Dari Sahabat Keakad

Dari Sahabat Keakad
S2 Episode 55


__ADS_3

Satu Minggu berlalu,Ave masih tetap belum mau untuk bangun dari ketidaksadarannya.


Ternyata kabar perihal banyaknya tentara Indonesia yang gugur dimedan perang benar-benar membuat Ave terpukul.


Arka tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan anaknya itu.Ia sangat tidak mau anaknya merasakan


Agra yang sejatinya sudah tinggal diibukota pun langsung pulang kampung begitu mendengar kabar tentang keadaan Ave.


Dan disinilah ia sekarang.Bersikekeuh selama ia disini ingin menunggu Ave.


Sebab,waktunya dikota ini tidak lama.Perusahaan dan anak-anainya tidak mungkin ia tinggal dalam waktu yang lama.


“Av bangun Napa sih?Tidur Mulu kagak bosen lo?”Ucap Agra saat duduk siamping brankar Ave.


“Gue aja nih ya yang nungguin elo bosen.Kenapa elo yang tidur mulu enak-enak aja sih?”Ucapnya lagi.


“Gue yakin,Shakeil kalau tahu hal ini bakalan marah elo Av.”


“Bangun dong Av.Ah elo mah gitu.Gak asik”


“Gue janji,kalau elo sadar gue temuin elo sama kembar.”Lirih Agra.Sangat lirih.Bahkan mungkin jika Ave sadar hanya ia dan Ave yang mendengar.


“Dahlah.Bosen gue.”Pasrah Agra.


Jari Ave bergerak menandakan ia merespon ucapan Agra.


Saat Agra sudah memegang knop pintu.Suara panggilan seseorang membuatnya langsung berbalik.


“Setelah gue koas bakal gue tagih janji Lo bang.”Ucap Ave.


Meski baru sadar,Ave langsung bisa bicara cukup keras.Toh ia tidak sadar bukan karena kecelakaan,tetapi karena terkejut saja karena mendengar berita perihal keadaan diLebanon.


“Wo wo wo...”Ucap Agra sambil bertepuk tangan.Ia tidak menyangka ucapannya akan membuat Ave langsung sadar.


Agra saja yang tidak tahu jika sebenarnya Ave sudah sadar sejak pertama kali Agra menggerutu.


“Tahu gitu gue ucapin aja kalimat itu dari kemarin-kemarin ya?”Gumam Agra sambil bertopang dagu.


“Ceh.Elo aja yang beg*k yang kagak sadar kalau gue udah siuman sejak tadi.”Jawab Ave sambil tersenyum.


“Weh...Maksud Lo?”Sahut Agra cepat.


Ave hanya cengengesan.Selama ia tidak sadarkan diri,ia bermimpi sedang bermain-main dengan Shakeil.


Entahlah apa maksudnya,yang jelas selama hampir satu minggu ini ia bermimpi terus bersama Shakeil,makanya ia enggan bangun.


Meski sebenarnya dialam bawah sadarnya ia mendengar suara-suara yang memintanya untuk bangun.Tetapi ia lebih memilih untuk bermain dengan Shakeil.


“Lo yang kuat.Belum ada kabar dari sana perihal Shakeil termasuk tentara yang gugur kan?”Tanya Agra lembut.Ave menggeleng.


Air mata langsung menetes begitu saja.


“Udah kagak usah cengeng.Masa’ lo kalah sama kembar?”Ledek Agra.Ia langsung memeluk sang adik.


“Sialan lo bang.”Gerutu Ave."Bedalah gue sama mereka.Kalau mereka mah emang belom ngarti apa-apa."Lanjutnya.


Keduanya langsung tertawa bersama.Setidaknya rasa takutnya perihal Shakeil sedikit berkurang dengan adanya Agra.


“Wisuda gue datang.”Kata Agra lagi."Promise."Janji Agra bersungguh-sungguh.


