Cinta Untuk Aira

Cinta Untuk Aira
Menolak


__ADS_3

Flashback Of


Tuan Adi Nugraha nampak mengusap kasar airmata yang tidak terasa mengalir dikedua pipinya. Mengingat bagaimana perjuangan kakak dan kakak iparnya dalam menjalani kehidupan mereka yang serba sulit sampai akhirnya bisa sampai ketahap sukses seperti sekarang ini.


Sementarta Alvian nampak mengeraskan rahangnya dengan kedua tangan yang sudah terkepal kuat. Ketika ingatan menyakitkan itu kembali berputar dikepalanya. Bagaimana dengan mata kepalanya sendiri dia melihat adik dan kedua orangtuanya tewas saat mobil papanya terjun bebas kejurang dan meledak.


Bahkan rasa sesak itu masih terasa sampai sekarang. Alvian memejamkan kedua matanya guna menghilangkan sesak dan sakit dihatinya. Kalau boleh jujur rasa trauma itu sebenarnya masih ada sampai sekarang, tapi Alvian terlalu pintar menyembunyikannya.


Bagaimanapun masih ada dua orang yang harus dia lindungi, dan kedua orang itu adalah Oma Tamara dan istri tercintanya. Dia tidak boleh lemah, maka dari itu Alvian berusaha menekan rasa traumanya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Om ?"


"Al, ini saatnya kamu harus memegang kendali penuh perusahaan papamu." Ujar Om Adi dengan raut wajah serius.


Mendengar hal itu Alvian hanya bisa menghela nafas panjang.


"Om, masalah perusahaan milik papa, Alvian pasrahkan semuanya pada Om. Semua sudah menjadi hak Om, bagaimanapun Om adalah adiknya papa."


"Tapi itu adalah milikmu Al, dan sebagai putra dari kak Barra kamu wajib meneruskannya."


"Memang benar Om, hanya saja Alvian sudah menyerahkan semuanya pada Om. Lagipula Om Adi tahu sendiri Alvian juga sudah memiliki perusahaan sendiri. Dan rasanya Al, tidak sanggup jika harus memegang dua perusahaan sekaligus." Jawabnya kekeh menolak permintaan Omnya.


Bukan apa apa, dia memang merasa kewalahan jika harus memegang perusahaan milik papanya juga. Belum lagi permintaan Tuan Andre yang juga menyuruhnya untuk sesekali ikut mengontrol perusahaan miliknya, karena suatu saat nanti perusahaan miliknya akan dia serahkan pada anak anak mereka berdua.


Dan juga beberapa aset Sean yang kini sudah resmi menjadi milik sang istri. sungguh rasanya kepala Alvian terasa akan pecah. Dan dengan terpaksa dia menolak permintaan Om kecilnya itu dengan alasan tersebut.


Melihat keponakannya yang memang sepertinya tertekan, pada akhirnya pria paruh baya itu tidak bisa berbuat apa apa lagi. Dia tahu dari kecil Alvian sudah tertekan semenjak Oma Tamara meminta keponakannya itu untuk mengurus perusahaan papanya, sebelum akhirnya dia berinisiatif memegangnya untuk sementara sampai keponakannya itu mampu untuk memegangnya.

__ADS_1


Selain alasan lain yang masih menjadi rahasia, Tuan Adi juga merasa kasihan karena keponakannya itu terlihat sangat tertekan dan hampir mengalami stres. Bagaimana tidak tertekan, anak seusia Alvian yang masih belia harus berkutat dengan berkas berkas yang belum saatnya dia harus pegang.


"Baiklah Om tidak akan memaksa, tapi Om sudah tua Al, sudah tidak kuat lagi seperti dulu. Lagipula Om ingin beristirahat dirumah sambil menggendong cucu, tapi sayangnya sampai sekarang putra Om masih belum memenuhi keinginan Om." Ucapnya menyindir Bian yang sedari tadi hanya mendengarkan saja.


"Lah, kenapa jadi aku pa." Celetuknya tidak terima karena pembicaraan mereka beralih kepadanya.


"Kan memang benar, papa dan mama itu sudah tua Bi, dan juga usiamu sudah cukup matang, sudah waktunya kamu mencari seorang istri. Mau sampai kapan kamu akan terus melajang. Kasihan mama kamu selalu iri tiap melihat teman temannya yang sudah menikah dan mempunyai anak."


Bian mendengus, selalu saja seperti ini, kalau sudah begini pria muda itu hanya menghela nafas dan memijat keningnya yang mendadak migrain. Bagaimana mau menikah, pacar saja dia tidak punya.


