Dari Sahabat Keakad

Dari Sahabat Keakad
Episode 21


__ADS_3

Sejak pagi Arka sengaja menonaktifkan ponselnya.Dan baru ia aktifkan saat berhenti diwaroeng star steak yang terletak diseberang jalan candi Prambanan.


Meskipun bernama star steak,menu yang disajikanpun bukan hanya steak saja.


Begitu ponselnya diaktifkan nada pesan masuk terdengar cukup lama tanda begitu banyak pesan yang masuk.


"Ar,penggemar lo berapa sih?"Tanya Azka karena terkejut mendengar nada pesan diponsel Arka.


"Satu aja udah bikin pusing Ka."Keluh Arka.Lalu ia menundukkan kepalanya diatas meja.Bingung dengan posisi dia sekarang.


"Gaya lo Ka."Sahut Asen mencoba mencairkan suasana.


“Masalah gue kali ini cukup pelik.”Lirih Arka.


"Hidup Lo ribet semenjak Arga dan Rhandra masuk kedalam hidup Lo."Cibir Azka.


Tiba-tiba terdengar suara deheman dari seseorang.Suara yang sangat Arka kenali.Yang membuatnya jantungnya maraton setiap kali berdekatan.Yang membuatnya merasa bahagia tetapi kadang sedih pula.Yang membuatnya seketika mendongakkan kepala.Dan yang membuat suasana hatinya cepat sekali berubah ketika melihat senyumnya.


"Ehm."Suaranya terdengar jelas ditelinga Arka.


"Kakak?"Sahut Arka tanpa sadar.Matanya membulat sempurna saat melihat wajah tampan Dedy yang terlihat jauh lebih muda dari umurnya.Apalagi dengan style Dedy yang tidak seperti saat disekolah,bisa buat cuci mata.


Dedypun langsung tersenyum manis saat melihat Arka yang terkejut akan keberadaannya.Senyum yang yakin deh akan membuat siapa saja yang melihatnya meleleh.


"Boleh gabung?"Tanya Dedy.


"Bapak sendiri?"Tanya Althaf.


"Begitulah.Tadi saya dari bandara mengantar saudara.Dan entah karena apa saya tiba-tiba ingin makan disini."Jelasnya.”Eh tidak tahunya ada kalian.”Lanjut Dedy.


"Silahkan pak!Gabung saja."Ajak Azka.Dedypun segera duduk didekat Arka.Yang jujur saja membuat Arka merasa gugup.


"Eh bentar tadi lo nyapa pak Dedy apa?"Tanya Asen tiba-tiba."Kakak?Maksudtnya apa dah Ka?"Asen masih mencoba mengintrogasi.


Ia takut indera pengembaraannya sudah bermasalah.


"Itu salah ucap mungkin dia.Kan mau nyapa bapak jadi kakak.Ya kan Ka?" Sahut Althaf mencoba membantu Arka yang terlihat sulit menjawab.


Arka tersenyum dan memamerkan deretan gigi putihnya.


60 menit berlalu.Mereka sudah selesai makan.Tetapi sengaja tak langsung pulang dan ingin sekedar mengobrol.


Arka merasa de Javu dengan suasana seperti ini.Saat ia diajak Dedy makan dinasgor 212.Perasaannyapun juga terasa gugup.


Ting


Pesan masuk ke ponsel Arka.


*Dedy*


'Jalan berdua bentar yuk!'


‘’Rindu.’


*Arka*


'Jangan bilang rindu,orang udah duduk sebelahan juga.'


Arka heran dengan Dedy,bisa-bisanya Dedy mengatakan rindu disaat mereka sedang makan dalam satu meja.


Arka justru mengirimkan pesan pada Althaf.

__ADS_1


*Arka*


'Al kak Dedy ngajak gue jalan.Gimana ini?Gue sih pengen banget.Hehehe'


Membaca pesan dari Arka,Althaf hanya tersenyum.


*Althaf*


'Kita gas ketebing Breksi gimana?Nggak jauh kok.Ntar anak-anak biar gue yang urus'


*Arka*


'Ok.Thanks ya Al**thaf ganteng.'


Arka jelas sangat bahagia,ia akan melihat indahnya senja dari ketinggian dan itu bersama Dedy.Lalu ia segera mengirim pesan ke Dedy.


*Arka*


'Kita gas keBreksi dulu ya kak?Biar Asen sama Azka nggak curiga'


*Dedy*


'Iya.Asal sama kamu, kemana pun saya mau.'


Arka berdecih membaca pesan dari Dedy yang menurutnya lebay.


"Ke Breksi yuk.Dibayari pak Dedy.Mumpung gratis."Ajak Althaf.


"Beneran pak?"Sahut Asen dan Azka bareng.


“Eh.”Dedy terkejut dengan ucapan Althaf barusan,tetapi saat melihat kode dari Althaf,Dedy akhirnya mengiyakan.


Tak sampai 30 menit mereka sudah sampai diTebing Breksi.Tempat yang indah untuk menikmati quality time bersama pasangan.


"Oy Arka mau lo taruh mana?Tadi udah kita tinggalin,masa iya sekarang kita tinggalin lagi."Sahut Azka sambil menepuk pelan pundak Althaf.


"Udah ayo.Pak nitip Arka ya."Kata Althaf.Ia bahkan sudah menarik tangan Azka dan Asen meski belum mendapat persetujuan.


Setelah ketiganya tidak kelihatan,Dedy segera membawa Arka menuju kesalah satu tebing.


