
PLAKKKKK
Satu tamparan keras mendarat sempurna dipipi kanan Arka.Ayahnya murka,karena Arka ketahuan masih menjalin komunikasi dengan Dedy.
"Ingat derajat kamu Arka!"Teriak ayahnya.
"Siapa kamu dan siapa dia!"
"Sadar dengan posisi kalian!"
Ayahnya masih saja murka.Ia tidak peduli meski ini sudah menjelang tengah malam dan hal itu akan mengganggu tetangga.
"Ayah,semua tidak se..."
PLAKKKKK
Lagi satu tamparan keras mendarat dipipi kirinya.Arka hanya bisa menunduk.Sebab menjelaskan pun akan percuma.Ayahnya tidak akan percaya.
Ingin sekali,Arka menumpahkan air mata yang ia tahan.
"Harusnya kamu tahu Arka,jika hubungan kalian sampai diketahui pihak luar,kalian akan mendapat hukuman sosial yang sulit untuk kamu terima.Ku sudah kelas XI Arka.Ingat sebentar lagi lulus.Apa kamu tidak kasihan jika sampai hubungan kalian diketahui banyak orang?"Kali ini suara ayahnya sudah lebih melemah.
"Mulai besok,kamu cuma boleh keluar sama Althaf,Azka atau Asen selain keluarga.Sekarang masuk kamar dan tidur!Kamu juga Miya tidur!"Ucap ayahnya tanpa bisa ditolak.
Arka berjalan menuju kamarnya dengan rasa perih dipipinya.
Dimalam yang selarut ini bahkan hampir tengah malam,ayahnya tanpa sengaja melihat Arka yang sedang membalas chat dari Dedy.Arka dan Miya yang sedang berada didepan TV tidak mengetahui jika ayahnya sudah berada dibelakang mereka.
Sehingga ayahnya murka dan langsung menampar Arka.
"Mbak.."Ucap Kita ketika mereka sampai dikamar masing-masing.
"It's okay Mi.Gue nggak pa-pa kok."Jawab Arka disertai senyum terpaksanya.
Jika saja Dedy berasal dari keluarga biasa saja atau setidaknya mereka tidak dalam satu lingkup sekolah,mungkin kedua orang tuanya masih bisa menerima.Tetapi ini mereka adalah guru dan murid disekolah yang sama.Apa jadinya jika pihak sekolah tahu hal ini.
Keesokan harinya,
Rasa perih dikedua pipinya maish jelas terasa.Bahkan bekas gambar tangan ayah ya masih terlihat jelas.Karena ini hari Minggu,Arka memutuskan untuk pergi kerumah Althaf.
Jika hari Minggu ini Arka sednag berada dalam posisi dimana ia bertengkar dengan kedua ornag tuanya, lain halanya dengan Althaf.Libur sekolah,kumpul bersama keluarga,papanya libur,dan bisa menghabiskan waktu bersama keluarga.Kakaknya tidak kuliah dan adiknya juga tidak sekolah.
Berbeda dengan Arka yang justru berkebalikan.Hari ini menjadi hari minggu yang sangat tidak ia sukai.
Selama ini ia tidak mengiyakan ucapan orang tuanya untuk menjauhi Dedy.Tetapi ia juga tidak menentang ucapan orang tuanya.Ia hanya diam.Justru diamnya itulah yang membuat kedua orang tuanya semakin gusar memikirkan nasib anaknya kedepan.
Tok tok tok
Arka mengetuk pintu rumah Althaf.Mama Althaf yang mendengar segera membuka pintu.
Karena keduanya sudah berteman sejak kecil,sehingga orang tua Althaf sudah menganggap Arka seperti anaknya sendiri.
Begitupun sebaliknya,keluarga Arka sudah sangat mempercayakan
Arka pada Althaf jika mereka sedang bersama.
__ADS_1
"Sayang."Sapa mama Althaf sumringah.Begitulah,setiap Arka main keru.ah ini,mamanya Althaf selalu memperlakukan Arka seperti anak gadisnya sendiri.
