Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Penyesalan Erick


__ADS_3

Erick menatap lekat wajah ayu yang saat ini duduk didepannya, yang dengan kasih dan penuh kelembutan mau merawat dirinya. Bahkan Aira begitu telaten mengobati wajah dan tubuh Erick yang nampak luka dan juga lebam.


Tidak ada kebencian dimata wanita cantik itu seperti yang dia lihat saat ini, padahal dia sudah mempermalukannya dan juga menyakiti hati wanita ini. Yang ada disana hanyalah ketulusan dan wajah tenang Aira.


Sementara dibelakang gadis itu berdiri tiga orang pria yang menatap keduanya dengan ekspresi datar namun penuh kegelisahan. Sepertinya mereka takut kalau Erick kembali menyakiti Aiara.


"Sudah paman, semua lukanya sudah Ara obati. Sekarang paman makanlah dulu, sebelum minum obatnya." Ucap Aira denhan senyuman yang tidak pernah surut dari bibirnya.


Erick hanya memandang lekat wajah cantik itu tanpa sedikitpun membalas kata kata Aira. Memang mau bilang apa, karena sebenarnya jauh dilubuk hatinya dia merasa malu dengan kebaikan wanita itu.


"Mas tolong bawakan bubur untuk paman ya, tadi Ara sudah minta tolong sama mbok buat masak bubur untuk paman." Pintanya pada Alvian.


"Sayang..." Raut wajah pria itu nampak masam, merasa enggan dengan perintah istrinya.


"Mas !"


Pria itu terpaksa menuruti perintah istrinya saat bola mata cantik itu kembali memberikan tatapan tajam pada dirinya. Entah kenapa semenjak hamil Alvian merasa istrinya berubah sedikit menyeramkan, galak dan cerewet.


Sementara Erick hanya mengulas senyum tipis hampir tak terlihat saat melihat bagaimana keponakannya yang tunduk dihadapan istrinya itu. Kembali Erick menatap wajah Aira, jika ditelisik wanita ini pasti seumuran dengan putranya. Putra semata wayangnya yang tidak dia ketahui dimana keberadaannya semenjak Monica pergi meninggalkan dirinya.


"Kenapa kau begitu baik padaku ?"


Aira langsung menoleh kearah paman suaminya itu, lalu membalasnya dengan senyuman.


"Apa harus butuh alasan untuk seseorang berbuat baik pada sesama paman ?"


Erick membeku, lontaran kata kata Aira terdengar menusuk kedalam relung hatinya, padahal itu hanyalah kata kata biasa saja. Tapi kenapa terasa begitu menyesakkan.


"M-maksudku setelah apa yang sudah aku perbuat padamu, kenapa kau masih baik nak ?"

__ADS_1


"Karena paman adalah keluargaku, engkau paman dari suamiku, dan itu berarti paman juga adalah pamanku. Seperti Om Adi yang sudah menganggapku sebagai putrinya, Ara harap paman juga mau menganggap Ara putrimu."


Tes


Tes


Airmata luruh seketika membasahi kedua pipi pria paruh baya itu, dengan tangan gemetar dia menangkup pipi Aira sembari mengucapkan beribu ribu kata maaf.


"Maaf...maafkan paman nak, sungguh paman menyesal. Paman akan membayar semua yang sudah paman lakukan padamu, kalian bisa membawaku kekantor polisi. Kali ini Paman akan menjalani hukuman sesuai dengan apa yang sudah paman perbuat. Paman memang pantas mendapatkannya."


Erick kini benar benar menyesali perbuatannya yang sudah begitu jahat. Dia yang dibutakan oleh rasa kecewa dan sakit hati oleh kedua orangtuanya dan juga sang istri, melampiaskan rasa sakut hatinya itu dengan membenci Alvian dan berusaha untuk melenyapkan keponakannya dulu waktu Alvian masih berusia 10 tahun.


Ditambah rasa bersalahnya pada dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi adiknya Barra dari tingkah kedua orangtuanya, semakin membuat Erick ingin melampiaskan semua itu pada Alvian kecil. Dan sialnya Alvian justru selamat dari tragedi mengerikan tersebut.


"Apa yang kau katakan benar paman, kau harus mempertanggung jawabkan semuanya." Ucap Aira dengan tegas, membuat Om Adi mengerutkan keningnya bingung dengan perubahan sikap menantunya itu.


