Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Gatot malam pertama ?


__ADS_3

Brakk


Bian berjengit kala istrinya itu menutup pintu kamar mandi dengan keras. Pria itu mengusap dadanya yang berdetak kencang bukan karena gugup melainkan karena rasa terkejutnya karena ulah sang istri. Untungnya dia tidak mempunyai riwayat penyakit jantung akut, entah apa jadinya kalau saat ini dia mempunyai penyakit mematikan itu. Mungkin saja sekarang dia hanya tinggal nama. Ck.


”Sayang, Baby kamu baik baik saja kan ?” Serunya seraya menahan geli karena panggilannya sendiri.


Baby ? Hihi aku sedikit geli memanggilnya dengan sebutan itu.


”Aku baik baik saja kak.” Seru Cleo didalam sana.


”Trus kenapa kamu menutup pintunya keras sekali ? Apa kau marah padaku ?"


”Aku baik baik saja kak, aku....aku tidak tahan. Perutku mules.”


”Huh..syukurlah aku pikir dia marah padaku." Ucapnya lega lalu kembali duduk ditepi ranjang memainkan ponselnya.


Sementara itu didalam kamar mandi sebenarnya Cleo sedang tidak sakit perut. Dia baik baik saja, gadis itu hanya sedikit merasa gugup maka dari itu dia sengaja menghindari suaminya. Bukan menghindar karena gugup ini malam pertama mereka. Tapi menghindar karena ulah Bian tadi yang sukses membuatnya merasa malu.


”Menyebalkan, pria kulkas itu benar benar menyebalkan. Lihat saja aku akan membalasmu kak." Gumamnya sembari memikirkan cara untuk membalas perbuatan Bian.


Cleo mengetuk jari telunjuknya didagu sembari berjalan mondar mandir didalam kamar mandi. Hingga lima menit kemudian senyum merekah terbit dibibirnya yang tipis. Sepertinya gadis itu sudah menemukan cara untuk membalas tingkah suaminya itu.


Bergegas Cleo menyelesaikan ritual mandinya dan segera meraih gaun haram yang memang sudah disediakan oleh Bian. Cleo melihat bayangan dirinya didalam cermin sembari bergidik melihat betapa mengerikannya gaun lucknut yang sudah melekat ditubuhnya.


”Dia sungguh sungguh menyiapkan semuanya.” Decaknya dengan tatapan geli melihat bayangan tubuhnya yang terbalut kain transparan tersebut. Bahkan dia merasa malu sendiri melihat bagaimana gaun lucknut itu memperlihatkan dengan jelas lekukan tubuhnya yang mungil tapi berisi.


”Baiklah suamiku tercinta ini saatnya kita bermain.” Gumamnya dengan tersenyum tipis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cklek


Bian masih fokus dengan benda pipih yang berada ditangannya ketika mendengar pintu kamar mandi yang terbuka dari dalam pertanda sang istri sudah selesai dengan ritualnya. Hingga suara lembut mendayu Cleo berhasil mengalihkan pandangan matanya yang sedari tadi sibuk dengan ponsel pintarnya.


”Kak --”


Glek


Bian sontak berdiri mematung dengan tatapan terpaku pada satu titik, menatap sosok didepannya yang terlihat sangat cantik dan....seksi. Bahkan pria itu dengan susah payah berusaha menelan ludahnya yang mendadak terasa kering di tenggorokan.


”S- sayang ---”


Susah payah juga pria itu berusaha membuka suaranya yang seakan nyangkut di kerongkongan. Penampilan Cleo malam ini benar benar sukses membuatnya panas dingin dan pusing atas bawah. Bahkan sesuatu dibawah sana sudah memberontak keras meminta untuk dilepaskan.


"Mas ---”


Lagi Bian di buat semakin panas dingin, suara lembut mendayu istrinya disertai des*ahan saat memanggilnya dengan sebutan mas membuatnya tidak bisa menahan gejolak itu lagi.


”Apa aku cantik ?” Cleo bertanya pada Bian dengan senyuman manis dibibirnya.


