
Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, perlahan sinar matahari sedikit demi sedikit mulai menembus kamar yang luas itu melalui lorong lorong kecil jendela kamar. Sinarnya yang silau namun hangat membuat kedua mata yang terpejam karena lelapnya dalam tidur itu perlahan membuka.
Tangannya mengusap usap kelopak mata, berusaha menghilangkan kantuk yang masih menderanya. Maklum dia baru saja tidur saat waktu menunjukkan pukul 4 pagi, setelah semalam Sean benar benar membuktikan ucapannya. Membuatnya tidak ingin berhenti dan terus mengulangnya berkali kali, bahkan sekarang dia bisa merasakan jika tubuhnya saat ini terasa remuk dan bagian intimnya yang terasa ngilu.
Gadis itu mengerjap dengan pipi yang memerah Karena malu, mengingat bagaimana agresifnya dia semalam. Sungguh kebuasan Sean membuatnya mabuk kepayang dan tidak ingin berhenti. Selalu meminta untuk mengulangnya terus dan terus.
Aira bangun dengan perlahan, sedikit meringis saat merasakan miliknya begitu perih. Kepalanya menoleh kesisi samping yang nampak kosong. Tidak ada sosok suaminya yang tertidur disampingnya.
Kemana kak Sean ?, Gumamnya dalam hati.
Tidak ingin berprasangka buruk, gadis itu beringsut secara perlahan turun dari ranjang. Dengan langkah tertatih membawa tubuhnya menuju kamar mandi. Mungkin dengan berendam air hangat bisa merilekskan tubuhnya yang terasa sangat kaku.
Segera gadis itu berendam didalam bathup setelah air hangat sudah terlihat memenuhi bathup, sedikit meneteskan aroma terapi untuk membuat pikirannya tenang dan rileks.
Setelah 30 menit lamanya, Aira sudah menyelsaikan ritual mandinya, dan kini dia juga sudah berpakaian lengkap. Setelan celana jins panjang dan kaos putih lengan pendek yang agak longgar. Gadis itu keluar dari bathroom dan mengedarkan pandangannya. Keningnya berkerut saat suaminya masih belum nampak.
Mungkin kak Sean dibawah kali, mending aku turun saja.
Baru saja dia berniat berjalan kearah pintu, tiba tiba dari luar pintu itu terbuka dan menampakkan sosok Sean yang sudah rapi dengan pakaian casual. Setelan celana jins panjang dan kaos berwarna hitam yang melekat ketat ditubuhnya sehingga mencetak jelas urat urat tubuhnya yang kekar.
"Kak, darimana ? Aku mencarimu." Cicit Aira dengan senyuman manisnya.
"Kau sudah bangun ? Syukurlah cepat bersiap aku menunggumu dibawah." Ucapnya dengan nada dingin.
Deg
Senyuman manis itu hilang berganti dengan perasaan deg degan. Ada apa dengan pria itu, mendadak sikapnya berubah dingin.
"Kak.." Ucapnya lirih dengan suara yang tercekat karena syok.
"Apa kau tuli ? Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu lebih lama. Cepat bersiap dan jangan banyak bicara." Bentaknya dengan suara keras.
Aira syok dengan mata yang berkaca kaca, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Baru semalam suaminya bersikap sangat manis, dan sekarang pria itu berubah 360 derajat. Cukup lama Aira terpaku ditempatnya hingga tanpa sadar malah membuat Sean menunggu lama.
"Aira !!"
Suara teriakan kencang membahana diruangan bawah, menampilkan Sean yang sudah merah padam menahan amarah. Aira buru buru berlari dengan langkah yang tertatih tatih. Menghampiri suaminya yang saat ini sedang berdiri dengan menatap tajam padanya.
"Selain tuli kau juga lelet seperti keong ya." Sinisnya dengan pedas.
"Kak, ucapanmu pedas sekali tidak bisakah kau berkata lebih pelan." Protesnya lirih.
__ADS_1
Sean mencengkeram dagu Aira dengan kasar, membuat gadis itu meringis sakit.
"Siapa kau berani mengaturku hah."
"Kak..sakit."
Sean melepas cengkeraman tangannya didagu Aira dengan kasar, membuat gadis itu agak terhuyung kebelakang. Namun melihat istrinya yang nampak kesakitan tidak membuat hati Sean merasa iba.
"Cepat berangkat kita sudah terlambat." Ketusnya lalu berjalan meninggalkan Aira yang masih mengusap usap dagunya yang agak merah.
"Kak kita mau kemana ?" Tanya Aira saat mobil itu sudah melaju meninggalkan rumah Sean.
"Diam dan duduk manis ditempat. Jangan banyak bertanya." Lagi suaranya terdengar dingin ditelinga Aira.
"Kenapa kau berubah kak ? Semalam sikapmu begitu hangat tap..."
"Aku bilang diam dan jangan banyak bertanya." Bentaknya memotong ucapan Aira.
