
Tiba sudah waktunya Althaf dan sekeluarga untuk menghadii udangan makan malam dengan keluarga Shakeil.Meski tanpa kehadiran Shakeil,Ave tetap merasa senang.Akhirnya dua keluarga itu bakal ketemu juga.
Ave memakai dress batik yang sebenarnya couplean dengan Shakeil.
Althaf memakai baju yang couplean dengan Arka.Begitu juga Adam dan Meidina.Tetapi untuk Agam dan Agra,keduanya memakai pakaian yang sopan.
Pukul 19.29 keluarga Althaf sampai.Ave sudah berdiri dipaling depan.Menyapukan pandangan kearah penjuru restoran.
Saat matanya menangkap sosok Dody dan Hana juga Amel Ave langsung berteriak memanggil nama Dody.
Ia juga langsung berlari untuk memeluk calon kakak iparnya itu.
"Bang Dody."Teriak Ave.Ia berlari dan langsung memeluk Dody.
Tak lupa ia memeluk Hana dan Amel juga.
Sedangkan yang lain,mereka geleng-geleng kepala karena tingkah Ave yang sedemikian.Hanapun juga tak ada rasa cemburu karena ia tahu seperti apa hubungan keduanya.
Althaf dan yang lain mendekat.Saling berjabat tangan.Sekedar menanyakan kabar masing-masing.
"Papa mana ma?"Tanya Ave saat mereka sudah duduk dibangku besar yang memang Andri sudah meminta formasi meja makan seperti itu dan tak mendapati adanya Andri.
"Belum datang.Tau deh kok lama."Jawab Amel.
"Kayak kagak tahu aja papa gimana."Sahut Andri santai.
Sambil menunggu kedatangan Andri,mereka saling bercengkrama.Sebenarnya Ave lah yang lebih mendominasi pembicaraan itu.
"Kamu sangat beruntung Ar punya anak sebaik Ave."Ucap Amel.Ave langsung tersenyum bangga.
"Beruntung tan?Musibah yang ada."Sahut Agra santai.
"Pa,ma ih bang Agra mah jahat banget."Gerutu Ave sambil memanyunkan bibirnya.
"Iri aja dia Av sama pacar kamu."Meidina membela Ave.
"Iya.Pan dia playboy."Imbuh Agam.
"Tuhkan.Mereka aja ngebela gue ya bang.Wle."Ledek Ave lalu ia memeletkan lidahnya.
"Ave,kamu ini ya didepan keluarga pacar kamu kok seperti ini."Tegur Althaf.
"Udah biasa om.Bahkan dia pernah lebih gila lagi."Sahut Dody.
"Bang Dody mah ya.Gue aduin Shakeil loh."Jawab Ave.
Saat Arka baru ingin membuka mulut.Sudah ada seseorang yang bersuara meminta maaf karena terlambat datang.
Dan saat mendengar suara itu,Arka merasa jika itu bukanlah suara seseorang yang asing.
Tetapi ia sendiri lupa siapa pemilik suara itu.
Ave yang melihat kedatangan Andri langsung menyapa Andri.
"Papa."Ucap Ave.Ia berdiri dan memeluk sejenak Andri.
Pertama yang menyalami Andri adalah Agam,karena posisinya yang paling dekat.Lalu Meidina,berikutnya Adam kemudian Agra.
Setelahnya Althah berdiri,membalikkan badannya.Baik Althaf maupun Andri yang sudah hampir 20 tahun tidak bertemu membuat keduanya masih belum saling mengenali.
__ADS_1
"Kayak nggak asing bapak ini ya?"Gumam Andri.
"Iya.Saya juga merasa sudah pernah bertemu.Tapi dimana ya?"Jawab Althaf sambil mengingat-ingat.
Sedangkan Arka entah kenapa seketika ingatannya kembali pada saat ia dulu masih sering mengunjungi Andri dan keluarga Dedy.
Panggilan dari Althaf lah yang menyadarkannya dati lamunan.
Arka segera berdiri,ia juga kudu membalikkan badannya lalu melihat wajah calon besannya.
Andri sudah mengulurkan tangannya meski Arka belum melihatnya.
Sungguh,seakan dunia berhenti sejenak saat pandangan Arka bertemu dengan pandangan Andri dan saat tangan keduanya sling menjabat.
Meski sudah banyak yang berubah,tetapi keduanya masih dengan mudah bisa sling mengenali.
Berbeda dengan Althaf yang sudah tidak mengenali Andri.
Tes
Tanpa permisi air mata Arka menetes begitu saja.Bahagia,sedih,bingung dan entahlah apalagi.Semua campur aduk menjadi satu.
Tak ada yang berkedip saat pandangan mereka bertemu.
Dipikiran Arka,segalanya kenangan saat bertemu dengan Andri dan keluarganya dulu terputar jelas dalam memorynya.Termasuk saat pertama kali mereka dikenalkan oleh Dedy.
Sedangkan dipikiran Andri,ia sangat bersyukur akhirnya bisa bertemu lagi dengan Arka.Gadis yang sangat dicintai adiknya.Gadis yang hampir menjadi adik iparnya,tetapi tuhan berkata lain.
