
"Apa maksudmu nak ? Mama tidak melakukan apapun." Jawabnya pura pura tidak tahu.
Barra tersenyum sinis, pandangannya tertuju pada sang papa yang terlihat duduk santai.
"Berhenti berpura pura seakan tidak tahu apa apa ma. Mama pikir aku bodoh sehingga tidak tahu apa yang mama lakukan pada Tania. Barra sungguh tidak menyangka dibalik sikap lembut mama tersimpan sifat yang mengerikan seperti monster."
"BARRA !"
Suara Tuan Denny yang menggelegar karena tidak terima istrinya dihina oleh putranya sendiri, membuat Cindy yang duduk disana ikut merasa terkejut. Wanita itu tidak tahu kalau sifat asli calon papa mertuanya begitu menyeramkan.
Mendengar suara keras yang ada dilantai bawah, Erick yang saat itu sedang berada diruang kerjanya langsung turun melihat siapa yang sudah berani membuat keributan.
"Pa, ma ada apa ? Kenapa ribut ribut begini." Tanya Erick dengan kening berkerut, dia bahkan melihat mamanya sedang bersedih.
"Lihatlah Erick kelakuan dari adik kesayanganmu itu. Belum bisa berdiri tegak saja sudah berani melawan orangtua, dan kini dia membuat mamamu sedih dengan menghinanya."
"Apa !" Sentaknya dengan wajah terkejutnya, lalu tatapannya beralih menatap tajam adiknya. "Apa benar yang dikatakan oleh papa, Barra ?"
"Aku tidak punya alasan untuk membela diri bukan ?" Ujarnya dengan tersenyum sinis.
"Kurang ajar."
Bukk
Bukk
"Erick, Cukup !" Teriak Nyonya Lusi dengan airmata yang sudah menganak sungai, wanita itu begitu histeris saat melihat bagaimana putra sulung mereka menghajar adiknya hingga babak belur.
"Biarkan saja ma, Erick ingin memberikan pelajaran anak tidak tahu diuntung ini." Ucap Erick dengan wajah merah padam karena amarah.
"Sudah Erick, mama mohon hentikan, lihat adikmu bisa terluka parah." Seru Nyonya Lusi sembari melerai kedua anaknya.
"Barra kau tidak apa apa sayang."
"Jangan pura pura bersedih karena lukaku ma, akting mama memang sangat bagus, tapi sayang itu semua tidak berlaku padaku."
"Barra." Lirih Nyonya Lusi dengan wajah sedih saat melihat sorot mata putranya yang sirat akan luka dan kebencian padanya.
"Barra kau memang anak yang tidak tahu diuntung, dari kecil kami berdua sangat menyayangimu dan memberikan segalanya untukmu hingga kau dewasa. Dan pa balasanmu, kau bukannya membuat bangga kedua orangtuamu tapi kau malah membuat kami kecewa dengan kau mempunyai hubungan dengan jalang itu."
"Tania pa, gadis itu namanya adalah Tania kalau papa ingin tahu."
"Bagiku dia tetaplah seorang jalang, bagaimana mungkin kalau memang gadis baik baik bekerja disebuah club malam, heh."
"Bekerja disana bukan berarti dia seorang p****r pa, ingat itu."
__ADS_1
"Tetap saja dia akan mencoreng nama baik keluarga Nugraha, dan papa pastikan dia akan menerima akibatnya karena sudah membuatmu menentang keputusan papa."
"Coba saja papa berani melakukan itu, maka papa akan berhadapan denganku."
"Kau hanya anak kemaren sore Barra, dan kau.."
"Cukup !!!" Nyonya Lusi berteriak keras menghentikan perdebatan antara suami dan anaknya.
Wanita paruh baya itu menatap tajam pada Barra, Dia harus bisa membuat Barra memilih diantara dua pilihan. Kali ini dia berharap semoga usaha terakhir ini bisa membuahkan hasil.
