Dari Sahabat Keakad

Dari Sahabat Keakad
Episode 17


__ADS_3

*Dedy*


'Pulang sekolah jalan bareng bisa?'


*Arka*


'Ke?'


*Dedy*


'KUA.'


Canda Dedy.Dan membaca pesan itu mata Arka membulat sempurna karena terkejut.


"Anjay.Gue masih pengen sekolah."Ucap Arka tiba-tiba.


"Ka lo kenapa dah?"Imbuh Azka.


Arka tak menjawab.Ia sudah sibuk dengan hpnya lagi.


*Arka*


'Maaf kata ya pak saya masih pengen sekolah."


Ya Arka memang belum terbiasa dengan panggilan 'kak',jadi kadang dia masih memanggil dengan panggilan 'pak'.


*Dedy*


'Ketoko sepatu buat beli sepatu.Takutnya besok kamu dihukum lagi.'


"Anjay.Apa sih maksudtnya."Gerutu Arka.


"Lo kenapa sih Ka?"Tanya Althaf lagi mulai kesal.


"Diem bae lo."Judes Arka.Althaf sebenarnya sedikit tersinggung dengan jawaban Arka ini.Tetapi ia tidak mau memperdebatkan hal itu.


"Tuhkan.Aneh nih bocah."Gumam Asen.


*Arka*


'Kagak usah.Saya masih mampu beli sendiri'


*Dedy*


'Jangan salah paham donk!Bukan maksudt saya mau menghina atau apa.Saya hanya tidak mau besok kamu nyeker lagi karena sepatu kamu disita sama pak Diaz.Saya itu peduli sama kamu Arka.Saya kasihan lihat kamu nyeker seperti itu'


'Gila.Bisa beneran gila gue kalau lama-lama dekat pak Dedy.Gombalin gue mulu tiap hari.'Ucap Arka dalam hati.


*Arka*


'Maaf ya pak.Kirain.Hehehe'


'Beneran nggak usah.Ntar yang dirumah paling udah dicuci.'


'Takutnya dianggap matre.'


Arka langsung mengantongi ponselnya lagi begitu pesanannya datang.


Tanpa butuh waktu yang lama makan Arka sudah tandas.Kedua esnya tinggal setengah gelas semua.


Meskipun bukan pemandangan baru,tetapi ketiga temannya tetap saja masih merasa heran akan hal itu.


Setelah hampir 30 menit dikantin Arka dkk kembali kekelas.Masih sama Arka masih menjadi pusat perhatian karena tak memakai sepatu.


Hingga tiba-tiba langkahnya terhenti saat dari kejauhan ia melihat Dedy berdiri diambang pintu kantor.Kebetulan kelas Arka bersebelahan dengan kantor guru.


'****** gue.Gue lewat man nih . Lari baelah..Malu banget.'Ucapnya dalam hati.


Melihat Dedy yang berdiri didepan kantor guru,nyali Arka seketika menciut.Ia merasa malu.Mau ditaruh dimana mukanya lewat depan pujaan hati dalam keadaan semenyedihkan ini.

__ADS_1


Dan saat mereka sudah semakin dengan pintu guru Arka buru-buru berlari tanpa peduli ketiga temannya.


“Gue duluan.”Teriaknya sambil berlari tanpa peduli kanan kirinya.


"Arka kenapa sih?Aneh banget tuh bocah."Ucap Asen.


"Iya.Nggak biasanya."Sahut Azka.


"Sejak dikantin tadi kalee."Imbuh Althaf.


"Ada yang disembunyikan kayaknya tuh bocah."Timpal Azka.


'Kudu waspada sama tuh bocah.'


Pikir Althaf karena ia merasa ada yang aneh dari Arka akhir-akhir ini.Apalagi jika itu berhubungan dengan Dedy.


Lantas ketiganya menyusul Arka.


Melewati pintu kantor guru,Dedy mencegat mereka.


"Teman kalian kenapa?"Tanya Dedy.


"Tau pak.Kadang memang suka aneh dia mah."Sahut Althaf.Karena kadang dia sendiri benar-benar heran dengan tingkah Arka.


“Tumben bapak kepo in Arka?”Selidik Azka.


“Kalian murid saya.Saya wali kelas kalian.Wajar kan kalau saya tanya seperti itu?”Kilah Dedy berusaha menyembunyikan kebenarannya.


“Wajar sih.Yang nggak wajar itu kalau bapak tanyanya Arka sudah punya pacar belum.”Sarkas Althaf.


"Memang kenapa?"Tanya Asen dengan bodohnya.


"Ya nggak wajarlah.Pak Dedy guru kita,lah Arka muridnya.Kan nggak lucu kalau mereka sampai pacaran."Jelas Althaf.


Dedy hanya tersenyum kecut untuk penjelasan Althaf barusan.Benar adanya ucapan Althaf.Tetapi ia sendiri tidak mau kehilangan Arka.


Althaf merasa ada yang aneh dari cara Dedy bertanya perihal Arka.


