Dari Sahabat Keakad

Dari Sahabat Keakad
Episode 23


__ADS_3

Brukkkk


Asen dan Azka mendudukkan Arak secara paksa dikursinya.”Berani kabur,Lo lihat gue marah.”Ancam Asen.


Dengan sangat terpaksa Arka mengikuti pelajaran yang sudah satu Minggu ini ia hindari.


Tak lama,Dedy masuk dengan membawa beberapa buku paket.Niat hati ingin mengadakan ulangan dadakan ia urungkan saat melihat wajah malas pujaan hatinya.


“Rencana bapak mau ngadain ulangan.”Ucap Dedy.Sengaja ia gantung agar paraurid kalang jabut dulu.


“Kok mendadak sih pak?”Keluh Agus,anggota kelas yang juga nol soal pelajaran Fisika.


“Pak jangan hari ini lah!”Sahut siswi lainnya.


“Harus siap dong.Makanya belajar.”Rena,salah seorang murid teladan memberi usul.


“Gitu tuh mentang-mentang pinter.Beda mah sama kita yang ngertinya Cuma satu tambah satu.”Arka akhirnya ikut bersuara.


Ia kesal bahkan cenderung benci dengan kepribadian Rena yang sombong karena kepintarannya.


“Biar aja yang ulangan murid teladan sama gurunya.Kita lihatin aja.”Lanjut Arka.Althaf membelalakkan mata terkejut mendengar penuturan Arka.


“Salah sendiri jadi murid bo...”


“Kira-kira dong pak.Fisika ngadain ulangan dadakan ya jelas kami protes.”Asen,sijuara kelas akhirnya membuka mulut.


“Kan saya belum selesai bicara.”Bariton suara Dedy kembali terdengar.


“Baru rencana,belum pasti.Dan karena kelas baru akan dimulai sudah panas,kura pelajaran seperti biasa.”Jelasnya.


“Buka halaman 74!”Ucao Dedy.


Siang hari,saat bel istirahat berbunyi,Arka langsung pergi ke kantin tanpa menunggu ketiga sahabatnya.


Dan begitu sampai dikantin,ia memberi beberapa camilan untuk dibawa ke atap sekolah.Ia ingin kabur dari guru dan teman-temannya.


Diatap sekolah,Arka mengenallng kejadian satu Minggu yang lalu.Saat dimana Dedy dipeluk oleh Selly.Hatinya hancur berkeping-keping.


Ternyata Lo sama saja kayak Rhandra dan Arga kak.Bilangnya sayang tapi status tidak jelas sampai sekarang.Pikir Arka.Akhirnya ia memilih untuk mengirimkan pesan keDedy.


*Arka*

__ADS_1


'Bahkan saya bukan apa-apa dibanding dia kak.Dia jauh lebih baik dari saya.Saya menyerah sajalah kak’


‘Bukankah dia jauh lebih pantas dibanding saya?’’


‘Saya tidak sanggup jika harus bersaing dengan dia.’


Pesannya pada Dedy.


Ting


Ponsel Dedy berbunyi ketika dirinya sedang berada didepan kelas.Melihat nama yang tertera Dedy sempat senang,tetapi saat membaca isi pesannya ia menjadi kalang kabut sendiri.


Langsung ia sambungkan panggilan kenomor Arka.Tetapi tak mendapat jawaban.Ia terus mencoba berharap Arka akan menjawab.


Setelah beberapa kali bukannya jawaban justru nomor Arka tidak aktif.


Bingung harus bagaimana.Ia terus mencoba berpikir dimana Arka berada saat ini.Karena buntu, akhirnya ia memilih mencari Althaf.


Melihat Althaf yang sedang bermain gitar didepan kelasnya,Dedy segera menghampiri Althaf.


"Althaf."Panggilnya.


Althaf tak bergeming hanya menatap sekilas wajah panik sang guru.Ia tahu maksud dari kedatangan gurunya itu.


Dedy segera masuk dan mencari dua orang pemilik nama itu.


Sempat bingung karena tiba-tiba dipanggil sang guru.


"Dimana Arka?"Tanyanya.Keduanya jelas melongo mendengar pertanyaan dari sang guru.


Althaf yang pura-pura sibuk dengan gitarnya lantas berdiri dan dan mendekat kearah Dedy.Ia heran kenapa gurunya ini telwdor sekali dnwgan menanyakan langsung keAsen dan Azka.


"Tanya hati bapak dimana bapak selama ini menemuinya diam-diam."Bisik Althaf lalu meninggalkan Dedy.Althaf duduk di bangkunya.Berharap Dedy sedikit paham dengan maksud bisikannya tadi.


Ternyata didunia ini ada ornag yang jauh lebih tidak peka dibanding dirinya.Dan Dedy orangnya.


Ting


Tanda ada pesan masuk diponsel Dedy.


*Althaf*

__ADS_1


'Ck.Cari dia diatap sekolah!'


Pesan Althaf.


Dedy segera berlari keatap sekolah.


Asen dan Azka masih diam karena bingung dengan gurunya yang sikapnya aneh sekali.


Dilihatnya seorang perempuan duduk termenung dengan kepala ia sandarkan diatas kedua lututnya.


"Ehm."Dedy mencoba memecah keheningan.


Arka yang sudah hapal betul dengan suara Dedy sedikitpun tak bergeming.


"Aku lelah kak.Aku mundur sebelum terlalu sakit."Kata Arka tanpa mengangkat wajahnya.


"Tidak."Tolak Dedy tegas.Tetapi tetap saja tak membuat Arka menatapnya.


"Dia hanya masa lalu,dan tidak akan pernah menjadi bagian dari masa depan kita."Lanjutnya.


Untuk kali ini,hal itu membuat Arka mendongakkan kepalanya.


"Kita?"Tanya Arka dengan senyum sinisnya.


"Ini hati kak bukan jemuran.Jemuran aja kelamaan digantung bisa ilang apalagi perasaan."Jelasnya.


“Saya insecure pak sama diri saya saat melihat bapak dipeluk perempuan sesempurna dia.Lah dibandingkan dia saya mah apa?Tempahan gorengan pak.”JTutur Arka.


"Tapi saya yakin,kamu bukan seperti itu.Arka,ketidakjelasan kedekatan kita hanya karena kita berada disatu lingkungan sekolah yang sama.Akan saya buktikan keseriusan saya.Please jangan marah!"Pinta Dedy.


“Bukti?Heh.Buktikan!”Tantang Arka.Matanya menatap lurus kedepan dengan tatapan tajam.


“Oke.Secepatnya akan saya buktikan kekamu.”Dedy mengiyakan tantangan Arka dengan tegas.


"Baiklah."Arka menyerah akhirnya.Arka memang tidak terlalu pintar dalam mempertahankan keteguhan hatinya.Apalahi terhadap orang yang ia sayangi.


Dan semenjak saat itu hubungan keduanya membaik lagi.


Semakin hari Arka dan Dedy semakin dekat.Keduanya sepakat untuk menyembunyikan kedekatan mereka dari masyarakat umum.


Hal ini karena Arka yang sudah duduk di bangku kelas XII sehingga tinggal menghitung bulan untuk ia lulus.Mereka tidak mau karena kedekatan mereka berpengaruh terhadap masa depan yang sudah didepan mata

__ADS_1


MASIH PROSES REVISI YAAAA


__ADS_2