Tapi wajah sumringahnya berubah keterkejutan melihat gambar tangan dipipi Arka.
"Pagi ma."Jawab Arka dengan senyum palsu lalu mencium punggung tangan mamanya Althaf.
"Althaf ada ma?"Tanya Arka dengan pandangan kosong.
"Kamu ada masalah hem?"Jawab mama Althaf karena sudah hapal betul dengan ge-lagat Arka jika ada masalah.
Arka menggelengkan kepalanya,tetapi ia tidak berani menatap mamanya Althaf.
Mama Althaf sendiri tak mau bertanya lebih,karena ia tahu jika Arka pasti akan cerita sekiranya tidak mendapat jalan keluar.
"Althaf diruang keluarga,bareng masmu Satya dan adikmu Azfer."Jelas mama Althaf sembari mengusap pelan kepala Arka.
Karena ia tak mempunyai anak perempuan makanya ia sangat menyayangi Arka.Ia juga sering mengatakan Satya sebagai kakak Arka,dan Azfer sebagai adik Arka.Tak lupa papa Althaf sebagai papanya Arka.
Mengetahui dimana Althaf berada,Arka langsung menuju ruang keluarga.Disana ia mendapati tiga laki-laki berbeda umur sibuk bermain game.Dan satu laki-laki paruh baya sedang membaca koran dan duduk disalah satu sofa single.
Ia kemudian menyapa dan mencium tangan papanya Althaf.
"Selamat pagi pa."Sapa Arka.
"Pagi sayang.Itu Althaf disana.Papa tinggal ya?Mau kemama dulu."Pamit papanya Althaf.Arka menganggukan kepalanya.
"Althaf."Panggil Arka dengan suara parau.
"Hm."Jawabnya.
Satya yang mendengar ada yang memanggil Althaf lantas melihat siapa yang sedang mencari adiknya itu.Melihat Arka hanya menundukkan kepalanya,ia segera memberi tahu sang adik jika Arka datang.
"Sst...Kayaknya dia lagi ada masalah. Temui dia dulu!"Perintah sang kakak,Althaf segera memutar badannya dan melihat siapa yang datang.
Mengetahui keadaan Arka yang sedang tidak baik-baik saja,ia lantas mencampakkan stik gamenya begitu saja.
"Maaf ya,tadi sempet nyuekin.Ada apa?"Tanya Althaf begitu berdiri disampingnya.Ia berusaha berbicara sehangat mungkin agar Arka tidak marah karena tadi sempat ia cuekin.
Arka menggelengkan kepalanya.Lalu mendongakkan kepalanya.Mata Althaf membulat sempurna melihat mata sembab Arka dan kedua pipi Arka yang memerah.
"Hey.Arka."Ucap Althaf lagi.Kali ini sudah lebih hangat dari sebelumnya.Ia sangat yakin ada masalah yang sedang Arka pikul saat ini.
"Hiks...hiks..."Arka justru menangis.
"Arkadewi Fajarina."Panggil Althaf lagi.Jika Althaf sudah memanggil nama lengkap berarti dia sudah berada dimode serius.
"Daniel."Jawab Arka.Tangisnya sendiri malah semakin menjadi.
'Daniel' ya nama depan Althaf,Arka akan memanggil dengan nama itu jika memang dia sudah berada dalam keadaan yang mana ia sangat membutuhkan Althaf.
Seketika Althaf memeluk Arka.Membiarkan Arka menumpahkan air matanya dalam pelukan Althaf.
Satya yang mengerti keadaan lantas mengajak Azfer pergi dari tempat itu.Meski awalnya Azfer menolak,Satya memaksa Azfer untuk meninggalkan ruang keluarga.
"Loh mana anak mama yang dua Sat?"Tanya mama Althaf.
__ADS_1
"Lagi pelukan ma didepan tv."Sahut Azfer polos.
Pletak
Satya menjitak kepala Azfer.
