Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Hanya sebuah barang rongsokan


__ADS_3

Aira mengerjap memandang sekeliling, merasa asing dengan tempatnya saat ini. Hendak bangun dari tidurnya tapi diurungkannya saat ada sebuah tangan yang melingkari perutnya.


Gadis itu terhenyak dan langsung berbalik seketika untuk melihat siapa sosok yang sedang tidur dengannya. Menarik nafas lega saat melihat wajah Alex yang terlelap damai dalam tidurnya.


Karena merasa ada gerakan dari gadis yang ada di pelukan nya, akhirnya kedua mata itu membuka lalu memandang lekat wajah gadis yang saat ini sedang menatapnya.


"Kau sudah bangun Ra ? Kembalilah tidur ini masih gelap." Perintahnya saat dia melirik jam diatas nakas yang masih menunjukkan pukul 3 pagi.


Aira enggan membalas ucapan Alex, gadis itu beringsut dari ranjang lalu bergerak turun menuju pintu balkon kamar. Alex yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik gadis itu sedikit merasa heran. Untuk apa gadis itu keluar balkon, udara pasti sangat dingin.


"Ra masuklah, udaranya sangat dingin sekali."


Aira masih saja membisu, pikiran gadis itu terlihat sangat kalut.


"Pergilah Lex, biarkan aku sendiri." Pintanya lirih berucap.


Menuruti permintaan Aira akhirnya Alex pergi meninggalkan gadis itu sendiri, dia sadar jika saat ini Aira membutuhkan waktu untuk berpikir tenang.


Pria itu berjalan menuju kekamar mandi, rasa kantuknya mendadak hilang, padahal dia baru terlelap beberapa jam yang lalu. Setelah duapuluh menit kemudian, pria itu sudah rapi lalu berjalan keluar kamar menuju dapur. Berkutat disana membuat sarapan untuk Aira dan dirinya.


Waktu terus berjalan dan kini sudah menunjukkan pukul 6 pagi, gadis itu bergegas membersihkan diri lalu segera keluar dengan menenteng tas ransel lalu menautkannya dipundaknya.


Alex yang saat itu sedang menonton acara TV, menautkan alisnya melihat Aira yang seperti hendak pergi.


"Mau kemana Ra ?"


"Kampus Lex, ada kuliah pagi hari ini."


"Hari ini istirahatlah dulu Ra, badan kamu sepertinya masih lelah. Biar aku meminta ijin pada dosenmu hari ini."


"Tidak perlu Lex, aku ingin cepat cepat selesai kuliah."


"Tapi Ra......"


Ucapan pria itu mengambang di udara saat gadis itu sudah tidak ada didepannya dan menghilang di balik pintu apartemennya tanpa menyantap sarapan paginya. Menghela nafasnya kasar melihat tingkah gadis itu.


Dasar keras kepala.


Sementara Aira saat ini sudah berada didepan kampusnya yang masih sepi, wajar karena waktu baru menunjukkan pukul setengah tujuh. Jelas saja tidak ada siapapun disini, selain satpam penjaga kampus.


"Eh non Aira, tumben sudah datang. Masih pagi non." Sapa pak Adi satpam penjaga kampus.


Aira tersenyum. " Saya ingin mengerjakan tugas pak, kemaren belum sempat dikerjain." Jawabnya sopan. " Saya duluan ya pak."


Setelah berpamitan Aira melanjutkan langkahnya menuju ke arah perpustakaan untuk mengerjakan tugasnya yang kemaren belum sempat dia kerjakan.

__ADS_1


Tidak berselang lama Aira pergi, nampak sebuah mobil sport memasuki area kampus. Bahkan orang didalamnya sempat melihat siluet tubuh Aira yang menuju arah perpustakaan. Tidak menunggu lama, sosok itu menyusul langkah Aira setelah memberikan kunci mobilnya pada satpam disana.


Aira masih saja fokus dengan beberapa sketsa yang dia buat. Tinggal sedikit lagi, maka tugasnya akan selesai. Tapi konsentrasi gadis itu terpecah belah, saat di pikirannya tidak sengaja terlintas bayangan pria itu.


