
Tanpa Kirana ketahui,saat Agam mulai lelah untuk meluluhkan hati Kirana,ada sebuah hati yang sedang memperjuangkan perasaannya pada Agam.
Sebenarnya bukan memperjuangkan sih,hanya saja Kanaya mencoba menghibur Agam ditengah keterpurukan Agam.
Siang itu,saat ia dan Azka sedang bermain kerumah Arka.Kanaya melihat Agam sedang duduk disebuah kecil ditaman belakang rumah Aketah
Agam terlihat melamun dan pandangannya seperti kosong.
Kanaya tiba-tiba menghampiri Agam dan mengagetkannya.
Kanaya tipe gadis yang ceria,mudah bergaul dan akrab dengan orang lain.Persis Azka sewaktu muda.
Sehingga ia mudah sekali untuk akrab dengan Agam.
Saat itu Kanaya terus berbicara meski tak mendapat tanggapan dari Agam.Agam sendiri lama-lama merasa pusing mendengar ocehan Kanaya yang tidak ada jeda dan spasinya.
Terpaksa ia membungkam mulut Kanaya menggunakan tangannya.Membuat Kanaya mengerucutkan bibirnya.
"Kamu tuh nyerocosnya udah kayak kereta tauk.Terusssss aja kagak ada berhenti-berhentinya."Omel Amnya"Nggak capek?"Tanya Agam lagi.
"Emang gitu bang?Kok aku nggak ngerasa ya?"Tanya Kanaya dengan tampang polosnya.Agam mengusap wajahnya kasar.Ia heran kenapa anak dari teman kedua orang tuanya ini sangat cerewet sekali.
"Situ nggak sadar?"Tanya Agam.Kanaya menggeleng."Coba sekali-kali kalau lagi ngomong itu direkam,terus kamu dengerin lagi,pasti ntar sadar nyerocosnya kamu nggak ada remnya."Sahut Agam ketus.
"Ih bang Agam mah ketus yah."Sahut Kanaya santai.Agam mengerang sambil menggenggam tangannya kesal.
Berulang kali Agam mengambil napas lalu melepasnya.Berharap kekesalannya berkurang.
Tanpa Agam sadari,ia bisa melupakan Kirana saat ia merasa kesal karena Kanaya.
"Bang jajan yuk.Mau kalee bang gue dijajanin.Tuh depan rumah ada abang-abang tukang mie ayam bakso keliling."Ucap Kanaya sambil menunjuk arah gerbang rumah.
Agam memincingkan matanya.Heran saja ia dengan anak yang satu ini,bisa-bisa ia minta dibelikan mie ayam padahal ngobrol aja biasanya jarang.
"Abang nggak mau?Ya udah sih tinggal minta sama papa atau mama."Ucap Kanaya.
Agam mencebikkan bibirnya.Bisa-bisa ia diancam gadis ingusan macam Kanaya.
Agam mengeluarkan dompetnya.Kanaya tersenyum puas karena Agam menuruti kemauannya.
"Nih beli mie ayam bakso 2.Sambelnya dipisah.Awas kalau salah gue suruh habisin sendiri."Ucap Agam sambil menyerahkan selembar uang 50 ribu.
"Yaelah.Yang merah napa sih bang."Sungut Kanaya."Dasar bocah.dikasih masih aja kurang.Udah sono.Buat entar lagi kalau ada tukang jajanan yang laen."Ucap Agam sekenanya.
__ADS_1
Kanaya tersenyum girang.Itu artinya,kemungkinan besar ia akan ditraktir lagi.Dan seulas senyum kecil Agam sunggingkan karena tingkah polos Kanaya.
10 menit kemudian Kanaya sudah membawa dua bungkus mie ayam bakso.Tanpa disuruh dia berlari menuju kadalam rumah untuk mengambil mangkok.
"Ma,dimana mangkoknya?"Teriak Kanaya.
Arka mendekat.Ia ingin bertanya untuk apa mangkok itu.Tetapi belum sempat bertanya Kanaya sudah menemukan mangkok itu.Tak lupa ia juga membuat 2 es teh.
"Buat makan mie ayam sama bang Agam ma."Jelas Kanaya.Arka menganggukkan kepalanya.
"Ntar Kanaya cuciin ya ma.Anggap aja belajar jadi calon mantu."Canda Kanaya.Arka tersenyum geli mendengar celotehan Kanaya yang kadang tidak penting.
Agam lantas membantu Kanaya saat melihat gadis itu keluar membawa dua gelas esteh dan dua mangkok.
"Biar Kanaya aja yang bukain bang."Ucap Kanaya.
Dengan hati-hati Kanaya membuka bungkus ie ayam itu.Setelahnya menyerahkan kepada Agam.
Ia juga membuka bungkus mie ayam untuknya sendiri.Agam membelalakkan matanya melihat porsi mie ayam bakso milik Kanaya yang lebih banyak darinya.
Ditambah saat Kanaya menuangkan sambal yang banyak kedalam mie itu.Agam begidik ngeri sendiri dibuatnya.
"Yakin itu nggak bikin perut lo sakit Kay?"Tanya Agam."Kay?"Ulang Kanaya.Karena baru kali ini dia dipanggil Kay.
