
Wajah pucat dengan senyuman tipis menyambut kedatangan Chery di ruangan yang terlihat sangat luas itu. Dengan ragu Chery berjalan pelan menuju ranjang pasien dimana Cleo berbaring dengan berbagai alat rumah sakit menempel ditubuhnya.
"Ada apa ? Apa kau tidak mau bertemu denganku ?" Tanya Cleo lirih dengan wajah pucat dan senyuman tipis yang terlihat sangat dipaksakan. Bahkan gadis itu masih berusaha kuat untuk menahan airmata yang sedari tadi ingin keluar semenjak kemunculan sahabatnya itu.
Entah kenapa walaupun dia juga merasa kecewa dengan sahabatnya ini, tapi rasa sayangnya pada Chery melebihi rasa kecewa didalam hatinya. Persahabatan yang sudah terjalin semenjak SMP, ternyata tidak mampu membuatnya membenci sahabat yang selalu ada untuknya ini.
Melihat reaksi Cleo yang ternyata diluar ekspektasinya itu seketika gadis itu tersenyum lebar dan mempercepat langkah kakinya menuju ranjang pasien.
"Apa yang kau katakan ? Apa kau tahu bagaimana khawatirnya aku ketika mendengar kabar buruk yang menimpamu ? Bagaimana bisa kau berpikir untuk meninggalkanku Cle ?" Cerca Chery saat sudah duduk dikursi samping ranjang pasien, kedua matanya menatap sendu sahabatnya yang terlihat lemah dan pucat.
Cleo tersenyum simpul sembari menatap wajah Chery yang terlihat sedih. Bahkan terlihat kedua mata sahabatnya itu nampak berkaca kaca menahan tangis.
"Maaf --" Ucapnya lirih.
Cleo mendongak keatas menatap langit langit kamar yang berwarna putih dengan tatapan sendu, namun sesaat kemudian raut wajah gadis itu berubah datar dan Chery menyadari perubahan pada sahabatnya itu. Di dalam hatinya timbul perasaan bersalah yang teramat besar. Pikiran buruk seketika menghantuinya saat melihat tatapan Cleo yang nampak datar dan dingin.
" Cher, ingatkah kau sudah berapa lama kita bersahabat ?"
"Hah ...apa maksudmu Cle ?" Tanyanya dengan kening berkerut. " Kenapa kau bertanya seperti itu, tentu saja sudah sangat lama, bukankah kita bersahabat semenjak kita menginjak bangku SMP." Imbuhnya sembari menatap bingung sahabatnya, gadis itu belum merasa curiga dengan pertanyaan aneh Cleo.
" SMP ya--" Decaknya sembari tersenyum getir. " Itu berarti kurang lebih sudah 10 tahun kita selalu bersama sebagai sahabat dan bahkan mungkin lebih dari sekedar sahabat bukan."
Walaupun masih merasa bingung, Chery tetap menganggukkan kepalanya.
"Apa kau masih ingat dengan janji kita dulu ?"
"Janji --" Chery semakin bingung dengan sikap Cleo yang semakin terasa aneh menurutnya.
Lagi gadis itu tersenyum getir menyadari jika sahabatnya itu pasti sudah lupa dengan janji yang mereka ucapkan sepuluh tahun yang lalu saat keduanya memutuskan untuk terus bersahabat sampai kapanpun.
"Kau lupa ? Sayang sekali ya Cher, tapi tenang saja walaupun kau sudah melupakannya tapi aku masih mengingatnya dengan jelas."
Chery masih menerka nerka maksud ucapan Cleo tentang janji yang pernah mereka buat. Dia berusaha sekuat tenaga mengingat tentang janji mereka yang jujur saja mungkin dia memang sudah lupa. Cukup lama dia berusaha mengingatnya hingga kilasan tentang janji sepuluh tahun lalu muncul dikepalanya yang seketika membuat tubuhnya membeku dengan wajah memucat.
__ADS_1
"Berjanjilah kalau kita akan selalu bersama sampai kapanpun Cle."
"Aku berjanji Cher kita akan selalu bersama sampai kapanpun." Ucap Cleo sambil menautkan kedua jari kelingkingnya dengan jari kelingking Chery.
"Oke, karena kita sudah berjanji maka mulai detik ini rahasiamu adalah rahasiaku, deritamu adalah deritaku, bahagiamu adalah bahagiaku. Aku ingin jika salah satu diantara kita mendapat masalah kita harus saling bercerita, ga boleh menyimpan rahasia apapun. Berbagilah denganku jika kau merasa sedih, maka aku akan selalu ada untukmu. Begitu juga sebaliknya denganku, aku tidak akan pernah menyimpan rahasia apapun padamu Cle."
"Ya, aku berjanji."
Chery menelan salivanya kuat, keringat dingin mulai membasahi kulitnya. Sungguh dia melupakan janji yang mereka buat selama ini.
"Cle ak--aku --"
"Tidak apa apa Cher,,tidak perlu merasa bersalah. Lagipula itu hanyalah sebuah janji yang dibuat oleh dua bocah ingusan yang belum mengerti akan sebuah kata kata penting bukan. Mungkin hanya aku saja yang merasa kalau janji itu ibaratkan sebuah nyawa yang begitu penting didalam hidupku yang harus aku jaga dan aku lindungi."