Aira frustasi, lalu membenamkan kepalanya diantara dua lengannya yang dia letakkan diatas meja. Tanpa menyadari jika saat ini sudah berdiri didepannya sosok pria yang terus saja menatap dirinya.


"Jika mengantuk tidur di rumah bukan dikampus."


Aira tersentak, mendengar suara yang begitu familiar di telinga nya. Tanpa menoleh ke pemilik suara yang sudah dapat dipastikan siapa pemilik suara itu, gadis itu kemudian membereskan kertas kertas miliknya lalu beranjak ingin keluar dari sana.


"Aku bertanya padamu." Geram pria itu yang tenyata adalah Sean, dengan mencengkeram kuat lengan Aira.


Aira menepis kasar tangannya hingga membuat cengkeraman pria itu terlepas dengan kuat. Hingga gadis itu sedikit terhuyung kebelakang.


"Aku punya hak untuk tidak menjawab pertanyaan seseorang yang tidak aku kenal." Ketusnya dingin.


Sean geram dibuatnya, lalu menarik kembali lengan gadis itu hingga membuat tubuh Aira menabrak dada bidang milik Sean.


"Kau berani mengacuhkanku ? Aku bahkan bisa saja mengeluarkan mu dari kampus ini jika aku mau." Ancamnya dengan sorot mata menusuk.


Aira menengadah dengan sorot mata yang tidak kalah tajam.


"Aku tidak punya alasan untuk merasa takut padamu. Silahkan saja keluarkan aku dari sini jika kau bisa. Lagipula siapa kamu sampai aku harus tunduk padamu."


"Mantan istri, lebih tepatnya Tuan Sean. Dan sayangnya mantan istrimu ini sangatlah kotor karena tingkah suaminya yang tega menjual istrinya pada beberapa temannya untuk dijadikan sebagai pelacur." Sinisnya dengan menekankan kata mantan.


Sean terkekeh sinis. "Kau masih mengingatnya ternyata."


Aira meringis sinis. "Aku tidak akan pernah melupakan kenangan buruk itu bahkan jika sampai aku mati sekalipun. Hanya satu yang aku mengerti, dari dulu aku tidak pernah menikah, bagiku pernikahan itu hanyalah sebuah transaksi jual beli keperawanan dengan modus dibalik pernikahan. Jika sudah berhasil mengambil keperawanan seorang gadis maka sang pemilik bisa menjualnya kembali pada orang lain. Bukan begitu Tuan Sean yang terhormat." Sinisnya dengan suara yang bergetar menahan emosi dan amarah.


Sean terpaku dalam diamnya, kata kata Aira menusuk tajam kerelung hatinya. Merasa pelukan pria itu merenggang Aira segera mengambil kesempatan untuk melepaskan dirinya dari jeratan pria yang begitu menjijikkan di mata nya.


"Aku belum menyuruhmu pergi. Nanti malam ada acara apa kamu ?" Tanyanya tanpa memperdulikan ucapan Aira tadi.


Aira tersenyum sinis, terkadang dia sendiri tidak tahu ada apa dengan sifat dan tingkah laku Sean yang tidak terduga.


"Kau bertanya padaku acaraku nanti malam ? Aku rasa kau sudah tahu Tuan Sean, jika setiap malam aku selalu melayani pria hidung belang dan memuaskan nya diatas ranjang."


Rahang Sean mengeras mendengar ucapan Aira, entah kenapa dia merasa tidak suka dengan Aira yang harus menjajakan tubuhnya pada pria brengsek diluar sana, tanpa sadar jika profesi Aira itu disebabkan karena ulahnya sendiri.


"Batalkan rencanamu dan berdiamlah dirumah."


"Kau tidak punya hak untuk mengaturku Tuan Sean. Ini hidupku dan hanya aku yang berhak akan hidupku sendiri."


"Aku bilang batalkan." Ketusnya dengan suara agak keras.

__ADS_1


Aira berdecih lalu melepas kasar pelukan Sean.


"Berapa dia membayarmu ? Akan ku ganti sepuluh kali lipat, tapi sebagai gantinya batalkan janjimu, dan cukup layani aku sepanjang malam. Apa kau puas ? Anggap saja aku juga sebagai pelangganmu seperti mereka."


