
Begitu ia membuka mata,hal permata yang ia lihat tentu Shakeil yang sedang menatapnya.
Ave langsung berlari keluar dari cafe.
Rencananya gagal total karena ia justru menangkap basah Shakeil sedang bersama selingkuhannya.
Ave langsung pulang kerumahnya.Ia mengunci dirinya dikamar.
Menangis sejadi-jadinya mengingat ia sudah secinta itu terhadap Shakeil.
Sudah sesetia itu terhadap Shakeil.Tapi apa yang ia dapat?Pengkhianatan.
Hingga sore hari Ave bahkan tak keluar kamar.Tangisnya juga tak reda.Hal itu membuat Arka bingung.
Tok tok tok
“Ave sayang.Kamu kenapa nak?”Tanya Arka dari luar kamar.
“Av,kalau ada masalah cerita sama mama sama papa.Kita selesaikan baik-baik!”Imbuh Althaf.
“Dhek,Lo kenapa dah?Jangan bikin kita khawatir.”Ucap Agam yang juga ikut memanggil Ave.
Mendengar suara Agam,Ave tersenyum kecut.Ia jadi teringat kelakuan kakaknya yang sudah menduakan Kanaya.
Apa ini karma yang tuhan berikan untuknya?Rasanya tidak adil,Agam yang berbuat tetapi dirinya yang menanggung akibatnya.
Atau ini karma karena dulu Althaf begitu sering menyakiti hati para wanita,sehingga anaknya merasakan sakit yang sedemikian.
“Nak,mama mohon!Buka pintunya!”Mohon Arka lagi.”Atau mau minta Agra pulang?”Tanya Arka.
Mendengar nama Agra disebut Ave langsung beranjak menuju pintu.Ia tak mau abangnya yang satu berbuat nekad dengan langsung pulang atau bahkan mendatangi Shakeil.
Ceklek
Pintu kamar Ave dibuka.
Althaf,Arka dan Agam sama terkejutnya saat melihat mata Ave yang merah dan sembab karena usai menangis.
“Nak ada apa?Kamu kenapa?”Tanya Arka cepat.Ave langsung memeluk Arka erat.Lagi ia menangis.
Ave menggeleng.Ia belum siap untuk menceritakan semuanya pada keluarganya.
“Ave mau tidur ya ma.Capek.”Izin Ave pada mamanya.
“Makan dulu.”,Jawab Arka.
“Nggak laper.Cuma ngantuk.”Jawab Ave lantas segera menutup pintu kamarnya.
Ia merebahkan badannya diatas kasur kesayangannya.Ia masih terpukul akan apa yang baru saja terjadi.
Ia menghela napas.Ponselnya sedari tadi berkedip tanda ada pesan masuk.
Melihat siapa nama pengirimnya,Ave tersenyum kecut.Tidak ada satupun pesan ia buka atau balas, nomor Shakeil langsung ia blokir.
Tak sengaja matanya menangkap fotonya bersama Shakeil yang terpajang didalam pigura diatas meja.Mereka tersenyum manis.Terlihat sangat bahagia.Tetapi Nyatanya orang yang paling dekat dengannya justru ia yang menancapkan luka paling dalam.
Ia menutup pigura itu.Didalam kamar itu terdapat banyak sekali barang kenangan dari Shakeil.
Ia sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya,itu artinya ia akan mengembalikan semua barang-barang itu.
Ave keluar kamar,mencari kardus besar yang ada di gudang.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari,ia kembali masuk kedalam kamar.
Mulai dari semua foto-foto lalu barang-barang dari yang sepele hingga barang yang sangat ia sukai.Termasuk boneka besar yang dulu Shakeil delivery ketika Shakeil masih pendidikan.
Setelah semua barang yang terkumpul hingga satu kardus penuh bahkan sampai tidak bisa ditutup.
Setelah selesai,Ave memutuskan untuk tidur.Esok hari ia akan pergi kerumah Shakeil untuk mengembalikan barang-barang itu.
Keesokan harinya,
Ave bangun dengan mata yang lebih bengkak,sungguh keadaannya sangat tidak baik.Siapapun yang melihatnya pasti tahu jika Ave habis menangis semalaman.Nyatanya memang begitu.Semalam usai pukul 23.00 ia terbangun dan menangis hingga menjelang subuh.
__ADS_1
Tanpa sarapan ia sudah bersiap dengan pakaian yang rapi.Ia memoles wajahnya dengan amke up yang sedikit lebih tebal dari biasanya agar matanya yang bengkak tidak terlalu terlihat.
