
Selesai makan,keluarga kecil itu berkumpul diruang tv.Dikarenakan esok adalah tanggal merah dan hari libur,mereka untuk memutuskan begadang bersama.
"Agra ambil gitar mama dikamar!"Kata Arka.Anak-anaknya tidak ada yang tahu jika Arka bisa bermain gitar.Sebab usai lulus sekolah,gitar itu hanya ia simpan ditempat yang memang sudah ia siapkan khusus gitar itu.
Arga tak bergeming sedikitpun.Pikirannya masih terfokus pada ucapan Arka yang menyuruhnya mengambil gitar.
"Biar papa aja.Sekalian ambil gitar papa."Sahut Althaf.Ia langsung berdiri dan melenggang menuju kamarnya.
Tak lama Althaf kembali membawa dua gitar.Melihat gitar itu Arka hanya tersenyum getir.Teringat sekelebat kenangan saat ia pernah bernyanyi dan berduet dengan Dedy.Menyanyi sambil bermain gitar,lagu yang ia persembahkan untuk Rhandra.
'Miris.' Kata Arka dalam hati.
"Mama bisa?"Tanya Agra terkejut.Arka mengangguk.Ia mencoba beberapa kali memetik kunci gitar.
Arka sudah mulai memainkan gitarnya.Sambil memejamkan matanya,ia bernyanyi untuk Althaf.Sungguh,tulus dari hatinya.
'Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu'
Gitarnya masih petik.Ia mulai menyanyikan lagu sambil mengingat kenangan dirinya bersama Althaf sejak mereka masih ingusan.Mengingat bagaimana awal pertemuan dan perkenalan mereka.
Bagaimana keduanya tumbuh dalam lingkungan sekolah yang sama.Bahkan hingga SMA.
'Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki'
Dilirik ini ia diingatkan pada kenangan saat awal-awal pernikahannya hingga ia mendapat cobaan usai melahirkan Ave.Terlihat jelas memory saat Althaf masih berada disampingnya meski ia tidak lagi sempurna.Bahkan cacat.
Bagaimana ikhlasnya Althaf menerima dirinya yang sangat merepotkan dirinya kala itu.
Air mata tanpa ijin menerobos keluar membasahi pipi Arka.Tetapi ia tetap terus bernyanyi.
Sedangkan anak-anaknya masih diam mengamati Arka yang sedang bernyanyi.
'*Sifatmu nan slalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu
Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki*'
Disini ia teringat segala kenangannya saat masih sekolah.Tertawa bersama seperti orang gila.Lalu saat keempatnya memutuskan untuk dihukum bersama meski yang melakukan kesalahan hanya Althaf.
Bagaimana keduanya saling membela saat salah satu dari mereka dibully.
Kemudian saat mereka yang sering bolos dijam pelajaran dan memilih untuk melepas penat diatap sekolah.
Keluar masuk ruang BK.Dan tentunya masih banyak lagi.
Jika bisa tentu ia ingin mengulang kembali masa-masa itu.Semuanya.
Tidak.Tidak semuanya.Satu yang tidak ia ingin ulangi.
Dekat dan jatuh cinta pada Dedy.Ya,ia sangat tidak mau mengulang hal itu.
u
Terakhir ia membuka mata.Sosok pertama yang ia lihat adalah Althaf,suaminya.Senyum.Ya,dia tersenyum melihat mata Althaf yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
Setelah selesai ia mengusap air matanya dan memeluk Althaf erat.Menyalurkan rasa cintanya pada Althaf melalui pelukannya.
"Mas,nyanyiin dong buat Mei."Rengek Meidina tiba-tiba sambil memegang lengan Adam.Seketika mereka melihat kearah Meidina.
Adam sendiri hanya bisa tersenyum kecut saat mengingat dari keemoat anaknya Althaf dan Arka,ialah yang suaranya paling ancur.
Mereka takut telinga mereka akan terasa sakit karena mendengar suara Adam yang ngalor ngidul.Yang jelas pasti akan kejar-kejaran dengan note dan nadanya.
Agam dengan segera mengalihkan fokus dan memberi penawaran pada Meidina.Sumpah,sangat lebih baik jika Adam diam daripada harus bernyanyi.
