Dari Sahabat Keakad

Dari Sahabat Keakad
S2 Episode 62


__ADS_3

Satu Minggu sudah berlalu,surat pengajuan pindah Afsheen sudah ia ajukan kepada pengurus rumah sakit tinggal ACC lalu tanda tangan.


Kini,dirumah sakit ia mempunyai rutinitas baru jika waktunya luang.


Apalagi kalau bukan menemani korban kecelakaan beberapa hari yang lalu.Terpaksa,kata yang sebenarnya tepat.


Antara senang dan sedih.


Senang karena orang tersebut sudah baik-baik saja.Dan sedih karena ia sebenarnya masih belum siap untuk bertemu dengannya.


2 hari berada diruang ICU,akhirnya ia bisa dipindahkan keruang perawatan.Atas rekomendasi Gala yang mengaku sebagai orang yang mengenal pasien tersebut,orang tersebut ditempatkan diruangan yang tidak jauh dari ruangannya Afsheen.Alasannya agar Afsheen bisa lebih mudah memantau perkembangannya.


Meskipun perasaanya berkecamuk,tetapi ia tetap kuatkan hati untuk bisa profesional sebagai dokter.


Dan pagi tadi,dia sudah siuman.


Saat melihat Afsheen,matanya langsung berkaca-kaca.Ia sangat bahagia.Tidak menyangka jika hari ini ia mendapatkan dunianya lagi.


Setelah hidup hampir 5 tahun dalam ketidaktahuan.Seperti dalam kegelapan,ia yakin sejak hari ini hidupnya akan kembali lagi.


Tuhan masih menyayanginya sebab ia masih dipertemukan dengan Afsheen.


Lalu bagaimana ia bisa sampai disini?Sewaktu selesai tugas,ia ingin sekali menghirup udara pegunungan yang sangat sejuk.Lantas ia terpikirkan dulu sangat ingin pergi kedataran tinggi Dieng bersama kedua sahabatnya.


Meski kini ia hanya datang sendiri, setidaknya ia masih bisa mendatangi tempat itu.


Naas menimpanya,ia mengalami kecelakaan saat ia masih belum sampai ditempat tujuan.Ia sendiri juga tidak tahu kenapa ia memilih daerah terpencil seperti ini.


Mungkin memang seperti ini permainan takdir.Dan seperti inilah takdir menemukannya kembali dan Afsheen dengan cara yang luar biasa.


Jelas 'dia' laki-laki seperti yang ada dalam pikiran kalian.Shakeil.Algis Shakeil Alvredo.


Masa lalu yang mungkin akan menjadi masa depan Afsheen.Iya baru mungkin,sebab bukankah dokter Boby juga sudah mengatakan perasaannya?


Siapa yang tahu kalau Afsheen akan membuka hatinya untuk dokter Boby.


(Semua masih menjadi rahasia author.hehehe).


Saat ia baru saja masuk kedalam ruangannya,ia dibuat sedikit kesal karena panggilan dari suster jika Shakeil menolak makan dan minum obat jika bukan ia yang menemani.


“Bilang saja sus,mati aja sekalian!”Kesal Afsheen.Suster tersebut sedikit terkejut mendengar ucapan Afsheen yang sedikit kasar.


“Baik dok.”Ucapnya menyerah membujuk Afsheen.


“Huh.Kagak ada berubah-berubahnya tuh anak.Udah tua juga masih saja kayak anak kecil.”Gerutu Afsheen.Ia lalu berdiri berjalanenuju kamar tempat Shakeil dirawat.


Meskipun kesal,rasa kemanusiaannya masih ada.Setidaknya jika ia enggan untuk kembali,ia masih mau untuk membuat Shakeil semangat hidup.


Tanpa mengetuk terlebih dahulu,Afsheen langsung membuka pintu.

__ADS_1


Deg


Deg


Deg


Langkah Afsheen terhenti tepat ditengah pintu kamar.Ia seakan tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat didepan matanya.


Apakah ini mimpi?Bukan,ini nyata.Ini benar apa yang ia lihat.


Ia menggelengkan kepalanya.


Untuk bertemu dengan anggota keluarga Shakeil ia masih belum siap.Sangat belum siap.


Ya,Arka memang pernah meminta Afsheen agar tidak memutuskan tali silaturahmi dengan keluarga Shakeil,tapi nyatanya usai Afsheen mengakhiri hubungan mereka,Afsheen sekalipun tak pernah menjawab telpon ataupun membalas pesan dari keluarga Shakeil.


Ia bahkan sampai mengganti nomor telponnya karena benar-benar ingin melupakan semua.Meski lagi,hasilnya zonk.


Setelah mengambil napas dalam-dalam,ia perlahan melangkah mendekati Shakeil.


Dengan anggun bak dokter pada umumnya,ia berjalan kearah tiang infus.


“Maaf tadi saya mendapat telpon dari salah seorang suster jika bayi tua ini tidak mau makan juga minum obat.Itu benar?”Tanya Afshen sarkis.


Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku snellinya.


Andri dan Amel tersenyum melihat bagaimana Afsheen terlihat begitu cantik menggunakan pakaian dokternya itu.