"Paman harus tinggal bersama kami, dan biarkan kami merawatmu disini paman."


Sadar dari rasa terkejutnya, Erick segera menggelengkan kepalanya pertanda menolak keinginan istri Alvian itu.


"Tidak nak, lebih baik bawa saja paman kedalam penjara. Akan lebih mudah bagi paman untuk bertobat dan berubah menjadi lebih baik lagi."


"Erick benar sayang, untuk sementara biarkan pamanmu itu mempertanggung jawabkan perbuatannya. Biar dia merasakan bagaimana menderitanya kehilangan semuanya dan melewatinya sendirian. Dia harus tahu rasanya menjadi kak Barra yang harus meninggalkan semuanya hidup tanpa belas kasihan dari siapapun." Sahut Om Adi dengan tatapan mata tajam dan dingin mengarah pada kakaknya.


"Tapi om.."


"Belajarlah untuk tidak membantah perintah orangtua Ara."


Aira menoleh kebelakang dimana suaminya saat ini berdiri disamping Om Adi dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Tidak apa apa nak, mereka benar. Paman harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah paman perbuat selama ini. Terima kasih karena sudah mau memaafkan perbuatan paman. Sungguh kamu adalah wanita yang berhati bak seorang malaikat."


Mata Aira berkaca kaca, dengan tulus tanpa dibuat buat wanita itu menggenggam tangan besar Erick yang sudah mulai keriput.


"Sampai kapanpun paman adalah keluargaku, semua yang bersangkutan dengan suamiku pasti aku akan menyayanginya. Paman tenang saja, semua akan baik baik saja."


Lalu Aira berdiri dan berbalik melangkah menuju pintu setelah sebelumnya memastikan kalau Erick sudah meminum obatnya. Saat berada dihadapan ketiga pria berbeda usia itu, sejenak Aira memandang wajah mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku hanya berniat untuk menyatukan keluarga ini, aku ingin keluarga ini bersatu. Aku terlalu lelah menghadapi keluarga yang tercerai berai. Namun ternyata niat baikku ini justru membuat hati kalian tidak senang. Maaf karena sudah berani ikut campur dalam keluarga ini, aku sadar kalau aku hanyalah menantu disini, dan aku tidak berhak mencampuri semua yang terjadi dirumah ini. Maaf Om, kalau Ara bertindak kurang sopan tadi."


Wanita itu meneruskan langkahnya meninggalkan mereka bertiga yang termangu tanpa sempat membalas ucapan Aira. Cukup lama mereka terbengong, hingga suara Erick membuyarkan lamunan mereka.


"Kenapa kalian malah menyalahkan wanita itu ? Dia hanya ingin membantu, jika ada disini orang yang harus disalahkan maka orang itu adalah aku. Aku yang sudah menghancurkan kalian."


Erick menghela nafas panjang lalu mengeluarkan secara perlahan.


"Harusnya kamu bisa mengontrol emosimu Al, apalagi kalian tahu kalau saat ini dia sedang mengandung. Bukankah membiarkan bumil stres bisa berdampak buruk pada janin yang dia kandung ?"


Deg


Alvian tersentak, dia lupa kalau saat ini istrinya sednag mengandung. Segera pria itu bergegas pergi menyusul sang istri yang sudah tidak terlihat.


Sementara Adi masih menatap sang kakak dengan berbagai pemikiran yang berkecamuk dikepalanya. Jujur dia sangat merindukan kakaknya ini, namuj dia masih ragu kalau kakaknya itu benar benar sudah berubah.


Sadar kalau adiknya tengah menatalnya dengan intens, pria itu hanya tersenyum kecil. Erick tahu betul watak adik bungsunya itu. Tidak mudah bagi Adi untuk bisa mempercayai dirinya setelah sederatan kejadian yang terjadi selama ini.


"Aku tahu kamu masih ragu padaku, apa aku memang sudah berubah atau hanya pura pura tobat saja. Dan aku tidak mempermasalahkan hal itu karena itu adalah hakmu. Namun yang pasti untuk bisa menyakinkan dirimu kalau aku sudah berubah dan menyesal."


Erick sejenak menghentikan ucapannya, menatap tajam kearah sang adik.

__ADS_1


"Ayo, bawa aku kekantor polisi."


TBC


__ADS_2