Dari Sahabat Keakad

Dari Sahabat Keakad
Episode 18


__ADS_3

Sepanjang perjalanan mereka hanya diam.Tak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu.


Arka sendiri yang biasanya berisik terlihat berbeda.Bahkan hanya untuk memandang orang itupun ia tak berani.


Bagaikan tersengat aliran listrik ribuan volt saat tangan Arka digenggam lagi.


Ia merasa dadanya sesak karena perlakuan orang tersebut.


"Kenapa sih?Kok kalau berhadapan langsung jadi canggung?"Tanya Dedy.


Ya,orang itu Dedy.Dia sengaja menunggu Arka karena dia ingin mengantar Arka pulang.Dan beruntung Arka tidak ada yang menjemput.


"Ka,mau makan apa?"Tanyanya lembut.


Sungguh itu membuat Arka tak bisa menjawab.


Tangannya masih digenggam Dedy.Membuatnya sumpah tidak mampu mengeluarkan satu katapun.


"Arka."Panggil Dedy lagi.


Arka menghela napas pelan.


"Pak jangan kek gini donk!Sumpah pak,mau menjawab pertanyaan bapak saja sulit.Deg deg an asli saya pak."Jelas Arka.


Dedy hanya tersenyum.Jujur sekali muridnya ini.


"Ya sudah sekarang jawab mau makan apa?"Ulang Dedy masih dengan pertanyaan yang sama.


"Ngikut pilihan bapak aja."Pasrah Arka.


Akhirnya mereka berhenti dirumah makam bernama Nasgor 212 yang terletak tak jauh dari Batalyon Infanteri 408 Boyolali.


Mereka memilih meja yang hanya untuk dua orang saja.


"Selamat datang.Ini menunya.Nanti bisa memanggil kami kembali atau menyerahkan kekasir mas mbak."Ucap salah seorang pelayan perempuan.


Matanya tak henti menatap Dedy yang memang terlihat sangat tampan.Bahkan berkedip pun tidak.


"Ehm."Arka berdeham untuk menyadarkan pelayan itu.Dan tak lama pelayan itu pergi.Melihat Arka yang sepertinya cemburu membuat Dedy merasa teramat senang.


"Kamu pesan apa?"Tanya Dedy.


Arka masih menimbang-nimbang menu apa yang akan ia pilih.

__ADS_1


"Apa saja.Berapapun."Lanjut Dedy.


"Yakin?"Tanya Arka.


"Bukankah kamu pernah meminta saya untuk membayar makan siang satu kelas?Jadi jangan ragu."Jawab Dedy mantab.


"Ya sudah bapak tulis gih!Saya nasi goreng level 7 satu,original steaknya satu,minumnya milkshake cocholate satu es lembayung senja satu.Tambah isian bakso bakar 5 tusuk."Jawab Arka santai.


"Bapak sendiri yang bilang hlo ya tadi."Ucap Arka.


"Santai.Apa sih yang enggak buat kamu."Balas Dedy sambil mengusap pucuk kepala Arka.”Hidup sayapun akan saya serahkan jika kamu yang minta “Gombalnya.


Blush


Wajah Arka memerah mendengar gombalan Dedy secara langsung.


"Gombalanmu pak Dedy.Bikin gue meleleh."Gumam Arka tapi masih bisa didengar Dedy.


"Buka gombalan.Kenyataan."Balas Dedy.


Arka tak berani menjawab sepatah katapun.


Lama keduanya berada disana.Kalau saja bukan karena panggilan telpon Arka dari bapaknya mungkin mereka belum ingin pulang.


“Iya pak Arka balik.Bapak juga yang salah nggak bisa jemput Arka.”Ucap Arka saat bapaknya memarahi karena hingga sore ia belum pulang.


Pukul 16.57 mereka meninggalkan tempat itu.


"Ka,biasain panggil kakak ya kalau lagi kayak gini."Pinta Dedy.


"Ok.Tapi ya nggak langsung terbiasa ya."Jawab Arka.


Dedy mengangguk tanda mengerti.


Setengah 6 Arka sampai dirumah.Merasa bertanggung jawab ia mengantar sampai kedepan rumah.


Dengan alasan yang sudah ia susun sepanjang jalan,Dedy menjelaskan alasan Arka telat sampai kerumah.


Beruntung kedua orang tua dapat menerima alasan itu.Meskipun sepeninggalan Dedy,Arka tetap disidang oleh kedua orang tuanya.


“Dia guru kamu Arka.Apa kata orang kalau kamu pulang sesore ini dan diantar oleh guru kamu yang masih muda.”Marah bapaknya Arka.


“Derajat kita dengan dia itu juga berbeda.Ingat!”Ucap bapaknya lagi.

__ADS_1


“Masuk kamar!Dan mulai besok kamu bawa motor sendiri.Kalaupun nebeng,hanya boleh dengan Althaf,Asen atau Azka.Pulang pergi kudu dengan mereka.”Putus bapaknya akhirnya.


Arka masuk kedalam kamar dengan perasaan kesal.


Kalau sudah seperti ini mau bagaimana? Sekarang yang menjadi penghalangnya adalah kedua orang tuanya,bisa apa dia?Belum juga jelas status keduanya,ekh sudah dilarang-larang.


Keesokan harinya,Arka berangkat menggunakan motornya sendiri.Akibat diantar pulang oleh Dedy,Arka harus membawa motor sendiri.


Mereka berpikir jika Arka tidak akan diantar gurunya lagi jika membawa motor sendiri.


"Oy,kemaren gue lihat lo keluar dari nasgor 212.Masuk mobil lagi.Kayak kenal tuh mobil."Selidik Azka.


Ia memang melihat Arka kemarin.Niat hati ingin mengantar pulang,tapi ia sudah terlanjur masuk kemobil.


"Berisik."Sahut Arka.Ia benar-benar sedang dalam mode malas dan kesal.


"Ayolah Ar.Cerita ma gue."Kata Azka lagi.


"Belum waktunya."Imbuh Arka.


"Nyebelin sih. Tapi tetep kakak kedua sayang kamu."Canda Azka.Ia tahu Arka sedang tidak baik-baik saja.


"Kalau mau cerita,jangan pas cuma sama gue.Kita berempat kumpul lalu lo berbagi akan masalah lo.Gue yakin,dibalik sikap kita yang konyol pasti dengan berbagi lo bakal dapat jalan keluarnya."Jelas Azka.Entah kerasukan darimana Dia bisa berkata sebijak itu.


"Thank's ya Az.Sorry aja gue belum siap buat cerita."Ucap Arka.Azka hanya tersenyum lalu mengangguk.


"Anjay,gue baru sadar.Ternyata gue bisa bijak juga ya."Bangga Azka.


Arka hanya memutar bola matanya jengah melihat kelakuan Azka.


“Sekilas gue kayak nggak asing sama mobil itu Tapi lupa milik siapa.”Gumam Azka.


“Gue sampai nasgor 212 ngapain?Gue nggak kesono.”Kilah Arka.


“Apa Cuma mirip aja ya?”


“Mungkin.Biasa orang cantik banyaklah yang mitip."Jawab Arka percaya diri.


"Cantik dari hongkong."


"Eh ngawur.Lo mau gue bawa satu orang yang dalam keadaan apapun tetep gue pilihannya?"Tantang Arka.


"Arga?Banci itu?Atau Rhandra?"Ledek Azka semakin menjadi.

__ADS_1


"Azka sial*n lo."Teriak Arka.


Ia kesal, bisa-bisanya Azka menyebut dua manusia tak berakhlak itu.


__ADS_2