
“Pak, bu apa bapak dan ibu tahu saya muridnya kak Dedy?” Tanya Arka. Dan seketika anggota keluarga Dedy melotot tak percaya.
"Pak, buk, bukankah kebahagiaan tidak diukur dari banyaknya dan perbedaan umur. Banyak sedikitnya umur menurut saya tidak menjamin kebahagiaan. Bahkan kakak pertama saya terpaut 15 tahun lebih dengan suaminya. Tetapi mereka tetap bahagia. Saya hanya berharap semoga bapak sama ibu mau menerima saya yang tidak seberapa ini bila dibanding dengan kak Dedy." Jawab Arka mantab.
"Kapan kamu akan membawa kami melamarnya Dy?" Tanya ayah Dedy.
"Hah?" Arka terkejut.
"Tunggu lulus dulu dong buk! Maka Dedy akan langsung melamarnya. Coba saja kami ini beda lingkungan sekolah, sudah jadi tunangan Dedy sejak dulu." Jawab Dedy tak kalah tegas.
Arka tersenyum kaku mendengar jawaban Dedy.
“Kamu ini Dy bisa aja.” Sahut Andri kakak pertama Dedy.
“Serius aku bang.” Jawab Dedy mantab.
"Pak, buk kami pergi dulu ya? Malam mingguan kami tertunda karena kemarin ibu tidak enak badan. Kami mau pergi jalan-jalan."Ijin Dedy.
"Ya udah hati-hati bawa calon mantu ibuk." Peringat ibu pak Dedy yang membuat Arka merona wajahnya.
Dedy mengajak Arka untuk menyusuri kota Yogyakarta.
Bagi mereka, bahagia yang mereka inginkan teramat sederhana, bisa bersama dengan dia yang mencintai dan kita cintai itu sudah lebih dari cukup.
Karena jauh jadi kesempatan untuk bertemu dengan orang yang mengenal mereka lebih sedikit.
Dan setelah beberapa saat perjalanan akhirnya Dedy dan Arka sampai di sebuah pantai.
Di pantai Gesing mereka berjalan menyusuri pasir di pinggir pantai. Menggenggam erat tangan masing-masing seolah tidak mau terlepas barang sebentar saja.
Kebahagian yang luar biasa yang Dedy berikan untuk Arka.
"Lelah?" Tanya Dedy.
Arka mengangguk lalu memejamkan matanya. Karena memang sudah cukup lama mereka berjalan disekitar pantai.
Kemudian keduanya duduk dubawah pohon kelapa, Arka menyandarkan kepalanya diatas pundak Dedy.
Ia membiarkan angin pantai menampar wajahnya perlahan.
"Ka, kakak kok kangen ya sama kamu." Ungkap Ded lagi. Entah ini sudah kalimat pengakuan rindu yang keberapa yang Dedy ucapkan hari ini.
Memang sudah beberapa hari ini dia selalu merindukan Arka. Entahlah apa alasan yang mendasari hal itu.
Arka sendiri langsung menatap mata Dedy ingin mencari ada tidak kebohongan di mata Dedy. Tetapi ia tidak menemukan kebohongan di mata Dedy.
Cup
Arka mengecup sekilas bibir Dedy. Dia sedang dikuasai api asmara. Sehingga ia tak peduli status Dedy yang merupakan gurunya.
Untuk saat ini ia mau bersikap sedikit egois dengan tidak peduli status mereka ketika di sekolah.
"Kamu luar biasa." Goda Dedy lalu mencubit pelan hidung Arka.
"Entah." Jawab Arka bingung.
“Kenapa?” Tanya Dedy heran.
“Aku juga bingung kak. Perasaan aku kayak ada yang mengganjal saja. Tapi aku tidak tahu apa itu.” Jelas Dedy.
“Perasaan kamu aja paling. Ada kakak semua pasti baik-baik saja.” Kata Dedy menenangkan. Padahal pikirannya sendiri juga tidak tenang.
‘Semoga saja kak.’ Timpal Arka dalam hati.
Setelah puas berkeliling di pantai itu, Dedy mengajak Arka untuk makan terlebih dulu.
"Kak senyum dong liat sini!" Pinta Arka. Dedy yang sedang sibuk membaca menu lantas melihat Arka.
Cekrek
"Biar ada fotonya dihp aku." Lanjut Arka sambil tersenyum melihat wajah tampan Dedy di ponselnya. ”Masa satupun nggak ada fotonya kakak. Kalau kangen gimana?” Canda Arka.
