Dari Sahabat Keakad

Dari Sahabat Keakad
32


__ADS_3

Ini adalah hari ke-8 setelah melewati hari dimana aku diperkirakan akan melahirkan.


Satu minggu yang lalu dokter yang menanganiku mengatakan agar aku sabar menunggu selama satu minggu.Dan ini sudah hari ke-8.


Pukul 09.00 aku dan Althaf pergi keklinik untuk memeriksakan kembali.Sesampainya disana,kata petugas bagian pendaftaran dokter akan tiba nanti sekitar pukul 13-an.


Dengan terpaksa kami hanya mengambil nomor antrian lalu kembali pulang.


Siangnya pukul 13.00 aku sudah tak sabar untuk segera memeriksakan kandunganku ini.


Saat sampai diklinik ternyata sudah dimulai pemeriksaannya.Beruntung belum sampai kenomor antrianku.


Cukup lama menunggu akhirnya sampailah giliranku.


Seorang dokter laku-laki setengah baya dan seorang suster berada dalam ruangan itu.


Aku diminta untuk tidur diatas ranjang pasien.Suster itu mengolesi gel diatas perutku.Lalu sang dokter menggerak-gerakkan alat yang sudah terhubung dengan monitor didepan mataku.


Tak lama setelah itu suster mengelap gel yang menempel diperutku,aku dan Althaf diminta untuk duduk dikursi depan dokter.Aku bahkan masih ingat betul akan ucapan dokter itu.


"Air ketubannya sudah berkurang banyak ya mbak?"Ucapnya sangat santai.Seketika wajahku berubah menjadi terkejut.


"Ini harus segera dilahirkan.Plasentanya juga sudah mengalami pengapuran.Air ketuban yang sudah berubah,takutnya nanti bayinya bisa keracunan karena meminum air ketuban tersebut."Lanjutnya.


JEDUERRRRR


Aku tersentak mendengar pejelasan itu.Ada rasa takut yang langsunh memenuhi pikiranku


Lalu kamipun pulang.Didalam perjalanan tidak ada obrolan sedikitpun.Aku masih menangis,takut jika sesuatu terjadi pada dua bsyi kembar kami.


Sesampainya dirumah aku langsung menghubungi kedua orang tuaku.Memberi kabar dan meminta saran yang terbaik.


Dan kakak pertamaku menyarankan agar sore itu juga kami pergi kerumah sakit.


Hanya berdua dengan Althaf,ia memasukkan segala persiapan untuk melahirkan kebagasi mobil.


Cukup jauh jarah antara rumah dengan rumah sakit yang aku piluh untuk melahirkan.Sebab rumah sakit yang aku pilih berbeda dengan klinik tempat biasa aku melahirkan.


Dirumah sakit,Althaf menguru segala syatat2nya sendirian.Aku sendiri diminta untuk duduk didepan ruang pemeriksaan begitu pendaftaran selesai.


Aku sempat mengirimkan pesan kepada Verdian untuk meminta doa darinya.


'Per gue mau lahiran.Udah telat 8 hari dari HPL'


Cukup lama Verdian baru membalas pesan itu.


Verdian


'Yang kuat lo.Sorry nggak bisa datang.Lagi sibuk ngurusin persiapan nikahan gue.'


'Semoga lancar.Kagak usah lewat jendela anak lo entar.'


'Gue doain dari sini '


Balasan dari Verdisn.Aku tersenyum membaca pesan itu.


Tak lama namaku dipanggil.Didalam ruangan itu aku diberi pertanyaann yang buanyak sekali.


Setelah beberapa menit aku dan Althaf diminta untuk menandatangani banyak sekali berkas,yang entah apa saja itu.


Setelah itu,salah seorang perawat akan memasangkan selang infus ketanganku.Jujur saja,menginjak dewasa aku memang takut sekali dengan jarum suntik


Biarlah mereka yang suka mengejekku karena takut jarum suntik,tetapi pada nyatanya aku selalu tegang setiap melihat jarum suntik.


Cukup lama menunggu.Ba'da maghrib aku baru dipindah kedalam ruang bersalin.