Saat berjalan beriringan,Dedy beranikan untuk menggenggam tangan Arka.Meskipun sedikit terlonjak,Arka berusaha untuk tidak terlalu gugup.


Bahagia.Hanya kata itu yang mewakili perasaannya.Ia sangat bahagia dengan kesempatan ini.Kesempatan bisa bersama orang yang ia cintai hanya berdua saja.


"Kenapa?Tidak nyaman?"Tanya Dedy menyadari rasa canggung pada Arka.


Arka menghentikan langkahnya,membuat Dedy juga menghentikan langkah.Lalu ia membalikkan badannya dna menatap wajah murid yang menjadi pujaan hatinya itu.


Ditatapnya mata Dedy dalam-dalam.Seakan mencari suatu ketulusan disana.


Mendapat tatapan yang berbeda dari Arka,Dedy langsung tersenyum manis.


"Kenapa Arka?"Tanya Dedy lalu mengelus puncak kepala Arka.


Arka menggelengkan kepalanya.


“Kita naik kebukit dulu.Baru bicara disana.”Ajak Dedy dan Arka menurut.Arka menurut saja.Mengikuti langkah Dedy yang berjalan menuju bukit.


"Kak,maksudt dari kedekatan ini apa sih?Sekedar antara murid dan guru atau..."Kata Arka setelah mereka sampai diatas bukit dan duduk disalah satu kursi.Tetapi belum selesai sudah dipotong Dedy.


“Sssttt...”Potongnya sambil menaruh jari telunjuknya dibibir Arka.

__ADS_1


"Lebih dari itu.Tapi saya sadar dan ingat betul akan status kita.Jadi saya harap pengertian kamu."Jelasnya.


Hal itu tentu tidak langsung dimengerti oleh Arka.Ia masih bingung kenapa cinta seolah mempermainkannya seperti ini.Kenapa disaat ia merasa cinta berada di pihaknya,situasi semesta seolah tidak mendukungnya.


“Kalau saja kita tidak terikat disatu lingkup sekolah.Meski kamu masih seorang murid,pasti akan saya perjuangkan lebih dari ini.Tetapi karena kita berada ditempat yang tidak menyetujui kita memiliki ikatan,hanya sebatas ini perjuangan saya.Kamu paham kan?”Tanya Dedy.


“Tapi saya takut.”


“Takut kenapa?”


“Kakak pindah ke lain...”


Cup


Ucapan Arka terhenti karena bibir Dedy sudah menempel dibibirnya.


Saking terkejutnya,Arka hanya diam saja tak merespon juga tidak melarang.


“Percaya sama saya!”Ucap Dedy begitu bibir yang menempel itu terlepas.


Hanya menempel.Tidak lebih.Ia masih tahu batasan.


Arka mengangguk.Jujur ia sangat gugup


karena tindakan Dedy yang berani beberapa detik yang lalu.


Keduanya menghabiskan waktu dengan melihat senja dari atas tebing.


Arka menyandarkan kepalanya dipundak Dedy.Sambil terus melihat matahari yang perlahan menghilang bergantian dengan langit senja.Tangan keduanya saling menggenggam,seolah tidak rela jika hari akan berakhir.


'Senja,sinarmu akan menjadi saksi dimana aku menemukan seseorang yang mencintaiku,menerimaku apa adanya.Meski kami tirak bisa terikat dalam satu ikatan.Terimakasih,karena sudah menjadi saksi bisu kisahku dengan laki-laki yang teramat aku cintai ini.’Ucap Arka dalam hati.


'Senja,bolehkan aku meminta agar waktu berhenti sekejap saja?Aku hanya ingin lebih lama bersamanya.'Dedy


Dan usai adzan maghrib mereka kembali keparkiran.


"Kita maghrib berjamaah ya?"Ajak Dedy begitu mereka berkumpul.


Keempatnya mengangguk dan bergegas menuju mushola terdekat.


Waktu terus berjalan sebagaimana mestinya.Althaf yang masih menjadi playboy ulung.Arka dan Dedy yang semakin dekat meski tanpa kejelasan status.


Asen dan Azka yang masih belum mengetahui perihal kedekatan Arka dan Dedy.


Hingga masalah kecil timbul tatkala masa lalu Dedy dan mengganggu ketenangan Arka juga Dedy.


Suatu hari diSMA Nusa Bangsa


Arka dkk sedang berjalan menuju warung tempat tongkrongan mereka didepan sekolah.Sambil sesekali bercanda membuat mereka tertawa.


Hingga tak sengaja Arka yang sedang berjalan mundur hampir saja menabrak seseorang kalau saja tidak ditarik Althaf.


"Oy jalan hati-hati!"Omel Asen."Maafin teman kita ya kak?"Kata Azka.


Arka hanya memincingkan mata melirik perempuan itu.Entah kenapa ia langsung merasa tidak suka dengan perempuan disampingnya itu.Padahal ia bertemu juga baru ini.


Dilihat dari penampilannya,sepertinya bukan perempuan dari kalangan bawah.Wajahnya cantik,kulitnya putih mulus bak porselen.Pasri sering perawatan.


"Sorry bisa kasih tahu ruangan Dedy?"Tanyanya dengan sedikit angkuh.


"Pak Dedy Whahyudha Firdaust?"Tanya Arka memastikan.Padahal disekolah tersebut guru bernama Dedy hanya satu.

__ADS_1


Perempuan itu hanya mengangguk.Althaf yang sedari tadi diam mulai menangkap sinyal kecemburuan dimata Arka.Sehingga Althaf berniat mengajak ketiganya kabur tanpa memberi tahu keberadaan Dedy.


__ADS_2