“Ck.Gue nggak nyangka elo udah sarjana sedang gue boro-boro sarjana.Skripsi juga judulnya ditolak mulu.”Curhat Agra.


“Lah salah lo sendiri yang nyari uang terus.”Jawab Ave santai.Belum sempat Agra menjawab,terdengar suara pintu dibuka.


Ceklek

__ADS_1


Arka langsung memeluk putrinya begitu melihat Ave yang sedang duduk diatas brankar rumah sakit.


Dia menangis sesegukan sambil terus mencium puncak kepala Ave.


"Ma,i'am okay.Sangat okay."Ucap Agra meyakinkan Arka.


Tak lama terlihat Althaf,Adam,Agam dan Kirana yang datang menyusul Arka.


Suasan canggung langsung menyelimuti ruangan tempat Ave dirawat begitu Agra melihat Agam dan Kirana.


Tetapi Arka sedang tidak memperdulikan hal itu, yang jadi fokusnya sekarang baru Ave.


Tanpa sepatah kata Agra keluar dari ruangan.Beruntung ponselnya berbunyi,sehingga ia bisa menggunakan hal itu sebagai alasan.


Tak lama Agra terlihat masuk kembali.Ternyata ia hanya ingin berpamitan pada semuanya.


“Pa,ma Agra mau balik.Enggar telpon katanya ada masalah.”Ucap Agra.Ia hanya berdalih agar bisa segera pergi dari tempat itu.


Dia merasa sedikit tidak enak hati pada Arka dan Althaf selaku orang tuanya.


“Bang.Nggak bisa ya lo lupain bentar urusan kantor demi kita.”Pinta Ave tanpa melihat Agra.


“Av...”


“Ya sudah pergi sono lo!”Usir Ave dengan ketus.


“Ma,pa maaf ya?”Ucap Agra penuh penyesalan.Ia mendekat mencium kening Ave lalu memeluknya sekilas.


"Kagak usah peluk-peluk.Hak patennya Shakeil ini."Dengus Ave.


Arka dan Althaf mengangguk.


Sebelum pergi,Agra juga bersalaman dengan Adam.Meski rasa benci itu masih ada,tapi ia masih menghargai Agam sebagai kakaknya.Sehingga ia juga bersalaman dengan Agam dan Kirana.


"Duluan."Pamitnya.Agam mengangguk begitu juga Kirana.Sejujurnya Agam belum terlalu paham akan kesalahannya pada Agra.


Ia masih terus mencoba mencari informasi perihal keadaan Shakeil dan Theo disana.


Ia tidak ahanya khawatir pada Shakeil,tetapi juga Theo.Meski Shakeil yang lebih mendominasi,tetapi Theo juga tak kalah penting baginya.


Hingga tak disangka sudah waktunya wisuda.


Tidak hadirnya Shakeil saat wisuda adalah mimpi buruknya.


Dihari kelulusannya Shakeil tidak pernah bisa menyaksikan ia telah berhasil.


Jika dulu ia masih bisa marah pada Shakeil,untuk kali ini jika ingin marah ia bingung harus marah pada siapa.


Seluruh anggota keluarganya datang.Arka,Althaf,Adam beserta anak istrinya,Agam,Agra dan Kirana datang.Bahkan keluarga Shakeil pun juga datang.


Sayang Agra tidak mengajak sikembar.Bisa heboh nanti keluarga itu kalau sikembar diajak.


Jika Shakeil tidak bisa menyaksikan hari bahagia ini,maka mereka ingin menjadi pengganti seorang Shakeil.


Acara dimulai dari pagi.


Ave datang dengan menggunakan kebaya berwarna ungu tua dan bawahan yang hampir senada warnanya dengan warna kebaya membuatnya terlihat semakin cantik.


Saat ini ia sedang menunggu namanya untuk dipanggil.Setidaknya masih ada beberapa nama lagi sebelum ia dipanggil.


Berulang kali ia menghela napas setelah melihat wallpaper pada ponselnya.


“Afsheen Meysyana Orlin.”Panggil sang MC.