Kemudian ia keluar kamar,memanggil tukang kebun untuk mengangkat semua barang itu.Beruntung belum ada yang bangun karena Ave memang bangun lebih pagi.
Setelah barang masuk mobil,Ave tidak langsung berangkat.Ia masuk kedalam rumah.Nanti setelah keluarganya bangun,ia akan menceritakan semuanya.Termasuk ia yang sudah mengakhiri hubungannya dengan Shakeil.
Pukul 07.33 mereka semua sudah siap diruang tamu.Karena tadi Ave memang sudah mengatakan jika ia menunggu diruang tamu.
“Ada apa nak?”Tanya Althaf.
Ave menarik napasnya dalam.Lalu menghembuskan secara perlahan.Ia mengulanginya beberapa kali.
“Afsheen putus dengan Shakeil ma,pa.Afsheen memutuskan untuk mengakhiri pertunangan kami.”Ucap Afsheen menggantung.
Semua terbelalak kaget mendengar penuturan Afsheen.
Diam-diam Agam merekam pembicaraan mereka saat ini.Ia akan mengirimkan rekaman itu keAgra,agar Agra bisa membantu menyelesaikan.
“Dia selingkuh ma,pa.Maaf.Untuk perselingkuhan Afsheen benar-benar tidak bisa memaafkan.”Lirih Ave yang sudah mulai berkaca-kaca.
“Kamu dapat informasi dari mana nak?”Sahut Arka cepat.
“Dari telinga dan mata kepala Afsheen sendiri ma.Kemarin,saat pulang dari Surabaya Afsheen mampir kemall buat nyari barang.Karena lapar Afsheen memutuskan untuk makan terlebih dulu.
Baru juga Afsheen masuk,Afsheen langsung melihat pemandangan itu.Ketika mereka berdua sedang bermesraan.Bahkan dia memanggil selingkuhannya dengan sebutan sayang juga.”Jelas Afsheen.
Untuk membuat anaknya tidak merasa terpojok,Arka dan Althaf hanya bisa mendukung setiap keputusan yang Afsheen ambil.
"Tapi kamu sudah yakin?"Tanya Arka lagi.
Afsheen mengangguk.Meski ada keraguan,ia tetap mengangguk.
“Ma,pa.Afsheen hari ini juga mau mengembalikan smeua barang-barang darinya.Juga mau menjelaskan sama mama dan papa.”Ungkap Afsheen.
“Boleh mama minta satu hal?”Tanya Arka.Afsheen mengangguk.
“Kamu boleh putus sama Shakeil,tetapi tidak dengan keluarganya.”Pinta Arka
“Insya Allah ma.”Jawab Afsheen.”Afsheen berangkat ya ma.”Pamit Afsheen lagi.
“Papa yakin,setelah ini Afsheen bakal jadi pribadi yang dingin.”Gumam Althaf.
“Sama sepeti kamu dulu kan pa?”Sahut Arka cepat.
“Itu semua juga ada hubungannya sama kamu ma.”Jawab Althaf enteng.
“Heh mama?Kapan mama meminta papa jadi seperti itu?”Tanya Arka lagi.
Agam hanya bisa menyaksikan perdebatan unfaedah kedua orang tuanya itu.
Karena malas ia memilih meninggalkan kedua orang tuanya.
Didalam kamar,Agam mengirimkan rekaman percakapan mereka tadi keAdam juga Agra.
Dilain sisi,saat Ave sudah tiba didepan rumah Shakeil,ia tak langsung keluar dari mobilnya.
Melihat rumah itu sama saja mengingat setiap kebersamaan mereka.
Tetapi ia ingin semua selesai segera.Agar ia bisa kembali menata hidupnya.
Beruntung,tukang kebun keluarga itu lewat sehingga Ave bisa meminta tolong untuk mengangkat kardusnya.
Afsheen memencet bel rumah,tak lama pintu terbuka.Amel yang melihat kedatangan Afsheen dengan keadaan yang berbeda cukup terkejut.
Ia akan bertanya itu nanti,yang penting sekarang mereka harus segera masuk.
Didalam rumah,terlihat Andri dan Dody sedang duduk bersama.Melihat kedatangan Afsheen,Dody segera berdiri hendak memeluk Afsheen.Tetapi Afsheen justru mundur beberapa langkah sebagai tanda penolakan.
Hal itu cukup menarik perhatian semua orang Afsheen yang biasanya kalau datang langsung teriak-teriak juga kini hanya diam saja.
