
" Aaaaarrrrggghhhh --"
Suara teriakan histeris terdengar jelas dari arah ruangan Sherina, bahkan sekretaris dan beberapa karyawannya nampak saling berpandangan seakan saling bertanya apa yang sedang terjadi pada atasannya itu.
Sementara itu kondisi didalam ruangan nampak seperti kapal pecah, Sherina melampiaskan amarahnya dengan melempar semua benda benda yang ada diatas mejanya. Bahkan nampak beberapa berkas hasil meeting dengan klien pentingnya kini teronggok mengenaskan dilantai seakan lembaran lembaran bernilai milyaran itu tidak berarti apa apa.
"Sekretaris sialan ! Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti, kau harus membayar semua penghinaan yang aku dapatkan hari ini." Geramnya dengan sorot mata penuh kebencian yang mendalam pada sosok sekretaris Bian.
"Bian, aku tidak terima kamu permalukan seperti ini, lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti. Kamu hanya milikku, milik Sherina bukan milik orang lain. Dan aku pastikan semua yang aku inginkan akan menjadi kenyataan."
Sherina meraih ponselnya lalu menghubungi asistennya.
"Halo frans, cepat keruanganku sekarang."
Tidak berselang lama pintu ruangannya terbuka dan muncullah sosok pria tampan berwajah bule yang tidak lain adalah Fransisco atau lebih biasa dipanggil frans.
"Astaga Rin apa yang terjadi ? Apa baru saja ada badai disini ?" Tanya pria itu sembari menautkan kedua alisnya.
"Berisik !" Ketusnya lalu duduk dibangku kebesarannya sembari menatap tajam asistennya.
"Ada apa ? Sepertinya kau sedang tidak baik baik saja." Mengabaikan tatapan tajam Sherina dan juga berkas berkas penting hasil meetingnya, Frans lebih mengutamakan bosnya itu.
Hah, padahal aku sudah capek capek meeting meyakinkan klien, tapi setelah yakin dan berhasil, lihatlah dia malah membuangnya seakan akan itu tidak berarti apa apa baginya. Untung yang aku berikan adalah salinan dari aslinya, kalau tidak...entah apa jadinya.
Menghela nafas panjang, Frans lebih memilih duduk didepan gadis cantik itu. Sebenarnya Sherina adalah sosok gadis yang sangat cantik dan seksi, dengan rambut lurusnya yang panjang dan bodynya yang wow. Sherina juga dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas dan bertanggung jawab. Bahkan perusahaan semakin maju dan berkembang pesat semenjak papanya mengalihkan penanggung jawaban perusahaan pada putri semata wayangnya itu.
Hanya saja ada satu sifat yang tidak disukai oleh Frans pada diri gadis didepannya ini. Dia terlalu berobsesi besar jika sudah menginginkan sesuatu. Dan dia juga akan menggunakan segala cara demi tercapainya tujuannya. Prinsip hidupnya, apa yang dia inginkan harus terlaksana bagaimanapun caranya.
"Kau tau BA. Group."
"Bukannya itu perusahaan milik Tuan Adi Nugraha yang diwariskan oleh putranya Fabian Nugraha ?"
"Kau benar."
"Lalu ? Ada apa dengan perusahaan itu. Bukankah kita juga sedang menjalin kerja sama dengannya saat ini. Apa ada masalah." Cerca Frans bertubi tubi.
__ADS_1
"Iya, tapi bukan dengan perusahaannya."
"Lalu ?"
"Pemiliknya, Bian. Frans aku ingin Bian menjadi milikku bagaimanapun caranya. Aku tidak ingin j*****g sialan itu mendapatkan priaku." Geram Sherina dengan angkuh.
Frans menghela nafas panjang, inilah sifat Sherina yang sangat tidak dia sukai.
Rin, tidakkah kau bisa mellihatku sedikit saja.
"Rin, tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan. Kalau kau memaksakan kehendakmu itu, aku takut suatu saat malah akan menjadi boomerang yang besar untukmu."
"Aku tidak perduli Frans, yang aku perdulikan adalah Bian harus menjadi milikku."
"Dan demi terwujudnya keinginanmu itu kau bisa menyakiti sesama perempuan Rin. Bahkan kau berniat merusak hubungan mereka."
"Mereka ? Apa maksudmu ?" Kening Sherina berkerut dengan tatapan bingungnya.
"Hahh...siapa lagi kalau bukan Bian Dan Cleo, sekretarisnya. Apa kau tidak tahu kalau mereka adalah sepasang kekasih ? Bahkan mereka akan menikah setelah gadis itu lulus kuliahnya."
"Semenjak kau mengatakan kalau kau menyukai Bian, aku langsung menyelidiki kehidupannya Rin. Dan aku harap sebagai sesama wanita kau bisa mengerti perasaan gadis itu."
Sherina tertawa keras dan itu membuat Frans mengerutkan dahinya bingung.