"Barra, mama dan papa sudah memutuskan untuk tetap melanjutkan pernikahanmu dengan Cindy, dengan ataupun tanpa persetujuan denganmu."
Pria tampan itu menatap wajah mamanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dan mama sudah tahu jawabannya bukan, jadi Barra tidak perlu menjawabnya." Ucapnya tegas dan santai.
"Baiklah kalau kau memang kekeh dengan keputusanmu itu. Maka kau harus memilih salah satu pilihan yang mama ajukan padamu."
Barra masih berdiri santai sambil matanya tetap tertuju pada mamanya.
"Kamu melanjutkan perjodohan ini maka papa dan mama akan memaafkan semua kesalahanmu akhir akhir ini. Dan jika kamu tidak ingin melanjutkan pernikahan ini, silahkan angkat kaki dari rumah ini. Mama dan papa bahkan akan mengeluarkanmu dari daftar kartu keluarga dan juga dari statusmu sebagai putra keluarga Nugraha, dan kamu pun sudah tidak kami ijinkan memakai marga Nugraha dibelakang namamu. Tidak hanya itu kami akan menyita semua fasilitas yang kami berikan padamu. Mama ingin lihat sejauh mana kau mampu menentang kami keluarga Nugraha."
"Ma..."
Barra terperangah, begitu juga dengan Erick dan juga Tuan Denny, sementara Cindy hanya memutar bola matanya mulai jengah dengan pertunjukan drama keluarga ini.
Nyonya Lusi tersenyum menang, saat melihat wajah putranya yang mendadak sedih. Wanita itu merasa kalau dirinya pasti sudah menang. Dia berpikir tidak mungkin Barra bisa hidup tanpa sedikitpun sepeser uang pemberian orangtuanya, pasalnya mereka sudah terbiasa hidup mewah.
"Mama tahu kamu akan memilih option pertama Barra." Ujarnya dengan rasa bangga senyum penuh kemenangan.
Namun sepertinya dugaan Nyonya Lusi meleset, dia malah melihat Barra melangkah menghampirinya dengan wajah yang tersenyum manis.
"Mama tahu, walaupun aku terlahir dari keluarga kaya raya, tapi apa mama lupa dari kecil kakek selalu mengajariku untuk hidup sederhana. Jadi tidak masalah bagiku jika harus hidup susah, Barra malah bersyukur dengan pilihan yang mama ajukan pada Barra. Dengan begitu Barra tidak harus susah payah ataupun merasa bersalah karena sudah membuat hati mama sakit karena kepergianku."
"Barra." Nyonya Lusi menatap tidak percaya pada Barra yang justru tersenyum bahagia.
Barra meraih dompet disaku celananya , ponsel, dan kunci mobil. Semuanya dia berikan pada sang mama, mengabaikan tatapan tidak percayanya.
"Ini semua barang barang yang mama berikan padaku dengan memakai uang dari papa. Barra kembalikan semuanya pada mama,dan mama tenang saja, Barra akan pergi menjauh dari keluarga Nugraha dan tidak akan pernah lagi muncul didepan mata kalian."
Nyonya Lusi masih membeku ditempatnya berdiri, masih tidak menyangka jika putranya lebih memilih hidup miskin dengan gadis sialan itu daripada keluarganya.
"Barra."
"Oh ya mah, didalam dompet juga ada kartu kredit dan juga debet cart. Semuanya ada disitu, silahkan kalau mau dicek. Barra sudah tidak mempunyai hak lagi atas barang barang itu dan juga rumah ini. Semoga mama bahagia dan maafkan Barra karena belum bisa membahagiakan mama dan papa." Ucapnya sembari berbalik dan mulai berjalan keluar rumah.
__ADS_1
"Barra ! Kamu akan menyesalinya nak, lihat saja apa yang akan mama lakukan pada gadis sialan itu. Mama akan memisahkan kalian berdua, lihat saja Barra." Teriak Nyonya Lusi dengan hati yang sudah menggebu dipenuhi amarah.