"Bang Sat sakit."Keluhnya sambil mengusap-usap kepalanya.
"Ngawur kamu kalau bicara."Tegur Satya.
"Lah kan emang bener,kak Arka sedang nangis terus dipeluk mas Althaf."Jelasnya.
"Bocah sono pergi lo.Belum waktunya tahu begonoan."Usir Satya kesal.
Keduanya terus berdebat tanpa peduli mamanya yang malah pusing mendengar perdebatan itu.
"STOP!"Teriak papa Althaf."Lihat mama kalian,pusing dengar perdebatan nggak penting kalian."Sahut papa Althaf.
Akhirnya mereka sama-sama diam.Daripada terkena semprot dari papanya.
Kembali ke Arka dan Althaf
"Al,gue bingung."Ucapnya memulai percakapan setelah keduanya sampai diayunan taman belakang.Keduanya sudah duduk disofa.
"Kenapa sih?"Balas Althaf.
"Ayah sama ibu Al.Semalam ayah murka karena aku ketahuan membalas chat pak Dedy.Semalam aku ditampar ayah Al."Cerita Althaf.
"Mereka...mereka menolak kedekatan gue sama pak Dedy."Jawab Arka.
"Emang ada apa sama pak Dedy."Sahut Althaf yang masih belum sadar dan belum mengerti maksud Arka.
"What pak Dedy?"Ulang Althaf.
Arka mengangguk.Ia harus siap dengan segala kemungkinan Althaf akan bertanya banyak hal.
"Sejak kapan l dio deket sama pak Dedy?Kok bisa?Anak-anak udah pada tahu?Terus kok bapak sama ibu bisa tahu lo deket sama pak Dedy.Alasannya apa?"Tanya Althaf beruntun sudah seperti kereta.Anak-anak yang ia maksudt adalah Asen dan Azka.
"STOP!Pusing gue dengernya."Keluh Arka.
"Ya bisa Al.Pas gue sakit hati gegara Rhandra,dia selalu memberi gue semangat.Memberi nasehat kegue.Setiap istirahat kalau gue duduk sendirian udah pasti dia temenin gue.Pas lo sama Azka ninggalin gue,dia ada buat gue.Dan gue cuma cerita sama elo."Lanjut Arka.
"Bapak sama ibu mulai cyriga pas elo ninggalin gue disekolah.Gue nunggu hujan reda donk karena gue pikir gue bakal jalan kaki.Lah pas hujan reda,pak Dedy narik tangan gue gitu aja.Kita mampir makan dulu ke nasgor 212.Kan sudah sore,jadi pak Dedy nganterin gue sampai rumah.Terus semalem ayah mergoki gue lagi chatingan sama dia."Jelas Arka.
"Perihal bapak sama ibu mereka nggak suka karena dia guru kita Al.Terus gimana donk?"Arka sudah mulai gelisah lagi.
"Ya emang ada benernya sih bapak sama ibu.Mungkin mereka takut kedepannya akan ada masalah.Kan kita udah kelas dua Ka,kalau sampai ketahuan kalian menjalin hubungan,ntar pasti ada masalah."Pendapat Althaf.
Inilah sisi baik Althaf,jika kabel dalam otaknya tersambung sesuai warna maka ia bisa memberi masukan yang bersifat positif jika ada yang berkeluh kesah padanya.
"Lagi,ayah bilang gue nggak boleh keluar selain sama keluarga,elo Azka dan Asen.Bete banget kan."Curhat Arka lagi.
"Tapi gue bisa bantu elo buat backstreet sama pak Dedy.Kapanpun elo pengen pergi bareng pak Dedy ada gue yang bakal bantu.Bagus kan ide gue?"Usul Althaf bangga.
"Ok.Thanks ya Al.Gue berterimakasih banyak sama lo."Sahut Arka lalu memeluk Althaf.
__ADS_1
'Setidaknya gue seneng bisa buat lo seneng.Anggap aja buat nebus kesalahan gue pas kelas X dulu.'Ucap Althaf dalam hati.