Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Calon Pengantin ?


__ADS_3

Brakk !


Pintu mobil taxi yang ditutup kasar dan kencang itu sukses membuat dua orang didalamnya terkejut seketika dengan jantung yang berdetak kencang, siapa lagi jika buka Chery da sang sopir taxi. Bahkan pria paruh baya itu nampak mengelus dadanya sementara wajah tuanya begitu pucat.


”Astaga, untung saya tidak punya penyakit jantung.” Gumamnya pelan.


”Maafkan atas sikap kakak saya pak." Ucap Chery ga enak.


”Tidak apa apa non, hanya kaget saja.”


”Baiklah, ini ongkos taxi nya pak, lebihannya buat bapak saja itung itung ganti rugi atas sikap kakak saya.”


"Terima kasih non.” Ucapnya dengan wajah yang ceria melihat lima lembaran merah yang kini ada di telapak tangannya.


Sembari tersenyum Chery membuka pintu mobil lalu segera mengikuti langkah kakaknya yang sudah menjauh masuk ke dalam mansion milik sang papa. Tentunya setelah sebelumnya meminta penjaga gerbang untuk membawa kembali barang barang miliknya untuk dibawa kedalam rumah.


Saat sampai dipelataran kening gadis itu mengernyit saat melihat pemandangan aneh didepan matanya. Dan seketika kedua matanya melebar sempurna saat menyadari akan sesuatu.


Astaga, jadi ini yang membuat kakak marah sampai membatalkan jam terbang kami tadi. Gumamnya dalam hati sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya.


Tanpa ba bi bu gadis itu langsung berjalan cepat supaya bisa segera sampai kedalam mansion. Saking cepatnya dia berjalan tidak disangka tubuh mungilnya kembali menabrak seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya.


Bruk


"Awww, hei kau ---” Teriak orang yang ditabrak hendak memaki kembali gadis yang selalu membuat rusuh baginya itu.


”Kalau kau ingin marah nanti saja, aku sedang buru buru. Saat ini aku sedang tidak mood untuk berdebat denganmu.” Ketusnya tanpa memperdulikan wajah cengo orang dibelakangnya.


”Ada apa dengannya ? Tidak seperti biasanya.” Gumamnya pelan.


Sementara itu Bian yang hatinya sudah diselimuti amarah semenjak dari Bandara tadi dengan segera berjalan cepat menuju kamar kedua orangtuanya. Tanpa memperhatikan ruangan sekitarnya yang sudah di dekor dengan begitu indah. Karena tujuan utama pria itu saat ini adalah kedua orangtuanya.


Brakk !


"Pa... ma...” Teriaknya memanggil kedua orangtuanya berharap orang yang dia cari ada didalam kamar. Namun sayang kamar kedua orangtuanya nampak terlihat kosong.

__ADS_1


”Sial..dimana mereka.” Umpatnya menahan kesal.


Bian berbalik denga wajahnya yang semakin gelap, netra tajamnya berkeliling kesanaa kemari berharap menemukan dua sosok yang dia cari.


”Aden mencari Tuan dan Nyonya ?” Tanya salah satu art yang kebetulan lewat.


”Dimana mereka ?”


”Tuan dan yang lainnya ada diruangankerja beliau Den.” Jawabnya sembari menunduk dengan tubuh gemetar kala melihat wajah dingin dan seram Tuan Muda nya itu.


Tanpa berkata apapun lagi Bian segera berjalan menaiki tangga menuju lantai dua dimana ruang kerja sang papa berada. Dan setelah tiba disana dengan tidak sabaran Bian membuka kasar pintu ruangan yang memang tidak dikunci itu.


Brakk !


”Pa jelaskan padaku apa maksud semua innn.....”


”Nah ini dia pengantin prianya sudah datang.”


Pekikan suaranya yang tadinya terdengar keras penuh emosi mendadak berubah loyo dengan raut wajah yang terlihat kebingungan. Menatap semua orang yang kini berkumpul di ruangan kerja milik sang papa. Ada kakak sepupunya, Alvian dan Aira, Alex dan Jiza, kedua orangtuanya dan jangan lupa pamannya Erick yang saat ini sedang mengulum senyum menatap padanya. Jangan lupakan juga beberapa orang yang sepertinya petugas MOA.


