
Ini adalah hari ke-8 setelah melewati hari dimana aku diperkirakan akan melahirkan.
Satu minggu yang lalu,dokter yang menanganiku mengatakan untuk sabar menunggu selama satu minggu dulu.Dan ini sudah hari ke8.
Pukul 09.00 aku dan Althaf pergi keklinik berniat untuk memeriksakan kembali.Sesampainya disana,kata petugas bagian pendaftaran dokter baru sampai nanti sekitar jam 13-an.Dan dengan terpkasa kami hanya mengambil antrian lalu pulang.
Dan kamipun kembali kerumah.
Siangnya,tepat pukul 13.00 aku sudah tak sabar ingin segera memeriksakan kandunganku ini.
Saat sampai diklinik ternyata sudah dimulai pemeriksaan.Beruntung belum sampai kenomor antrianku.
Cukup lama menunggu akhirnya sampailah giliranku.
Seorang dokter laki-laki yang setengah baya dan seorang suster berada diruangan itu.
Aku diminta untuk tiduran diatas ranjang pasien.Suster itu mengolesi gel diatas perutku.Lalu sang dokter menggerak-gerakkan alat yang sudah terhubung dengan layar monitor didepan mataku.
Tak lama setelah suster itu mengelap perutku,aku dan Althaf diminta untuk duduk dikursi depan dokter.Aku masih ingat betul dengan ucapan dokter itu.
"Air ketubannya sudah berkurang banyak ya mbak."Ucapnya sangat santai.Seketika wajahku berubah menjadi terkejut.
"Ini harus segera dilahirkan.Plasentanya juga sudah mengalami pengapuran.Takutnya nanti janin akan keracunan air ketuban jika tidak segera dilahirkan."Lanjutnya.
JEDUERRRRR
Aku tersentak mendengar penjelasan itu.Ada rasa takut yang langsung memenuhi pikiranku.
Lalu kamipun pulang.Didalam perjalanan tak ada obrolan sedikitpun.Aku masih menangis memikirkan kedua bayiku ini.
Sesampainya dirumah,aku langsung menelfon kedua orang tuaku.Memberi kabar dan meminta saran yang terbaik.
Dan kakak pertamaku menyarankan agar sore itu juga kami pergi kerumah sakit.
Hanya berdua dengan Althaf,ia memasukkan semua persiapan melahirkan kebagasi mobil.
Cukup lama jarak antara rumah dengan rumah sakit yang aku pilih sebagai tempat melahirkan.Sebab rumah sakit yang aku pilih berbeda dengan klinik itu.
Dirumah sakit,Althaf mmengurus segala syarat-syaratnya sendirian.Aku sendiri diminta untuk duduk didepan ruang pemeriksaan begitu pendaftaran selesai.
Aku sempatkan mengirim pesan kepada Verdian untuk meminta doa.
*Arka*
'Per gue mau lahiran.Udah telat 8 hari dari HPL.'
Cukup lama Verdian baru membalas pesan itu.
*Verdian*
'Yang kuat lo.Sorry gue nggak bisa datang Sibuk ngurusin persiapsn nikahan gue.'
'Semoga lancar.Kagak usah lewat jendela anak lo entar.'
'Gue doain dari sini.'
Balas Verdian.Aku tersenyum membaca pesan itu.
Tak lama namaku dipanggil.Didalam ruangan itu buanyak sekali yang mereka tanyakan.
Setelah beberapa menit,aku dan Althaf diminta untuk menandatangani beberapa kertas yang bahkan apa saja aku tak mengerti.
Setelah itu,salah seorang perawat akan memasangkan selang infus ditanganku.Jujur saja,menginjak dewasa aku sangat takut dengan yang namanya jarum suntik.
Biarlah mereka yang suka mengejekku,tetapi pada nyatanya aku selalu merasa tegang saat melihat jarum suntik.
Cukup lama.Ba'da maghrib aku dimasukkan kedalam ruangan bersalin.
__ADS_1
Untuk menunggu apakah akan ada reaksi atau tanda-tanda aku akan melahirkan.
Aku diletakkan disalah satu bilik yang untungnya disamping kanan kiriku terpisah oleh dinding.Bukan kain gorden.
Lalu datanglah suster untuk memasang alat yang dilingkarkan diperutku yang sudahlah alu sendiri tak begitu paham akan fungsinya.Yang aku tangkap akan fungsi alat itu hanya,alat untuk mendeteksi detak jantung bayi dalam perutku.Kalau tidak salah seperti itu.
Dirumah sakit,semua kulalui hanya berdua dengan Althaf.Keluargaku juga keluarga Azka sudah diberitahu.Jarak Boyolali-Bandunglah yang membuat mereka baru akan tiba esok hari.
Semalaman aku tidur dengan sangat tidak nyaman.Bergantian miring kekanan dan kekiri.Sedang Althaf,ia tidur diatas karpet yang kami bawa dari rumah.
Keesokan harinya,
Pukul 04.05 aku sudah terbangun.Tidak nyamannya tidurku membuatku bangun lebih awal.
Lalu aku memanggil Althaf untuk segera bangun dan merapikan karpet itu.
15 menit berlalu,masuk seseorang yang entah suster atau assisten dokter.
Ia kembali memasangkan alat untuk mendeteksi detang jantung bayiku.
"Ar gue keluar dulu beli kopi yak?Lengket banget ini mata."Izin Althaf.
"Jangan lama-lama!"Jawabku.
Ia mengangguk lalu mencium keningku sebentar sebelum melenggang keluar.
Pukul 05.09 alat itu dilepas.Masuk lagi seorang wanita berpakaian warna hijau untuk memeriksaku.Tak lama,tak lebih dari 3 menit.
