
Althaf pov
Ada rasa kasihan tatkala aku harus meninggalkan Arka didalam ruangan itu sendirian guna mengurus segala keperluan untuk pasca operasi nanti.
Assisten dokter yang memanggilku tadi ternyata menyuruhku untuk membeli beberapa perlengkapan untuk Arka usai operasi nanti.
Padahal,mauku disaat-saat seperti ini,disaat Arka hendak masuk kamar oprasi aku ingin selalu disampingnya dan memberinya semangat.
Bahkan saat brankar sudah mulai bergerak ia masih ingin dipanggilkan aku.
Kulihat dia menangis.Raut ketakutan terlihat jelas diwajahnya.
Tanpa permisi aku meneteskan air mata.
Aku hanya bisa memberinya semangat.Lalu kukecup keningnya sejenak.
Aku keluar,menunggu Arka didepan kamar oprasi.
Aku terus merapalkan doa untuk keselamatan anak dan istriku.
Tak lama setelah Arka masuk keluarga dari Boyolali datang.Semuanya,tidak ada yang tertinggal.
Bahkan keponakan Arka yang masih kecil juga dibawa.Entah kendaraan apa mereka untuk sampai kesini.
Mereka sama-sama berdoa untuk keselamatan Arka dan bayinya.
Setelah satu jam,suster memanggilku untuk mengadzani kedua putraku.
Melihat kedua putraku yang masih sangat merah aku tersenyum bahagia.
"Terimakasih tuhan untuk segala nikmatmu."Ucap syukur Althaf.
"Mereka sungguh tampan."Gumamku lalu tersenyum.
Menjelang memasuki waktu jumatan,Arka dipindahkan keruang perawatan.
Saat brankar didorong oleh petugas rumah sakit,melihat wajah penuh kesakitannya membuatku ingin sekali menangis.
Aku tahu,untuk melahirkan kedua putraku ia harus bertaruh nyawa.
Dan aku sangat berterimakasih untuk itu.
Bagiku tidak ada bedanya,melahirkan secara normal ataupun cesar.Keduanya sama-sama harus bertaruh nyawa.
Althaf pov end
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Tidak ada air mata sebenarnya saat Arka dipindahkan keruang perawatan.Tetapi begitu melihat kedua orang tuanya ia menjadi menangis sesegukan.
Rasa sakit akibat oprasi semakin menjadi karena pergerakan perut akibat tangisnya.
Beruntung,sang kakak pertama siap siaga membantunya.
Hingga sore hari,Arka belum juga diketemukan dengan kedua bayinya.Kesal sudah pasti.Tapi sudahlah,mungkin prosedur rumah sakit.
Sakit pada perutnya semakin terasa saat seorang suster yang bertugas membantu menggantikan pakaian Arka sedikit tidak sabaran.
"Oy sus sakit ini.Dikira nggak sakit apa?"Keluh Arka.Ia sudah kesal karena suster itu tidak hati-hati dalam membantunya belajar menggerakkan tubuh.
"Ya namanya juga habis dibedah mbak,ya pasti sakit."Jawabnya santai.
"Gue disini bayar ya.Enak banget lo ngebacot santai banget.Gue aduin lo sama atasan lo."Sahut Arka kesal.Meskipun sambil menahan rasa perih akibat ia marah-marah,ia tetap menegur suster itu.
Suster itu tak lagi menjawab.
4 hari dirumah sakit,Arka diperbolehlan pulang.Dengan semua keluarga besarnya,Arka dan Althaf akan melaksanakan acara aqiqah.Mumpung semua berkumpul disana.
Tak lupa mereka melakukan foto bersama keluarga besar.
Arka dan Althaf juga foto berempat dengan keduanya saling memangku anak mereka satu-satu.
Sesuai keputusan,Arka dan Althaf akan segera memberitahu Asen dan Azka.Dan apapun keputusannya akan mereka hadapi.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Terdengar suara ponsel berbunyi tanda ada panggilan masuk.
Ini adalah weekend,dan tidur keduanya harus terganggu karena suara ponsel yang terus berbunyi itu.
Tanpa melihat siapa nama pemanggil,panggilan itu langsung diangkat dan ia tempelkan ditelinganya.
__ADS_1
"Hallo."Ucapnya.
"Oy Azka gue video call ogeb,kenapa malah penampakan kuping lo yang lo tunjukin.Hah?"Teriak Arka.
Niat yang sudah ia susun sedemikian harus hancur karena kekonyolan Azka.
Azka yang mendengar suara itu buru-buru bangun dari tidurnya.Meninggalkan ponsel itu kekemar mandi untuk cuci muka terlebih dulu.
"Entar gue cuci muka dulu."Teriaknya.
Arka tersenyum mendengar teriakan itu Ia tak yakin beberapa menit lagi tawa itu masih akan terdengar lagi.