"Agam ajalah Mei.Daripada Adam ntar yang ada bayimu keluar sekarang karena nggak betah dengan suara bapaknya."Canda Agam.
Pletak
Ave memukul lengan Agam menggunakan remot tv.Ia tak habis pikir dengan candaan Agam itu.
"Candaanmu bang.Sembarangan aja."Ucap Ave.
Sedangkan Agam hanya cengengesan.
"Papa aja."Sahut Althaf.
"Wuidih mantan playboy beraksi.Tarik mang."Imbuh Ave sambil salah satu tangannya ia tarik keatas.Seperti orang mau bergoyang.
"Lo pikir kita dangdutan?"Agra ikut menyahut.
"Kagak.Kita qasidahan.Ekh salah rebana."Jawab Ave asal.
Seketika tawa pecah saat itu.
Althaf akhirnya menyanyikan beberapa lagu kesukaannya saat masih muda dulu.
♡♡♡
Ditempat lain,Shakeil dibuat kesal karena Ave tak kunjung menghubunginya.
Padahal ini sudah hampir 90 menit usai ia menelpon Ave tadi.Dan sudah harusnya makan malam usai.Tapi ini dia tidak ada kabar sedikitpun.
Theo dan Soga hanya bisa cekikikan karena melihat sahabatnya terlihat resah.
"Soga gue yakin bentar lagi temen lo gila."Bisik Theo.
"Coh.Benar-benar budak cinta dia."
"Lalu bagaimana saat dia ditugaskan ditempat rawan nanti?Bisa mati menahan rindu dia."
"Jangan keras-keras ntar lo digibeng.Metong cyin."Canda Theo dengan menirukan gaya bicara ala-ala banci 408.
Seketika Soga begidik ngeri mendengar bahasa Theo itu.Ia langsung menjauh dari Theo.Sungguh ia takut jika Theo kelainan dan Sudah bengkok.Memikirkannya saja ia sudah merinding.Apalagi jika itu nyata.
Sungguh itu akan menjadi mimpi buruk.
Theo sendiri dibuat bingung karena Soga tiba-tiba menjauh darinya.
Ia coba mendekat tetapi Soga menjauh.Begitu berulang kali.Keduanya sudah terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang terlibat pertengkaran.
Dan tanpa mereka sadari Shakeil kini giliran yang memperhatikan tingkah keduanya.
Ia tak habis pikir dengan mereka yang selalu saja berbuat konyol.
"Jauh-jauh lo dari gue."Usir Soga.Ia benar-benar takut jika Theo sudah bengkok beneran.
"Lo kenapa dah Ga?Perasaan tadi nggak pa-pa deh.Kenapa tiba-tiba lo ngejauh dari gue?"Tanya Theo.
"Theo gue masih normal ya.Gue masih suka sama cewek.Kagak bengkok kayak lo."Ucap Soga akhirnya.
Seketika Theo diam ditempat.Mencerna setiap ucapan Soga yang cukup sulit ia cerna.Yakin,ia tidak mengerti darimana Soga bisa berpikir jika dirinya sudah abnormal.
Soga saja yang tidak tahu jika Theo sudah memiliki pacar.Hanya saja ia memang tidak mau menunjukkan pada teman-temannya.
"Gila lo Soga.Gue juga masih waras *****.Lo pikir gue apaan,hah?"Teriak Theo.
"Terus tadi tuh mulut ngomongnya metong-metong gitu maksudtnya apa?"Tanya Soga.
Shakeil langsung terbahak-bahak mendengar kesalah pahaman kedua temannya itu.
"Lo Soga kelewat *****."Ucap Shakeil."Lo lupa temen lo satu ini kadang bahasanya emang aneh.Mungkin dulu gaulnya sama yang suka mangkal dipinggir jalan pas malam hari."Lanjut ShakeilKIa tertawa lagi sampai perutnya terasa sakit.
__ADS_1
"Sialan lo Sha.Bosen hidup lo."Theo yang kesal pura-pura marah.
Ia lalu mengejar Shakeil.Kini keduanya yang justru terlibat kejar-kejaran.
Shakeil bahkan sampai keluar kamar tempat ia dan keduanya sahabatnya tidur.
