Dari Sahabat Keakad

Dari Sahabat Keakad
S2 Episode 53


__ADS_3

Tidak terasa sebentar lagi Ave diwisuda.Itu artinya ia akan segera menjalani masa koasnya.Entah dimana ia akan ditempatkan.Semoga saja tidak jauh.


Menurut kabar ia akan ditempatkan diSurabaya.Jika benar,sumpah demi apapun ia ingin mengamuk pada dosen yang menempatkannya diSurabaya itu.


Kurang dari satu bulan ia akan diwisuda.Itu artinya perjalanan panjangnya sudah berkurang banyak.


Jika sesuai rencana sejak awal,Ave selesai kuliah dan Shakeil selesai tugas.Sehingga mereka akan melangsungkan pernikahan mereka.Ya,itu rencana mereka.Mereka.Bukan tuhan.


Tetapi entah kenapa sudah hampir satu minggu ini Shakeil tidak ada kabar.Terakhir kali Ave mendengar kabar jika daerah sekitar tempat Shakeil sedang rawan konflik. dan Ave memberi kabar kapan ia akan diwisuda.


Dan hal itu membuat Ave sedikit lebih cemas.


Duli,Shakeil pernah berjanji jika wisudanya Ave dengan gelar dr ini ia akan datang dan menyaksikan keberhasilannya.


Dan jujur jauh dalam lubuk hatinya yang paling dalam,Ave menyimpan rapat impian itu.


Kelulusannya saat SMA sudah ia lewati hanya dengan keluarga,tanpa Shakeil.Sebab saat itu Shakeil masih menempuh pendidikan di Magelang.


Lalu,untuk hal ini ia ingin bersikap sedikit egois.Ia ingin Shakeil hadir dan melihatnya memakai toga.Sungguh kebahagiaan yang sederhana.


Theo yang berada satu mess dengan Shakeilpun tak ada kabar.Jika Shakeil tidak ada kabar,maka Theolah yang akan menjadi perantara mereka.Dan itu tidak menjadi masalah untuk Theo.


Lalu Soga?Anak itu sekarang dipindah tugaskan keJogjakarta.Mungkin dengan begitu lebih baik.Lebih baik untuk keduanya.


Untuk Ave agar bisa dengan sepenih hati menjaga perasaannya pada Shakeil.Dan untuk Soga agar tidak lebih tersakiti karena tidak bisa memiliki apa yang ada didepan matanya.


Kisah Theo dan Vira kudu bubar karena Theo mendengar jika Vira datang keJogja hanya untuk melabrak Ave.Theo merasa tidak diberikan kepercayaan,tidak diberikan kebebasan.


Ya dia mencintai tulus Vira,meski Vira beberapa tahun lebih tua darinya.Tetapi ia tidak peduli,dulu.Untuk sekarang,ia lebih ingin sendiri dan fokus pada karirnya.


Sabtu ini,Ave pergi kerumah orang tua Shakeil.Atas permintaan Dody calon kakak iparnya,Ave diminta membantu Amel memasak karena teman-teman Dody akan datang.Dan kali ini lebih banyak.


Atas seizin Althaf,bahkan Ave menginap dirumah itu.


Sejak subuh Amel,Ave dan pembantu mereka sudah sibuk membuat camilan dan makanan ini itu.


Hana tidak membantu karena Hana sedang hamil muda.Untuk kehamilan keduanya ini Hana bahkan diharuskan bedrest karena tubuhnya terasa sangat tidak bertenaga.


Pukul 09.33 makanan sudah siap.Tetapi teman-teman Dody belum datang.


“Ma,Ave mandi dulu ya?Asem banget badan Ave.”Ucap Ave smabil mencium bau tubuhnya yang memang benar sedikit asem.


Amel tersenyum lalu mengangguk.


Setelah 45 menit Ave keluar dari kamar Shakeil.Ia tidak membawa baju ganti.Sehingga terpaksa ia memakai kaos dan celana Shakeil.


Beruntung pakaian Shakeil yang sudah tidak muat masih disimpan.Sehingga untuk saat ini masih berguna.


“Lah lo pake bajunya Shakeil?”Tanya Dody begitu melihat Ave keluar dari kamar Shakeil.


Ave menanggapi pertanyaan Dody dengan cengengesan.

__ADS_1


“Papa mana?”Tanya Ave.Dody mengarahkan dagunya ketempat dimana Andri sedang duduk.


Ave lantas menghampiri Andri.Tersenyum manis kearah calon mertuanya itu.


“Papa.”Panggil Ave.Dari cara memanggilnya Andri tahu jika Ave sedang menginginkam sesuatu.


“PS yuk?”Ajaknya disertai puppy eyes nya.Yang sudah pasti membuat siapa saja akan luluh begitu melihat senyuman itu.


Keduanya lantas duduk berdampingan didepan meja televisi dengan layar yang lebar itu.


Pemandangan seperti itu sudah biasa.Terkadang Dody juga ikut bergabung dalam permainan itu.