Tak lama sudah terlihat wajah Azka yang lebih segar.Azka masih sibuk mebangunkan Asen yang masyaallah,susahnya dibangunkan.Tak jauh beda dengan Althaf.
"Asen.Dicari Arka nih.Dia video call njirrr."Teriak Azka tepat disamping kuping Asen.Asen seketika terlonjak,meskipun kesal tetapi mendengar nama Arka ia juga melakukan yang hal sama seperti Azka tadi.
"Tungguin gue zeyeng."Teriaknya.Arka cekikikan mendengar suara Asen.
"Hallo Arka sayangkuh cintakuh belamenggerakka soulmate gueh.Abang rindu dhek."Sapa Azka.Asen yang mendengar ucapan Azka melongo saking kagetnya.
"H...hai."Jawab Arka kikuk.
"Lo dimana dah Ar?"Tanya Asen.
"Dikamar."Jawab Arka dengan senyum yang dipaksakan.
"Ada apa sih?Kok kek gugup gitu?"Tanya Asen.
"G...g...gue.."Ucap Arka gugup.
"Lo kenapa dah?"Tanya Azka penasaran.
"Gue...gue..."Lanjut Arka tetapi masih takut untuk mengatakan semuanya.
"Apa sih lo?Gaje banget lo?"Sahut Azka kesal.Asen masih sibuk menjadi pendengar.
Belum sempat Arka menjawab sudah terdengar suara tangisan sikembar.
Bagaimana tidak menangis,Althaf tidurnya ngawur banget dah.Itu tangan nggak sengaja nindihin sikembar.Ya udah pasti nangis.
Arka langsung menolong sisulung.Dan membangunkan Althaf,mendengar anaknya menangis Althaf langsung bangun dan menggendong sang adik.
Saat sikembar sudah tenang,Azka segera angkat bicara.Meski tidak berhadapan,suara tangisan sikembar yang keras terdengar hingga ketelinga Azka dan Asen.
"Siapa mereka Ar?"Tanya Azka.Nada suaranya sudah mulai terdengar serius.
"Lo tadi bilang Althaf,jangan bilang dia adalah Daniel Althaf Shahbaz teman kita?"Tambah Asen.
"Lo sembunyikan apa dari gue dan Azka?"Imbuh Asen lagi.
"Cepet jelasin oy Arkadewi Fajarina!"Teriak Azka kesal.
"Iya,dia Althaf teman kita.Dan yang tadi nangis sikembar anak gue.Dan Althaf adalah laki gue."Jelas Arka dengan mata terpejam.
BOOOOOMMMMMMMMM
Seperti mendengar sebuah ledakan bom,tatkala mendengar penjelasan itu.
Azka dan Asen masih diam.Tetapi diamnya mereka justru memyimpan banyak makna.
"Asen,Azka."Panggil Arka lirih.
Tak ada jawaban dari keduanya.Althaf sendiri sudah dikode untuk diam dulu oleh Arka.
"Lo anggep gue sama Asen apa sih Ar?Lo udah nggak nganggep kita sebagai sahabat lo?Maksudt dari semua ini apa?Dulu sewaktu lo nyembunyiin hubungan lo sama almarhum pak Dedy cuma Althaf yang elo bagi tahu.Dan kita berdua masih bisa terima.Lalu sekarang lagi-lagi lo bohongi kita dan menyembunyikan fakta seperti ini?Lo tulus nggak sih Ar nerima gue sama Asen jadi temen lo?"Jawab Azka penuh emosi.
"Gue kira kita sahabat udah kayak saudara tau nggak?Pas elo sembunyikan fakta yang dibilang Azka tadi kita masih ok-ok saja.Tapi kenapa sekarang lo ulangi lagi sih Ar?Bahkan ini lebih dari yang dulu."Imbuh Asen.
"Sumpah gue kecewa sama lo dan Althaf."Lanjut Asen.
"Apa sebegitu nggak pentingnya kita,jadi elo bisa bohong sama kita?Tau nggak rasanya apa?Sakit coeg sakit"Tambah Azka.Dengan cepat Arka menggeleng.
"Semua ada alasannya kok."Jawab Arka.
"Alasan?Lo bilang ada alasan?Bulshiit tahu nggak?"Tanya Azka tak percaya.
"Udahlah sekiranya elo udah bahagia sama Althaf.Dan udah nggak butuh gue sama Azka,kita bakal pergi dari hidup lo.Gue dan Azka nggak akan hubungi lo lagi.Sorry dan maaf akan semua kesalahan kami selama kita jadi sahabat."Kata Asen.Ia benar-benar dibuat kecewa terhadap sikap Althaf dan Arka yang mmenyembunyikan pernikahan itu.