“Hehehe...Kalau kamu yang menemani makan ntar nggak terasa udah habis aja.”Jawab Shakeil sambil cengengesan.


“Lalu,apa pesan saya untuk anda sudah disampaikan oleh suster?”Tanya Afsheen dengan nada suara yang dingin.Andri terhenyak mendengar bagaimana dnginnya sikap Afsheen terhadap Shakeil.


“Pesan apa?”Tanya Shakeil tidak mengerti.


“Lupakan!Tidak penting.Apa anda tidak malu dengan anak kecil yang sekarang sedang duduk diujung sana dan ia sedang makan sendiri tanpa ada yang menemani?”Tanya Afsheen sambil menunjuk salah satu kamar yang berseberangan dengan kamar Shakeil.Mata Shakeil tak percaya dengan apa yang ia lihat,ia bahkan sampai dibandingkan dengan anak kecil.


Terlihat disana seorang anak kecil yang sedang terduduk dikursi roda sedang makan sendiri dan tidak ditemani siapapun.


“Anda harusnya malu,anda kalah dari anak kecil.Jadi sekarang,terserah anda mau makan atau tidak.Saya tidak peduli.Permisi.”Ucap Afsheen.Ia hendak pergi,tetapi sudah dicegah oleh Andri.


“Nak,jika kamu enggan kembali dengan Shakeil,setidaknya jangan putuskan tali silaturahmi kita.”Ucap Andri.Afsheen yang sudah berada didepan pintu memejamkan matanya sejenak.


Ucapan Andri terdengar menyakitkan hati Afsheen saat ini.Semua tidak semudah itu.Dan harusnya mereka tahu.


“Anggaplah kami sebagai orang tua kedua kamu setelah orang tau kandungmu nak!”Tambah Amel.


“Maaf.Saya masih ada pasien.Permisi.”Pamit Afsheen tanpa menoleh.


Ia hanya ingin menghindari keluarga itu.Ia berjalan secepat mungkin.Agar ia bisa dengan segera mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


Dikamar perawatan,Andri menatap sendu kearah Shakeil.Semarah apapun mereka terhadap Shakeil,saat merekaengetahui Shakeil kecelakaan,mereka juga langsung pergi kerumah sakit.


“Kenapa sulit sekali?Kenapa tuhan?”Lirih Afsheen.


“Hamba hanya ingin berdamai dengan masa lalu.Melupakan semuanya.Tapi kenapa rasa ini tidak pernah hilang?”Lanjutnya.


“Hamba lelah.Sangat lelah.Setiap hari harus berpura-pura terlihat baik-baik saja.”


“Apa yang harus hamba lakukan?”


Afsheen menangis.Itu sudah jelas.


“Memaafksn dia.”Sahut seseorang yang kini berdiri dibelakang Afsheen.


Afsheen tahu suara siapa itu.Ya,suara Dody.


Afsheen berbalik.Dilihatnya Dody berdiri gagah dibelakangnya.Ia tersenyum manis terhadpa Afsheen,senyum seorang kakak kepada adiknya.Senyum rindu yang sudah lama tidak bertemu.Senyum seorang kakak,yang sangat bahagia akhirnya bisa bertemu dengan adiknya.


Melihat senyum Dody,Afsheen menghamburkan diri kepelukan Dody.Ia menangis tersedu-sedu dipelukan laki-laki itu.


“Gue bingung bang.”


“Gue kudu gimana?”


“Gue benci dia,gue benci diri gue sendiri,gue benci perasaan ini.”


Racau Afsheen.Dody mengangguk.Membelai lembut rambut Afsheen.


“Maafkan dia!Pelan-pelan.Lupakan kejadian itu,Abang tahu tidak mudah.Tapi jika kamu terus mengingatnya kamu sendiri yang akan sengsara.”Jawab Dody.


“Abang rasa kamu juga tersiksa selama ini,sama halnya denga Shakeil.Dia dihukum dengan diusir oleh papa,keluarga kamu dan pastinya Agra.


Dia bahkan sampai dirawat dirumah sakit dulu karena dihajar Agra.Dia hidup dalam penyesalan.Abang tahu bagaimana ia menderita usai kamu tinggalkan.”,Jelas Dody.


Afsheen terdiam,ia masih berada dipelukan Dody.


“Kamu tahu alasan gadis itu mendekati Shakeil?”Tanya Dody.Afsheen menggeleng.


“Dia ingin membalaskan dendamnya dulu,karena katanya dulu sewaktu SMA pacar kakaknya mutusin kakak ya karena suka sama kamu.”Jelas Dody.


Afsheen sedikit terkejut mendengar penjelasan Dody.


“Balas dendam?Isma?Ya lord,sampai saat itu jadi ia masih balas dendam padaku?”Gumam Afsheen.


Dody mengangguk.


“Sekarang kita kekamar,ku bicara baik-baik dengan Shakeil.”Ajak Dody.Afsheen hanya menuruti saja.


__ADS_1


YA ALLAH BANG,MANIS BANGET SIH LUUUU


__ADS_2