"Mas Andri."Lirih Arka.Ia langsung menghambur kepelukan Andri.Ia menangis tersedu-sedu.Terlihat berlebihan memang jika melihat mereka.Tapi ia tak peduli.
Rasa rindunya yang sudah lama terpendam akhirnya kini tersampaikan juga.
Sedikit-sedikit Althaf mulai mengingat sosok didepannya ini.
Ia yang menjadi saksi bagaimana hubungan keduanya yang sudah seperti keluarga langsung ikut memeluk Andri.Baginya,Andri juga sudah seperti kakaknya.
Mereka yang melihat ketiga orang itu masih terkejut.Apalagi Amel.Ia bahkan tidak konek sedikitpun.Pikirannya nge-blank.Bukan karena cemburu,tetapi karena ia fokus mengingat siapa Arka dan Althaf.
"Mama kenal sama papa?"Tanya Ave.
Andri seketika melepaskan pelukan dua orang itu.Ia beralih memeluk Ave erat sekali.
"Engap ih papa."Sungut Ave.
"Kita duduk dulu."Ajak Andri.
"Ini anak mas Andri?"Tanya Arka sambil menunjuk Dody.
"Pacar kamu Av?"Tanya Arka lagi.
Ave memasang wajah cengo mendengar pertanyaan ibunya.
"Kalaupun didunia tinggal bang Dody sama kambing.Ave bakal milih Shakeil lah ma.Ogah gue sama dia.Cih."Jawab Ave pura-pura tak suka pada Dody.
"Gaya lo.Gue juga pedofil.Istri gue aja manteb gini."Jawab Dody.
Plakkk
Hana menabok lengan Dody keras.Ia malu mendengar ucapan Dody yang terkesan kurang sopan.
__ADS_1
"Dia adalah anak kecil yang dulu sempat kamu tawarin untuk menikah dengan anak kamu Ar."Sahut Andri.
Seketika semua pandangan tertuju pada Andri.
"Pa,jadi mereka keluarga yang papa maksud?"Tanya Dody.
"Astagah.Kamu mantannya Dedy?"Tanya Amel.Sebenarnya ia juga terkejut karena bertemu dengan gadis ini lagi.
Arka mengangguk pelan.Ia tersenyum kecut mendengar kalimat 'mantannya Dedy'.
Bahkan dulu mereka tidak mempunyai kejelasan status,tapi kini disebut sebagai mantan.
Sudahlah.Nggak penting juga.
"Ternyata tuhan memang sudah mentakdirkan kita untuk menjadi keluarga ya Ar?Meskipun Dody sudah menikah,nyatanya salah satu anak kamu berpacaran dengan anakku."Ucap Andri.
Arka mengangguk lagi.
Agam,Adam,Agra dan Meidina tidak terlalu banyak bicara karena mereka memang tidak terlalu paham dan tertarik dengan topik bahasan.
Meskipun belum puas mengobrol,mereka harus menghentikan obrolan mereka karena pesanan sudah datang.
Makan malam hari itu terus dipenuhi dengan canda tawa dn kebahagiaan.
Hampir tengah malam keluarga Althaf baru pergi dari restorant itu.Begitu sampai dimobil Arka langsung tumbang dan tertidur pulas karena memang ia sudah sangat mengantuk.
Berbeda dengan Agra yang masih terus terjaga.
Entah kenapa akhir-akhir ini ia terpikirkan tentang Kanaya yang bercerita jika ia akan terus berjuang demi perasaannya pada Agam.
Sedngkan ia sendiri tahu jika Agam menaruh harapan besar pada Kirana.
"Kenapa Agra?"Tanya Althaf.Sebagai orang tua yang ingin menjadi baik,ia selalu berusaha lebih peka terhadap perubahan sikap anak-anaknya.
Agra jelas terkwjut mendapati papanya ternyata menyadari keresahannya.
"Enggak kok pa."Kilah Agra.
"Kamu mau jujur atau papa cari tahu sendiri?"Paksa Althaf.Agra menghembuskan napasnya kasar.
"Kalau Agra udah siap ya pa.Mungkin besok atau lusa.Yang jelas bukan sekarang."Jawab Agra.
"Baiklah."Sahut Althaf.
Saat sampai dirumah,ternyata para wanita belum juga terbangun dari tidurnya.
Althaf menggendong Arka menuju kamarnya,sedangkan Adam ia juga menggendong Meidina menuju kamarnya.Untuk Ave,Agam meminta Agr untuk membawanya kekamar.
"Gue pengen ngomong sama elo bang setelah ini."Ucap Agra.
Agam mengangguk.
Sembari menunggu Agra,ia memilih untuk duduk disofa depan tv.
JANGAN LUPA TAMBAHIN KE FAVORITE
JANGAN LUPA LIKE DAN COMENT YA,BIAR AUTHOR SEMANGAT NULIS
JANGAN LUPA VOTE JUGA.BERAPAPUN ITU SANGAT BERARTI BUAT AUTHOR.
__ADS_1
LOPES KALIAN SEMUA