Barra, pria tampan itu berhenti dan kembali berbalik. Kali ini tatapannya nyalang menatap wajah mamanya, dengan kedua tangan yang sudah mengepal kuat.
"Dan jika mama sampai berani melakukan hal buruk pada orang yang Barra cintai. maka detik itu juga mama akan melihat tubuh kaku Barra didepan mata mama sendiri." Jawabnya dengan tegas dan sorot mata yang berubah dingin.
"Barra !!!!"
Barra terus berjalan keluar rumah tanpa memperdulikan teriakan histeris mamanya. Pria itu terus berjalan disepanjang jalan rumahnya hingga mencapai jalan raya.
Barra tersenyum miris, dia yang tadinya seorang tuan muda, dalam sekejap sudah berubah statusnya menjadi gembel. Namun pria itu tidak perduli, baginya saat ini adalah kekasih hatinya. Apapun akan dia lakukan demi hidup dengan orang yang sangat dicintainya.
Pria itu celingukan kekanan dan kekiri, berharap ada tukang gojek lewat. Menunggu agak lama tapi rupanya tidak ada satupun tukang gojek yang dia inginkan. Barra masih setia menunggu hingga tidak lama kemudian muncul mobil Honda Jazz hitam berhenti tepat didepannya.
"Barra ! Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya sosok pria yang ternyata adalah Andi.
"Andi ! Apakah itu kau sahabatku ? Bagaimana kabarmu ?"
"Aku sehat, dan apa yang kau lakukan disini."
"Ceritanya panjang."
"Ayo aku akan mengantarmu."
Barra mengangguk lalu masuk kedalam mobil Andi, temannya sewaktu masih SMA.
"Bagaimana kabar Jihan ?"
"Kami baik, dan apa kau tahu, kami akan menikah bulan depan."
"Syukurlah aku doakan semoga acara pernikahan kalian lancar dan langgeng sampai ajal menjemput."
"Ya, terima kasih. Lalu bagaimana demganmu ? Aku sempat dengar kau itu mempunyai kekasih yang kerja diclub ya. Maaf bukannya aku ikut campur, tapi kabar tentang keluarga Nugraha selalu menjadi topik hangat beberapa hari ini."
Barra tersenyum kecut, lalu dia menceritakan semua yang dia alami pada Andi. Dan sang sahabat hanya bisa tersenyum.
"Apa yang kau lakukan itu sudah benar Bar, kalau kita memang sudah sangat mencintai kekasih kita, tidak perduli apapun masalalu dan pekerjaannya, selama dia tetap disamping kita, semua masalah akan mudah dijalani. Aku bangga padamu Bar, kau itu tuan muda tapi sikapmu selalu condong kerakyat biasa."
"Hahahaha kau ini bisa saja An, oh iya bagaimana nanti kalau kita punya anak, kita jodohkan saja. Jadi persahabatan kita akan lebih semakin dekat setelah kita menjadi besan."
"Kau itu, aku tidak mau melakukan hal seperti itu, lagipula Andre sudah meminta anakku sebelum dirimu. Kalian berdua ini aneh, aku saja belum menikah tapi kalian sudah meminta anakku."
Mereka akhirnya tertawa lepas, sejenak Barra sedikit melupakan masalah yang menderanya. Dia sangat beruntung, disaat dia sedang susah Tuhan mempertemukannya dengan sahabat lamanya yang sudah lama tidak dia dengar kabarnya setelah kelulusan mereka dulu.
Pria itu tersenyum kecil, entah kenapa hatinya tidak merasakan kesedihan sama sekali, padahal dia baru saja dibuang oleh keluarganya sendiri. Dan dalam hatinya dia bertekad akan bangkit dan memulai semuanya dari awal. Asalkan bersama dengan Tania, apapun akan dia jalani walaupun itu harus hidup susah sekalipun.
__ADS_1
TBC