"Kau tahu Frans ? Aku tidak akan pernah membiarkan mereka menikah. Karena hanya aku yang pantas menjadi istri seorang Bian. Derajatku lebih tinggi darinya, aku cantik dan kaya, semua orang mengagumiku dan jelas aku lebih sempurna dari wanita penggoda itu." Ketusnya sembari tersenyum sinis.
Lagi lagi Frans menghela nafas kasar, Sherina terlalu susah untuk dinasehati.
"Lalu apa tujuanmu memanggilku ?"
Sherina memutar mutar bolpoin ditangannya dengan tatapan menerawang, sejurus kemudian dia menyeringai licik.
"Seperti biasa kau harus melakukan sesuatu Frans, dan aku rasa aku tidak perlu lagi menjelaskannya padamu bukan."
Frans terdiam, namun matanya masih menatap Sherina berharap jika gadis itu membatalkan niatnya. Dia tahu apa yang diinginkan gadis ini, dan seperti biasanya dialah yang akan melakukan tugas tugasnya.
__ADS_1
Ada sedikit kebimbangan dihati pria ini, akankah dia menyetujui atau menolak perintah bosnya itu. Tapi mengingat jika apa yang dilakukan Sherina kali ini adalah kesalahan besar yang nantinya akan berdampak pada kelangsungan perusahaan seperti yang dia takutkan.
Sepertinya tidak ada salahnya jika Frans menolak perintahnya kali ini. Bagaimanapun juga Tuan Besar sudah memberikan perintah padanya untuk selalu menjaga dan melindungi putri dan perusahaannya.
"Maaf Rin aku tidak bisa." Ucapnya tegas.
Brakk
"Kau berani membantahku Frans ?" Bentaknya sembari berdiri setelah sebelumnya menggebrak mejanya.
Kilatan amarah terpancar jelas dikedua matanya, tidak menyangka kalau orang yang selama ini mendukungnya kini malah menolaknya mentah mentah.
"Ya, aku menolaknya."
"Apa kau lupa siapa dirimu sampai berani melawanku Frans ! Kau itu hanyalah anak pungut yang karena belas kasihan dari papaku maka kau bisa hidup enak Frans. Apa kau lupa darimana asalmu ? Kalau tidak ada papaku yang memungutmu dijalanan saat itu kau pasti masih menjadi gembel Frans." Sarkas Sherina sembari tersenyum sinis.
Mendengar hinaan tajam yang keluar dari bibir Sherina, seketika Frans mengepalkan kedua tangannya hingga nampak urat urat tangannya yang menonjol terlihat jelas disana. Kilatan matanya berwarna merah dengan rahang yang mengeras kuat pertanda jika saat ini dia sedang menahan emosi yang kapan saja bisa meledak keluar.
Dia memang anak jalanan jauh sebelum bertemu dengan Tuan Besar yang tidak lain adalah ayah Sherina. Dan dia patut bersyukur karena berkat tangan dingin dan kebaikan pria itu, dia bisa sampai menjadi seperti sekarang ini. Tapi tidak perlu juga Sherina mengatakan hal seperti itu, karena tanpa gadis itu mengingatkannya pun dia sudah tahu batasannya sendiri.
Dengan tatapan yang berubah dingin, Frans menatap tajam Sherina yang sudah duduk kembali di kursinya dengan wajah angkuh.
"Aku sadar sesadar sadarnya siapa diriku dan darimana asalku Rin, jadi kau tidak perlu susah payah untuk mengingatkan derajatku. Dan asal kau tahu aku disini bekerja pada Tuan Besar bukan padamu, dan sebagai wujud dari balas budiku aku akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh beliau selagi itu untuk kebaikan. Lagipula beliau selalu mengajarkan aku untuk selalu bersikap baik dan jujur. Jadi kalau kau memintaku untuk berbuat curang, maaf aku tidak bisa. Silahkan kau cari orang lain yang bisa menjalankan rencana jahatmu itu." Ucap Frans dengan nada dingin dan tegas.
Pria itu berdiri lalu berbalik berjalan kearah pintu, namun saat tangannnya mau menyentuh handle pintu, mendadak Frans kembali membalikkan badannya dan menatap wajah Sherina yang juga sedang menatapnya.
"Satu lagi, apapun akan aku lakukan demi melindungi perusahaan Tuan Besar yang sudah dititipkan padaku. Dan aku akan melawan siapa saja yang sudah berani menyentuhnya atau bahkan coba coba untuk menghancurkannya. Sekalipun aku harus melawanmu, jika memang itu diperlukan maka akan aku lakukan Rin. Jadi pikirkan baik baik perkataanku, jika kau berani merusak reputasi perusahaan maka aku akan melupakan kalau kau adalah putri dari Tuan Besar."
Brakk
Frans menghilang dibalik pintu bersamaan dengan pintu yang dibanting keras oleh Frans. Meninggalkan Sherina yang masih terpaku tidak menyangka jika Frans bisa berkata sedingin dan semengerikan itu padanya. Padahal biasanya pria itu selalu bersikap hangat dan berkesan bersahabat.
Siall...
TBC
__ADS_1