Samar-samar kudengar poembicaran mereka-mereka yang bertugas diruang bersalin sedang berbicara dengan dokter yang menanganiku melalui sambungan telpon.
Satu kalimat yang langsung membuatku merasa down.
'Detak jantungnya tidak stabil dok.Bahkam melemah.'
Aku mendengarnya saat aku hanya sendirian.Semakin kesal saat Althaf tak kunjung kembali.
Menjelang setengah 6 Althaf baru kembali.Kupasang wajah sekesal mungkin agar ia sadar.
"Li kemana aja sih?Sadar kek gue butuh elo."Kesalku.
Lalu masuklah perempuan yang tadi memasangkan alat pendeteksi itu.
"Mbaknya puasa ya mulai sekarang."Ucapnya ramah.
"Anda harus dioperasi.Kasian janin kembar anda."Ucapnya lagi.
Aku masih belum ngeh jika aku harus melakukan operasi sesar.
"Hah."Hanya itu yang keluar dari mulutku.
"Setengah 7 ini ya mbak.Dokter bilang harus segera dilahirkan."Jelasnya.
Seakan ia mengerti keterkejutanku,ia lantas menjelaskan seperti apa operasi itu.
"Tenang!Nanti bagian perut kebawah dibius kok.Nggak sakit sama sekali.Paling perut kaya didorong-dorong."Jelasnya.
"Nggak dibius semua ya mbak?"Jawabku.
"Kalau dibius semua,nanti gimana dedeknya?"Jawabnya masih terlihat ramah.
"Minum aja boleh nggak mbak?'Tanyaku lagi.
"Jangan mbak.Takutnya nanti pas operasi mual terus muntah."Jawabnya.Aku hanya mengangguk patuh.
Tak lama setelah keluar ia masuk kembali.
'Setrika jalan'Pikirku.
__ADS_1
Ia hanya menanyakan perihal alat kontrasepso yang akan kupakai kedepannya.Tapi Althaf sudah menyela membuatku kesal sendiri.
"Jangan IUD mbak.Kalau mau punya anak lagi lama."Jawabnya.Mbak-mbak itu tersenyum kikuk.
"Mas,meskipun IUD sebelum 8 tahun sekiranya mas dan mbak ingin nambah momongan bisa dilepas."Jelasnya denga tersenyum.
Althaf hanya ber-O ria.
"Mari mas ikut saya."Ajak salah seorang petugas lagi.
Pukul 6 aku dibawa keruang tunggu.Kudengar dokter sudah tiba.Dan didalam ruang tunggu sudah terdapat salah seorang pasien.Ternyata sama ia juga harus melakukan operasi.
Jujur saja aku merasa sangat iri saat melihat wanita disampingku terus ditemani suaminya.Sedang aku,huh.Althaf sibuk mengurusi segala keperluan untukku pasca operasi.
Sebelum memasuki ruang operasi aku sudah menangis.Seperti inikah perjuangan seorang ibu untuk anaknya.
Tuhan,benar saja melahirkan seorang anak itu harus bertaruh nyawa jika memang seperti ini perjuangannya.
Dalam hati aku berucap,
'Bu,ma maafkan Arka yang belum bisa menjadi anak dan menantu yang baik.'
Aku meminta kepada suster untuk dipanggilkan Althaf sebentar.
Kulihat ia meneteskan matanya.
"Kamu kuat Ar.Kamu kuat."Ucapnya.Pertama kalinya seorang Althaf memanggilku 'kamu'.
Lalu aku dibawa keruang operasi.Terdapat begitu banyak lampu.Aku terus merapalkan doa sepanjang berada diruangan itu.
Setelah dipindah kematras untuk operasi,aku didudukkan.Ternyata akan dilakukan suntik bius dipunggungku.
"Mbak jangan kaget ya.Jangan bergerak.Santai dan tenanggJangan tegang.Pokoknya rileks aja biar satu kali suntikan langsung berhasil."Ucap dokter yang khusus membius itu
Lalu aku ditidurkan kembali.
Rasany dibagian perutku kebawah mulai hilang.Tak terasa apa-apa.Digerakkanpun tidak bisa.
Sepanjang operasi,tangan dokter yang membiusku tadi terus aku genggam.Barang sedetikpun tak aku lepas.
Bodo amat saat ia ingin melepas tanganku tetapi tetap kugenggam.
Tak lama terdengar suara bayi menangis.Air mataku lolos begitu saja.
"Mbak ini putranya ya.Laki-laki tampan."Ucap salah seorang yang membantu operasi itu.
Tak lama terdengar suara tangisan bayi yang kedua.
"Sama.zini juga laki-laki ya bu.Tampan."Ucap sakah seorang lainnya.
Aku menangis melihat bayi yang masih sangat merah itutAku menangis bahagia.Putra-putraku.
Kalian tahu seperti apa rasanya melahirkan hanya ditemani suami tanpa ada pendamping yang lain?Itupun ditinggal kesana kemari.
Rasanya luar biasa sedih.Tidak ada yang menyemangati.Tidak ada yang menenangkan aku.Aku hanya bisa menangis,dan menangis.
Setelah selesai,aku dipindahkan keruang tunggu.Disana sudah ada beberapa perempuan usai menjalani operasi.
Sambil menunggu hilangnya obat bius aku tertidur.
Badanku rasanya remuk sekali.Aku lelah dan ingin istirahat sebentar saja.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
JANGAN LUPA TAMBAHIN KE FAVORITE
JANGAN LUPA LIKE DAN COMENT YA,BIAR AUTHOR SEMANGAT NULIS
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE JUGA.BERAPAPUN ITU SANGAT BERARTI BUAT AUTHOR.
LOPES KALIAN SEMUA