"Coba lo dengerin penjelasan gue sama Arka dulu!"Pinta Althaf.Akhirnya ia buka suara juga.
"Ini semua terjadi begitu saja.Bahkan gue sama Arka ketemu cuma pas ijab doang.Sebelum-sebelumnya kagak tau kalau yang dijodohin itu kami.Bahkan hari dan tanggalpun semua dibuat tanpa sepengetahuan kami."Jelas Althaf.Ia juga tidak mau persahabatan itu bubar jalan begitu saja.
__ADS_1
"Gue masih ada kerjaan.Selamat berbahagia sama keluarga kecil lo Ar,Al."Katak Azka dengan hatinya yang sangat terasa sakit.
"Terimakasih buat kejutan paginya.Luar biasa"Imbuh Asen.Lalu panggilan video call itu terputus secara sepihak.
Arka menangis sejadi-jadinya.Hanya saja tangisan itu ia tahan sehingga tidak menimbulkan suara.
Ia tahu jika akan berakhir seperti ini.Tetapi ia juga tak bisa berbut apa-apa lagi.
"Udah mereka akan segera lupa dan maafin kita."Ucap Althaf.Ia hanya ingin menenangkan istrinya itu.
Ia hapal betul seperti apa kedua temannya itu.Jika sudah semarah ini,artinya keduanya sudah terlalu kecewa,dan bukan perkara mudah membujuk mereka.
Dilain sisi,Asen dan Azka masih sama-sama diam usai mendengar kebenaran beberapa detik yang lalu.
Azka segera beranjak kekamar mandi.
Didalam kamar mandi ia berteriak keras.Ia sangat kecewa terhadap Arka.Mengapa banyak sekali hal ia sembunyikan darinya dan Asen.
"Argghhhhhh."Erangnya.
Lututnya terasa lemas,ia luruhkan tubuhnya yang bersandar dinding turun kebawah dan terduduk dilantai.
"Gue anggep apa lo selama ini Ar?Gue sahabat lo bukan sih?"Racaunya.
Menangis?Jelas.Meskipun ia selalu terlihat selengekan dan tidak bisa serius,tetapi diluar itu semua sesungguhnya ia pribadi yang sangat menyayangi orang terdekatnya.
Sangat lama ia berada didalam kamar mandi,Asen menjadi curiga dan khawatir karena tidak biasanya Azka berada didalam kamar mandi setelah satu jam.
Cepat-cepat Asen membuka pintu kamar mandi.Azka sudah berpakaian lengkap.Kepalanya ia tundukkan.Tak ada semangat yang terlihat dalam diri Azka.
Asen tahu kondisi sahabatnya sangat buruk saat ini.Ia bantu Azka untuk berbaring dikasurnya.
(Asen dan Azka sepakat menyewa satu kamar kos dengan satu kasur ukuran king size untuk digunakan berdua)
"Lo mandi sono deh Sen!Bau jigong lo sampe ke hidung gue."Omel Azka.
"Cih.Anjay lo emang."Jawab Asen kesal.
Asenpun segera kekamar mandi.
Asen sebenarnya tak kalah kecewanya terhadap Arka dan Althaf.Hanya saja Asen pandai dalam menutupinya dan Azka senang menunjukkan rasa kecewanya dengan secara langsung.
Sudah satu tahun lebih,dan mereka baru memberi tahu?Mereka anggap apa dua orang ini?Huh.
Didalam kamar mandi,Asen menangis tanpa suara.
Ia berpikir mengapa persahabatan mereka harus diuji dengan cara yang sedemikian.
45 menit berlalu,ia baru keluar dari kamar mandi.
Saat dirinya berada diambang pintu kamar mandi,ia melihat Azka sedang memandangi foto mereka berempat.
Rasa sesak kembali menyelimuti hati keduanya.Mereka tak menyangka saja.Jika Arka dan Althaf akan memberikan kejutan semacam ini.
"Gue tahu lo kecewa,lo pikir gue kagak?Udah coba lupain.Jadi mending kita jalani hidup kita."Ucap Asen sambil menepuk pundak Azka.
"Gue mau keluar nyari makan.Lo mau nitip apa?"Tanya Asen.
"Nitip hati gue aja dah As."Canda Azka.
"Makan noh hati lo."Kesal Asen.
Iapun bergegas keluar untuk mencari sarapan.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
JANGAN LUPA TAMBAHIN KE FAVORITE
JANGAN LUPA LIKE DAN COMENT YA,BIAR AUTHOR SEMANGAT NULIS
JANGAN LUPA VOTE JUGA.BERAPAPUN ITU SANGAT BERARTI BUAT AUTHOR.
LOPES KALIAN SEMUA
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Kembarnya Althaf dan Arka
Adam Rayyan Atthafariz(sulung)
Agam Rayyan Atthafariz(adiknya)
__ADS_1