Entahlah, tiba-tiba ia ingin memiliki kenangan jika ia pernah duduk berdua saja dengan Dedy.
“Sini kita foto yang banyak.” Dedy langsung merebut ponsel Arka.
__ADS_1
Dedy hanya tersenyum.
“Sini kita foto berdua.Buat bukti jika kita pernah bahagia disini.” Ucap Dedy.
Cekrek
Cekrek
Beberapa kali ia mengambil gambarnya bersama Arka.
'Ternyata sebahagia ini makan bareng kamu kak.Sederhana sekali.' Ucapnya dalam hati.
Sehabis waktu sholat ashar, Dedy dan Arka keluar dari tempat makan itu.
Dan mereka melanjutkan perjalanan menuju mall di Malioboro.
Mereka berjalan menyusuri jalan di Malioboro. Sambil bergandengan tangan. Hanya sekedar mengomentari barang-barang di sana, keduanya tidak membeli apa-apa.
Begitupun mereka juga sudah merasa sangat bahagia.
"Ke Ramayana saja yuk!" Ajak Dedy. Seakan tak peduli dengan jawaban Arka, Dedy sudah menarik tangan Arka.
Di Ramayana banyak yang Dedy beli.
"Ka kamu kok nggak beli apa-apa?" Tanya Dedy heran.
"Kagak ada uang kak. Lagi bokek." Jujur Arka.
"Kan saya yang ngajak, ya saya yang bayar." Jelas pak Dedy.
"Nggak pa-pa nih?" Tanya Arka lagi.
"Pilih apa saja yang kamu mau!" Suruh Dedy.
Sebenarnya banyak yang Arka inginkan. Tapi ia sadar jika uang yang akan digunakannya nanti bukan uangnya. Terlebih ia tak mau dibilang matre.
Sepanjang menyusuri mall, mata Arka tertuju akan kemeja couple bagian dada keatas berwarna hitam, dan bagian dada kebawah berwarna putih susu. Dengan bagian depan terdapat satu kantong dan diberi hiasan bunga.
Sederhana tapi hanya benda itu yang membuat Arka terpikat.
Dedy mengikuti arah pandang Arka. Melihat Arka yang sedang menatap kemeja itu, Dedy menarik tangan Arka menuju kemeja itu.
Dedy hanya tersenyum, melihat kemeja dengan ukuran all size itu, Dedy langsung meminta pegawai toko untuk membungkusnya.
"Buat kamu. Dan satunya buat saya. Lebih baik kita segera pulang. Saya tidak enak sama orang tua kamu." Kata Dedy.
Meski Arka berangkat dari rumah bersama Althaf, Arka tetap menjadi tanggung jawabnya. Sebab pada nyatanya Arka pergi dengannya.
Arka hanya menurut.Sepanjang berada ditoko itu, tangan Dedy terus menggenggam tangan Arka. Hingga Arka berhenti kembali di sebuah tokoh aksesoris.
“Kenapa?” Tanya Dedy heran.
Tanpa menunggu persetujuan Dedy. Arka langsung masuk kedalam toko itu. Ia melihat sepasang gelang tali couple.
'Cocok buat Kak Dedy.’ Ucap Arka dalam hati.
"Kamu mau?" Tanya Dedy membuat Arka terkejut.
"Iya kak. Tapi maunya aku sendiri yang bayar." Jawab Arka.
Barang sederhana dan murah itu cukup membuat Arka senang.
Di depan toko, Arka meminta Dedy berhenti sebentar.
"Ini untukmu kak. Dengan huruh A. Sedang aku dengan huruf D." Ucap Arka lalu memakaikan gelang itu di tangan Dedy.
"Dari hati aku ini mah. Hehehe." Canda Arka.
"Aku mencintai kamu." Bisik Dedy tepat di telinga Arka. Mendengar pengakuan cinta itu membuat wajah Arka merona dibuatnya. Entahlah, akhir-akhir Dedy sering sekali membuatnya merasa terpesona.
Arka sempat meminta foto berdua dengan Dedy sembari melihatkan gelang tali itu.
"Aaa...Keren kan." Puji Arka.
Melihat tawa bahagia dari Arka Dedy ikut tersenyum.
__ADS_1
Selepas dari mall, Dedy mengajak Arka untuk makan di waroeng steak yang terletak sekitar kawasan Malioboro.
