Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Kehangatan


__ADS_3

Dokter yang masih nampak terlihat muda walaupun diusianya yang sudah matang itu menatap mata sayu didepannya dengan raut wajah senang sekaligus sedih.


Dokter Nando, salah satu dokter ahli spesialis jantung di rumah sakit milik suaminya. Saat ini Tuan Andre nampak terbaring lemah dibrankar yang ada diruang VVIP khusus untuk pemilik rumah sakit tersebut.


"Dokter, bagaimana kondisi suami saya ? Tolong jangan membuatku semakin khawatir."


Dokter Nando menghela nafasnya dalam dalam.


"Nyonya, tenanglah..Tuan Andre berhasil kami selamatkan. Beliau hanya terkena serangan jantung ringan, tapi walaupun begitu saya harap untuk saat ini jangan membebani pikirannya dengan hal hal berat. Karena akan sangat berbahaya nantinya untuk kesehatan jantungnya."


Nyonya Silvi bernafas lega setelah mendengar perkataan sang Dokter.


"Apa suamiku sudah siuman Dok ?"


"Silahkan Nyonya, Tuan Andre sudah sadar dari beberapa menit yang lalu. Tapi saya harap seperti yang saya katakan barusan, jangan membuat pikirannya terbebani dengan hal hal berat yang akan membuatnya depresi."


Nyonya Silvi mengangguk lalu masuk kedalam ruangan dimana suaminya terbaring lemah disana. Tidak lupa Alex dan Jiza yang mengekor dibelakangnya.


"Papa."


Mendengar suara istrinya, Tuan Andre menoleh pelan kearah samping. Ditatapnya wajah istrinya yang terlihat sembab bekas menangis. Tangannya yang lemah terulur maju hendak menyentuh wajah istrinya.


Nyonya Silvi yang mengerti langsung meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat kemudian mengecup punggung tangan itu berkali kali.


"Jangan menangis ma."


Nyonya Silvi menggeleng keras dengan airmata yang kembali mengalir dikedua pipinya.


"Mama akan terus menangis jika kondisi papa seperti ini. Tolong jangan biarkan aku sendiri pa, hanya papa yang mama punya saat ini. Hidupku akan lemah jika tidak ada kamu disisi ku."


Tuan Andre tersenyum kecil, walaupun masih terlihat lemah, tapi pria itu memaksakan untuk tidak merasa sakit.


"Aku akan sembuh sayang, kamu jangan khawatir ya. Bagaimana keadaan Sean ?"


"Jangan pikirkan yang lain dulu pa, kesembuhan papa lebih penting saat ini. Lagipula Sean sudah besar, biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri kali ini pa."

__ADS_1


Tuan Andre memejamkan kedua matanya sembari menghembuskan nafasnya panjang.


"Papa tidak memikirkan Sean ma, tapi Aira yang ada dipikiranku saat ini. Dimana dia, dan bagaimana keadaannya sekarang. Papa benar benar sangat khawatir padanya ma."


"Paman tenang saja, Alex akan mencarinya sampai ketemu. Alex akan mengerahkan seluruh anak buah Alex, jika perlu Alex akan meminta bantuan detektif untuk mencarinya paman."


Tuan Andre menatap wajah Alex yang berdiri dibelakang istrinya, nampak raut wajah Alex penuh dengan keseriusan dan keyakinan yang penuh saat mengucapkan janjinya.


"Makasih Alex, paman mengandalkanmu."


"Baiklah, berhubung paman sudah lebih baik, Alex permisi keluar paman. Masih banyak pekerjaan yang harus Alex selesaikan, terutama dalam pencarian Aira."


"Pergilah nak, dan berhati hatilah."


Bersama Jiza, Alex kemudian melangkah keluar meninggalkan ruangan tempat ayah dari sahabatnya itu dirawat. Baru beberapa langkah, Alex berhenti menatap seseorang didepannya yang berjalan dengan tertatih tatih kearahnya.


"Alex, aku akan membantumu mencari Aira." Ucap Sean dengan suara lirihnya.


"Tidak perlu, kedua kaki dan tanganku masih kuat dan mampu untuk mencarinya. Aku tidak butuh bantuan siapapun, kalau memang nanti aku membutuhkan bantuan, orang pertama yang tidak akan pernah aku mintai adalah dirimu Sean." Sentak Alex dingin.


Sean tersentak, lalu pandangan wajahnya berubah sedih.


Alex tersenyum miring.


"Sahabat ? Apa kamu lupa Se, persahabatan kita sudah berakhir dihari kamu menyerahkan istrimu padaku. Apa memory otakmu sudah menghilang. Jelas jelas saat itu aku mengatakannya dan kamu pun tidak keberatan bukan. Kamu malah bilang jika kamu tidak keberatan sama sekali, dan lebih memilih kekasihmu Dona.