"Iya Kay.Kan Kanaya,kalau gue panggil Kan ya nggak bagus donk.Jadi mending gue panggil Kay."Jelas Agam."Baru elo bang yang panggil gue Kay."Jawab Kanaya.
"Biar aja.Biar spesial."Sahut Agam sekenanya.
Uhuk uhuk
Kanaya tersedak karena ucapan Agam barusan Agam reflek mengambilkan gelas yang entah milik siapa untuk Kanaya minum.
"Abang ih ya.Kalau ngomong bikin Kanaya baper aja."Sungut Kanaya.Kaduanya makan mie ayam itu sambil sesekali menanggapi ucapan masing-masing.
"Baper?"Ulang Agam.Kanaya mengangguk.Ia lalu menelan mie yang sudah ada didalam mulutnya.
"Iya orang abang bilang spesial."Jelas Kanaya.Agam tersenyum.Ternyata gadis didepannya ini benar-benar polos.
Tak butuh waktu lama,keduanya sudah menghabiskan makanan masing-masing.Bahkan tanpa malu Kanaya bersendawa cukup keras didepan Agam.Agam sendiri terheran-heran dengan berbagai sikap ajaib gadis ini.
Keduanya terus mengobrol dengan sesekali tertawa.Dari dalam rumah,Althaf dan Azka tersenyum melihat hal itu.Sudah beberapa hari ini Agam terlihat sedikit murung,tetapi setiap kali ngobrol dengan Kanaya,Agam selalu bisa tersenyum lagi.
"Gue nggak mau berharap banyak Al.Kan anak lo sukanya sama anaknya Asen.Gue kagak mau persahabatan kita terusik karena masalah anak-anak."Ucap Azka.Althaf setuju karena hal itu.Biarkan semua mengalir apa adanya.
__ADS_1
Mereka tak mau ikut mengurusi urusan anak-anak kecuali jika memang harus melibatkan orang tua.
Kanaya sendiri juga bahkan tidak tahu jika Agam menyukai Kirana,salah satu temannya.Meski tidak terlalu dekat seperti pertemanan orang tuanya.
Entahlah,ia tak tahu rasa apa ini.Yang jelas ia selalu tertawa dan senang setiap kali berbicara dengan Agam.Rasanya setiap saat ingin selalu melihat Agam.
Sore hari Azka mengajak Kanaya pulang.Sepulangnya Azka dan Kanaya,Althaf mengajak Agam berbicara.Ia tak mau anaknya sampai salah langkah dengan memperjuangkan Kirana tapi juga memberi harapan pada Kanaya.Sebab itu hanya akan merusak persahabatan semuanya.
"Ada apa pa?"Tanya Agam.
"Jangan pernah kamu memberi harapan pada seorang gadis disaat kamu sedang memperjuangkan gadis yang lainnya.Atau kamu hanya akan merusak segala sesuatu yang sudah berada pada tempatnya."Ucap Althaf tenang.Agam mengerutkan dahinya.Ia bingung.Tidak mengerti arah pembicaraan papanya.
"Kirana dan Kanaya.Semuanya papa anggap seperti anak papa sendiri.Jika kamu melukai salah satu dari mereka,sama saja kamu melukai mama atau Ave."Lanjut Althaf.Agam masih belum begitu paham maksudt Althaf.
"Gam,kalau kamu mau berjuang buat Kirana jangan beri harapan buat Kanaya.Tapi kalau kamu mau membuka hati,lupakan Kirana dan bicara baik-baik pada ayahmu!"Ucap Althaf lagi.
"Agam bingung pa.Rasanya Agam sudah lelah berjuang hampir satu tahun tapi madih distart aja.Selangkahpun tidak ada kemajuan.
Perihal Kanaya,bahkan kami ngobrol berdua baru beberapa kali.Masa' iya sudah dibilang memberi harapan."Jawab Agam.
"Ck.Elo terlalu bodoh sih mas."Sahut Agra tiba-tiba.
Agam terlihat kesal dikatai bodoh oleh adiknya.
"Coba lo ngejauh dari Kirana dan Kanaya!Terus lihat siapa yang bakal nyariin elo."Lanjut Agra."Disitu elo bakal tahu,siapa yang cinta sama elo.Tapi inget sekali lo milih salah satu dari mereka jangan sampai dibelakang lo main api.Itu namanya banci."Ucap Agra lagi.Lalu pergi.
"Benar kata Agra."Sahut Althaf lalu meninggalkan anaknya.
Ya,ide Agam menjauh dari Kirana memang ia dapat dari Agra.Dan entah sampai berapa hari lagi ia akan menjauh dari Kirana.Awalnya ia hanya akan menjauh dari Kirana selama ia sibuk dikampus.
Dan selama ia sibuk dengan urusan kampus itu,Kanaya beberapa kali berusaha mendekati Agam.
Tetapi mendengar saran Agra,ia tak tahu sampai kapan ia akan menjauh dari Kirana.
Tetapi sebelum itu,ia ingin mengatakan segalanya pada Asen.Agar semua tidak terjadi salah paham kedepannya.
JANGAN LUPA TAMBAHIN KE FAVORITE
JANGAN LUPA LIKE DAN COMENT YA,BIAR AUTHOR SEMANGAT NULIS
JANGAN LUPA VOTE JUGA.BERAPAPUN ITU SANGAT BERARTI BUAT AUTHOR.
LOPES KALIAN SEMUA
__ADS_1