Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Terbongkar


__ADS_3

"Apa maksud dari semua ini Se ?" Tanya Tuan Andre sembari melemparkan sebuah amplop cokelat sesaat setelah putranya itu masuk kedalam rumahnya.


Untuk pertama kalinya setelah selama 2 tahun lebih tidak menginjakkan kakinya dirumah itu, hari ini Sean berkunjung ke mansion papanya atas permintaan Tuan Andre.


Sean menatap wajah papanya dengan dahi berkerut dan hati yang bertanya tanya. Tiba tiba dia merasakan perasaan tidak enak saat melihat wajah suram papanya terlebih wajah sang mamanya yang terlihat sekali sedang menahan kesedihannya.


"Sudah berapa lama ? Kenapa kamu menyembunyikannya dari kami Se ? Apa kamu sudah tidak menganggap kami sebagai orangtuamu lagi hah." Sentak Tuan Andre dengan mata yang memerah menahan emosi.


Sean menatap keduanya dengan raut wajah bingung, sungguh dia tidak tahu apa maksud ucapan papanya.


"Sean tidak tahu apa maksud papa."


"Buka dan bacalah." Tuan Adre memberi isyarat pada putranya dengan dagunya untuk membuka amplop yang dia letakkan diatas meja.


Dengan rasa penasaran tinggi Sean meraih amplop tersebut dan mulai membukanya. Seketika kedua matanya membelalak sempurna dan tangannya yang mendadak gemetar hebat. Dipandangnya sekali lagi wajah orangtuanya dengan tatapan mata sendu dan bertanya tanya.


"D-darimana papa tahu semua ini." Tanyanya terbata bata.


"Tidak penting darimana papa tahu Se, tapi yang terpenting adalah kenapa kamu menyembunyikannya dari kami Se."


"Ak-aku.."


"Papa kecewa padamu Se, benar benar kecewa." Ucapnya setelah itu Tuan Andre beranjak dan melangkah keruang kerjanya.


Dia tidak sanggup jika harus terlalu lama berada didepan anaknya. Siapa yang tahu jika pria itu menangis dalam diam menahan hatinya yang terasa sesak.


"Ma.."


Nyonya Silvi melangkah kemudian memeluk erat tubuh putranya yang semakin terlihat kurus dan agak pucat.


"Kamu tetap putra kami Se, walaupun kami sangat kecewa karena tingkah lakumu, tapi kamu tetap anak kesayangan mama."


Sean seketika menumpahkan segala lara yang selama ini melanda hatinya. Rasa bersalah dan penyesalan juga kerinduan akan pelukan dan kasih sayang mamanya. Sean sebenarnya adalah pria yang sangat manja apalagi terhadap mamanya.


Dan semenjak kejadian itu Sean benar benar kehilangan sosok mamanya. Papa Andre menutup semua akses untuk dia kembali pulang kemansion dan juga bertemu dengan kedua orangtuanya.


"Maafin Sean ma, Sean minta ampun. Aku sungguh sangat menyesal ma. Sean sudah menyakiti hati mama dan orang yang Sean cintai, dan mungkin ini adalah hukuman yang harus Sean terima."

__ADS_1


"Mama sudah memaafkan kesalahanmu sebelum kamu meminta maaf nak, yakinlah kamu pasti bisa sembuh. Papa dan mama akan mencari dokter terbaik diseluruh dunia ini nak."


Sean menggeleng lemah dia tidak harus lagi berpura pura.


"Tidak ma, waktu Sean sudah tidak banyak lagi. Sean sudah tidak punya harapan lagi, dan Sean minta mama mengikhlaskan jika suatu saat terjadi sesuatu padaku."


Nyonya Silvi menggeleng keras dengan tangis yang semakin histeris. Tidak, dia tidak sanggup harus kehilangan putra semata wayangnya. Daripada dia kehilangan putranya dia berharap jika dia yang lebih dulu menghadap Illahi.


Dari lantai atas Tuan Andre melihat dengan sendu drama sedih yang terjadi diantara kedia orang yang begitu dia sayangi. Sorot mata pria itu memerah dengan rahang yang mengeras. Kepalan ditangannya begitu terlihat sangat kentara.


Masih terngiang diingatannya ucapan Dokter Malik yang baru saja dia hubungi.


"Paman keadaan Sean tidak baik baik saja, kerusakan diginjalnya sudah sangat parah. Dan kerusakan nya sudah menjalar sampai keharu dan paru parunya. Walaupun dia menjalani terapi tapi keberhasilannya hanya 10 %.