Aira menelan salivanya kasar, mencoba menahan rasa sakit yang memenuhi relung hatinya. Gadis itu melemparkan pandangannya kesisi luar jendela. Membiarkan kesunyian melanda didalam mobil tersebut.
Tidak sampai satu jam lamanya mobil sudah sampai dipelataran sebuah hotel bintang lima. Kening Aira berkerut lalu menatap wajah Sean.
"Untuk apa kita kehotel kak ?" Tanyanya dengan rasa penasaran membuncah tinggi dihatinya.
Tadi dia kasar sekali, kenapa sekarang mendadak berubah lembut lagi.
"Turunlah ada kejutan menunggumu disana." Ucapnya dengan tersenyum yang nampak manis dimata Aira, namun siapa sangka dihati pria itu seringaian aneh muncul disudut bibirnya. Hanya sekilas hingga membuat Aira tidak menyadarinya.
Keduanya turun lalu melangkah menuju resepsionis. Meminta kunci kamar yang sudah dipesan oleh Sean, lalu menggandeng tangan istrinya menuju kamar hotel yang ada dilantai paling atas. Presidential suite room yang hanya dikhususkan untuk keluarga Ganendra.
Aira melangkah mengikuti Sean dengan hati yang bertanya tanya. Hatinya semakin berdebar saat Sean sudah membuka pintu kamar. Keduanya melangkah masuk kedalam, pertama yang dilihat Aira adalah penampakan kamar yang sangat luas dan begitu elegan. Bahkan gadis itu sampai berdecak kagum akan kemewahan kamar tersebut.
"Duduk dan tunggulah disini." Perintah Sean lalu pria itu berjalan menuju pantry. Membuat minuman dingin untuk istrinya dan juga dirinya.
"Minumlah, aku tau kamu sangat haus." Ucapnya dengan menyodorkan segelas jus yang nampak menggiurkan.
Aira menelan salivanya melihat minuman yang begitu menggiurkan. Lalu meraih gelas itu dan segera meminumnya sampai kandas. Benar benar terlihat jika saat ini dia tengah kehausan.
Sean terkekeh lalu duduk disamping Aira dengan tangan yang masih memegang gelas berisi minuman miliknya yang masih utuh.
"Kak, kita menunggu siapa disini ? Lalu untuk apa kita kesini kak ?"
__ADS_1
Sean tersenyum tipis. "Sabarlah sebentar lagi kamu akan tahu sendiri."
Baru saja selesai berucap mendadak ada bunyi bel pertanda ada orang yang datang. Dengan semangat Sean berjalan kearah pintu lalu membukanya dengan pelan.
"Sayang..." Suara pekikan wanita terdengar sampai ketelinga Aira, membuat gadis itu terbelalak sempurna.
Gadis itu syok saat mendengar panggilan sayang yang dilontarkan wanita itu. Bukan hanya itu saja, bahkan wanita itu langsung memeluk dan mencium bibir Sean dengan rakusnya. Yang membuat hatinya terasa perih adalah sikap suaminya yang justru membalas pelukan dan ciuman tersebut.
"Kamu sudah membawa semuanya, satu jam lagi kita lepas landas baby." Ucap Sean terdengar ditelinga Aira.
"Sudah..nih." Jawab wanita itu sembari menyodorkan sebuah koper miliknya pada Sean.
Sean meraih koper tersebut lalu membawanya masuk kedalam. Mengabaikan tatapan penuh tanya milik Aira.
"Dimana Alex ?" Tanyanya lagi.
"Masih dibawah, paling bentar lagi dia sampai disini." Jawab wanita itu dengan logat manja.
"Kak..."
Mendengar suara wanita lain, membuat keduanya tersadar jika dikamar itu bukan hanya ada mereka berdua. Keduanya lalu berpaling bersamaan menatap wajah Aira yang kini sudah banjir airmata.
Wanita itu memutar bola mata jengah lalu memandang sinis Aira.
"Sayang apa dia gadis yang kau ceritakan waktu itu ? Yang membuatmu terpaksa menikah dengannya ?"
Sean tersenyum manis lalu mengecup kilas bibir wanita itu.
"Benar baby, apa kamu cemburu ?" Bisiknya mesra.
"Buat apa aku cemburu dengan gadis kampungan begitu. Tidak selevel denganku, lihatlah penampilannya, sangat kuno dan nggak modis." Ketusnya dengan menatap jijik kearah Aira.
"Kak..s-siapa wanita ini ?" Memberanikan diri Aira bertanya pada Sean.
Sean melepaskan tautan tangan mereka, lalu berjalan menuju sofa dengan posisi memeluk pinggang ramping wanita seksi itu.
"Ah iya aku lupa memperkenalkan dia denganmu Ra." Ucapnya dengan nada santai dan tidak ada rasa bersalah.
Tangannya semakin erat memeluk pinggang wanita itu, tersenyum manis padanya dengan wajah yang berbinar.
"Kenalkan dia Dona..kekasihku."
__ADS_1
TBC