”Siapa lagi ya tentu saja kau bodoh." Ketus Alvian lalu berdiri dari duduknya dan berjalan kearah adik sepupunya itu dan tiba tiba saja....


Bugh


”S**** kenapa kau memukulku ? Apa salahku ?" Umpatnya kala tiba tiba saja Alvia mendarakan bogeman mentahnya di perut.


Alvian menyeringai, sementara yang lainnya hanya diam menonton tanpa ada niat untuk menolongnya.


”Salahmu ? Salahmu karena gara gara kau beberapa bulan ini kami semua merasa pusing karena tingkahmu dan juga sifat gengsimu itu. Dan ini adalah hukuman untuk kalian berdua karena sudah membuat kami semua pusing." Dengusnya menatap kesal sang adik.


”Apa maksudmu bang ?”


”Kami memutuskan untuk menikahkan kalian hari ini juga ?”


”Whattt ??? Kalian gila ! Jadi semua yang terjadi di Bandara hari ini lalu perintah papa dan lainnya itu semua adalah...."

__ADS_1


”Yups..semua adalah rencana kami. Kami ingin lihat apa kalian berdua tetap mempertahankan ego kalian atau lebih memilih cinta kalian. Dan hasilnya kami bisa melihat sendiri tanpa harus kau menjelaskannya pada kami.”


Bian mengusap wajahnya kasar lalu menatap wajah semua orang yang ada disana satu persatu. ”Tapi tidak dengan begini juga caranya pa."


”Lalu harus seperti apa ? Apa kami harus menunggu kalian berdua berbaikan dan saling menurunkan ego kalian ? Kamu ingin papa dan mamamu tiada tanpa sempat menimang cucu cucu kami begitu ?" Tegas Tuan Adi penuh penekanan di tiap suaranya.


"Bukan begitu pa.”


”Lalu harus seperti apa ? Apa kamu tidak mau menikahinya ? Kalau iya maka papa akan mencarikan calon suami untuknya.”


”Bian mau pa dan jangan sekali kali papa mencari pria lain untuk menikahinya karena Bian tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi sampai kapanpun." Ujarnya dengan sorot mata tajamnya yang kembali berubah dingin.


”Lalu tunggu apa lagi ?”


"Pa..menikah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Segala sesuatu harus diperhitungkan, lagian Bian juga belum mengurus semuanya." Keluhnya dengan wajah frustasi, bagaimana tidak mendadak sang papa menyuruhnya menikah tanpa persiapan apapun. Emang dikira menikah seperti orang belanja. Dipegang pegang giliran ga suka langsung di tinggal pergi.


”Kalau itu yang menjadi masalah tenang saja. Papa sudah mengurus semuanya sampai beres tinggal menunggu kamu saja yang sudah siap apa belum.” Tukas Tuan Adi santai tanpa memperdulikan wajah sang putra ya g terlihat syok.


”Sejak kapan pa ?” Tanyanya bingung, pasalnya mengurus berkas berkas pernikahan tidaklah mudah, butuh waktu satu sampai dua Minggu lamanya.


”Sejak kamu meminta menunda keberangkatanmu satu minggu yang lalu.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menikah ?


Siapa perempuan dimuka bumi ini yang tidak menginginkan menikah apalagi menikah dengan orang yang dicintai. Namun jika menikah dalam situasi yang mendadak tentu saja itu tidak ada dalam pikirannya.


Cleo memandang wajahnya didalam cermin besar yang ada di kamar Bian. Wajah polosnya kini sudah berubah menjadi sosok wanita yang begitu cantik bahkan dia sendiri hampir tidak mengenali dirinya sendiri.


Cleo menghela nafasnya panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. Gadis itu masih tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu. Dia sungguh tidak menyangka jika permintaan Tuan Adi dan Nyonya Mira yang memintanya untuk menghentikan niatan Bian untuk pergi adalah dengan menikahi pria itu.


Cleo memejamkan kedua matanya dengan kepala tertunduk. Dipandanginya gaun putih cantik yang menempel di tubuhnya. Gaun pengantin yang khusus Nyonya Mira buat untuknya. Bahkan gaun itu adalah gaun terbagus dan termahal dari sekian gaun pengantin yang ada di butik wanita paruh baya itu.


Kakak, apa kau merestuiku ? Tolong beri aku restumu, aku berjanji aku akan selalu bahagia seperti keinginanmu

__ADS_1


TBC


__ADS_2