Ave yang sedang melamun tidak mendengar.

__ADS_1


“Afsheen Meysyana Orlin.”Panggilnya lagi.


“Nak.Giliran kamu.”Tegur Althaf.


Ave gelagapan.Sambil tersenyum canggung ia naik keatas podium untuk penyerahan ijazah.


Saat didepan Dekan Ave tersenyum sambil cengengesan.Dekan tersebut juga tersenyum pada Ave.Sebab sang Dekan tahu betul seorang Ave.Sehingga mereka cukup dekat sebagai dekan dan mahasiswa.


“Selamat.”Ucap sang Dekan ambil menjabat tangan Ave.


“Asiyap.Hehehe.”Jawab Ave.Dekam tersebut hanya geleng-geleng kepala.


"Dasar."Dengus dekan tersebut.


Ave lantas melanjutkan langkahnya untuk turun dari podium.


Saat mendekati undakan tangga,jauh dibelakang deretan kursi para wisudawan ia melihat sosok seseorang gang ia anggap seperti sebuah mimpi.


Ave menggelengkan kepalanya untuk memastikan apakah yang ia lihat benar atau tidak.


Tetap sama,sosok itu masih ada.Tersenyum manis pada Ave.Ia datang dengan masih menggunakan seragam dinasnya dan satu buket bunga yang besar.


Tidak bergeraknya Ave menjadi pusat perhatian banyak mata.Bahkan nama mahasiswa setelah Ave juga sudah turun podium.


Orang tersebut melambaikan tangan pada Ave.


Ave menangis.Jelas.


Beberapa waktu yang lalu ia mengira jika orang tersebut sudah gugur dimedan perang.Tetapi detik ini,orang tersebut berdiri dibelakang sana sambil tersenyum kearahnya.


Tanpa peduli pandangan semua orang,ia berlari kearah orang itu.Ia bahkan harus mencincing kan sedikit bawahan kebayanya agar bisa melangkah lebih lebar.


Air mata masih mengalir dikedua pipinya.


Saat ini yang jadi pusat perhatian adalah Ave yang turun dari undakan dan langsung berlari kearah belakang kursi.


Keluarganya dan keluarga Shakeil juga ikut bingung dengan tindakan yang Ave lakukan itu.


Begitu dekat Ave langsung melompat kepelukan Shakeil.Ia memeluk erat Shakeil.Sangat erat.Bahkan Shakeil sampai merasa sedikit sesak karena pelukan Ave.Ia tidak mau kehilangan Shakeil lagi.


Baginya kahilangan Shakeil dalam mimpi saja sudah sangat menakutkan.


Shakeil mengusap punggung Ave.Ia tahu,kekasihnya ini pasti sangat khawatir padanya akan berita itu.


Ave menangis sesegukan.Hadirnya Shakeil didepan matanya adalah kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan.


Kedua keluarga itu berdiri dan mendekat kearah Ave dan Shakeil.


Tiba-tiba Ave pingsan karena ia masih merasa terkejut dengan kehadiran Shakeil yang tiba-tiba ini.


“Aish...Dasar bocah.”Omel Agra.


Shakeil melotot kearah Agra.


“Kenapa melotot gitu Sha?Keluar ntar mata lo.”Gerutu Agra ketus.


Ia langsung meninggalkan mereka semua


Entahlah kini Agra berubah menjadi pribadi yang dingin terhadap orang lain.


“Ceh.Dasar kakak durhaka.”Gerutu Shakeil.


Ia lngsung membopong Ave menuju mobilnya.


Shakeil melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.

__ADS_1


MAAF YA UP NYA LAMA-LAMA,INI SENGAJA AUTHOR CEPETIN KARENA MAU AUTHOR TAMATIN TERUS AUTHOR FOKUS KE BANG AGRA AJA.


KALAU JALAN DUA NOVEL GINI AUTHOR SUKA PUSING MAU NYARI IDENYA😄😄😄😄😄


__ADS_2