Enggan menjawab pria itu hanya mengangguk, Bian seolah olah kehilangan suaranya.

__ADS_1


”Apa aku ..... seksi ?"


Lagi dia kembali menganggukkan kepalanya dengan kedua matanya yang terus melotot kearah sang istri. Melihat itu Cleo sekuat tenaga menahan tawa.


”Kamu cinta aku ga ?”


”Sangat.” Jawabnya cepat dan singkat.


Cleo yang terus melangkah maju mendekati Bian dan saat sudah sampai didepannya gadis itu mengalungkan kedua tangannya dileher kokoh suaminya. Semakin membuat pria itu kelimpungan, bahkan butiran keringat mulai menetes dikeningnya.


Cup


"S- sayang ---- ” Kejutnya saat Cleo melabuhkan ciuman singkat di dada bidangnya membuat matanya memejam merasakan aliran darahnya yang semakin memanas.


”Hmm.”


”J-jangan menggodaku.”


Tersenyum simpul Cleo malah memeluk tubuh kekar suaminya hingga kini keduanya menempel erat tanpa jarak. Bahkan Bian bisa merasakan dua benda kesayangan istrinya itu dengan sangat jelas.


Cleo semakin mempererat pelukannya sembari perlahan melangkahkan kedua kakinya mengajak Bian berdansa berirama. Bagai kerbau di cocok hidungnya Bian menuruti keinginan istrinya. Bahkan kini pria itu mulai berani menggerakkan kedua tangannya mengusap punggung mulus istrinya dengan gerakan lembut. Sesekali pria itu mengecup bahu mulus Cleo yang terekspose sempurna.


”Aku mencintaimu, sangat mencintaimu suamiku.” Lirihnya mengucapkan kata cinta yang membuat perasaan Bian semakin terbang melayang karena bahagia.


Entah disengaja atau tidak Cleo semakin berjalan membawa Bian sembari terus membisikkan kata kata cinta.


”Dan malam ini ---”


Cleo mendongak menatap wajah Bian yang menjulang tinggi didepannya. Tersenyum manis sembari sebelah tangannya meraih sesuatu hingga....


”Malam ini....kau tidur diluar.”


Cklek


Brakk


Pintu tertutup dengan rapat dan sukses.


Diluar Bian masih terbengong, terkejut dan berusaha meresapi apa yang sedang terjadi hingga beberapa detik kemudian pria itu sadar dari rasa terkejutnya lalu secepat kilat berusaha membuka pintu yang sayangnya sudah dikunci dari dalam oleh istrinya.


”Sayang buka pintunya. Kenapa kamu menyuruhku tidur diluar.” Teriaknya sembari menggedor pintu kamar miliknya.


”Itu hukuman untukmu karena sudah membuatku malu.” Seru Cleo dari dalam kamar dengan cekikikan.


”Tapi yank ini malam pertama kita loh. Masa kamu tega sih.” Ucapnya dengan suara melas.


”Malam pertama aja sama nyamuk.”


”Yank ---”


”Menurut atau selamanya jangan tidur dikamar.” Ancam Cleo dari balik pintu kamar.

__ADS_1


Lemas, Bian benar benar merasa kakinya lemas walau hanya untuk sekedar berpijak dibumi. Tubuhnya berjalan gontai menuju sofa depan kamar dengan kepala atas dan bawah yang semakin terasa pusing. Bagaimana tidak Cleo sudah mengajaknya terbang melayang ke udara namun tiba tiba istrinya itu menghempaskan dirinya dan kembali jatuh kebawah.


Sial, nasibku apes sekali. Umpatnya dalam hati.


Bian menyugar rambutnya kebelakang, pria itu nampak frustasi. Bukti gairahnya masih terlihat jelas dibawah sana, dan lagi lagi pria itu harus mendinginkannya dengan air dingin.


”Kamu sangat nakal sayang, malam ini mungkin kau bisa lepas dariku. Tapi tidak lain kali, aku pastikan kau akan menerima hukuman dariku.” Keluhnya lalu berjalan gontai menuju kamar tamu.