Karena keasyikan bermain game,Andri maupun Ave tidak sadar jika teman-teman Dody sudah tiba.Dan mendengar betapa hebohnya Ave berteriak saat bermain,membuat mereka yang sudah datang melihat kearah Andri dan Ave.


“Horeeee.”Teriak Ave kencang.Ia terlampau senang karena ia menang.Biasanya ia akan selalu kalah dengan Dody.


Ia berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan.


“Satu ronde lagi?Pasti papa yang menang.”Tantang Andri.Ave mengangguk semangat.


Sedangkan teman-teman Dody mereka duduk diruang tamu.


Tak lama Dody muncul sambil menggendong putra bungsunya.


“Sorry tadi ngurus anak dulu.Istri teler soalnya.”Jelas Dody usai menyalami tamannya yang sudah datang.


“Adik perempuan kamu sama papa kamu kalau main game heboh ya Dy?”Tanya salah seorang teman Dody bernama Dimas.


Dody menghembuskan napasnya kasar.


“Bentar ya aku panggiling papa dulu.”Ucap Dody lalu melenggang menuju ruang tv.


Disana terlihat Andri tertawa bahagia bersama Ave.Tawa tulus seorang ayah yang sedang bahagia bersama keluarga.


Bukanlah pemandangan baru hal seperti itu.


Tanpa disadari Dody ikut menyunggingkan seulas senyum.


Dody teringat tujuannya kesini untuk memanggil Andri dan memberitahu jika teman-temannya sudah datang.


“Pa,Av.Teman Dody udah datang.”Ucap Dody.Seketika Andri dan Ave menghentikan aktivitas bermain game mereka.


Selayaknya anak dan papa kandung,keduanya menoleh bersamaan,berhenti bermain game bersamaan,meletakkan stik game bersamaan,bahkan berdiri dan berjalan menuju ruang tamu pun bersamaan.Langkah merekapun juga sama.


Sungguh pemandangan yang luar biasa antara calon menantu dan calon mertua.Melihat itu Dody kembali menyunggingkan seulas senyum.


Andri dan Ave sama-sama menyalami semua teman-teman Dody bahkan yang baru saja datang.


“Ini adiknya Dody yang waktu itu kan?Dan yang tadi main game sama om heboh banget?”Tanya Dimas lagi.


Andri dan Ave sama-sama mendelik.Saling melihat.Pikiran mereka sama.

__ADS_1


Tadi teman-teman Dody melihat bagaimana Andri dan Ave gilanya saat bermain PS?


Ave lantas menepuk jidatnya mengingat bagaiman dia sebrutal itu saat akhirnya bisa mengalahkan Andri.


Ia langsung berlari menuju dapur menyusul Amel.


Hal itu membuat teman-teman Dody tertawa bersamaan.Apalagi melihat wajah malu dari Ave yang sudah seperti kepiting rebus.


“Mama.”Teriak Ave.Wajahnya memerah sudah seperti kepiting rebus.


“Kamu Dim,bisa aja bikin adik aku malu.”Sahut Dody yang baru saja tiba.


“Bentar ya,om ganti baju dulu.Dody,panggil Hana!”Ucap Andri.Dody mengangguk.


“Iya om.”Jawab beberapa teman Dody.


Didapur Ave terus menggerutu karena malu.


“Kenapa harus malu?Kamu kan anak papa juga?”Tanya Amel.Ave memanyunkan bibirnya karena Amel tidak memberinya solusi.


“Ini kamu antar kedepan!”Titah Amel.Mata Ave membulat sempurna.


Meskipun Amel hanyalah calon ibu mertuanya,tetapi kedekatan Amel dan Ave sudah seperti ibu dan anak kandung.


“Ma,yang benar saja.Ogah ah.Malu.”Sungut Ave.


“Sudah,mereka juga tidak terlalu peduli.”Ucap Amel.


“Tapi ma...”Tolak Ave.


“Sudah.Sudah.Sana buruan!”Titah Amel.


Sambil mengerucutkan bibirnya Ave berjalan menuju ruang tmau membawa nampan berisi menuman itu.


Langkahnya terhenti tepat didepan meja sekitar teman-teman Dody duduk.


Prangggg


Nampan beserta gelas yang berisikan minuman terlepas dari tangan Ave dan jatuh.


Ave sendiri langsung terduduk.Tak peduli lututnya yang bahkan terkena pecahan gelas itu.


Darah mengalir banyak karena Ave terduduk tepat diatas pecahan-pecahan gelas itu.


Rasa sakit pada lututnya tidak seberapa dibandingkan dengan gejolak dalam hatinya saat mendengar suara seorang perempuan dari salah satu ponsel teman Dody.


Teman-teman Dody terkejut melihat Ave yang terduduk lemas diatas pecahan gelas itu dan menangis.


Dody,Amel,dan Andri yang mendengar suara pecahan gelas lantas berlari mendekat.


Mereka sama terkejutnya saat melihat Ave yang sedang terduduk dan kakinya terkena beberapa pecahan gelas.

__ADS_1


MAAF TELAT UP


__ADS_2