Untuk menunggu apakah akan ada tanda-tanda atau reaksi aku akan melahirkan atau tidak.

__ADS_1


Aku diletakkan disalah satu bilik yang untungnya disampinh kanan kiriku dipisah oleh dinding dengan bilik lainnya.Bukan hanya sebuah gorden.


Lalu datanglah suster yang memasangkan alat yang dilingkarkan diperutku yang sudahlah aku sendiri tak begitu paham akan fungsi dari alat itu.Yang aku tangkap dari penjelasan suster itu hanyalah,alat itu berfungsi untuk mengetahui detak jantung bayi dalam perutku.Kalau tidak salah lebih kurang seperti itu.


Dirumah sakit,semua kulalui hanya berdua dengan Althaf.Keluargaku juga keluarga Althaf sudah diberitahu.Jauhnya jarak Boyolali-Bandung yang membuat mereka baru akan tiba esok hari.


Semalaman aku tidur dengan sangat tidak nyaman.Bergantian miring kekanan dan kekiri.Sedang Althaf ia tidur dilantai beralaskan karpet dari rumah.


Keesokan harinya


Pukul 04.05 aku sudah terbangun.Tidak nyamannya tidurku membuatku bangun lebih awal.


Lalu aku memanggil Althaf untuk segera merapaikan karpet yang ia pakai.


15 menit berlaku,masuklah seorang perempuan yang entah assisten dokter atau hanya seorang suster.Ia kembali memasangkan alat untuk mendeteksi detak jantung bayiku.


"Ar gue keluar bentar beli kopi yak.Lengket banget ini mata."Izin Althaf.


"Jangan lama-lama."Jawabku.


Ia mwngangguk lalu mencium keningku sejenak sebelum melenggang pergi.


Pukul 05.09 alat itu dilepas.Masuklah lagi seorang perempuan yang mungkin dia assisten dokter.Sebab ia lebih cekatan dibanding perempuan sebelumnya.


Ia berpakaian warna hijau.Ia memeriksaku.Tak lama,tak lebih dari 3 menit.


Samar-samar kudengar pembicaraan mereka yang bertugas diruang bersalin dengan dokter yang menanganiku melalui sambunmenanganiku


Satu kalimat yang membuatku down dan merasa takut yang lebih.


'Detak jantungnya tidak stabil dok.Bahkan melemah.'


Aku mendengarnya saat aku hanya sendirian.Semakin kesal karena Althaf tak kunjung kembali.


Menjelang pukul setengah 6 Althaf baru kembali.Kupasang wajah sekesal mungkin agar ia peka jika aku sedang kesal.


"Lo kemana aja sih?Sadar kek gue butuh elo."Kesalku.


Lalu masuklah perempuan yang tadi memasangkan alat diperutku.


"Mbaknya puasa ya mulai sekarang?"Ucapnya ramah.


"Anda harus dioperasi.Kasian bayi kembar anda."Ucapnya lagi.


Aku masih belum ngeh jika aku harus dicesar.


"Hah?"Hanya itu yang keluar dari mulutku.Aku sudah seperti orang bodoh yang tak mengerti apa-apa.


"Setengah 7 ini ya mbak?Dokter bilang harus segera dilahirkan."Jelasnya.


Seakan mengerti akan keterkejutanku,ia lantas menjelaskan seperti apa oprasi cesar itu.


"Tenang!Nanti bagia perut kebawah dibous kok.Jadi tidak terasa sakit sama sekali.Paling perut rasanya seperti didorong-dorong saja."Jelasnya lagi.


"Nggak dibius semua mbak?"Tanyaku.I hanya tersenyum ramah.


"Kalau dibius semua nanti gimana dedeknya?"Jawabnya masih terlihat ramah.


"Minum aja boleh nggak mbak?"Tanyaku lagi.


"Jangan!Takutnya nanti pas oprasi mual tetus muntah mbak."Jawabnya aku hanya mengangguk patuh.


Tak lama setelah itu ia terus keluar masuk berulang kali.


'Setrikaan jalan.'Pikirku.


