
"Urusan lo sama gue belum selesai.Salah lo sendiri yang udah gangguin singa tidur."Ucap Shakeil disertsi tatapan yang tajam.Dari nada bicaranya terdengar sangat dingin.
Gambar tangan Shakeil membekas jelas diwajah Dinda yang berkulit putih.
Sakit?Sudah pasti.Tetapi baginya hatinya yang lebih sakit.
Tanpa mereka ketahui,ada yang melihat kejadian tadi.
Shakeil langsung pergi dari tempat itu.Ia segera menggeser tombol hijau yang ada pada layar ponselnya.Berulang kali ia menghembuskan napatajamBerusaha mengatur napasnya dan agar dia tidak gugup.Sungguh ia merasa berdosa pada Ave.
"Hallo."Jawab Shakeil.
"SHAKEILLLL!!!!Lama amat sih?"Teriak Ave.Shakeil bahkan harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya,karena teriakan Ave membuat gendang telinganya sakit.
Shakeil tersenyum bahagia.Gadis pujaan hatinya sudah tidak marah lagi.
"Apa sayang?"Tanya Shakeil lembut.
"Nggak usah sayang-sayang.Jadi kangen.Pengen peluk."Manja Ave disertai tawa kecilnya.
Deg
Ada rasa sakit karena bersalah pada Ave.Ia merasa sudah seperti berkhianat pada Ave.Ingin sekali Shakeil bercerita pada Ave.Tapi ia juga takut jika Ave akan marah padanya.
"Sha."Panggil Ave.
"Shakeil."Panggil Ave lagi.Tapi sayang Shakeil sedang melamunkan kejadian beberapa menit yang lalu.Ia justru mengehela napas kesal.
"Shakeil kenapa ih?Kok kayaknya lagi nggak enak gitu?"Tanya Ave khawatir.
Shakeil masih tak bergeming.Akhirnya Ave memilih untuk berteriak memanggil nama lengkap Shakeil.
"ALGIS SHAKEIL ALVREDO WOY."Teriak Ave sangat keras.Seketika Shakeil tersadar dari lamunannya.
"Lo lagi sama orang lain?Gue matiin telponnya."Ancam Ave.
"Enggak sayang.Lagi ada sedikit masalah.Mau cerita takut kamunya marah."Jawab Shakeil akhirnya.
"Apaan?"Ave seketika sangat ingin tahu masalah apa itu.
Sudah Shakeil duga jika Ave akan sangat ingin tahu masalah apa itu.
Akhirnya keduanya berdebat cukup lama hanya untuk masalah ini.Dan sudah dipastikan jika Shakeil lah yang akan kalah debat.
Dengan menghela napas berat,Shakeil beranikan diri untuk jujur pada Ave.Apapun resikonya akan tetap ia terima.Asal bukan perpislengka
"Maafin gue ya Av."Ucap Shakeil pelan.
__ADS_1
"Lo selingkuh Sha?Wah tega bener lo Sha sama gue.Gue setia hampir 4 tahun sama lo.Dan sekarang lo selingkuh dari gue?Jahat banget sih lo sama gue."Tuduh Ave cepat.Shakeil memutar bola matanya jengah.Selalu seperti itu,menanggapi segala sesuatu dengan tergesa-gesa.
"Ave.Gue nggak sebegok itu.Satu aja elo udah cukup sayang."Jawab Shakeil penuh penekanan.
"Terus?"Tanyanya lagi.
"Tadi,ada salah satu taruni yang selama ini saban hari gangguin gue.Tapi sumpah Av gue kagak pernah nanggepin dia sekalipun.Semua barang-barang yang ia berika ke gue,gue berikan balik sama Theo dan Soga.
Dan tadi,saat dia ngajakin gue ngomong.Tapi gue cuekin.Dia cium bibir gue."Jelas Shakeil lirih.
Untuk sekejap Ave diam tak menjawab.Tapi detik berikutnya,terdengar suara gelas yang terjatuh.
Prang
"Serius Sha?"Tanya Ave histeris.
Dalam hati Shakeil sudah sangat yakin jika Ave kan marah.Entah bagaimana caranya nanti ia untuk membujuk Ave.
"Heem."Jawab Shakeil lemah.
"Sebegitu terobsesinya dia sama elo?Gila,gila,gila.Gue punya saingan.Aaaaaa....."Terdengar Ave masih histeris sendiri.
"Gimana Sha rasanya dicium?"Tanya Ave terdengar konyol.
"Lo kagak marah Av?"Shakeil langsung menjawab ketika mendengar pertanyaan konyol Ave.
Ya Ave memang terkejut saat mendengar penjelasan jika ia tadi dicium salah seorng taruni.Bahkan dibibirnya.