”Apa yang kau lakukan diluar Bi ?” Suara menyebalkan milik sang kakak yang terdengar dari arah belakang membuatnya menghentikan langkah kakinya yang hendak menuju kamar tamu.


Sial, kenapa dia datang diwaktu yang tidak tepat. Gerutunya dalam hati.


Berbalik lalu sebisa mungkin dia memperlihatkan wajah biasa supaya kakak jahilnya ini tidak menaruh curiga padanya.


”Aku haus.” Ketusnya.


Mata Alvian menyipit, menatap curiga pada sang adik yang terlihat tengah menyembunyikan sesuatu. Matanya memindai tubuh Bian dari atas sampai kebawah, tiba tiba bibirnya menyeringai.


”Berhenti berpikir yang tidak tidak, aku memang sedang haus mau mengambil air minum.” Seakan mengerti jalan pikiran kakaknya, Bian langsung mengucapkan kalimat yang mana malah membuat Alvian semakin menaruh curiga.


”Oh ya ? Memangnya apa yang kupikirkan ? Atau memang saat ini yang kupikirkan seperti yang kulihat sekarang ?” Bersidekap dada dengan seringaian tipis terbit dibibirnya.


”Sudahlah kak, aku sedang malas berdebat denganmu.” Elaknya lalu kembali berjalan meninggalkan Alvian dengan langkah lesu.


Ada apa dengan anak itu ? Tidak biasanya dia bersikap begitu. Eh....tunggu ! Apa jangan jangan dugaanku benar ? Dia diusir dari kamarnya sendiri ?


Alvian semakin terkekeh saat tahu kalau sang adik terusir dari kamarnya sendiri di malam pertama dia menjadi pengantin. Pria itu tidak habis pikir kalau Cleo sudah berani melakukan hal itu pada Bian yang notabene nya adalah orang yang tidak pernah mau mengalah bahkan pada adiknya sendiri. Tapi ini lihatlah, pria malang itu begitu pasrah dan mengalah pada sosok gadis yang sekarang ini sudah sah menjadi istrinya.


”Hei, kau mau dengar saran dariku ?” Seru Alvian yang kini sudah berjalan disisi Bian.


”Terima kasih , tapi aku tak butuh .Saranmu itu hanya akan membuatku semakin masuk kedalam jurang kak.” Tolaknya mentah mentah.


”Ck, dengar dulu baru koment.”Decaknya sebal.


”Apa !" Menghentikan langkahnya sembari menatap malas wajah Alvian. Kakaknya ini akan selalu mengganggunya kalau keinginannya tidak segera dituruti.


Alvian mendekat dengan senyuman penuh arti membuat mata Bian memicing curiga. Pria itu diam saja ketika kakaknya membisikkan sesuatu ditelinganya. Dan sepertinya rencana Alvian berhasil terbukti kini wajah adiknya yang sedari terselimuti awan mendung, sekarang ceria.


”Kau yakin akan berhasil ?”


”Kau meragukan kemampuanku ?” Bukannya menjawab Alvian malah balik bertanya.


”Bukan begitu kak, tapi kau tau sendiri adik iparmu itu menantu kesayangan papa dan mama. Bagaimana kalau mereka marah padaku nanti.”


”Kau tenang saja aku akan mengatasinya. Dan aku yakin paman dan bibi pasti akan setuju. Yang penting sekarang kau harus mengikuti apa yang aku katakan tadi.”


Melihat wajah serius kakaknya Bian kembali melayangkan tatapan curiga.


”Tumben sekali kau baik padaku kak ? Aku rasa bantuanmu ini tidaklah gratis.” Tuduhnya dengan tatapan curiga.


”Tentu saja, aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa adanya imbalan sempurna Bian adikku tersayang.”

__ADS_1


”Sudah kuduga.” Decaknya kesal yang di jawab dengan kekehan kecil dari Alvian.


__ADS_2