Bel pulang sekolah berbunyi.Arka sengaja keluar paling awal karena segera ingin ke ruangan pak Diaz buat ambil sepatu.


Arka langsung saja berjalan menuju meja pak Diaz.Bahkan ia sudah tidak peduli dengan tatapan beberapa guru yang menatapnya heran.


"Permisi pak mau ambil sepatu."Ucap Arka.


"Besok diulangi lagi!Biar tiap hari nyeker."Sindir pak Diaz.


"Hehehe ntar tiap hari ngapelin mejanya bapak donk."Sahut Arka disertai senyum tak berdosanya.


"Timbang ngapelin monyet."Balas pak Diaz.


"Hah."Arka memasang wajah cengo.


'Pak Diaz bandingin dirinya sama monyet?’Tanya Arka dalam hati.Doa kemudian senyum-senyum sendiri membayangkan pak Diaz dengan monyet


"Sudah pergi sana!"Usir pak Diaz.


“Makasih pak sudah dijagain sepatu saya.”Candanya lalu berlari keluar ruangan guru.


Arka memilih untuk memakai sepatunya dikursi dekat dengan lapangan basket.


“Auw...”Tak sengaja ia menginjak kerikil.


Sebelumnya ia sudah mencuci kakinya dengan air kran didekat lapangan basket.


"Aish. . . Merah kan kaki gue."Ringis Arka."Mana tadi nginjek kerikil yang lancip lagi.Huh."Lanjutnya.


Ia tak sadar jika ada seseorang yang berdiri tak jauh dari dirinya.


"Sakit banget sih.Sama aja boong ini mah.Toh ujung-ujungnya nyeker juga."Monolog Arka.Ia sangat kesal karena sepatunya harus disita hari ini.

__ADS_1


Tanpa gerimis,tiba-tiba hujan turun dengan deras.Seakan menambah penderitaan Arka.


Dan seseorang yang berdiri tak jauh darinya masih terus mengamati Arka.


Ia mencoba menghubungi Althaf,sebab tadi ia berangkat nebeng Althaf,otomatis dia tidak membawa motornya.


Tut tut tut


Terdengar sambungan telpon ke nomor Althaf.


Cukup lama Arka harus menunggu Althaf menjawab telponnya.


"Oy kemana aja sih lo?"Omel Arka begitu panggilan diangkat.


"Baru aja nyampe Ar."Jawab santai Althaf.


"What?Kampret lo.Temen durhaka.Laknat beneran lo ya.Terus gue kudu pulang bareng sapa woy.Hujan ini."Panjang lebar Arka berkata.


"Lah lo belum pulang?Gue kira lo buru-buru karena udah dijemput.Apa perlu gue jemput?"Tanya balik Althaf.


Sesungguhnya,diantara ketiganya Althaflah yang paling menyayangi Arka,hanya saja dia sulit sekali untuk peka terhadap Arka.


"KAGAK USAH.BYE."Ucap Arka.Dia kesal karena bisa-bisa tuh anak pulang duluan.


Dilain sisi Althaf sedikit cemas karena sudah meninggalkan Arka disekolah.


Dia coba menelfon Asen dan Azka.Tapi hasilnya zonk.Azka sudah terlanjur pergi dengan Aris salah seorang teman sekelasnya.


Sedang Asen,dia sudah berada ditempat les.


*Althaf*


'Sorry ya Ka.Gue nggak sengaja.’


‘Beneran nggak perlu dijemput?’


Pesan yang Althaf kirim untuk Arka.


'****** aja Sono Lo!'


Balas Arka.


Arka sendiri mencoba berulang kali menghubungi Nana atau bapaknya untuk menjemput.Tapi lagi,kesialan menimpanya.Mereka tidak ada dirumah saat ini.


Suasana sekolah sudah mulai sepi.Tetapi hujan belum juga berhenti.Meskipun tadi sempat reda sebentar.


"Jalan kaki-jalan kaki deh gue.Menyedihkan syekali kamu Arka."Gumam Arka.


Pukul 15.23 hujan mulai reda.Arka putuskan untuk pulang.Masa bodoh jika ia harus kehujanan.


Ia berdiri,bersiap hendak menembus hujan untuk pulang.


"Eh."


Tangan Arka sudah digenggam seseorang.


Telapak tangannya yang lebih besar dibanding milik Arka membuat tangan Arka pas dalam genggamannya.Sedari tadi Arka hanya bisa memandang orang itu dari belakang,sambil terus mengikuti langkah kakinya.


Nyaman sekali.Pikir Arka.


Kenapa senyaman ini sih?Ucapnya dalam hati.


Seulas senyuman terukir diwajah Arka.


Arka hanya senyum-senyum sendiri mengingat siapa yang sudah menggenggam tangannya.


Sampai diparkiran,ia lantas segera membukakan pintu untuk Arka.


Arka hanya menurut.

__ADS_1


"Kita makan dulu ya?"Tanyanya dengan lembut.Arka hanya mengangguk.


JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMENTAR YAA... SEDEKAH POINNYA JUGA DITUNGGU...


__ADS_2