
Arka mulai memetik gitarnya. Di belakang, tanpa sepengetahuan Arka, Althaf sudah menyiapkan video ini.
Mungkin akan terasa menyakitkan. Membuat luka lama itu terbuka kembali.
‘Seusai itu senja jadi sendu, awan pun mengabu
Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku
Ku memintal rindu menyesali waktu mengapa dahulu
Tak kuucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari'
Ingatannya tertuju pada hari di mana semua berubah di luar nalarnya. Diluar pemikirannya. Di luar bayangannya.
Sungguh jika ini mimpi buruk maka ia sangat ingin segera bangun.
Pagi yang menjadi hari terburuknya sepanjang masa. Pagi yang mampu mengubah segalanya dalam sekejap.
Foto pertama adalah foto-foto Arka dengan seorang lelaki yang sedang tertawa saat berfoto Selfi. Di sana terlihat jelas pemilik wajah laki-laki tersebut.
‘Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian'
Lebih dari sekedar kata kesepian. Hampa, hancur,dan kosong hidupnya terasa. Dari awalnya sekejap berwarna pelangi, lalu seketika berubah menjadi menghitam.
Ia merasa hidupnya benar-benar hampa, tak berarti. Sekelebat bayangan untuk tidak meneruskan hidup inipun sering muncul dalam benaknya.
Dari sini suaranya terdengar bergetar. Bibirnya terasa kelu untuk melanjutkan bernyanyi.
Tetapi ia sudah bertekad untuk menyelesaikan lagu ini.
‘Kamu dan segala kenangan
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian
Menatap dirimu hanya bayangan
Tak ada yang lebih pedih
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu
Padamu...’
‘Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian'
Tersenyum? Bahkan senyum yang selama ini Arka tunjukkan hanyalah topeng. Hanya ia dan tuhan saja yang tahu bagaimana keadaannya saat ini.
Kali ini foto sudah berganti dengan foto-foto saat di mana Arka sedang berada di tempat makan. Disaksikan ribuan bintang, keduanya mencoba mengabadikan momen indah itu.
Ya tidak ada hal yang lebih buruk dibanding dengan tragedi yang sudah menghancurkan masa depannya itu. Tragedi yang sudah merenggut kebahagiannya.
‘Kamu dan segala kenangan
__ADS_1
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian
Menatap dirimu hanya bayangan
Hanya bayangan...
Tak ada yang lebih pedih
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu
Tak ada yang lebih pedih
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu
Ku mencintaimu
Kamu dan kenangan'
Sampai mati cinta itu akan selalu Arka simpan di lubuk hatinya. Jikapun ada orang lain yang mampu menggerakkan hatinya. Tentu tidak akan bisa mengusik tempat orang yang saat ini masih ia cintai.
Selamanya, laki-laki itu mempunyai tempat tersendiri di hatinya. Yang siapapun tidak akan mampu mengusik tempatnya.
Sebagai penutup, merupakan sebuah cuplikan dimana lelaki tersebut mengatakan sangat mencintai Arka.
‘Aku mencintaimu Arkadewi Fajarina.”
Setelah sedikit tenang, Arka membuka mata, entah hanya sebuah halusinasi atau bukan, tapi Arka melihat sosok seorang yang berdiri di belakang kursi barisan paling belakang.
Sosok itu menggunakan kemeja yang sama dengan miliknya. Dia tersenyum manis, senyum yang selalu hanya menjadi milik Arka. Senyum yang hanya ia tunjukkan ketika bersama Arka.
Arka sendiri membalas senyumannya.
'Terimakasih sudah datang melihatku.’Ucap Arka meskipun masih sesegukan.
Banyak dari mereka yang terkejut dengan ucapan Arka.
"Maaf jika penampilan saya barusan buruk. Maaf tapi saya sudah berusaha. Terimakasih." Kata Arka lalu turun dari panggung.
"Aku merindukanmu kak. Sangat." Lirih Arka.
Lalu ia berjalan lemas menuju kursi di depan kelasnya.
Arka duduk termenung, memejamkan matanya dan menyandarkan punggungnya pada tembok. Ia sumpal telinganya menggunakan headseat lalu mendengarkan lagu yang sama persis dengan lagu yang tadi ia nyanyikan.
“Kamu jahat kak. Membiarkan aku berjuang sendiri melawan kerasnya dunia. Sekarang aku sudah lulus, dan mana janjimu.” Lirih Arka.
