
”Cleo --- ”
Panggilan suara yang begitu familiar ditelinganya membuat gadis itu dengan cepat mengangkat kepalanya. Cleo bahkan langsung berdiri dari duduknya dengan wajah berbinar.
”Papa, mama kalian masih disini ? Lalu dimana kak Bian ma ? Apa dia belum berangkat, tadi Cle mau masuk tapi ga bisa.” Cecarnya tanpa henti pada dua manusia didepannya yang ternyata adalah Tuan dan Nyonya Nugraha.
Nyonya Mira menatap sang suami dengan pandangan penuh arti lalu kembali menatap wajah Cleo dengan tatapan sendu.
”Apa yang kamu lakukan disini sayang.” Tanyanya dengan lembut dan tatapan sayang, wanita paruh baya itu kentara sekali begitu sangat menyayangi calon menantunya itu.
”Cle mau menemui kak Bian ma, Cle mau minta maaf. Tapi sepertinya Cle sudah terlambat." Lirihnya dengan tetesan airmata yang kembali tumpah.
”Maaf, tapi Bian sudah berangkat sayang, baru saja sekitar 5 menit yang lalu.” Jawabnya lalu meraih tubuh Cleo untuk dibawa kedalam pelukannya.
Cleo semakin terisak didalam pelukan Nyonya Mira. Gadis itu merasa sangat sedih dan kecewa karena tidak sempat menemui Bian.
”Maafkan Cle ma, karena sikap egois Cle membuat kak Bian pergi.”
Nyonya Mira tersenyum sembari kedua matanya menatap sang suami. Keduanya saling menatap penuh arti dan tidak lama kemudian keduanya saling tersenyum seakan ada sesuatu yang mereka rencanakan.
”Ikut mama yuk.” Ajaknya setelah keduanya saling mengurai pelukan mereka.
”Kemana ma ?”
”Udah ikut aja.”
”Tapi ma gimana sama kak Bian ? Cle harus bertemu dengannya ma. Apa Cle menyusul aja ya ke Itali.” Cecar Cleo tanpa henti namun langkah kakinya terus mengikuti Nyonya Mira yang terus saja menarik lengannya.
”Udah diem aja, pokoknya nurut aja sama mama.” Paksa wanita paruh baya itu sembari berjalan menuju kearah mobil.
”Pa ---- ” Menengok kearah Tuan Adi berharap pria paruh baya itu bisa menolongnya.
Namun harapan tinggal harapan Cleo terpaksa mengikuti keinginan Nyonya Mira dengan langkah gontai saat melihat tanggapan Tuan Adi yang hanya menggendikkan kedua bahunya pertanda pria paruh baya itu juga tidak tahu apa apa.
Sementara dibelakang tanpa setahu siapapun Tuan Adi nampak menahan senyum dan tetap menampilkan wajah datarnya.
Rasakan kalian berdua anak anak nakal, kini giliran kami yang membuat kalian pusing setelah berbulan bulan lamanya kalian membuat kami pusing.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Disinilah mereka bertiga disalah satu restoran mewah milik sang keponakan, Alvian. Cleo memasuki restoran itu dan berjalan mengikuti langkah sang Nyonya Nugraha dengan kepala tertunduk. Wajah gadis itu masih diselimuti awan mendung, karena pikirannya masih melalang buana pada sang kekasih yang mungkin tidak akan bisa dia temui dalam waktu dekat ini.
Karena asik termenung Cleo sampai tidak sadar kalau sang Nyonya sudah membawanya keruang VIP. Bahkan gadis itu juga tidak sadar dengan adanya beberapa orang yang ada didalamnya.
”Ayo Masuk.”
Suara lembut sang Nyonya kembali menyadarkan Cleo yang masih terbawa lamunan. Gadis itu dengan cepat mendongak kala mendengar suara yang begitu familiar. Dia menatap kedalam ruangan dengan tatapan bingung akan keberadaan orang orang didalamnya.