Dia saja yang sudah berpacaran hampir 4 tahun,paking banter pelukan.Lah ini,sape dia asal nyosor pacar orang.
Coba taruni itu ada didepan matanya,nggak yakin kalau dia masih bisa bernapas lagi.Heheheh
"Gue berani sumpah Av.Melirik saja kagak sudi gue."Ucap Shakeil lagi.
"Iya iya Sha.Gue percaya.Gue yakin tadi lo pasti udah kasih pelajaran sama gadis itu."Kata Ave.
"Heheheh....Sedikit.Hanya tamparan dipipinya yang lumayan keras."Jawab Shakeil sambil cengengesan.
"What hanya?Gila lo."Pekik Ave."Dia cewek oy."Lanjutnya.
"Lah salah sendiri napa juga berani kek gitu."Bela Shakeil.
Shakeil merasa sangat lega karena sudah bisa berkata jujur pada Ave.Dan ia juga bersyukur jika Ave tidak marah padanya.Meskipun ia sendiri yakin jika Ave pasti terkejut karen hal ini.
Gue pastikan dia bakal nyesel udah gangguin ketenangan hubungan gue.Pikir Shakeil.
Emosi Shakeil yang berada dipuncaknya,menguap begitu saja saat mendapat telpon dari gadis yang paling ia cintai itu.Sungguh,Ave adalah pawangnya Shakeil.
__ADS_1
Lama Shakeil dan Ave mengobrol melalui sambunga telpon.Hingga giliran Ave yang meminta maaf karena sudah sempat bersikap egois.
Dan bagi Shakeil,itu bukan salahnya Ave.Ia juga bersalah karena sempat memberi harapan pada Ave.
Setelah puas berbicara dengan Ave.Shakeil kembali kekamarnya.Saat melewati jalan yang ia lewati tadi.Dinda sudah tidk berada disana.
Bodo amat.Pikirnya.
Ceklek
Shakeil membuka pintu kamarnya.Terlihat Theo dan Soga yang sedang tertidur diatas karpet.Melihat posisi keduanya yang terlihat sangat buruk,Shakeil menggelangkan kepalanya.
Satu ide jail muncul dikepala Shakeil.Ia mengambil air mineral.Lalu menyipratkan kewajah Theo dan Soga.Ia juga tak lupa berteriak jika sedang banjir.
"BANJIR.BANJIR.BANJIR."Teriaknya.Ia masih menyipratkan air itu kewajah kedua sahabatnya.
Seketika Theo dan Soga terbangun dan terlihat kalang kabut karena mereka mengira banjir beneran.
Shakeil yang melihat keduanya tertawa terbahak-bahak.Ia sampai memegang perutnya yang keram karena terawa terlalu lama.
Dan mendengar tawa Shakeil,Theo juga Soga lantas melihat kearah Shakeil.Mereka baru sadar jika mereka sedng dikibulin Shakeil.
"Sialan lo Sha."Teriak Theo.Ia segera berlari kearah Shakeil.Shakeil sempat menghindar,tetapi karena ia juga dicegat Soga ia akhirnya tertangkap juga.
Ketiganya guling-guling dilantai karena Theo dan Soga berusaha menggelitik Shakeil,tetapi Shakeip berusaha melawannya.
Hingga tiba-tiba pintu kamar diketuk seseorang dari luar.
Tokkk tokkk tokkk
"Bentar-bentar ada yang ngetuk pintu."Ucap Soga.Ia lantas berdiri dan membuka pintu.Terlihat dari pimpinan pelatih yang selama ini melatih mereka berdiri didepan kamar.
"Ya pak.Ada yang bisa kami bantu?"Tanya Soga dengan suara tegasnya.Ya,Soga pun bisa berubah menjadi tegas bilamana sudah berada ditempatnya.
"Panggilkan Shakeil untuk menghadap saya diruangan saya.Secepatnya.Permisi."Icap pelatih itu.Lalu ia pergi dari hadapan Soga.
Soga sendiri langsung memanggil Shakeil.
"Lo ada urusan apa sama pelatih?"Tanya Soga.Shakeil yang mendengar pertanyaan Soga menjadi ikut berpikir.Dan tiba-tiba pikirannya tertuju pada ia yang menampar Dinda beberapa menit yang lalu.
"Huh.God.Dasar gadis sialan."Gerutu Shakeil.Ia segera pergi menghadap pelatihnya.
"Lo butuh bantuan kita?"Tanya Theo."Kagak.Urusan pribadi."Sahut Shakeil.Terdengar nada kesal dari suara Shakeil.
JANGAN LUPA VOTE,KOMENTAR,DAN LIKE YA
SALAM LOPES AUTHOR
__ADS_1