Dia terlalu keras kepala, harusnya dia segera berobat ketika dulu dia merasakan sakit, tapi dia justru malah mendiamkannya dan acuh. Dan komplikasi itu kini semakin parah Paman."


"Apa tidak ada cara lain Malik ?"


"Aku sendirri bingung paman, masalahnya Sean begitu keras kepala menolak untuk berobat keluar negeri."


"Dua bulan, bisa kurang dan bisa lebih."


Tuan Andre mengacak rambutnya frustasi dengan keadaan ini. Aira saja belum berhasil dia temukan. Kini dia harus dihadapkan oleh kenyataan pahit tentang penyakit putranya yang sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawanya.


"Apa yang harus papa lalukan Se. Kamu sukses membuat papa merasa hancur sehancur hancurnya.


💕 💕 💕


Aira berdiri dibalkon kamar milik Alvian dengan kedua tangan yang saling mendekap didada. Sesekali dia mengusap lengannya saat udara dingin malam itu menerpa tubuhnya. Pandangan matanya lurus menatap jauh di kegelapan malam.


Entah apa yang terjadi, tiba tiba gadis itu merasa gelisah dan mendadak dia teringat dengan Sean. Pria yang selama ini sukses membuat harga dirinya hancur berkeping keping. Mengingat Sean Aira jadi teringat dengan kedua mantan mertuanya, Tuan Andre dan Nyonya Silvi.


"Apa kabar ma, pa ? Aira rindu kalian berdua." Gumamnya lirih, nyatanya walaupun sekarang dia hidup bersama orang yang dicintainya gadis itu tetap merasa kesepian, dia selalu merindukan sosok Mama Silvi yang selalu bersikap lembut padanya.


Gerakan sepasang tangan kekar yang melingkari perutnya membuat kesadaran gadis itu kembali. Walaupun sejenak dia terkejut, namun kemudian Aira tersenyum tipis sembari mengusap lembut tangan kekar yang melingkar posesif perutnya.


"Sedang apa baby ?" Bisik Alvian ditelinga Aira lalu mengecup singkat ceruk leher Aira meresapi wangi tubuhnya yang memabukkan. Pria itu meletakkan dagunya dipundak Aira dengan sesekali mengecup pipinya.

__ADS_1


"Tidak ada, hanya mencari angin segar."


Alvian membalik tubuh kekasihnya supaya menghadap kearahnya, kemudian mengangkat dagu Aira yang menunduk. Menatap manik mata indah milik Aira yang membuatnya selalu larut dalam pesonanya.


"Apa ada yang sedang kamu pikirkan Ra ? Wajahmu terlihat sangat sedih. Kamu bisa berbagi cerita denganku sayang, bukankah aku selalu mengatakan padamu hm ?"


Aira menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan lahan.


"Aku hanya rindu sama mama dan papa." Ucapnya lirih.


"Kita akan mengunjunginya, besok aku sendiri yang akan mengantarmu. Lagipula aku harus meminta ijin dengan mereka untuk menjadikanmu sebagai pendamping hidupku sekarang, nanti dan selamanya."


"Makasih Al." Jawabnya lesu, ingin rasanya dia mengatakan apa yang sebenarnya, tapi mendengar ucapan antusias pria itu membuat Aira kembali berpikir.


Dia takut Alvian salah sangka dia masih mempunyai rasa dengan Sean, jika dia mengatakan yang sebenarnya.


Melihat Aira yang terdiam seakan masih ada yang mengganjal dihatinya membuat pria itu kembali mengangkat dagu Aira.


"Kenapa ? Aku merasa jika kamu menyembunyikan sesuatu dariku Ra. Apa kamu masih tidak percaya padaku ?"


Aira langsung menggeleng cepat.


"Lalu ?"


"A-aku hanya tidak ingin kamu salah paham Al."


"Aku akan salah paham jika kamu tidak mengatakannya padaku sayang."


Aira membalikkan badan mencoba menghindari tatapan mata Alvian yang seakan ingin menghunusnya.


"Sebenarnya aku merindukan papa Andre dan mama Silvi Al, mereka sudah seperti kedua orangtuaku selama ini."


Hening


Suasana berubah hening, dan Aira sudah bisa memprediksinya. Inilah yang dia takutkan jika dia mengatakan yang sebenarnya, sungguh dia tidak ingin Alvian salah paham tapi rasa rindunya terhadap kedua mertuanya begitu besar.


TBC

__ADS_1


__ADS_2