”Mama.... kalian ?”
”Surprise ---- ” Jawab suara serentak sembari tersenyum dengan muka cerah.
__ADS_1
Cleo menatap penuh tanya Nyonya Mira yang hanya tersenyum lalu menarik lengan calon menantunya itu untuk duduk di salah satu sofa.
”Kakak, kenapa kalian ada disini ?” Tanyanya sembari menatap bingung dua pasangan didepannya.
”Kami disini ? Tentu saja untuk menemani adik kami ini yang sedang bersedih.” Ujar Jiza dengan raut wajah yang ceria dengan tidak melepaskan belitan manjanya dilengan Alex, sang suami.
”Aku tidak apa apa kak.” Jawabnya sendu. ”Maaf sudah merepotkan kalian semua.”
Tiga pasangan suami istri saling memandang seolah olah mereka berbicara hanya lewat tatapan mata. Alvian menghela nafas panjangnya lalu mengeluarkan secara perlahan. Sekilas dia melirik kearah Aira dan juga kedua orangtuanya yang menganggukkan kepala.
Aira, wanita cantik dan anggun itu mendekat kearah Cleo lalu memeluknya dengan sayang. Wanita lembut itu mencoba memahami perasaan gadis yang sudah mencuri perhatiannya itu sedari pertama mereka bertemu. Entah apa karena nasib keduanya yang hampir sama, atau memang hati Aira yang selembut kapas membuatnya ingin selalu melindungi gadis ini.
”Kami sama sekali tidak merasa direpotkan Cle, kalau memang ada yang ingin kamu ceritakan mungkin kakak bisa menjadi tempat curhat untukmu.” Ujarnya sembari tersenyum lembut.
Cleo enggan menjawab, dia masih merasa sungkan berdekatan dengan keluarga sultan didepannya ini. Dia merasa begitu rendah diri untuk bisa terlalu dekat dengan mereka.
” Tidak apa apa kak, lagipula semuanya sudah terlambat. Kak Bian sudah tidak ada disini lagi.” Jawabnya lirih namun masih bisa didengar oleh semua orang yang ada disana.
”Cleo apa kau ingin menghentikan anak nakal itu pergi ?” Tanya Tuan Adi yang pada akhirnya mengeluarkan suaranya setelah sekian lamanya hanya diam dan membisu memperhatikan.
”Maksud papa ? Bukannya kak Bian sudah pergi ? Bahkan tadi kalian berdua yang mengatakannya padaku.” Ujar Cleo menatap bingung Tuan Adi.
Dengan tersenyum pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya pelan membuat Cleo semakin bingung dengan sikap orangtua itu.
”Sebenarnya dia belum berangkat, Bian dan Cherry masih berada diruang tunggu.” Jawabnya santai.
”Apa ! Tapi kenapa tadi kalian ---- ”
”Maaf pa ma.” Jawabnya dengan kepala tertunduk.
Melihat gadis itu menunduk dalam membuat sang Nyonya merasa tidak tega. Gadis itu sudah cukup merasa bersalah dan dia semakin diliputi rasa bersalah saat mendengar perkataan suaminya. Dal diam dia memberi isyarat pada sang suami untuk berhenti mengerjai gadis ini.
Dengan menghela nafas panjang, Tuan Adi mengangguk mengikuti perintah sang Nyonya.
”Haissh lupakan saja, jadi gimana apa kamu ingin membuat anak nakal itu gagal pergi ke Italia ?”
"I-iya pa, tapi ---- ”
”Tapi apa ? Jangan bilang kalau kamu ingin pergi lagi ha.”
”Ti- tidak pa, tapi Cle hanya berpikir bagaimana cara menggagalkan kepergian kak Bian ? Sedangkan dia saja sudah ada di Bandara dan mungkin sebentar lagi pasti akan berangkat.” Jawabnya lirih.
