
Semenjak kejadian yang terjadi didepan Rumah Sakit seminggu yang lalu, Cleo benar benar menutup dirinya bahkan dia selalu menghindari untuk berinteraksi secara berlebihan dengan atasannya, yaitu Bian.
Walau gadis itu masih menjadi sekretaris magang pria itu, tapi sebisa mungkin Cleo selalu bersikap profesional. Dia benar benar memantapkan hatinya untuk move on dari pria yang selalu membuat hatinya sakit dengan kata kata kasar yang selalu meluncur dari bibirnya.
Lagipula tinggal tersisa 3 Minggu lagi dia magang di perusahaan Tuan Adi. Setelah selesai masa magangnya dia sudah memutuskan untuk pergi menjauh dari keluarga Nugraha ataupun Siregar. Intinya dia harus pergi dan menghindari kontak dari dua keluarga yang masih ada hubungannya dengan Bian.
Seperti hari ini, Cleo masih fokus dengan pekerjaannya yang menumpuk hingga membuatnya tidak menyadari dengan adanya seorang pria yang sudah berdiri tegak didepannya. Pria itu nampak mengamati dengan seksama gadis yang terlihat sangat fokus dan giat dengan pekerjaannya itu. Sesekali sudut bibirnya tertarik kebelakang dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Billa apa kamu tidak lapar ? Aku lihat dari tadi kamu masih sibuk sekali dengan pekerjaanmu. Ini sudah waktunya istirahat, ayo kita pergi makan dulu."
Cleo mendongak menatap tubuh kekar dan tegap yang menjulang tinggi didepannya ini. Wajah seorang pria tampan dengan sedikit bulu bulu halus yang tumbuh di janggutnya. Senyumnya tidak pernah sekalipun luntur saat bertutur kata dengannya.
"Kak Ricko ? Sejak kapan disini ?"
Ricko, pria tampan itu kembali tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Semenjak beberapa menit yang lalu saat kamu masih saja fokus sama pekerjaan kamu."
Cleo nyengir kuda menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Pekerjaanku masih banyak kak." Tunjuknya pada setumpuk berkas yang terlihat menggunung, raut wajah gadis itu menampilkan wajah cemberut.
Ricko nampak menghela nafas kasar sembari memijit pelipisnya, merasa iba dengan gadis didepannya ini. Sebenarnya dia tahu jika apa yang terjadi pada Cleo semua karena ulah bosnya.
Entah ada masalah apa antara bosnya dengan gadis ini, namun jika dilihat dari sikap Bian yang begitu membenci gadis ini, sepertinya masalah diantara keduanya sangatlah besar.
Namun Ricko juga bukanlah pria bodoh, walaupun Bian sangat membenci Cleo, dia bisa melihat jika dibalik kebenciannya terhadap Cleo, dia bisa melihat cinta Bian yang sangat besar. Hanya saja pria itu belum menyadari perasaan cintanya pada Cleo.
Perasaan itu masih tertutupi dengan kebencian yang entah sampai kapan melebur keluar. Dan sebagai asisten sekaligus sahabat baik pria itu, sepertinya dia harus melakukan sesuatu supaya sahabatnya yang tidak peka dan sangat gengsi itu menyadari perasaannya.
Cleo terpaksa menghentikan pekerjaannya saat lengannya ditarik paksa oleh asisten Bian. Dengan langkah tertatih tatih, dia mengikuti langkah lebar Ricko menuju restoran yang berada di sebelah kantornya.
"Jangan cemberut begitu, kau sangat jelek kalau memasang wajah seperti itu." Ucapnya saat keduanya sudah berada didalam restoran.
"Lagian kak Ricko asal main tarik aja." Jawabnya dengan tetap memasang wajah cemberut.
"Ini sudah waktunya istirahat Bil, jangan terlalu memporsis tenagamu. Nanti kau bisa sakit." Ucapnya penuh perhatian.
Cleo tersipu, matanya sudah berkaca kaca. Dia terlalu terharu karena baru kali ini ada orang yang secara tulus memberinya perhatian lebih.
"Makasih kak."
"Alu terima ucapan terima kasihmu kalau kau mentraktirku kali ini."
__ADS_1
Mendengar itu sontak saja Cleo langsung mencebik kesal, ternyata perhatian pria didepannya ini karena ada maunya saja.
"Bilang saja kalau kakak itu nggak punya uang, sok sokan ngajak aku makan disini. Tau kalau aku yang bakal bayar mah, nggak akan mau aku diajak kesini."
Ricko tergelak mendengar gerutuan gadis didepannya ini, entah kenapa menggoda Cleo sekarang menjadi kesenangannya.
Kau terlihat menggemaskan jika kesal begitu.
"Ayolah Bil, kau bahkan belum pernah mentraktir kakak dari pertama gajian loh. Apa kau terlalu pelit untuk mengeluarkan uang demi pria setampan aku." Godanya sembari mengerlingkan matanya.
"Aku baru tahu hari ini kalau ada pria yang justru minta ditraktir oleh wanita. Biasanya malah kebalikannya." Gerutunya kembali namun tidak urung dia langsung memesan makanan untuk dirinya dan Ricko.
"Hari ini spesial untukku Bil, jarang jarang loh aku makan berdua dengan seorang wanita. Dan kamu patut bersyukur, diluar sana banyak sekali wanita yang ingin dekat denganku." Ujarnya dengan raut wajah bangga.
