
Saat ini mereka sedang berkumpul dirumah Shakeil.Minus Ave.Ia kembali disibukkan dengan tugas kuliah yang sangat menumpukusai ditinggal keMagelang saat acara pelantikan Shakeil.
Untuk siang ini Ave tidak bisa ikut berkumpul,tapi entah dengan nanti malam.Jika tugas kelompoknya selesai siang ini juga,maka malam nanti ia akan ikut acara makan-makan dirumah Shakeil.
Tapi sepertinya tidak,mengingat banyaknya tugas yang sudah menanti Ave untuk segera diselesaikan.
Dan acara berkumpul itu untuk merayakan keberhasilan Shakeil dan teman-temannya.
Sejak kemarin Ave terpaksa tidur dikos-kostan yang ia sewa.Tempat itu ia pakai jika ia ada tugas seperti ini dan tidak memungkinkan untuk pulang.
Dan semenjak kepulangan Shakeil kerumah.Keduanya belum sempat bertemu.
Sebab,sepulangnya Ave dari Magelang,Ave langsung berangkat ketempat kostnya.Dan beberapa hari ini ia tidak pulang kerumah.
“Huh.Gini amat beratnya jadi calon dokter.”Gumam Ave.
Ting
Tanda ada pesan masuk.
Ada banyak sekali pesan yang masuk,sudah pasti ya g paling mendominasi dari Shakeil.
Ave segera melakukan panggilan video dengan Shakeil untuk melepas penatnya.
“Hallo sayang.”Sapa Shakeil.Layar ponsel Ave dipenuhi gambar wajah Shakeil.
Ave tersenyum melihat wajah tampan kekasihnya itu.
“Hallo juga.”Jawab Ave lesu.
“Jangan dipaksain kalau emang lelah!”Tegur Shakeil.Ia merasa sedikit kasihan karena melihat Ave yang sepertinya kelelahan.
Ave tersenyum dan menggeleng.Ini adalah cita-citanya.Menjadi anggota tim medis untuk para tentara.
Meski tidak mudah ia tetap semangat untuk menjalani ini semua.
“Aku seneng kok Sha.Kan cita-cita aku.”Jawab Ave.
“Tapi kami kelelahan banget loh.”Ucap Shakeil lagi.
“Sama seperti kamu saat pendidikan.Semua terasa menyenangkan karena hasil yang akan kita petik begitu indah.”Jelas Ave.
Belum sempat Shakeil menjawab,ponsel itu sudah direbut oleh Theo.
Dan dilayar ponsel Ave dipenuhi gambar wajah Theo dan Soga.
“Hallo abang-abang yang gantengnya cuma setengah-setengah.Soalnya yang gantengnya kelewatan cuma pacar aku.”Sapa Ave cengengesan.
Meskipun tidak melihat wajah Ave, Shakeil ikut tersenyum mendengar sapaan gilanya pada kedua temannya.
Theo mendengus kesal.Dan Soga berlagak ingin muntah.
“Sumpah perut gue poseng dengar ucapan lo.”Ucap Soga.
Pletak
Theo memukul Soga menggunakan buku yang ada didepannya.
“Perut mual oy.Bukan poseng.”Sahut Theo kesal.
Soga hanya tertawa cengengesan.
“Pan dia emang gitu bang.Rada-rada.”Imbuh Ave disertai tawa puasnya.
“Rada-rada apa coba?”Tanya Soga.
__ADS_1
“Rada-rada waras.”Jawab Theo dan Ave bersamaan.
“Njirrr.”Umpat Soga.
Theo dan Ave lalu tertawa terbahak-bahak karena berhasil memebuat Soga merasa kesal.
“Udah dulu.Tugas gue numpuk.Bye bye abang&-abang ganteng.”Ucap Ave lalu mematikan ponselnya secara sepihak.
Bukan tanpa alasan,terlalu lama menatap mata Soga membuat kesehatan jantungnya tidak baik.
Ave kembali membuka pesan yang belum sempat ia baca.
Salah satu nama pengirimnya membuatnya bimbang apakah akan membukanya atau tidak.
Setelah dipikir-pikir akhirnya ia buka juga pesan itu.
‘Jangan buat yang disini merasa khawatir karena tidak ada kabar dari Lo.’
Isi pesan dari orang itu.Ave menghela napas pelan.Ia takut laki-laki itu sampai salah paham akan kepeduliannya pada dia selama ini.
Ia sendiri juga bingung,kenapa setiap melihatnya selalu saja jantungnya berdebar lebih kencang.
'Tenang bang.Selalu jaga kesehatan kok.’Jawan Ave.
Pengirim pesan itu adalah Soga.Entahlah,Soga menganggap seperti apa kedekatan mereka selama ini.
Yang jelas,ia tak berharap lebih pada hubungan pertemanan mereka.
∆∆∆∆
Shakeil menepati janjinya untuk memberi kejutan pada Ave.
Tepat satu Minggu setelah ia menyelesaikan pendidikannya,diam-diam ia sudah merencanakan acara untuk melamar Ave.
Bersama Soga,ia menyiapkan kejutan itu.
Atas usul Soga,Shakeil memilih untuk melamar Ave di rumah Ave sendiri saja.