Syutt


jleb


serr


Sakit dan sesak, jantungnya terasa ditusuk sebilah pisau lalu dicabut dan kemudian ditusuk kembali. Itu yang saat ini Aira rasakan. Gadis itu kembali rapuh, ternyata Sean memang menganggap dirinya hanya sebatas pemuas nafsu.


Aira memejamkan matanya lalu menarik nafas panjang. Berbalik cepat lalu tanpa Sean duga gadis itu melepas semua pakaiannya dan berjalan kearah Sean dengan hanya memakai pakaian dalamnya saja.


Sean melotot sempurna melihat aksi nekad Aira, bisa bisanya gadis itu melakukan hal nekad itu dikampus.


"Kenapa harus menunggu nanti malam, sekarang juga aku sudah siap Tuan Sean. Aku akan memuaskanmu, mumpung kampus masih sepi dan gelap, belum ada satu orang pun yang datang kesini. Kita bisa melakukannya disini untuk 2 jam kedepan. Selanjutnya bisa kita teruskan nanti sepulang kuliah, karena aku tidak bisa membatalkan janjiku pada klienku." Ucap Aira lalu secepat gerakannya yang gesit gadis itu melabuhkan ciumannya dibibir Sean.


Sean hanya bisa mematung tanpa membalas ciuman Aira. Pikirannya berkecamuk dan hatinya terasa sakit mendengar ucapan Aira. Hingga pada akhirnya dia tersentak saat dia merasakan setetes air jatuh didadanya.


Aira menangis ?


Kedua tangannya mengepal sempurna, lalu melepas kasar ciuman gadis itu. Matanya menatap tajam kearah Aira.


"Kenapa menolakku ? Bukankah kau menginginkan tubuhku ? Ayo kita lakukan sebelum ada siswa lain yang datang kesini."


"Pakai bajumu ?" Ucapnya dingin dengan rahang mengeras.


"Kau ingin menghinaku ? Belum pernah ada pelanggan yang bisa menolak pesona dari tubuhku yang seksi, dan kau yang pertama Tuan Sean, dan aku tersinggung akan hal itu." Tidak dapat Sean pungkiri jika tubuh bukan tapi semua yang ada ditubuh Aira sangatlah seksi dan menggoda.


"Kau tidak waras, berendamlah di air dingin dan rendam kepalamu yang konslet itu." Dengusnya lalu pergi meninggalkan Aira yang terpaku dalam diamnya.


Perlahan tubuh Aira merosot jatuh dilantai dengan linangan airmata yang semakin deras mengalir.


"Aku begitu kotor di matamu Se, bagimu aku hanyalah barang rongsokan yang begitu menjijikkan dan tidak mempunyai arti lebih di matamu. Tidakkah kau tahu jika hatiku sangat sakit dan hancur berkeping keping Se. Sesakit inikah rasanya mencintaimu. Waktu 2 tahun tidak cukup untukku menghilangkan rasa cinta ini yang begitu besar sebesar kebencianku padamu Se.


Aku memuaskan begitu banyak lelaki, tapi aku sendiri merasa sakit yang begitu perih dihatiku saat aku harus melakukan dosa itu terus menerus. Kenapa kau datang lagi jika untuk kembali menyakitiku ? Tidak cukup kan saat kita bersama kau menyakitiku, sekarang saat kita sudah berpisahpun kau masih terus membuatku sakit dan terhina. Aku membencimu Se sampai ke aliran darahku. Aku sangaat membencimu, jika ada pria didunia ini yang ingin sekali aku hindari, itu adalah dirimu Se. Hanya dirimu..hiks..hiks.." Ucap Aira dengan suara lirihnya yang menyayat hati.


Setelah cukup gadis itu merasa tenang, Aira lalu meraih gaunnya lalu memakainya kembali, membereskan beberapa lembar kertasnya yang nampak berceceran dilantai.


Tanpa gadis itu sadari jika ternyata Sean masih berada diluar ruangan tersebut dan tentu saja mendengar semua yang gadis itu katakan.


Maaf


TBC

__ADS_1


__ADS_2