"Dasar playboy cap sandal jepit." Umpatnya lirih namun masih bisa didengar oleh telinga Ricko.
"Ngawur, walaupun begini kakak tu masih ori Bil. Enak saja ngatain kakak playboy apa tadi..pake cap segala."
Cleo tertawa lepas dan setelah sekian lama sepertinya baru kali ini gadis itu benar benar tertawa dengan sangat lepas. Membuat Ricko semakin terpana oleh kecantikan gadis didepannya ini.
Cantik,...hatiku rasanya berdesir aneh.
Bersamaan dengan itu ujung mata Ricko melihat sekilas kedatangan Bian seorang wanita cantik yang nampak bergelayut manja dilengannya. Dan dia tahu siapa wanita itu, tidak lain adalah salah satu klien Bian namun sepertinya wanita itu begitu tergila gila pada Bian.
Deg
Cleo mematung dengan jantung yang berdegup sangat kencang, rona merah dipipinya begitu kentara saat jemari Ricko mengusap bibirnya.
"Ah, i-iya." Gugupnya sembari membersihkan noda dibibirnya, padahal sama sekali tidak ada noda disana.
Ya, sebenarnya tidak ada noda yang menempel dibibir gadis itu, semua itu hanya akal akalan Ricko saja demi membuat Bian cemburu.
Dan semua itu terbukti saat dia melirik kearah pria itu, nampak Bian sedang menatap keberadaan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Bahkan terlihat jelas rahang pria itu mengeras dan sorot matanya yang penuh amarah.
Bian juga dapat melihat kepalan kuat dikedua tangannya, semakin memperkuat dugaannya jika sebenarnya Bian sangatlah mencintai gadis ini.
Ricko terus saja berpura pura seakan dia tidak mengetahui keberadaan Bian yang saat ini sedang berjalan menuju mejanya.
"Bil cobain punyaku deh, ini rasanya enak banget." Ujarnya sembari menyodorkan sumpit berisi spagetti kedepan mulut Cleo.
"Kak, aku bisa makan sendiri." Tolaknya sambil menahan malu.
"Aku nggak mau ada penolakan." Sorot matanya tegas dan tidak mau dibantah.
__ADS_1
"Enak kan ?" Tanyanya saat gadis itu sudah menerima suapannya.
Rasanya sama saja denganku. Ada apa dengannya.
Cleo masih belum menyadari jika tindakan dan perilaku Ricko hanyalah sandiwara demi membuat seseorang dibelakangnya sana merasa cemburu. Dan Ricko semakin puas saat kilatan amarah Bian semakin besar ketika dia menyuapi gadis ini.
"Ekhem ! Apa kalian tidak malu bermesra mesraan ditempat umum ? Cih, seperti tidak ada tempat lain saja."
Deheman keras itu menghentikan kegiatan mereka berdua yang sedang suap suapan. Terlebih Cleo yang nampak kaget dan malu seketika. Namun beda halnya dengan Ricko, pria itu malah terlihat santai dan kini malah menampilkan senyuman lebar.
"Eh bos makan disini juga ? Mau bergabung dengan kami ? Tapi sayangnya kami sudah mau selesai." Padahal makanan diatas meja baru saja mereka pesan.
Cleo menatap bingung pada Ricko, dia bahkan baru beberapa suap memakan makanannya, bagaimana mungkin pria ini mengatakan jika mereka sudah selesai.
Ingin dia menyela perkataan Ricko, namun seketika diurungkannya niatnya saat telinganya mendengar suara wanita di belakangnya.
"Bi, kita makan dimana ? Maaf ya aku agak lama ditoilet tadi." Ucapnya dengan nada manja.
"Kita cari meja lain saja." Jawabnya sembari tersenyum dengan mata yang melirik kearah Cleo yang nampak tenang.
Cleo tersenyum miris, hatinya kembali tercabik saat melihat bagaimana perlakuan lembut Bian pada wanita itu. sementara saat bersamanya jangankan tersenyum, bicara saja selalu memakai bahasa kasar.
"Kak, sudah selesai kan ? Billa mau nyelesaiin pekerjaan Billa yang masih banyak." Padahal dia hanya menghindar dari Bian.
Ricko tersenyum, mengerti apa yang dirasakan oleh Cleo.
Sementara Bian nampak mengrenyit saat asistennya ini memanggil Cleo dengan nama lain.
Billa ? Sedekat itukah mereka ? Bahkan panggilannya pun terlihat berbeda
"Bos, saya duluan ya. Silahkan menikmati acara makan siang anda yang sangat spesial." Sindirnya dengan melirik sinis pada wanita disebelah Bian.
Tanpa menunggu jawaban Bian, Ricko langsung berjalan menyusul langkah Cleo yang sudah duluan pergi dari sana. Dan semua itu tidak luput dari tatapan tajam seorang Bian.
"Bi..ayo." Ajak Sherina dengan manja dan bergelayut dilengan kekar Bian.
Bian melirik wanita disebelahnya lalu menghempaskan tangan gadis yang masih bergelayut manja itu dengan kasar.
"Makanlah sendiri aku sudah tidak selera lagi." Ketusnya lalu berjalan keluar restoran.
"Bi ! Sial lihat saja Bi aku akan menaklukkanmu." Gumamnya dengan. senyuman licil dibibirnya.
TBC
__ADS_1