Air mata tak dapat ia cegah. Lolos begitu saja. Tangisnya pecah. Hatinya terluka kembali. Luka itu, luka yang membuatnya terpuruk sangat dalam. Luka yang selalu membuatnya lemah.
Ia menangis sampai sesegukan. Tidak ada yang tahu seperti apa Arka terluka selama ini. Seperti apa Arka berjuang untuk terlihat tegar dan baik-baik saja selama ini.
Bahkan seorang Althafpun, orang yang paling dekat dengannya tidak tahu seberapa besar luka dan beban yang harus Arka tanggung.
Tak lama Althaf menyusul Arka. Berubahnya Arka membuat persahabatan mereka terasa berbeda. Arka menjadi pribadi yang sulit sekali untuk ditebak apa isi hatinya. Meski Arka sudah mencoba untuk biasa saja, tetapi kilatan luka itu masih terlihat jelas.
Seperti apapun Arka mencoba untuk terlihat tegar, matanya mengisyaratkan akan kesedihan yang sangat mendalam.
__ADS_1
"Kenapa lagi?" Tanya Althaf.
"Nggak apa-apa.I am okay." Jawab Arka berbohong.
Althaf memeluk Arka. “Menangis lah! Luapkan dalam pelukanku kali ini!” Lirih Althaf. Seketika Arka menangis algi. Seoalah matanya tidak memiliki rasa lelah untuk terus menangis.
Sejak hari itu, sampai saat ini bahkan ia tidak pernah baik-baik saja.
Althaf sudah kehilangan semangat semenjak Arka berubah.
"Ar." Panggil Azka.
"Hm." Ia melepaskan pelukan Althaf.
“Masih ada kita. Lo harus bangkit!” Sahut Asen.
“Iya Bener. Kita rindu elo yang dulu.” Ungkap Azka.
"Semua butuh proses." Jawab singkat Arka dengan pandangan kosong menerawang jauh.
“Iya kita paham. Tapi Lo jangan kayak gini terus!” Nasehat Asen.
"Temani gue yuk!" Ajak Arka. Althaf memberi isyarat agar menerima ajakan itu.
Mereka pergi ke tempat yang sangat sepi, terang dan tenang.
Arka sudah membeli bunga mawar kuning sebelumnya.
"Kok kita kesini sih?" Tanya Asen bingung.
Lama sekali Arka berdiri di sana. Mematung menatap apakah yang ada di depannya suatu kenyataan atau bukan. Berkali-kali ia datang ke sini berharap ini mimpi buruk. Tetapi ini semua adalah kenyataan.
"Aku datang. Bersama mereka. Please hadir dimimpiku sekali saja!” Pinta Arka.
Masih terdiam. Arka memang tidak pernah bisa mendatangi tempat itu. Bahkan dulu saat masih awal, Arka sampai sehari penuh berada di tempat tersebut. Jika bukan karena Althaf yang memaksanya pulang, mungkin Arka tidak akan pulang.
"Anterin kejalan Tulip ya Al? "Tanya Arka. Althaf sudah hapal akan ke rumah siapa sahabatnya.
"Gue turun ya? I am okay." Arka mencoba meyakinkan temannya.
“Perlu kita temani?” Tanya Azka khawatir.
“Tidak. Aku kuat kok. Gih kalian balik! Toh gue di sini bakal lama.” Ucap Arka. Ia lalu masuk ke dalam area rumah itu.
Tok tok tok
Arka mengetuk pintu. Cukup lama ia harus menunggu sampai pintu terbuka.
"Hey, udah lama?" Sapa orang itu.
"Baru nyampe kok bang. Kembar mana? Lalu ayah sama ibu?" Tanya Arka beruntun.
"Di belakang. Ibu kondisinya juga sudah membaik." Jelas orang itu. Arka mengangguk. Ia bahkan sangat hancur hari ini.
Arka segera menyapa sikembar, lalu pasangan suami istri yang sudah terlihat tua, dan seorang perempuan yang lebih dewasa darinya.
Usai menyapa mereka semua, Arka bergabung dengan sikembar.
Tertawanya seorang Arka, kini sudah berubah menjadi hambar. Terlihat jelas dibalik tawa itu tersembunyi luka.
"Nak, relakan dia! Biarkan dia bahagia!" Kata seorang perempuan berumur dengan lembut.
Arka menggeleng. Menangis lagi di pelukan laki-laki tadi.
“Tidak semudah itu.” Lirihnya.
__ADS_1
Ia menangis hingga tak sadar tertidur.