Dedy memilih meja yang berada dilantai dua,agar mereka dapat melihat suasana sekitar dari tempat yang lebih tinggi.
Dan di tempat itulah, Dedy menyatakan perasaannya.
"Ka." Ucap Dedy.
"Ya kak?" Jawab Arka langsung memfokuskan atensinya pada Dedy.
Dedy menggenggam tangan Arka yang ada di atas meja.
"Kamu kalau udah lulus mau kan nikah sama aku?" Tanya Dedy.
"..." Tak ada jawaban. Bukan, lebih tepatnya belum sempat menjawab.
"Besok aja di sekolah jawabnya. Kakak juga pengen ngomong kalau kakak tuh cinta dan sayang sama kamu. Tapi ya itu, besok saja jawabnya. Sekarang kita makan, karena makanan sudah datang." Lanjut Dedy.
‘Gue juga sayang dan cinta sama lo kak.’ Ucap Arka dalam hati.
"Di bawah langit Yogyakarta, aku ingin tempat ini menjadi saksi. Betapa bahagianya aku, mencintai perempuan seperti kamu. Aku cinta kamu Arkadewi Fajarina."
Arka mengangguk. Terlalu bahagia, ia bahkan sampai sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata.
Setelah hampir 90 menit disana, keduanya pulang.
Lagi mereka harus membawa Althaf untuk ia pulang.
Mereka berhenti di depan gerbang rumah Arka.
"Ka. Temani aku ngobrol bentar ya?" Pinta Dedy.
"Kan besok juga ketemu kak. Ada-ada aja kamu ini." Jawab Arka. Ada gelenyar aneh di hatinya. Keduanya masih berada di dalam mobil Althaf, keduanya sudah bertukar mobil sebelumnya.
"Nggak tahu kenapa, kok aku bawaannya rindu banget ya sama kamu. Padahal kamunya ada di samping aku." Jelas Dedy.
"Ck. Gombalannya itu loh. Bikin hati adhek meleleh bang." Canda Arka. Ia berusaha untuk tetap tenang. Meski pikirannya sendiri tak tau kemana.
"Aku itu udah lama cintanya sama kamu." Kata Dedy lagi.
"Terus?" Tanya Arka.
"Ya nabrak kalau terus-terus." Timpal Dedy sambil tertawa.
"Itu kalau terusnya dua kali kalau terusnya sekali yang nggak nabrak. Paling kebablasan dikit." Jawab Arka.
Dedy tertawa lepas. Lalu ia melihat jam tangannya yang menunjukkan waktu sudah hampir tengah malam.
“Kakak pulang ya? Hemt. . . Janji ya sama kakak, apapun masalah yang akan kamu hadapi jangan menangis lagi! Cukup sekali saja, esok. Tapi berikutnya jangan! Karena kakak sering lihat kamu menangis di atap sekolah dulu." Ucap Dedy sambil memeluk erat Arka.
“Kok kakak tahu?” Tanya Arka heran.
"Aku cinta kamu Ka. Dan kakak mau setelah lulus sekolah kita langsung menikah. Nggak usah dijawab sekarang. Besok saja." Lanjutnya.
“Berjanjilah kamu akan tetap bahagia ada ataupun tidak adanya kakak!”
Dahi Arka semakin berkerut.’Kak Dedy anaeh banget sih.’Pikirnya.
"Kakak harus pulang. Besok adalah Senin, sekolah dimulai lebih pagi. Berangkat lebih pagi! Jangan sampai telat. Selamat malam Arka." Ucap Dedy lagi.
Kali ini sambil ia mencium kening Arka cukup lama.
Saat Dedy hendak membuka pintu mobilnya untuk Arka, Arka memanggil namanya.
"Kak." Panggil Arka.
Dedypun menoleh sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Jaga gelang ini. Sebagai pengikat kita. Selamat malam. Mimpi yang indah dan tidur yang nyenyak." Pesan Arka. Dedy mengangguk.
"Selamat tinggal sayang." Ucap Dedy pelan. Tapi masih bisa didengar Arka.
Arka segera keluar dari mobil. Begitu pintu dibuka ia langsung masuk kekamarnya setelah pintu dibuka oleh Miya.
Iapun segera merebahkan tubuhnya di atas kasur kamarnya. Tubuhnya terasa amat lelah hari itu.
__ADS_1
Tak lupa ia men-charger ponselnya yang sudah tewas kehabisan baterai.
Hati author udah mulai nyesek revisi part ini...