Mendengar jawaban Cleo sontak membuat mereka saling melempar senyum penuh arti. Membuat Cleo semakin bingung.
”Kalau masalah itu serahkan pada papa, kau hanya tinggal menjawab iya apa nggak.”
Karena rasa tidak ingin kehilangan lagi orang yang sangat di cintainya membuat Cleo pada akhirnya menganggukkan kepalanya pelan. Dan itu sukses membuat senyum semua orang disana terbit dengan sempurna.
\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu di Bandara...
__ADS_1
Bian dan Chery yang masih berada di ruang tunggu nampak mulai diselimuti rasa bosan. Apalagi Chery, gadis cantik itu mulai resah selama duduk menunggu. Terlihat dengan tingkahnya yang bolak balik berdiri dan duduk kembali disisi kakaknya.
”Kak, aku sungguh sangat bosan sekali. Jam terbang kita masih satu jam lagi tapi kenapa papa malah menyuruh kita berangkat awal sih. Lagipula kenapa kita tidak pakai jet pribadi kak Al saja.” Gerutunya sambil mendaratkan pantatnya di kursi tunggu.
Bian memandang lekat wajah sang adik yang ditekuk, dengan sayang pria tampan itu membelai rambut panjang Chery.
”Sudahlah jangan marah marah begitu, kita tunggu saja. Hanya tinggal satu jam lagi kita berangkat.” Hiburnya dengan suara yang menenangkan.
Sebenarnya pria itu juga heran dengan tingkah papanya yang memintanya untuk naik pesawat komersil. Padahal bisa saja papanya itu memakai pesawat pribadi milik kakak sepupunya, Alvian.
Namun lagi lagi alasan tidak masuk akal sang papa membuatnya memilih mengalah dan menuruti keinginan papanya kembali. Toh dia sendiri sudah terbiasa dengan naik pesawat komersil. Walaupun berasal dari keluarga konglo tapi sikap dan kehidupan Bian selalu sederhana dan tidak suka memamerkan kekayaannya.
Disaat Bian sedang asik dengan lamunannya tiba tiba suara dering ponsel miliknya bergetar. Dahinya mengernyit kala menatap layar ponsel yang menunjukkan pesan dari salah satu anak buahnya yang selama ini dia beri tugas untuk menjaga Cleo.
Joe ? Kenapa menghubungiku ? Apa terjadi sesuatu padanya ?
Karena penasaran dengan cepat pria itu membuka pesan yang dikirim melalu aplikasi hijau itu. Seketika jatungnya bergemuruh dengan kedua matanya yang melotot sempurna. Bahkan rahang tegasnya nampak mengeras hingga terlihat jelas otot ototnya yang menonjol sempurna.
”Apa apaan ini !” Pekiknya dengan suara keras hingga mengagetkan Chery yang asik dengan ponselnya berkelana di dunia sosmed.
”Ada apa kak ? Kenapa kau berteriak ? Suara kakak mengganggu penumpang lainnya.” Tanyanya sembari melirik kesana kemari dimana orang orang mulai memperhatikan mereka karena suara keras sang kakak.
Enggan menjawab pertanyaan sang adik, Bian malah berdiri dan mulai mengangkat kopernya.
”Ayo kita pulang.”
”Apa ! Tapi kak sebentar lagi pesawat kita akan berangkat.”Ujar Chery dengan raut wajah panik sekaligus bingung.
”Kita tidak jadi pergi.”
”Tapi kak ---- ”
”Ikut apa tidak.” Sentaknya sembari menatap tajam sang adik.
”Ikut kak.”
Tanpa menjawab dua kali, Chery segera berdiri mengikuti langkah lebar sang kakak yang seperti menahan amarah besar. Terlihat dari raut wajahnya yang mengeras dan kedua netranya yang memerah.
Ada apa dengannya ? Dia terlihat sangat marah
TBC
Jangan lupa
like
vote
dan komentnya
see you next part..
__ADS_1