Ia hanya menanyakan alat kontrasepsi apa yang akan aku pakai pasca melahirkan.Belum sempat aku menjawab Althaf sudah menyela terlebih dahulu.

__ADS_1


"Jangan IUD mbak.Kalau mau punya anak lagi ntar lama."Jawabnya.Mbak-mbak itu hanya tersenyum kikuk.


"Mas,meskipun IUD sebelum 8 tahun sekiranya mas dan mbak ingin nambah momongan bisa dilepas kok."Jelasnya lagi.


Althaf hanya ber-O ria.


"Mari mas ikut saya!"Ajak salah seorang petugas lagi.


Pukul 06.00 aku dibawa keruang tunggu.Kudengar dokter sudah tiba.Didalam rusng tunggu sudah ada salah seorang pasien yang juga harus dioprasi.


Jujur saja aku sangat iri saat melihat wanita disampingku terus ditemani suaminya.Sedangkan aku?Huh.Althaf sibuk mengurusi segala keperluan untukku pasca oprasi nanti.


Sebelum memasuki ruang oprasi aku sudah menangis.Beginikah perjuangan seorang ibu untuk anaknya?


Tuhan.benar saja melahirkan seorang anak itu harus bertaruh nyawa jika memang harus seperti ini perjuangannya.


Dakam hati aku berucap,


'Bu,ma maafkan Arka yang belum bisa menjadi anak dan menantu yang baik.'


Aku meminta kepada sustet untuk dipanggilkan Althaf sebentar.


Kulihat ia meneteskan air mata.


"Kamu kuat Ar.Kamu kuat."Ucapnya.Pertama kalinya seorang Althaf memanggilku 'kamu'.


Lalu aku dibawa keruang oprasi.Terdapat begitu banyak lampu.Aku terus merapalkan doa seoanjang berada didalam ruangan itu.


Setelah dipindahkan kematras sebelum oprasi,aku didudukkan.Ternyata aku akan disuntik bius dipunggungku.


"Jangan kaget ya mbak.Santai dan tenang.Jangan tegang!Pokoknya rileks aja.Biar satu kali langsung berhasil."Ucap dokter bius.


Lalu aku ditidurkan kembali.


Rasanya dibagian perutku kebawah hilang rasa.Tak terasa apa-apa.Digerakkanpun susah.


Sepanjang oprasi berjalan aku terus menggenggam tangan dokter yang membiusku tadi.Barang sedetikpun tak aku lepaskan.


Bodo amat saat ia ingin melepaskan tanganku tapi tetap aku genggam.


Tak lama terdengar suara bayi menangis.Mendengar suara itu,air matakublolos begitu saja.


"Mbak ini putranya?Laki-laki dan sangat tampan."Ucap salah seorang suster yang membantu oprasi itu.Aku tersenyum melihat betapa merahnya anakku.


Tak lama terdengar suara tangisan bayi yang kedua.


"Sama.Ini juga laki-laki.Tampan juga."Ucap salah seorang lainnya.


Aku menangis lagi saat melihat bayi merah itu.Aku menangis bahagia.Putra-putraku.


Kalian tahu seperti apa rasanya melahirkan hanya ditemani seorang suami saja tanpa ada pendamping lainnya?Dan itupun ditinggal kesana-kemari.


Rasanya luar biasa sedih.Tidak ada yang menyemangati.Tidak ada yang menenangkan aku.Aku hanya bisa menangis,menangis,dan menangis.


Setelah selesai aku dipindahkan keruang tunggu.Disana sudah ada beberapa perempuan yang juga sudah melakukan oprasi.


Sambil menunggu obat bius hilang,aku tertidur.


Badanku rasanya remuk semua.Aku ingin istirahat dan tidur sebentar.


♡♡♡♡♡♡♡♡


JANGAN LUPA TAMBAHIN KE FAVORITE


JANGAN LUPA LIKE DAN COMENT YA,BIAR AUTHOR SEMANGAT NULIS


JANGAN LUPA VOTE JUGA.BERAPAPUN ITU SANGAT BERARTI BUAT AUTHOR.

__ADS_1


LOPES KALIAN SEMUA


__ADS_2