Oh iya ngomong ngomong, dimana Dona ? Bukankah seharusnya disaat seperti ini dia selalu ada disampingmu ya. Tapi yang aku lihat semenjak pertemuan kita yang pertama kali aku tidak melihat batang hidungnya. Apa dia sudah meninggalkanmu karena papamu mencabut semua fasilitasmu dan kamu jatuh miskin. Jika benar sayang sekali bukan, padahal kamu sangat mencintainya." Sarkasnya lantang lalu berjalan meninggalkan Sean.


"Alex.." Panggilnya lirih, namun sepertinya Alex enggan untuk berbalik, pria itu terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.


Maafkan aku Lex, gara gara kebodohanku bahkan sekarang aku juga kehilangan persahabatan kita.


"Uhukk...uhuk.."


Lagi lagi Sean terbatuk keras, dadanya sampai terasa sakit. Sudah selama seminggu ini dia mengalaminya, dan selalu saja dadanya nyeri tiap dia terbatuk.

__ADS_1


"Uhuk.."


Sean terperanjat saat ada setetes darah berada ditelapak tangannya, dengan cepat pria itu mengusapnya dengan tisu yang selalu dia bawa. Setelah itu dia kembali berjalan menuju dimana ruangan dokter Nando berada.


💕 💕 💕


Aira berjalan kearah taman belakang yang ada dirumah besar itu. Taman dengan berbagai macam bunga tertanam disana. Dan fokus Aira tertarik pada bunga bunga mawar yang nampak berbunga dengan sangat indahnya.


Tanpa sadar sudut bibir gadis itu terangkat membentuk lengkungan yang semakin lama semakin lebar. Cukup lama Aira berada di Taman tersebut, dia terpesona dengan keindahan bunga bunga yang ada disana. Bahkan gadis itu tiada henti mencium wangi mawar mawar disana dengan wajah yang ceria.


Gadis itu tidak sadar jika tingkah lakunya dari tadi tidak luput dari perhatian seorang pria yang berdiri sambil menyenderkan tubuh kekarnya ditembok.


Alvian, pria itu tersenyum melihat bagaimana gadis pujaan hatinya itu terlihat sangat cantik dengan wajah cerianya itu. Jujur dia begitu terpesona dengan senyuman Aira yang nampak terlihat sangat manis.


Perlahan tapi pasti Alvian melangkahkan kakinya menuju gadis itu yang belum sadar akan kehadirannya disana.


"Kamu boleh merawatnya jika memang menyukainya."


Aira terkejut setengah mati karena tiba tiba saja ada sebuah suara terdengar dibelakangnya disaat dirinya sedang fokus pada kegiatannya. Gadis itu langsung berbalik kebelakang, namun sayang karena saking terkejutnya dia hingga membuatnya terpeleset oleh kakinya sendiri dan dengan sukses tubuhnya langsung mendarat ketanah.


Grep


Sepasang tangan kekar milik Alvian berhasil mendekap tubuh mungilnya sebelum tubuh itu benar benar menyentuh tanah. Sementara tangan Aira dengan spontan membelit leher Alvian dengan sangat eratnya. Wajahnya kini terlihat sedikit pucat karena rasa terkejutnya dia.


Alvian menatap wajah cantik didepannya yang memang terlihat sangat cantik walaupun dalam keadaan pucat sekalipun. Senyumnya mengembang dengan mata yang terus menatap hingga masuk kedalam relung hati gadis itu. Aira sendiri ikut hanyut oleh tatapan maut milik Alvian.


Secara perlahan jemari Alvian terangkat menyusuri wajah Aira. Dari dahi turun kehidung mancungnya hingga sampai pada bibirnya yang berwarna merah menggoda. Dan entah siapa yang memulainya hingga kini keduanya larut dalam sebuah ciuman hangat yang mampu memporak porandakan hati Aira.


Aira yang larut dalam ciuman lembut Alvian, perlahan meremas kemeja pria tersebut. Sudut bibir Alvian terangkat menyadari jika wanita pujaan hatinya menikmati setiap sentuhannya.


Alvian melepas ciumannya setelah dirasa gadis itu hampir kehilangan nafasnya. Kemudian dia mengecup singkat kening Aira dengan penuh perasaan. Aira memejamkan kedua matanya menikmati momen momen indah yang diberikan oleh pria didepannya itu dengan jantung yang berdetak kencang.


Entah kenapa setiap bersama dengan Alvian gadis itu selalu menemukan kedamaian dan kenyamanan. Dari pertama dia berjumpa dengan pria itu, hanya saja dulu Aira memang tidak ingin terlalu berharap akan sesuatu yang mustahil dia raih.


"Aku mencintaimu Ra."

__ADS_1


Bisikan cinta Alvian yang terdengar begitu lembut dan mesra mampu membuat hatinya menghangat dan perlahan kehangatan itu mengalir hingga kealiran darahnya. Aira bisa merasakan jika kini wajahnya memanas dan mungkin saja terlihat merah. Dan tanpa dia sadari Aira malah semakin mengeratkan pelukannya pada Alvian.


TBC


__ADS_2