“Duduk dulu!Biar abang panggilkan Shakeil.”Ucap Dody.Namun cepat dicegah oleh Afsheen.
“Nggak usah bang.Cuma bentar kok.Mau langsung pulang.”Jawab Afsheen mencoba setenang mungkin.
__ADS_1
Tak lama tukang kebun keluarga Andri masuk membawa kardus besar yang Afsheen bawa dari rumah.
“Mau ditaruh mana non?”Tanyanya.
“Sini aja pak.”Jawab Afsheen sambil menunjuk tempat kosong disamping ia duduk.
“Afsheen cuma mau mengembalikan ini om,tante.Maaf tapi Afsheen memutuskan untuk mengakhiri hubungan Afsheen dengan anak om da tante.
Ada satu hal yang tidak bisa Afsheen jelaskan,silahkan om dan tante menanyakan hal itu pada anak om dan tante.
Terimakasih selama ini sudah menganggap Afsheen seperti keluarga sendiri.Dan mungkin tali silaturahmi kita cukup sampai disini.
Afsheen pulang.Afsheen pamit.”Jelas Afsheen langsung pada intinya.
Semua jelas tercengang mendengar apa yang Afsheen ucapkan.
Mengakhiri?Hubungan mereka?
Afsheen berdiri,ia mendekat kearah Dody.Sebagai sosok calon abang ipar rasa abang kandung tentu kedekatan keduanya tidak perlu ditanyakan.
Didalam pelukan Dody tangis yang Afsheen tahan akhirnya pecah juga.
Melihat itu Andri dan Amel semakin heran.
“Hey kamu kenapa Av?”Tanya Dody yang masih memanggil Afsheen dengan panggilan Ave.Asfheen menggeleng.Ia melepaskan pelukan itu lalu bergantian memeluk Andri dan Amel.
Baru saja ia melangkah satu langkah terdengar suara Shakeil memanggilnya.
Keadaannya sama kacaunya dengan Afsheen pagi tadi.
Sekilas ia terlihat seperti gembel.
“Av.”Panggil Shakeil.
Ave menghentikan langkahnya.Memejamkan matanya sejenak untuk mengurangi rasa sakit yang langsung ia rasakan kembali begitu Shakeil memanggil namanya.
Shakeil sendiri langsung berlari ingin memeluk Afsheen dari belakang.
“Stop!”Teriak Afsheen dengan intonasi suara yang cukup tinggi.
Seketika Shakeil memaku mendengar teriakan Afsheen.
Plak
Satu tamparan Shakeil dapatkan dipipi kirinya.
Plak
Satu tamparan lagi Shakeil dapatkan dipipi kanannya.
“Lo manusia nggak punya hati.Kurang apa gue selama ini hah?Hanya dalam waktu dua bulan lo hancurin semuanya.Bajing*n.”Umpat Afsheen.Bahkan kata sekasar itu baru kali ini ia ucapkan.
“Lo cowok brengsek.Heh.Gue salah udah sesabar ini nunggu Lo.Kita bubar.”Teriak Afsheen lagi.Kali ini berteriak dengan sangat kencang.
Usai mengatakan hal itu Afsheen berlari keluar rumah.
Didalam rumah, Shakeil terpaku akan ucapan Afsheen yang mengatakan jika mereka putus.Ia pikir kemarin Afsheen berkata demikian hanya karena emosi,nyatanya hari ini ia ulangi kembali kata-kata itu.
“Sha,Lo ada apa sama Ave?”Tanya Dody penuh selidik.
“Ave mengembalikan cincin lamaran gue bang.”Jaeab Shakeil lirih.Ia langsung terduduk dilantai.
“Masalahnya apa nak?”Tanya Amel lembut.
Ia cukup mengenal Afsheen,tidak mungkin Afsheen akan mengambil keputusan yang sedemikian kalau bukan karena hal yang besar.
“Shakeil ketahuan selingkuh.”Lirih Shakeil.
Mata Andri dan Dody membulat sempurna mendengar ucapan Shakeil.
“Selingkuh?”Ulang Dody.Dan Shakeil hanya bisa mengangguk.
“Mama kecewa sama kamu.”Lirih Amel.Ia seketika menangis dan berjalan menuju kamar.
__ADS_1
“Keberhasilanmu menjadi seorang tentara ternyata membuat kamu lupa akan wanita yang menemani kamu dari nol.”Imbuh Andri.
“Kalau saja Lo bukan adik gue,lo sudah habis ditangan gue.Lo bodoh.Kelewat bodoh malahan.”Sungut Dody uang merasa masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.