
Dari nada bicaranya yang dingin,sungguh aku berharap dia orang yang aku pikirkan.Meski aku sadar itu bukan suaranya.
Aku mendongakkan kepalaku.Melihat siapa perempuan itu.Wajahku seketika berubah menjadi kecewa.
Ahh.Aku terlalu berharap jika dia Ave Nyatanya bukan.
Bersamaan dengan itu kudengar suara pintu dibuka.
“Lo mau karyawan Agra salah paham dengan elo terduduk lesu disini?Udah kayak gembel tahu nggak Lo?Dengerin apa yang Agra ucapin,mungkin tidak sekarang.Tapi pada waktunya tu anak bakal ngasih tahu elo.Sabar-sabarin diri Lo aja!”Ucap Enggar.
“Minggir sono!Dah kayak pintu rumah Lo aja.Duduk ditengah jalan“Omelnya.
Dalam hati aku merutuki sikap Enggar yang menyebalkan itu.Tetapi aku tidak membencinya.Seperti apapun permasalahan kami,kami tetap sahabat.
“Gue balik.Kalau sampai Lo dapat kabar kematian dari rumah gue Lo harus dateng!”Racauku asal.
Pletak
“Auwww...”
Enggar sialan.Dia malah memukul kepalaku menggunakan dokumen ditangannya yang ia gulung.,
“Emang Lo udah punya pahala yang akan lo bawa kalau Lo mati?”Tanyanya.
Seperti itulah kami.Sekasar apapun ucapan-ucapan dari mulut kami,kami tidak akan sakit hati.Karena hal seperti itu sudah biasa.
“Gue punya kenalan orang dalam.”Jawabku semakin asal.
“Sembarangan.Perasaan tadi gue mukulnya kagak keras deh ,kenapa otak Lo jadi geser gini sih?”Tanyanya.
“Mulut Lo yang sembarangan.”Ucapku.
Kami terus berdebat tanpa sadar gadis itu menyaksikan perdebatan tidak penting kami.
“Berisik!!!”Teriak Agra dari dalam ruangan.Seketika kami diam.
“Diem Lo Nggar.Singa jantan lagi PMS.”Ucapku asal.Aku langsung berlari meninggalkan tempat itu.Sebelum Agra benar-benar membunuhku.
Dari kantor Agra,aku langsung pulang.Meski badanku terasa sangat lelah,tetapi aku tidak peduli.
__ADS_1
Prioritasku saat ini memperbaiki diri,menjadikan diri lebih baik dan berharap semoga masih ada kesempatan untuk bertemu dan memperbaiki hubunganku dengan Ave.
Dikota tempat tinggalku,tentunya aku langsung pulang kerumah dinasku.Mana mungkin aku pulang kerumah,jika keluargaku saja seolah menolak keberadaan ku.
‘Sungguh menyedihkan sekali nasibmu Sha.’Pikirku dalam hati.
Hari-hari aku lewati dengan sangat menyedihkan.
Kalaupun aku tersenyum itu juga hanya topeng,agar mereka mengira aku baik-baik saja.
Meski sebenarnya jauh dari kata itu.
Sampai saat ini meski sudah berbulan-bulan belum juga kutemukan keberadaan Ave.
Hubungan persahabatanku dengan Soga jelas terusik karena masalah kemarin.Dan entah tugas dimana dia sekarang.
Untuk Theo,aku sangat menyesal karena sampai saat ini atasanku belum juga memberikan kabar perihal keberadaan Theo.Apakah dia selamat,atau tidak.Jika memang tidak,dimana letak kuburnya,jika memang selamat dimana ia berada sekarang.
∆∆∆
Afsheen POV
Dan setelah selesai koas,aku dan Tiwi mengajukan untuk ditugaskan ke Wonosobo.Kota dingin yang dulu sangat ingin aku kunjungi.
Tidak terasa sudah satu tahun aku berada dikota ini.Wonosobo.Bukan dikotanya aku berada,melainkan disebuah pemukiman yang cukup terpencil.Memang jaringan internet sampai disini.Tetapi untuk bisa sampai disini membutuhkan waktu yang lama dan tentunya kendaraan yang benar-benar sehat.Hehehehe
Bersama Tiwi aku mengabdi ditempat ini.Sungguh diawal-awal kami sangat kesulitan menyesuaikan diri ditempat ini.
Tetapi seiring berjalannya waktu,kami mulai terbiasa.
Apalagi baru-baru ini aku dan Tiwi ditemani seseorang yang bahkan tidak pernah aku pikirkan.
Kalian tahu siapa dia?
Dia bang Soga.Sogala.Teman Shakeil yang rela mengajukan surat tugas kesini.Entah menggunakan alasan apa hingga surat yang ia ajukan disetujui.
"Begitu gue denger Lo ditugasin kesini,gue langsung ngajuin surat tugas gue kesini pula.Demi elo,cewek yang gue anggep macam adik gue sendiri."
Seperti itulah ia berkata dulu sewaktu aku tanya kenapa bisa sampai disini.
__ADS_1
Tetapi aku tidak peduli bagaimana ia membujuk atasannya,yang jelas dengan adanya dia aku bisa sedikit melupakan kesedihanku.
Dia berkata jika selama 3 tahun ini berusaha membunuh rasa itu.Bersyukurnya aku ia berhasil menghilangkan perasaannya padaku.
Jadi dia kembali menganggap ku seperti adik.
Bang Soga mengganti namanya menjadi Gala.
CK.Udah kayak lagu dangdut aja.
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-gala-gala-galanya
Etdah kenapa aku jadi nyanyi sih?Dangdut lagi.
Dan dari situ akhirnya kami harus terbiasa memanggilnya bang Gala.
Jika sednag menggodanya aku sering memanggilnya sambil bernyanyi lirik lagu diatas.
Sedikit banyak dikota ini aku bisa melupakan rasa sakit akibat dikhianati.
Ingat,melupakan rasa sakitnya.Bukan menghilangkan perasaanku padanya.
Karena pada nyatanya aku bahkan tidak bisa barang mengurangi sedikit saja perasaanku padanya.
Ck.Memang bodoh dengan terlalu mencintai bersanding berselebahan seperti benci dengan cinta.Sangat tipis pemisahnya.
Semoga saja kedepannya aku bisa mendapatkan laki-laki yang tentunya lebih baik dari Shakeil.
***pantesan Ave kagak bisa move on,manis banget senyumnya.
bungkus satu ah bawa pulang***
__ADS_1