunya untuk istirahat, tidak terkecuali para art dan yang lainnya.
"Non Aira mau kemana ? Ini sudah malam diluar juga sepi non." Tanya Pak Doni dengan tatapan penuh curiga.
Aira tersenyum tipis memandang wajah Pak Doni dengan ramah.
"Mau ke minimarket bentar pak, ada yang harus saya beli."
"Tapi non, kenapa nggak ngajak Tuan."
"Mas Alvian sudah tertidur pak, kasihan kalau dibangunin pasti dia sangat kelelahan."
"Kalau begitu bapak saja yang membelikannya non, ini sudah malam bapak takut nanti dijalan non kenapa napa." Ucapnya dengan nada khawatir.
"Bapak yakin mau membelikan apa yang saya butuhkan."
"Memangnya non Aira butuh apa ?" Penasaran pria paruh baya itu karena gadis didepannya ini menolak tawarannya.
"Saya butuh pembalut pak, kalau bapak mau membelikannya boleh. Tolong belikan saya pembalut merk c****m yang buat malam, panjangnya yang 29 centi, trus jangan yang bersayap ya pak." Jelas Aira panjang lebar, dia yakin pria itu pasti akan keberatan dan benar saja, Aira dapat melihat raut wajah Pak Doni yang berubah menjadi salah tingkah.
"Kenapa pak ?"
"Hehe..anu non maaf, tapi non Aira saja deh yang beli, bapak lebih baik menunggu non disini saja." Jawabnya sembari menyengir kuda.
__ADS_1
Berhasil.
"Baiklah kalau begitu, Bapak kunci saja takutnya saya lama. Nanti kalau sudah sampai saya teriak deh." Balasnya yang diangguki kepala oleh Pak Doni.
Aira keluar gerbang dengan hati yang terasa perih dan sakit. Sebelum benar benar berlalu dari rumah itu, sekilas dia membalikkan tubuhnya memandang lekat kearah rumah besar yang sudah membuatnya merasa sangat dicintai dan dihargai sebagai seorang wanita.
Selamat tinggal, Oma, Alvian. Maaf aku harus pergi dan terima kasih sudah menerimaku. Menerima diriku yang nyatanya memang seorang jalang sampai kapanpun itu.
Aira mengusap kasar airmata yang mengalir deras dikedua pipinya, sebelum akhirnya dia berbalik dan melangkah jauh dan semakin jauh meninggalkan rumah itu dan juga semua kenangan yang ada disana tanpa kembali menatap kebelakang lagi.
Aira terus berjalan tanpa lelah, hingga akhirnya dia sampai dijalanan besar ibukota. Menatap ramainya kendaraan yang melintas disekelilingnya.
Aira terus berjalan hingga pada akhirnya dia kelelahan dan duduk dibangku halte. Membuka tas kecilnya dan menatap 3 lembar uang merah yang ada didalam sana.
"Aku harus kemana ? Apa yang harus aku lakukan dengan uang segini."
Aira menatap sendu uang yang ada digenggamannya, dia benar benar tidak membawa satu senpun atau satupun barang berharga pemberian Alvian. Semuanya dia letakkan diatas nakas yang ada dikamarnya. Hanya ada kalung kecil yang melingkar dilehernya yang jenjang.
Aira menyentuh kalung yang ada dilehernya, kalung kecil pemberian sang mama tercinta. Satu satunya peninggalan almarhum mamanya ketika dia berulang tahun yang ke- 19, usia sebelum esoknya dia menikah dengan Sean. Tepatnya 3 tahun yang lalu.
Mama, apakah kamu akan marah jika Ara menjual kalung ini. Jangan marah ya ma, Ara butuh uang.
Hati gadis itu ingin berteriak kencang, hatinya tersayat sembilu. Kenapa disaat dia benar benar sudah membuka hati, takdir kembali mempermainkannya seolah olah dia tidak diijinkan untuk hidup bahagia.
Sebuah mobil berwarna hitam metalik berhenti tepat didepannya tidak membuat gadis itu menyadarinya karena dia sibuk dengan pikirannya. Hingga sebuah suara yang begitu familiar membuatnya kembali tersadar dari lamunannya.
"Ara.."
Aira mendongak dan menatap lurus kedepan dimana seseorang yang dia sangat kenal berdiri disana dengan senyuman. Airmata itu kembali lolos saat sang malaikat kembali datang padanya. Seketika gadis itu berdiri dan menghambur kepelukannya. Menumpahkan kesedihannya yang begitu besar.
"Alex.." Lirihnya disela sela isakannya.
Alex, ya sosok itu adalah Alex, nyatanya hanya pria itu yang selalu datang dikala dia kembali terluka. Sahabatnya yang selalu datang bak seorang malaikat.
Alex, pria itu memeluk erat gadis yang sampai saat ini masih melekat dihatinya, dia menyayangi Aira, bukan mencintainya. Karena dia sadar cintanya memang hanya untuk Jiza saja. Tadi selepas dia mengantar kekasihnya pulang, tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang duduk sendirian dihalte. Dan siapa sangka jika sosok itu adalah Aira, gadis yang teramat dia sayangi seperti layaknya seorang adik.
"Ayo kita pulang." Ajaknya yang langsung dijawab dengan gelengan kepala, dia takut jika tindakan Alex membuat sahabatnya salah paham.
Seolah tahu dengan apa yang dipikirkan Aira, Alex mengurai senyuman manis.
"Ayo kita pulang kerumah Jiza." Jelasnya dan seketika Aira mengangguk dengan senyuman kecil membingkai wajah cantiknya.
Keduanya masuk kedalam mobil dan seketika Alex melajukan mobilnya kembali membelah malam menuju kerumah Jiza, kekasihnya.
Sementara itu...
Alvian yang sedang diruang kerjanya nampak menatap botol minuman yang sudah kosong. Itu botol keempat yang malam ini dia sentuh. Pria itu begitu frustasi, menyesal dengan ucapannya yang pasti sudah membuat hati gadis yang amat dia cintai terluka.
Cemburu mengalahkan logikanya hingga dengan tega dia mengungkit masa lalu gadis itu dengan lantangnya. Semuanya dia lakukan karena cemburu tanpa dia mencari tahu terlebih dahulu.
"Maaf sayang, cemburuku membuatmu terluka. Aku hanya takut jika kamu nantinya akan kembali padanya dan meninggalkan aku." Sesalnya lirih tanpa dia tahu jika gadis yang dia lukai memang sudah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Alvian terlihat semakin mabuk dengan penampilannya yang sudah berantakan. Bahkan sekedar berjalan pun dia sudah tidak bisa, hingga akhirnya dia kembali ambruk disofa yang ada diruang kerjanya. Terlelap dengan airmata yang terus menetes disudut matanya.
TBC