"Bu - bukan seperti itu maksudku Cle, ak-aku --" Gugupnya dengan wajah pucat.
Cleo tersenyum getir lalu memalingkan wajahnya kesamping berusaha menghindari tatapan mata Chery yang sarat akan rasa bersalah karena melupakan janji mereka.
"Jangan menatapku seperti itu Cher, seolah olah kau sudah membuat kesalahan besar." Ujarnya sambil menatap dalam bola mata sahabatnya.
Cleo membuang pandangannya kearah jendela yang memperlihatkan gelapnya hari karena saat ini memang keadaan diluar sudah menjelang malam hari.
"Apa kau tahu, selama ini aku berpikir kalau persahabatan ini memang begitu sangat berarti buat kita. Aku menyayangimu dengan semua karaktermu dan kepedulianmu padaku. Bahkan kau selalu membela dan melindungiku disaat semua orang membenciku. Semua perlakuan baikmu membuatku terharu dan bahagia karena akhirnya aku mempunyai seseorang yang tulus menganggapku ada. Seseorang yang mau menerimaku disisinya yang bahkan orang lain saja tidak ingin dekat denganku yang bagi mereka aku ini hanyalah gadis pembawa sial." Tuturnya dengan air mata yang mulai menetes.
"Selain kakakku, kau adalah orang kedua yang sangat istimewa untukku Cher. Kalian berdua berhasil menempati sisi ruang hatiku yang selalu kosong dan hampa."
"Kau tahu aku sangat menyayangi kakakku, bahkan kau juga tahu aku begitu sangat kehilangan sosok seorang ibu, saudara dan teman. Kehilangannya membuat hidupku tanpa arah, apalagi semua keluargaku semakin menyalahkanku semenjak kepergiannya."
Cleo nampak terdiam sejenak, gadis itu memejamkan kedua matanya. Kilasan bayangan wajah sang kakak yang begitu lembut dan keibuan kembali terbayang di kepalanya. Membuat rasa sesak itu kian membesar.
"Cle --"
"Kini aku tahu kenapa mereka semakin membenciku. Semua itu karena aku memang seorang pembunuh, pembunuh kakakku sendiri. Harusnya aku saja yang mati bukan ? Harusnya aku saja yang pergi dari dunia ini. Harusnya kakak tidak perlu memberikan jantungnya untukku. Harusnya memang seperti itu kan Cher, katakan padaku. Harusnya aku saja yang mati kan ?"
__ADS_1
"Cle --"
Chery beranjak dari duduknya lalu memeluk erat tubuh Cleo yang bergetar karena tangis. Memeluknya dengan sangat erat dan membiarkan sahabatnya itu mengeluarkan keluh kesahnya seperti biasanya. Membiarkan sahabatnya itu mengeluarkan airmata sederas mungkin dan berharap setelah ini tidak akan ada lagi airmata yang keluar. Dia sangat berharap sahabat yang sangat dia sayangi ini menemukan kebahagiaannya.
Cukup lama keduanya saling berpelukan menumpahkan segala lara di hati keduanya. Cleo yang merasa syok dengan apa yang terjadi dan Chery dengan perasaan bersalahnya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku Cher --"
"Maaf --"
"Kenapa kau menyembunyikan hal besar ini padaku. Kau tahu aku sangat mempercayaimu."
"Maaf --" Lagi lagi hanya kata maaf yang keluar dari bibir Chery sembari terus memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Kenapa kau membiarkan kakakku melakukan hal konyol itu."
"Maafkan aku, aku tidak mempunyai kuasa untuk melakukannya. Semua atas keinginan kak Amira sendiri. Dia begitu menyayangimu." Aku Chery disela sela isaknya.
"Harusnya aku saja yang mati kan ? Kenapa harus kakakku, kenapa bukan aku. Harusnya kau bisa mencegahnya." Ujar Cleo disela isaknya mengeluarkan semua beban dihatinya.
Plak
Tamparan yang cukup keras di layangkan oleh Chery membuat Cleo meringis pelan karena rasa perih dan panas dipipinya. Chery menatap telapak tangannya yang baru saja dia pakai untuk menampar sahabatnya itu. Walau hatinya terasa sesak, tapi tidak ada cara lain lagi untuk membuat sahabatnya ini kembali sadar dan tidak menyalahkan dirinya sendiri.
"Apa yang kau katakan ? Apa kau pikir kami akan membiarkanmu pergi setelah apa yang kak Amira lakukan untukmu ! Sadarlah Cle, semua ini bukan murni kesalahanmu. Semua sudah takdir dari yang Kuasa. Kak Amira meninggal bukan karena dirimu, tapi karena memang penyakit kanker yang selama ini menggerogoti tubuhnya."
Deg
TBC
Terima kasih untuk kalian semua sahabat mam yang sudah mendukung semua cerita receh mam. Maaf jika masih kurang sesuai dengan keinginan kalian.
Next tunggu part selanjutnya yang semakin menengang kayak tiang listrik tegangan tinggi ya..wkwwkwk
__ADS_1
Untuk yang bertanya cerita Babang Alex, akan mam lanjut setelah selesai novel Aira ya..
makasih..