Ia turut melibatkan keluarga Ave.Lewat Agra ia mengatur semuanya.
Meskipun awalnya Agra menolak keras karena sekarang ia sudah tinggal diibukota,ia akhirnya setuju karena terus dipaksa oleh Shakeil dengan segala rayuan dari mulut manisnya.
Dengan terpaksa Agra pulang keBoyolali untuk sekadar menjelaskan rencana Shakeil tanpa memberi tahu Ave.
Ave sendiri yang mendengar Agra akan pulang terlihat sangat bahagia.
Tidak dapat dipungkiri,mahalnya biaya pendidikan untuk menjadi seorang dokternya Ave tidak lepas dari perannya Agra.
Meskipun kedua orang tua Ave masih snaggup,tetapi Agra bersekeukeuh untuk membiayai biaya kuliah adiknya itu.
Dan hari ini juga Agra langsung terbang keBoyolali agar rencana itu segera terlaksana.
Sesuai rencana.Acara akan diadakan malam ini.Sangat mendadak sekali.
Berbekal uang yang ia tanamkan pada usaha Agra dan kini ia sudah memiliki saham meskipun baru sekian persen,ia bisa menyiapkan semua ini.
Sejak awal ia sudah yakin jika Agra pasti bisa mengelola uang itu.Dan terbukti,kini Agra sudah semakin sukses.
Menjelan siang hari,ketika Agra datang,Ave langsung berlari dan memeluk sang abang yang sudah sangat lama tak ia temui.
“Oleh-olehnya.”Ucap Ave sambil menengadahkan tangannya.
Tentu ia hanya becanda.Tidak serius pastinya.
“Ck.Lo tuh ya.Oleh-oleh mulu.”Jawab Agra.
__ADS_1
Ave tak peduli.Ia masih terus memeluk lengan sang kakak.
"Kangen."Ucapnya manja.Bagaimana tidak,kini mereka sangat sulit sekali untuk sekadar bertemu.
Saat didalam rumahpun ia langsung berteriak memanggil kedua orang tuanya.
“Mama papa.”Teriak Ave keras sekali.
Agra bahkan sampai harus menutup telinganya karena suara Ave yang terdengar menggelegar.
“Bocah pengang kuping gue.Kagak ada berubahnya.Heran gue Shakeil bisa-bisa betah sama cewek macam lo.”Omel Agra.
“Kayak nggak ingat sama Ave aja sih bang.Toh Ave kan cantik jadi wajar Shakeil betah sama Ave.”Jawab Ave santai disertai cengiran kudanya.
Tak lama terlihatlah Arka dan Althaf.Melihat keberadaan Agra,Arka langsung berlari mendekati sang putra yang dulu paling manja.
Ia menangis diperlukan sang putra.Meratapi setiap kejadian dan kesalahan yang terjadi di beberapa tahun yang lalu.
“Ma,udah ya?Jangan nangis lagi.”Ucap Agra.
Sungguh ia tak tega melihat sang ibu menangis seperti ini.
Setelah itu terlihat Adam beserta Meidina juga Agam.
Agra sendiri langsung memeluk mereka.Sebenci apapun mereka tetaplah keluarganya.
“Ave pergi dulu kerumah Eshan.Bang jangan balik sebelum gue pulang lo.Atau Lo mau gue pecat jadi Abang gue?”Ucap Ave.
Ia segera meninggalkan rumah itu dan bergegas menuju rumah Eshan.
Berhubung Ave sedang pergi,Agra segera mengatakan semua rencana Shakeil yang sudah ia susun.
“Jadi Ave mau dilamar Gra?”Tanya Adam.Agra mengangguk.
“Nih ntar,pas tuh bocah pulang kalian kurung tuh anak dikamar.Tugas mama dandanin dia.Beri alasan apa saja agar dia tidak keluar kamar.
Sementara itu,gue bang Adam,papa dan em...bang Agam yang akan menyiapkan diluar kamar.”Jelas Agra.Sejujurnya ia sedikit canggung menyebut nama Agam.
“Moment yang pas buat mama ketemu sama calon mantu mama yang ganteng.Heheheh.”Goda Agra.
“Tapi masih gantengan papa lah.”Sahut Althaf.
Semua menatap Althaf dengan tatapan heran.Laki-laki tua ini bisa-bisanya percaya diri sekali.
“Gantengan anak gue lah.”Adam ikut menambahi.
“Yang paling tampan cukup Kaka.”Gumam Agra lirih sekali.
“Ngomong paan lo?”Tanya Adam.
“Kagak tuh.Paling ganteng emang cuma gue.”Kilahnya.
Sementara dirumah Shakeil,Andri dan Amel berserta kakek dan neneknya Shakeil sedang menyiapkan segala keperluan untuk acara lamaran.
Meskipun sudah lanjut usia,kedua orang tua Andri sangat semangat begitu mendengar calon besan Andri adalah Arka.
Shakeil sendiri juga sudah menyiapkan sepasang cincin yang sangat indah untuk Ave.
Untuk lamaran kali ini ia memesan sepasang cincin model ring.
YUK JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMENTAR YA
TINGGALKAN JEJAK KALIAN DIKOLOM KOMENTAR DAN LIKE
SALAM LOPHES AUTHOR
__ADS_1