Keduanya teruskejar-kejaran meski banyak yang melihat mereka.Jangan ditanya,Soga justru sudah mengalihkan dunianya kealam mimpi.
♡♡♡
Hari ini,Arka dan satu keluarga bangun siang.Kalau saja bukan suara bel rumah yang terus berbunyi,yakin Ave juga enggan membuka matanya.
Awalnya suara bel itu sempat berhenti.Ave melanjutkan tidurnya lagi.Tetapi ternyata bel justru berbunyi lagi.
Dengan nyawa yang belum terkumpul semua ia keluar kamar.Karena kebetulan kamar Avelah yang paling dekat dengan pintu utama.
Karena matanya yang belum terbuka sempurna saat diruang tamu tak sengaja ia menabrak meja kecil.
"Shit.Sejak kapan sih ini meja pindah disini?"Gerutu Ave."Siapa juga yang naroh inii meja sialan disini."Lanjutnya measih menggerutu.
Padahal sudah sejak dulu meja itu berada disana.Bukan mejanya yang salah.Tapi Avenya yang kagak melihat.
"Siapa juga yang bertamu dihari libur gini.Nggak tahu apa kami semalem begadang."Omelnya.
(Ya mana tahu av lo sekeluarga begadang.Aelah.Ini bocah.)Pikir author.
Ceklek
Ave membuka pintu dengan mata yang setengah terbuka.
Rambutnya terlihat acak-acakan khas orang baru bangun tidur dengan banyak gerakkan.Dan kantung mata yang menghitam seperti panda.
Tamu itu sendiri terlihat sangat terkejut melihat keadaan Ave yang entah harus dikatakan dalam keadaan apa.
Ini adalah kali pertama ia melihat Ave dalam keadaan seburuk ini.
"Siapa?"Tanya Ave dengan suara seraknya.Kepalanya sedikit menunduk karena ia masih dalam mode mengantuk.Bahkan matanya masih terasa sangat lengket.
Tamu itu masih diam.Menahan tawanya agar tak pecah.
Ave yang menyadari tak ada jawaban langsung melihat kearah tamu itu.
Matanya membulat seketika saat mengetahui siapa yang bertamu.
Brakk
Ave menutup kembali pintu itu dengan sangat keras.Jantungnya langsung berpacu dengan sangat cepat.
Napasnya langsung terengah-engah layaknya orang habis lari marathon.
"Kejutan apa sih ini?Bisa hancur harga diri gue."Gerutunya kesal.
Saat sudah kembali sadar jika didepan pintu ada yang menunggunya,Ave langsung menjerit memanggil mamanya.
"Mama."Jerit Ave.Ia sendiri langsung masuk kamar untuk sekadar cuci muka dan menyisir rambutnya.
Diluar,Dody dan Amel mamanya Dody terbengong-bengong karena tingkah ajaib Ave.
"Sungguh luar biasa pilihan Shakeil itu."Ucap Dody.
Amel menepuk lengan Dody.
"Hus.Dia baru bangun tidur.Harusnya tadi kamu foto lalu kamu kirim Shakeil.Pasti bakal nangis darah dia."Canda Amel.
Didalam rumah.Penghuni rumah yang mendengar jeritan Ave langsung terbangun.Mereka terkejut dengan suara menggelegar Ave.
Saat semua sudah terkumpul,Ave baru keluar dari kamar dengan penampilan yang lebih rapi.Tidak acak-acakan seperti tadi.
"Ma,pa,bang buruan gih ganti baju!Calon besan mana udah didepan rumah."Ucap Ave yang juga sedikit bingung.Ia lalu mendorong tubuh kedua orang tuanya dan ketiga kakaknya.Sedang Meidina,ia masih bergelung dengan selimut.
Meskipun bingung,mereka mengikuti ucapan Ave.
Cukup lama Dody dan Amel harus berdiri didepan pintu seperti orang be*o.
JANGAN LUPA TAMBAHIN KE FAVORITE
JANGAN LUPA LIKE DAN COMENT YA,BIAR AUTHOR SEMANGAT NULIS
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE JUGA.BERAPAPUN ITU SANGAT BERARTI BUAT AUTHOR.
LOPES KALIAN SEMUA