Alvian tersenyum, dan sepertinya dia mempunyai ide. Sebenarnya sudah lama dia menginginkan adik sepupunya itu untuk keluar dari perusahaannya dan menggantikan Omnya. Namun selama ini dia belum mempunyai alasan yang tepat, dan sepertinya kali ini dia sudah mempunyai sebuah alasan yang tidak bisa dibantah oleh Bian.


"Om Adi benar Bi, sudah saatnya kamu yang memegang perusahaan menggantikan Om Adi. Kakak juga kasihan melihat Om Adi yang semakin tua. Dan kakak minta dengan segera kamu memikirkan apa yang menjadi keputusan kakak."


"Apa kakak memecatku ?" Tanyanya tak suka.


Bian terdiam mencerna semua perkataan kakak sepupunya, pandangannya berpaling pada wajah papanya yang memang nampak sudah menua. Gurat gurat lelah juga terlihat jelas, bahkan ada lengkungan warna hitam dibawah kelopak mata papanya menandakan jika waktu istirahat pria paruh baya itu memang berkurang.


"Baiklah, Bian akan menuruti permintaan papa dan kakak, tapi tidak sekarang. Bian akan menggantikan papa setelah semua urusan beres dan kondisi sudah aman. Bagaimanapun saat ini Bian masih membutuhkan pertolongan papa, mengingat pengaruh papa begitu kuat disini."


"Kalau masalah itu, kamu jangan khawatir nak, bahkan bila perlu papa akan menyerahkan nyawa papa untuk melindungi keluarga papa."


"Tidak Om." Sahut Alvian cepat, membuat kening pria paruh baya itu berkerut. " Kali ini Alvian tidak akan pernah membiarkan pria itu melukai keluargaku. Bukan Om yang harus melindungi kami, tapi kamilah yang akan melindungi Om dan semua keluarga Alvian Om."


Tuan Adi tersenyum senang, helaan nafas lega terlihat jelas diwajahnya.


"Baiklah om, sepertinya Al juga harus pergi, kasihan Aira sudah terlalu lama Al tinggal diapartemen."

__ADS_1


"Kamu tidak membawanya kerumah ? Kenapa harus diapartemen." Tanya Tuan Adi, ada rona khawatir diwajah pria itu namun secepat kilat dia menghilangkannya.


"Kami berdua ingin menghabiskan waktu bersama Om, kebetulan hari sudah malam jadi kami memutuskan untuk menginap diapartemen saja setelah pulang dari rumah orangtuanya Sean."


"Kakian berdua yang memutuskan atau kamu saja yang ingin bersama dengan istrimu itu Al." Cibir Tuan Adi pada keponakannya.


"Hahaha, Om tahu saja."


"Om itu mengenalmu dari orok Al, jadi sifat mesummu itu tentu saja Om tahu. Kamu itu sama seperti papamu, selalu lengket dan tidak pernah mau berpisah satu detikpun dari mamamu."


"Maklum pa, namanya juga pengantin baru, bawaannya pengen selalu berduaan." Cibir Bian dengan wajah jengahnya.


"Sudah pasti iya donk, kamu belum tahu saja Bi, bagaimana rasanya bercinta dengan pasangan halal. Itu rasanya tidak bisa diucapkan dengan kata kata. Pokoknya serasa dunia milik berdua saja, yang lain mah ngontrak." Goda Alvian mengompori adiknya.


"Cih, tidak perlu dijelaskan juga kali, menyebalkan." Cibirnya lalu bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dari ruangan papanya dengan wajah kesal.


Bagaimana bisa dia mengatakan semua itu dihadapan anak muda sepertiku yang masih polos ? Apa mereka tidak tahu kalau umurku masih muda begini, dan otak suciku harus tercemar dengan kata kata laknat itu.


Sungguh menyebalkan.


Sementara Alvian terkekeh melihat bagaimana raut wajah adiknya yang berubah kesal. Setelah dia berpamitan pada Omnya, Alvian pun mulai meninggalkan kantor papanya kembali pulang keapartemennya, meninggalkan Om Adi yang masih terdiam diruangannya.


Kamu terlihat sangat bahagia Al, semoga Aira memang jodoh yang disiapkan Tuhan untukmu. Om tidak tahu bagaimana perasaanmu nanti setelah mengetahui semuanya ? Rahasia itu Om tidak sanggup untuk menceritakannya padamu.


Tuan Adi nampak memejamkan kedua matanya, ada buliran air mata yang mengalir disudut matanya.


Kak, lihatlah apa yang kamu inginkan dulu menjadi kenyataan. Putramu akhirnya menikah dengan putri dari sahabatmu, kak Andi. Orang yang sudah menolongmu disaat kau kesusahan dulu. Apa kau bahagia kak Barra ? Aku mohon kali ini bantulah aku untuk menjaga putra dan menantumu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2